Lompat ke isi

Ojo dumeh (filsafat)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Serial komedi televisi berjudul Ojo Dumeh mengingatkan kita untuk tidak memiliki sifat Ojo dumeh ini.

Ojo dumeh (aksara Jawa: ꦲꦺꦴꦗꦺꦴ ꦢꦸꦩꦺꦃ; dari kata ‘ojo’ artinya jangan, dan ‘dumeh’ berarti mentang-mentang), sehingga secara keseluruhan mempunyai arti Jangan mentang-mentang atau Jangan sok atau jangan merasa lebih) adalah salah satu filosofi hidup Jawa yang mengajarkan manusia untuk selalu sadar dan rendah hati. Pepatah Jawa Ojo dumeh ini sering kita jumpai, misalnya dalam ekspresi: jangan merasa lebih hebat, jangan merasa lebih kaya, jangan merasa paling kuat, jangan merasa paling berjasa, jangan merasa paling berharga, dan lain-lainnya yang lebih bermakna sebagai suatu 'larangan' dan bukan anjuran serta memiliki nasehat yang dalam agar kita sadar bahwa semua yang kita miliki tidaklah abadi.[1][2]

Pandangan Islam

[sunting | sunting sumber]

Pandangan ojo dumeh ini sejalan dengan ajaran Islam sebagai bentuk nasihat yang mengharuskan kita untuk sadar bahwa semua yang kita miliki tidaklah abadi. Kekuasaan yang kita miliki, akan ada masa akhirnya, fisik yang prima, nantinya akan menua, kekayaan yang kita miliki bisa jadi akan hilang, karena semuanya hanya titipan dari Yang Maha Kuasa. [3]

Dalam perpektif Islam, kita harus selalu ingat bahwa di duni ini tidak ada yang abadi. Apapun yang saat ini kita miliki, suatu saat bisa hilang. Sehebat apapun seorang pemimpin, suatu saat pasti akan turun, secemerlang apapun seorang bintang, suatu saat akan meredup, secantik apapun seorang Ratu, pasti akan menua dan memudar. Oleh karena itu, marilah kita selalu ingat kata ‘ojo dumeh’ (jangan mentang-mentang), agar sadar bahwa semuanya ada akhirnya. Semua yang kita miliki dan nikmati tidak akan abadi, karena semua adalah titipan dari Tuhan, yang suatu saat pasti akan diminta kembali oleh-Nya.[2]

Di era kebebasan modern pada saat ini, kalimat ‘ojo dumeh' sangat tepat disampaikan kepada beberapa pihak yang ‘merasa di atas’, atau ‘merasa lebih dibandingkan dengan kebanyakan orang atau rakyat biasa', misalnya kepada oknum pejabat yang merasa 'sok berkuasa'. Sering kali kita jumpai adanya perlakuan semena-mena dilakukan oleh orang yang merasa ‘kelasnya lebih tinggi dari pada yang lainnya'. Kejadian semena-mena semacam ini sering menjadi polemik perdebatan di tengah kalangan masyarakat, baik yang berkaitan dengan masyarakat umum maupun perundungan (bullying) di kalangan remaja.

Fungsi Sosiologi

[sunting | sunting sumber]

Dalam sudut pandang fungsionalisme struktural, ajaran ojo dumeh memiliki sejumlah tujuan dan fungsi, di antaranya adalah agar hidup manusia secara menyeluruh mampu mencapai rasa nyaman, damai dan tenteram, dapat mengendalikan dan mengontrol bagian-bagian dalam suatu sistem sosial masyarakat. Moto 'Ojo Dumeh' ini, sebagai contoh, merupakan inovasi dalam bentuk pembacaan motivasi pagi dan kata-kata inspiratif yang dibacakan setiap hari Selasa sampai Jumat pukul 8 pagi di kalangan pegawai kantor KPPN, departemen Keuangan, cabang Magelang. Inovasi atau SOP yang dituangkan dalam bentuk keputusan: KEP-151/KPN.1409/2024 ini terkait dengan penegakan kode etik dan kode perilaku yang bersifat kearifan lokal dan dibacakan secara bergiliran oleh para pegawai KPPN Magelang maupun cabang lainnya.[4]

Pepatah ini mengajarkan bahwa kehidupan itu bak roda berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Kata ‘ojo dumeh’ pantas untuk menasehati orang yang sedang di atas, agar tidak menganggap dirinya sebagai orang yang ‘paling hebat’, ‘paling penting’, dan ‘paling – paling’ lainnya. Saat di atas, kita harus sadar bahwa pada saatnya nanti, kita juga akan berada di bawah. Dengan demikian, nasihat ‘ojo dumeh’ ini juga memberi makna agar orang tidak lupa akan hari esok, karena apa yang kita nikmati hari ini belum tentu nantinya bisa kita nikmati lagi.

Nasehat 'Ojo dumeh' ini mengandung arti yang begitu luas dan dalam serta pernah diangkat menjadi sebuah serial komedi televisi Indonesia berjudul Ojo Dumeh yang diproduksi oleh Persari Film dan tayang perdana pada bulan Agustus 2003 di SCTV. Dalam konteks ini, ‘Ojo dumeh’ mengandung arti; kita tidak boleh membangga-banggakan apa yang sedang kita miliki, entah itu ketenaran, harta, pangkat atau jabatan, kecantikan, ketampanan, dan lainnya. Apapun apa yang sedang dimiliki dan dinikmati, harus kita syukuri karena itu pemberian dari-Nya. Kita harus tetap rendah hati, tidak merasa lebih dibandingkan dengan orang lain. Dengan tetap rendah hati, menunjukkan siapa diri kita, dan orang lainpun akan semakin respek terhadap kita.[5]

Ungkapan serupa

[sunting | sunting sumber]

Di dalam ungkapan bahasa Jawa, misalnya sering diucapkan: ojo dumeh sugih/kaya, ojo dumeh pinter, ojo dumeh duwe kuoso/berkuasa, ojo dumeh ganteng, ojo dumeh ayu, ojo dumeh terkenal, ojo dumeh kuat, dan sebagainya. Hal ini mengisyaratkan agar kita tidak merasa yang paling hebat. Di dunia ini, ada orang kaya yang bisa menjadi miskin secara mendadak ataupun perlahan-lahan, ada orang pintar yang tidak bisa memecahkan masalah semuanya, ada orang yang tiba-tiba dicopot dari jabatan dan kekuasaannya, ada fisik yang tiba-tiba cacat, tiba-tiba seseorang menjadi tercela, orang tiba-tiba bisa lumpuh, dan lain sebagainya.[3]

Filosofi ojo dumeh, sesungguhnya memberikan wejangan kepada kita agar hidup 'sakmadyo' (secukupnya saja) atau hidup di level tengah-tengah, atau moderat atau tawassuth dan tawazun. Makanya, marilah kita selalu berada di dalam kehidupan yang tidak menganggap diri sendiri itu selalu yang terbaik, terhebat, terkuat, sebab selalu ada tangan-tangan gaib yang bisa memperlambat kesuksesan dan juga kegagalan. Jika kita bisa me-menej/mengelola kehidupan, khususnya kepemimpinan, maka kita yakin bahwa keberadaan tangan-tangan gaib dan tak terlihat akan bisa memengaruhi keberhasilan maupun kegagalan kita.[3]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Ojo Dumeh". uin-malang.ac.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  2. 1 2 "Ojo Dumeh". binus.ac.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  3. 1 2 3 "OJO DUMEH: FILSAFAT JAWA UNTUK MENGELOLA KEHIDUPAN". uinsby.ac.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  4. "Ojo Dumeh". kemenkeu.go.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  5. "Makna " Ojo Lali, Ojo Dumeh, Ojo Ngoyo" dalam Filosofi Jawa". kompasiana.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]