Oei Hong Djien

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Oei Hong Djien
Informasi pribadi
Lahir5 April 1939 (umur 83)
Hindia Belanda Magelang, Hindia Belanda
Suami/istriWilowati Soerjanto
Anak2
Alma materUniversitas Indonesia

dr. Oei Hong Djien (lahir 5 April 1939; dikenal juga dengan panggilan OHD) adalah seorang kolektor asal Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia merupakan pendiri dan kurator OHD Museum, sebuah museum seni rupa Indonesia modern dan kontemporer. Pria yang akrab disebut OHD selain dikenal sebagai kolektor lukisan juga dikenal sebagai pedagang tembakau sekaligus grader tembakau untuk PT. Djarum Kudus. Gelar dokter diperoleh OHD dari Universitas Indonesia tahun 1964, kemudian ia melanjutkan spesialisasi untuk patologi anatomi di Belanda.

Namanya sebagai kolektor seni rupa sangat dikenal di kalangan seni rupa di seluruh Indonesia dan berbagai negara. OHD sangat bergaul akrab dengan lingkungan seniman, terutama seniman-seniman di Yogyakarta. Menurut beberapa sumber, koleksi Museum OHD telah mencapai lebih dari 2.000 buah karya seni dengan beraneka ragam media hasil kreasi perupa, baik dari Indonesia maupun luar negeri, seperti karya Raden Saleh, Affandi, Basoeki Abdullah, Lee Man Fong, S. Sudjojono, Hendra Gunawan, Soedibio, Trubus S., Harijadi S., Kartono Yudhokusumo, Eko Nugroho, F. Widayanto, Ahmad Sadali, Widayat, Fadjar Sidik, Srihadi, Edhi Sunarso, G. Sidharta Soegio, Edi Sunaryo, I Made Djirna, Ivan Sagito, Heri Dono, Nasirun, Agus Suwage, Ugo Untoro, Dadang Christanto, Pupuk D.P., Entang Wiharso, Nyoman Masriadi, Handiwirman Saputra, dan masih banyak lainnya, sehingga para peneliti seni rupa Indonesia dari berbagai negara tak akan merasa lengkap tanpa menjadikan OHD sebagai narasumber.

Pemburu lukisan[sunting | sunting sumber]

OHD mengenal lukisan sejak masa kanak-kanak. Perkenalan dengan lukisan merupakan warisan orang tuanya. Ayah dan kerabat-kerabatnya termasuk penikmat lukisan. Dinding rumah dipajangi lukisan tua peninggalan Belanda. Tapi tak satu pun kerabat OHD yang berbakat menjadi pelukis hebat, tak terkecuali OHD.

Tumbuh besar di lingkungan keluarga yang gandrung pada lukisan membuatnya jatuh cinta. Minat OHD pada lukisan mulai terlampiaskan manakala ia hijrah ke Jakarta untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di ibu kota ia mempunyai kesempatan melihat  pameran lukisan. Namun, calon dokter itu baru sebatas menikmati lukisan tapi tak kuasa membeli. OHD baru mampu membeli sebuah lukisan pada 1965, setelah lulus dokter.

Hobi bertandang ke museum lukisan dan pameran lukisan kian menjadi saat melanjutkan spesialisasi di negeri Belanda. Ia kemudian rajin mengikuti seminar-seminar yang membahas karya seni dan bahkan menjadi pembicara. Dari situlah pemahaman serta wawasannya terhadap lukisan makin bertambah, dan kian lihai menilai lukisan.

Kesibukan mengelola perusahaan tembakau tak menyurutkan kegemarannya mengumpulkan lukisan. Ia tetap saja rajin melihat pameran atau lelang lukisan dan menyambangi galeri untuk memburu lukisan yang diinginkannya. Apalagi kala itu ia sudah punya bekal dana yang cukup. Ia tak mematok hanya pada pelukis ternama, lukisan para pemula juga diborongnya.

OHD berburu lukisan tidak sebatas di pameran lukisan. Ia juga menyambangi langsung  pelukis-pelukis agar mendapatkan lukisan berkualitas. OHD rela berjam-jam mengamati seniman bekerja.

Ia juga dikenal berteman dekat dengan pelukis kondang, Widayat. Bahkan, Widayat kerap memintanya memberi komentar terhadap lukisan yang sedang dibuatnya. Widayat menghadiahinya banyak lukisan dan mengangkatnya sebagai salah satu kurator Museum H.Widayat. Kedekatannya dengan sejumlah pelukis ternama membuat ketajaman dan keterampilannya menelisik lukisan kian terasah. Inilah cikal-bakal keahliannya sebagai seorang kurator atau penilai lukisan.

OHD pernah berburu lukisan karya Affandi, Sudjojono, Widayat, A. Sadali, Popo Iskandar, Mochtar Apin, Srihadi dan lain-lain hingga Rio de Janeiro, Brasil. Ceritanya, ada mantan Duta Besar Brasil yang saat bertugas di Indonesia gemar mengoleksi lukisan seniman ternama Indonesia. Ia meninggal dunia dan koleksinya dijual karena tak mempunyai ahli waris. Jadilah ia terbang ke ibu kota negeri samba dan memborong 30 lukisan koleksi mantan sang duta besar.

Nama OHD sendiri sekarang sudah melambung dan menjadi jaminan kepatenan seorang kolektor maupun kurator lukisan. Ketenarannya bahkan sudah melampaui batas negara dan benua. Ia sudah berkali-kali didaulat menjadi guest of honor dalam berbagai pameran lukisan di mancanegara. Ia juga kerap menjadi pembicara dalam sebuah pameran lukisan atau sekadar menggoreskan tulisan sebagai pengantar sebuah katalog lukisan.

Kegemarannya pada lukisan bukan untuk investasi atau berdagang lukisan. Dia hanya rela menjual jika benar-benar membutuhkan dana untuk akuisisi karya penting yang belum ada di koleksinya untuk meningkatkan kualitas koleksi. Sayangnya itu pun jarang dilakukannya.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]