Lompat ke isi

P. A. Payutto

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
P. A. Payutto
ป.อ. ปยุตฺโต
Kehidupan pribadi
Lahir
Prayudh Aryankura
ประยุทธ์ อารยางกูร

12 Januari 1938 (umur 88)
Distrik Si Prachan, Provinsi Suphan Buri, Thailand
Kehidupan religius
AgamaBuddhisme
OrdoMahā Nikāya
MazhabTheravāda
Nama darmaPayutto
ปยุตฺโต
Nama biaraSomdet Phra Buddhaghosacariya
สมเด็จพระพุทธโฆษาจารย์
Penahbisan
Posisi senior
PostingKepala wihara Wat Nyanavesakavan
(sejak 1994)

P. A. Payutto (Thai: ป.อ. ปยุตฺโต; lahir 12 Januari 1938), yang juga dikenal dengan gelar monastiknya saat ini, Somdet Phra Buddhaghosacariya (Thai: สมเด็จพระพุทธโฆษาจารย์), adalah seorang biku buddhis Theravāda Thai terkemuka, seorang intelektual, dan penulis yang produktif.

Payutto telah memberikan banyak ceramah dan menulis secara ekstensif mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan agama Buddha, termasuk posisi perempuan dalam agama Buddha[1] dan hubungan antara agama Buddha dan lingkungan hidup.[2] Ia dianugerahi Penghargaan Pendidikan Perdamaian UNESCO pada tahun 1994.[3]

Oleh karena perubahan gelar monastik di Thailand melibatkan penambahan atau pengubahan nama monastik, Payutto telah dikenal dan menerbitkan karyanya dengan berbagai nama yang berbeda sepanjang kariernya. Sebelumnya, ia dikenal sebagai Phra Rajavaramuni, Phra Debvedhi, Phra Dhammapitaka, dan Phra Bhramagunabhorn. Setelah pengangkatannya menjadi anggota Dewan Tertinggi Sangha pada tahun 2016, gelarnya saat ini adalah Somdet Phra Buddhaghosacariya.[4][5]

Kehidupan awal

[sunting | sunting sumber]

Payutto lahir sebagai anak kelima dari pasangan Samran dan Chunkee Aryankura pada tanggal 12 Januari 1938 di Distrik Si Prachan, provinsi Suphan Buri, Thailand.[6]:1987[7] Payutto menempuh pendidikan awalnya di Suphan Buri. Selama masa kanak-kanaknya, Payutto banyak menderita penyakit, yang beberapa di antaranya mengharuskannya menjalani operasi, dan banyak penyakit tersebut yang masih menyertainya hingga saat ini. Kesehatan yang buruk membuatnya sulit untuk berkomitmen pada sekolah dan pendidikan formal. Merasa putus asa dengan kesehatannya, Payutto kembali ke Suphanburi setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama di Sekolah Pathum Khongkha di Bangkok pada tahun 1950. Meyakini bahwa ia dapat melanjutkan pendidikannya tanpa harus membebani fisiknya secara berlebihan seperti di sekolah umum, dengan dukungan keluarganya, ia memasuki vihara untuk mencari pendidikan agama. Ia ditahbiskan sebagai calon biku (samanera) pada usia 13 tahun. Ia mulai mempelajari bahasa Pali dan menerima pelatihan Vipassanā. Atas dorongan ayahnya, ia pindah ke Wat Phra Piren di Bangkok dan berhasil mencapai tingkat studi bahasa Pali tertinggi (tingkat kesembilan) saat masih berstatus sebagai samanera, yang atas pencapaiannya tersebut ia diberikan upacara penahbisan kerajaan menjadi biku di Wat Phra Kaew pada tanggal 24 Juli 1961.[6]:1988[7] Ia mengambil nama monastik "Payutto", yang secara harfiah berarti "seseorang dengan upaya yang gigih". Payutto menerima gelar sarjana dalam studi Buddhis dari Universitas Mahachulalongkornrajavidyalaya pada tahun 1962.

Kehidupan religius

[sunting | sunting sumber]

Seorang biku cendekiawan

[sunting | sunting sumber]

Setelah memperoleh kualifikasi instruktur, Payutto diangkat sebagai Wakil Dekan Universitas Mahachulalongkornrajavidyalaya dan memegang jabatan ini selama sepuluh tahun berikutnya. Ia memainkan peran penting dalam memodernisasi pendidikan Sangha dengan mengaitkan pengetahuan dalam agama Buddha dengan isu-isu sosial kontemporer. Payutto menjabat sebagai Wakil Kepala Wihara Wat Phra Piren pada tahun 1973, tetapi mengundurkan diri tiga tahun kemudian untuk mendedikasikan dirinya pada karya-karya akademis. Ia menerbitkan sejumlah buku dan artikel, dan secara teratur menghadiri seminar serta konferensi akademis, bergaul dengan para cendekiawan dan intelektual kontemporer. Ia menulis buku berjudul Buddhadhamma, yang diakui sebagai mahakarya di kalangan pakar agama Buddha. Ia menerima gelar kehormatan dari lebih dari sepuluh universitas, baik di dalam maupun di luar negeri. Ketika menerima Penghargaan Pendidikan Perdamaian UNESCO, ia menyumbangkan seluruh dana yang diterimanya kepada Kementerian Pendidikan Thailand untuk mendirikan Phra Dhampitaka Education for Peace Foundation (Yayasan Pendidikan Perdamaian Phra Dhampitaka).

Saat ini, Payutto menjabat sebagai Kepala Wihara di Vihara Nyanavesakavan (Wat Nyanavesakavan), yang terletak di Tambon Bang Krathuek, Amphoe Sam Phran, Provinsi Nakhon Pathom.

Pencapaian religius

[sunting | sunting sumber]

Payutto telah menerbitkan sejumlah buku yang mengkaji masalah-masalah sosial kontemporer, seperti aborsi, dari sudut pandang agama Buddha. Ia secara teratur menyuarakan pandangan-pandangan Buddhis pada berbagai bidang yang beragam seperti pendidikan, hukum, ilmu sosial, dan ilmu alam. Payutto menekankan pendekatan Buddhis tentang Jalan Tengah sebagai rute yang tak terhindarkan untuk mencapai perdamaian dan pembangunan berkelanjutan.[8] Ia berpendapat bahwa agama Buddha merupakan agregasi akhir dari Hukum Alam dan bahwa itu menjadi dasar bagi sains modern.[9] Payutto juga mengarahkan pada ajaran Buddha sebagai jalan mutlak menuju kebahagiaan.[10]

Membela Tripitaka Pali

[sunting | sunting sumber]

Payutto sangat meyakini penafsiran ketat terhadap Tripitaka Pali, sangat sejalan dengan kecenderungan ortodoksi dalam Theravāda. Ia kerap tampil di hadapan publik dalam banyak kesempatan untuk membela Tripitaka Pali (Kanon Pali) setiap kali integritasnya dipertanyakan. Misalnya, pada pertengahan tahun 1990-an, Payutto menerbitkan sebuah buku berjudul The Case of Dhammakāya (Thai: กรณีธรรมกาย),[11] yang membahas kontroversi terkait konsep dhammakāya dan Nibbāna sebagaimana ditafsirkan oleh Gerakan Dhammakaya. Payutto mengkaji esensi Tripitaka Pali, mengutip teks-teks Pali yang menurutnya disalahtafsirkan oleh gerakan tersebut, dan memberikan argumen balasan dalam konteks Tripitaka Pali. Ia berpendapat bahwa istilah Dhammakāya tidak ditafsirkan dengan benar, dan mengklaim bahwa jika wihara yang terkait dengan gerakan tersebut terus berpegang pada penafsiran yang salah, mereka tidak dapat lagi melakukannya di bawah naungan Buddhisme Theravāda.[11]

Wat Phra Dhammakaya membalas dengan beberapa cara. Salah seorang asisten kepala wihara dari vihara tersebut, Luang phi Thanavuddho, menulis sebuah esai untuk membela pandangan wihara. Ia membandingkan perdebatan tentang sifat Nirwana dengan metafora orang-orang buta yang meraba gajah dan bertengkar tentang apa yang sedang mereka rasakan.[12] Metafora ini juga disebutkan di dalam Tripitaka Pali.[13] Ia juga merujuk pada penafsiran pakar Pali C. A. F. Rhys Davids dan I. B. Horner, tetapi Payutto kemudian menepis pendapat ini sebagai sesuatu yang keliru.[14]

Penghargaan dan pengakuan internasional

[sunting | sunting sumber]
  • 1994 Penghargaan Pendidikan Perdamaian UNESCO
  • 1995 Diangkat ke jabatan Tipiṭaka Ācariya, sebagai seorang pakar yang menguasai Tripitaka Pali, oleh Institut Nava Nalanda[7]
  • 2005 Dianugerahi penghargaan Cendekiawan Paling Terkemuka sebagai seorang guru Buddhisme Theravāda oleh Universitas Buddhis Sedunia[7]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Where women stand by Bhikkhu Prayudh Payutto – Dharmaweb Diarsipkan 2007-06-09 di Wayback Machine.
  2. Buddhism :: Ecology :: Wheel of Life
  3. Faces and Lives of Prayudh Payutto, Ven
  4. "Sangha Act set to pass - The Nation". The Nation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-21.
  5. "Buddhists welcome promotion of Phra Payutto". Asean Breaking News (dalam bahasa American English). 2016-12-10. Diakses tanggal 2017-09-16.
  6. 1 2 Payutto, P. A. (2021). Buddhadhamma: The Laws of Nature and Their Benefits to Life (PDF) (Edisi 4th). Bangkok: Buddhadhamma Foundation. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 11 September 2021.
  7. 1 2 3 4 "Wat Nyanavesakavan". Wat Nyanavesakavan. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-01-01. Diakses tanggal 2008-02-12.
  8. พระราชวรมุนี (1996). การพัฒนาที่ยั่งยืน. กรุงเทพฯ: มูลนิธิโกมลคีมทอง. ISBN 974-7092-09-3. (dalam bahasa Thai)
  9. พระเทพเวที (1992). พุทธศาสนาในฐานะเป็นรากฐานของวิทยาศาสตร์. กรุงเทพฯ: มูลนิธิพุทธธรรม. ISBN 974-565-556-2. (dalam bahasa Thai)
  10. พระพรหมคุณาภรณ์ (2004). สุขภาวะองค์รวมแนวพุทธ. กรุงเทพฯ: โรงพิมพ์อักษรสัมพันธ์. (dalam bahasa Thai)
  11. 1 2 พระธรรมปิฎก (ป. อ. ปยุตฺโต) (1996). กรณีธรรมกาย : เอกสารเพื่อพระธรรมวินัย. กรุงเทพฯ: มูลนิธิพุทธธรรม. ISBN 974-575-455-2. (dalam bahasa Thai)
  12. Thanavuddho, Phra Somchai (1999). นิพพานเป็นอัตตาหรืออนัตตา. Bangkok: ประดิพัทธ์. ISBN 974-7308-18-5.
  13. Ireland, John D. "Tittha Sutta: Sectarians (1) (Ud 6.4)". Access To Insight. Access to Insight (Legacy Edition). Diakses tanggal 2016-08-20.
  14. Scott, Rachelle M. (2009), Nirvana for Sale? Buddhism, Wealth, and the Dhammakāya Temple in Contemporary Thailand, Albany: State University of New York Press, hlm.149, ISBN 9781441624109

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]