Orang Vietnam di Jepang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Orang Vietnam di Jepang
在日ベトナム人
Người Việt ở Nhật
Total populasi
371.755 (Juni 2019)[1]
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Tokyo, Osaka (Ikuno-ku), Yokohama, Kobe(Nagata-ku, Hyogo-ku)
Bahasa
Jepang, Vietnam
Agama
Buddha,[2][3] Katolik[4]
Kelompok etnis terkait
Orang Vietnam

Orang Vietnam di Jepang (在日ベトナム人, Zainichi Betonamujin, Người Việt ở Nhật) menjadi komunitas penduduk asing ketiga terbesar di Jepang di atas orang Filipina di Jepang dan di bawah orang Korea di Jepang, menurut statistik dari Kementerian Hukum Jepang. Hingga akhir 2017, terdapat 262.405 penduduk. Mayoritas orang Vietnam tinggal secara legal di Wilayah Kantō dan daerah metropolitan Osaka.[5]

Sejarah migrasi[sunting | sunting sumber]

Sejumlah besar pelajar Vietnam mulai memilih Jepang sebagai tujuan rantau pada awal abad ke-20, didorong oleh pangeran Cường Để dan Gerakan Đông Du (secara harfiah, "Perjalanan ke Timur" atau "Gerakan Perjalanan ke Timur") yang dirintis oleh ia dan Phan Bội Châu. Pada tahun 1908, 200 pelajar Vietnam telah menimba ilmu di universitas-universitas Jepang.[6][7] Namun, komunitas orang-orang Vietnam di Jepang didominasi oleh pengungsi Perang Vietnam dan keluarga mereka, yang menyusun sekitar 70% dari total populasi.[4] Jepang mulai menerima pengungsi dari Vietnam pada akhir 1970-an.[8] Kebijakan penerimaan migran asing ini menandai terobosan yang signifikan dari orientasi Jepang pasca-Perang Dunia II yang mempertahankan mitos ras homogen Jepang. Sebagian besar penduduk migran ini menetap di prefektur Kanagawa dan Hyōgo. Mereka sering condong pindah ke lingkungan yang didominasi oleh Korea Zainichi. Namun, mereka tidak merasakan kedekatan dengan warga Korea Zainichi, melihat mereka bukan sebagai sesama etnis minoritas.[4]

Pekerja asing mulai mengikuti para pengungsi ke Jepang dalam "gelombang ketiga" migrasi Vietnam yang dimulai pada 1990-an. Ketika pekerja kontrak kembali ke Vietnam dari negara-negara bekas Blok Timur, yang pada saat itu telah memulai transisi mereka dari Komunisme, mereka mulai mencari negara asing lain dimana mereka dapat memperoleh penghasilan yang baik, dan Jepang terbukti menarik karena lokasi yang dekat dan standar hidup yang tinggi. Pada akhir tahun 1994, jumlah pekerja Vietnam tahunan yang pergi ke Jepang berjumlah 14.305 orang, sebagian besar di bawah visa pelatihan industri. Berbeda dengan negara-negara pengekspor tenaga kerja lainnya di Asia Tenggara, seebagian besar pekerja ini adalah laki-laki, karena pembatasan pemerintah Vietnam terhadap migrasi untuk pekerjaan yang didominasi oleh perempuan seperti pekerjaan rumah tangga dan hiburan.[9]

Integrasi[sunting | sunting sumber]

Para pengungsi mengalami berbagai kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan masyarakat Jepang, terutama di bidang pendidikan dan pekerjaan; tingkat kehadiran mereka di sekolah menengah atas diperkirakan hanya 40%, dibandingkan dengan 96,6% untuk warga negara Jepang. Fakta ini dikaitkan dengan kurangnya kemampuan bahasa Jepang para pengungsi serta ketidakmampuan sekolah menyesuaikan diri untuk mendidik siswa dengan latar belakang budaya yang berbeda.[8] Sebagian besar orang Vietnam lebih suka menggunakan nama Vietnam, meskipun mereka memiliki nama Jepang dan merasa memerlukannya untuk mencari pekerjaan.[4]

Tokoh terkenal[sunting | sunting sumber]

Phan Boi Chau va Cuong De.jpg
Prof. Tran Van Tho in Tet Festival 2008 in Tokyo.jpg
Phongchi on October 28, 2008.jpg

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Vietnamese community becomes 3rd largest foreign group in Japan". vietnamplus (dalam bahasa Inggris). 26 October 2019. Diarsipkan dari versi asli (vnp) tanggal 27 October 2019. Diakses tanggal 27 October 2019. 
  2. ^ "Nisshinkustu - Ngôi chùa gắn bó với người Việt tại Nhật Bản", Voice of Vietnam, 2013-05-15, diakses tanggal 2013-07-22 
  3. ^ "Vietnamese Buddhist centers in Japan", World Buddhist Directory, Buddhist Dharma Education Association, 2006, diakses tanggal 2009-02-20 
  4. ^ a b c d Shingaki, Masami; Asano, Shinichi (2003), "The lifestyles and ethnic identity of Vietnamese youth residing in Japan", dalam Goodman, Roger, Global Japan: The Experience of Japan's New Immigrant and Overseas Communities, Routledge, hlm. 165–176, ISBN 0-415-29741-9 
  5. ^ "平成19年末現在における外国人登録者統計について (About the statistics of registered foreigners at 2007 year-end)", Press release (PDF), Japan: Ministry of Justice, Juni 2008, diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2008-06-24, diakses tanggal 2010-01-09 
  6. ^ Tran, My-Van (2005), A Vietnamese Royal Exile in Japan: Prince Cường Để (1882-1951), Routledge, hlm. 3–5, 41–47, ISBN 0-415-29716-8 
  7. ^ Chandler, David P.; Steinberg, David Joel (1987), In Search of Southeast Asia: A Modern History, University of Hawaii Press, hlm. 315–316, ISBN 0-8248-1110-0 
  8. ^ a b Hosoya, Sari, "A Case Study of Indochinese Refugees in Japan: Their experiences at school and occupations" (PDF), Keizai Keiei Kenkyūsho Nenbō, 28: 210–228, diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2008-04-09, diakses tanggal 2008-01-03 
  9. ^ Anh, Dang Nguyen (2003), "Labour Emigration and Emigration Pressures in Transitional Vietnam", dalam Iredale, Robyn R., Migration in the Asia Pacific: Population, Settlement and Citizenship Issues, Edward Elgar Publishing, hlm. 169–180, ISBN 1-84064-860-0 

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]