Lompat ke isi

Oei Hiem Hwie

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Infobox orangOei Hiem Hwie

(2022) Suntingan nilai di Wikidata
Biografi
Kelahiran26 November 1935 Suntingan nilai di Wikidata
Malang Suntingan nilai di Wikidata
Kematian3 September 2025 Suntingan nilai di Wikidata (89 tahun)
Surabaya Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
PendidikanUniversitas Surabaya Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
Pekerjaanjurnalis, aktivis Suntingan nilai di Wikidata

Situs webmedayuagung.or.id Suntingan nilai di Wikidata

Oei Hiem Hwie (26 November 1935[1] - 3 September 2025[2]) adalah wartawan 1965, aktivis BAPERKI, dan tokoh literasi Indonesia.[1] Ia merupakan pendiri Perpustakaan Medayu Agung yang berlokasi di Medokan Ayu, Surabaya, Jawa Timur. Pada 1965, Hwie dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ditahan secara berpindah-pindah di sejumlah penjara dan berakhir di Pulau Buru. Di sana, ia bertemu dan bersahabat dengan Pramoedya Ananta Toer, serta menjadi juru ketik dan editor buku-bukunya.[3] Berkat jasanya, naskah-naskah Pram yang dianggap terlarang di era Orde Baru bisa diselundupkan dan keluar dari Pulau Buru,[4] termasuk naskah asli Bumi Manusia yang menjadi bagian Tetralogi Buru.[5]

Kehidupan awal dan pendidikan

[sunting | sunting sumber]

Hwie lahir dan besar di Malang, Jawa Timur dari keluarga pedagang di kawasan Pecinan.[1][3] Bapaknya berdagang arang dan cukup sukses, sehingga keluarganya tergolong berekonomi mapan.[6] Ada dua versi tanggal kelahirannya menurut sejumlah sumber, yaitu 26 November 1935[1][4] dan 24 November 1935.[3]

Ia menyatakan keluarganya sulit disebut sebagai orang Tionghoa asli[7] karena latar belakang orang tuanya yang campuran. Ayahnya bernama Oei Tiong Han, seorang pria Hokkian totok yang merantau ke Jawa. Sedangnya ibunya, The Lekas Nio, adalah wanita peranakan Tionghoa-Jawa yang keluarganya sudah beberapa generasi menetap di kaki Gunung Merbabu, Magelang, Jawa Tengah.[4] Ia tertarik dengan berbagai kebudayaan karena perpaduan pendidikan orang tuanya, ayahnya terdidik di sekolah Tionghoa sementara ibunya belajar di sekolah honocoroko.[3] Dari kecil, Hwie hobi membaca. Ia dengan suka rela mengumpulkan dan merapikan koleksi buku, majalah, dan surat kabar yang dibeli ayah dan kakeknya. Uang sakunya pun dibelanjakan untuk membeli buku, majalah, dan teks pidato para tokoh politik.[7]

Ia menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA di TNHK (Tionghoa Hoe Kwan) yang kini berubah nama menjadi sekolah Taman Harapan Malang.[3][8] Ia lulus SMA pada 1962.[6] Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Menurutnya, wartawan adalah orang yang terus belajar, dan saat itu termasuk profesi prestisius karena dipandang banyak tahu perkembangan terbaru. Hal itu pula yang mendorongnya untuk mengikuti kursus jurnalistik jarak jauh di Oesaha Modern Bandung dan Pro Patria Yogyakarta. Ia juga kursus stenografi dan kursus jurnalistik lisan di Trompet Masjarakat, salah satu surat kabar terkemuka di Surabaya yang didirikan pada 1947.[4] Saat itu, ia dibimbing oleh pemimpin redaksinya, Manan Adinda dan Amak Junus.[7] Menurut hasil wawancaranya dengan Soe Tjen Marching, sekolah wartawan kala itu mirip dengan akademi dan tidak menerapkan sistem kelas. Pelajar bisa lulus asal telah menyelesaikan tugas dan memenuhi ketentuan.[3]

Hwie memutuskan menjadi WNI pada 1950-an. Aturan saat itu, anak dari ayah WNA mengikuti kewarganegaraan ayahnya meski jika dia terlahir dan besar di Indonesia. Ia pun diwajibkan memilih untuk menjadi warga Indonesia atau Tiongkok. Karena kecintaannya terhadap Indonesia, Hwie beralih menjadi WNI meski sebelumnya ia terpikir untuk mempertahankan kewarganegaraannya. Ia dalam memoarnya, Dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung, menulis bahwa menjadi WNI "berarti ikut membantu kemajuan Indonesia dan sosialisme yang kami banggakan".[4]

Karier dan aktivisme

[sunting | sunting sumber]

Sebagai jurnalis

[sunting | sunting sumber]

Setelah lulus sekolah wartawan, ia diterima bekerja di harian Trompet Masjarakat di Malang pada 1962.[4] Koran yang berhaluan tengah ini berkantor pusat di depan Tugu Pahlawan, tepatnya Gedung Brantas, Jalan Pahlawan, Surabaya.[3] Di surat kabar pimpinan Goei Poo Aan itu, Hwie ditempatkan di Surabaya selama beberapa tahun, lalu dipindahtugaskan ke Malang.[7] Harian Trompet Masjarakat dikenal sebagai surat kabar yang kritis terhadap pemerintah dan membela kepentingan rakyat kecil. Tak sekali dua kali mereka berurusan dengan pengadilan karena itu. Berdasarkan penuturan Hwie, semua redakturnya saat itu beragama Islam, yaitu Manan Adinda (warga Ketandan), Saleh Said (bertempat tinggal di Ampel), dan Amak Junus, tetapi semua orang bisa bekerja di sana apapun agama dan kepercayaannya, termasuk jika memilih ateisme. Saat itu, Soekarno memperkenalkan konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunisme).[3] Sebagai jurnalis, ia telah mewawancarai banyak tokoh politik, termasuk Soekarno pada 1964 di Istana Merdeka, Jakarta.

Menjadi aktivis BAPERKI Malang

[sunting | sunting sumber]

Hwie sudah bergabung di BAPERKI sejak akhir SMP.[6] Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (BAPERKI) adalah organisasi perhimpunan warga keturunan Tionghoa yang bertujuan mendorong partisipasi komunitas Tionghoa dalam pembinaan bangsa Indonesia dan penghapusan diskriminasi berdasarkan ras. Organisasi ini juga berperan menjadi salah satu penyedia beragam institusi pendidikan bagi warga Tionghoa.[1] Hwie terdorong ikut berjuang melawan diskriminasi karena ingin mengintegrasikan diri sepenuhnya sebagai warga Indonesia dan memimpikan negara dengan tatanan sosialisme. Sebelum resmi menjadi BAPERKI, beberapa pendirinya ingin organisasi ini dinamai Baperwatt (Badan Permusyawaratan Warganegara Keturunan Tionghoa). Namun, pada hari pendiriannya, diputuskan menjadi BAPERKI. Perubahan nama ini didorong oleh semangat inklusivitas agar semua warga Indonesia bisa menjadi anggota, tanpa harus beridentitas Tionghoa.[4]

BAPERKI Surabaya berperan mendirikan universitas pertamanya, yaitu Universitas Res Publica (Ureca) yang kini menjadi Universitas Surabaya. Saat itu, Ureca menampung para calon mahasiswa Tionghoa-Indonesia yang terhalang masuk universitas negeri akibat kebijakan kuota 10% untuk etnis Tionghoa. Ureca merupakan pelopor universitas yang dibangun melalui gotong royong banyak pihak. Lahan untuk Ureca Jakarta di Grogol (saat ini Universitas Trisakti), misalnya, merupakan pemberian Gubernur Jakarta, Soemarno Sosroatmodjo. Ureca di Surabaya dibangun dengan donasi publik, dan Hwie terlibat dalam pembuatan pagar kampusnya. Di Malang, telah ada rencana untuk membangun kampus serupa pada 1965. Namun, rencana tersebut gagal seiring dengan kekerasan yang meletus pada tahun yang sama. Kekerasan ini juga berdampak pada pembubaran BAPERKI dan penyitaan semua tanah yang semula untuk Ureca.[1]

Pada 1965, banyak pemimpin BAPERKI ditangkap dan dihilangkan paksa.[1] Oleh rezim Orde Baru, organisasi ini dituding terafiliasi dan merupakan organisasi sayap (onderbouw) PKI walaupun dalam kenyataannya bukan. Akibat keterlibatannya dalam BAPERKI, Hwie pun ikut ditangkap dengan tuduhan sebagai anggota PKI meski ia mengaku bukan bagian dari partai tersebut.[4]

Menjadi tahanan politik

[sunting | sunting sumber]

Pada 1 Oktober 1965, kabar pembunuhan jenderal-jenderal di Jakarta sampai di telinga Hwie. Saat itu, ia masih begitu muda. Dalam wawancaranya dengan BBC News Indonesia, ia mengaku tidak bisa memperkirakan sebesar apa dampaknya bagi negara dan bagaimana peristiwa ini akan memengaruhi hidupnya. Tak sampai sebulan, ia pun ditangkap. Hwie mengungkapkan bahwa artikel-artikelnya tentang Manivesto Politik, Soekarno, dan Nasakom digunakan sebagai alat aparat untuk menangkap dan menjebloskannya ke dalam penjara. Ia dicap sebagai Soekarnois. Sebelum ditangkap, ia sempat menyelamatkan sebagian koleksi bukunya dengan memindahkan ke atas plafon rumah. Setelah ia ditangkap, buku-buku koleksinya sebagian diobrak-abrik, disita, dan dibakar, termasuk draf tulisan Soekarno.[6] Kantor tempat ia bekerja, Trompet Masjarakat, juga dikenal dekat dengan presiden pertama itu. Goei Poo Aan, pemimpinnya juga ditangkap dan ini sekaligus menjadi akhir dari surat kabar tersebut. Goei Poo Aan kabarnya dijebloskan ke dalam penjara Lowokwaru, Malang, tapi lalu nasibnya tidak diketahui. Hwie ditahan tanpa proses pengadilan selama hampir 13 tahun, sejak masih berusia 29 tahun hingga dibebaskan pada umur 43 tahun. Ia pernah dipenjara di sejumlah tempat, antara lain LP Lowokwaru, Malang; Kamp Batu (Gapsin), Malang; RTM Koblen, Surabaya; LP Kalisosok, Surabaya; LP Nusakambangan; dan terakhir di Pulau Buru.[3]

Ia ditahan pertama kali di Malang, kemudian pindah ke Batu, sempat ke Jawa Tengah dan Nusakambangan, sebelum akhirnya dipindahkan ke Pulau Buru. Ada lebih dari 200 tahanan politik (tapol) berangkat bersamanya di pulau itu,[1] sumber lain mengatakan sekitar 3.400 an orang.[6] Saat itu, Pulau Buru hanya berisi hutan belukar, tak ada rumah, dan tempat ia ditahan hanya bangunan terbuat dari bambu. Lokasinya juga jauh dari mana-mana dan tidak ada kendaraan, para tahanan harus banyak berjalan kaki. Selama di sana, ia ditempatkan di Unit 4, Sanleko, yang kemudian oleh para tapol diubah namanya menjadi Savana Java (di beberapa sumber tertulis Savanajaya). Nama ini terilhami oleh kondisi lingkungan di sekitar penjara. Semula, mereka dikelilingi oleh savana (padang ilalang), tetapi kemudian berubah menjadi sawah padi berkat para tapol, dan menjadi jaya karena hasil panennya.[3] Bersama tahanan yang lain, ia bertugas membuka lahan dan bertani. Para tahanan yang sebagian besar merupakan kaum intelektual terpaksa bekerja fisik, seperti "macul (mencangkul), babat, tandur (menanam)". Dengan stok makanan yang sangat terbatas, mereka kadang terpaksa mencari dedaunan layak makan di ladang dan hutan. Ia juga sering makan tanaman krokot.[4]

Selain menjalani kehidupan berat sebagai tahanan, ia dan tapol beretnis Tionghoa lainnya juga sering mengalami perlakuan rasis dari para petugas.[4] Mereka membentak siapa saja yang mengidentifikasi diri sebagai 'Tionghoa, bukan 'Cina'. Sebelum di Pulau Buru, ia pernah dipaksa untuk mengubah namanya menjadi nama Indonesia, tapi Hwie menolak. Saat terus ditekan, ia menjawab akan mengganti namanya menjadi "Mergo Dipekso" (karena dipaksa). Ia pun dibuang ke Pulau Buru setelah menjawab seperti itu. Sampai akhirnya terbebas pada 1978,[1] ia tidak pernah berganti nama. Meski menderita, ia mengaku tetap bersyukur karena hanya dibentak-bentak dan tidak pernah menerima kekerasan secara fisik. Banyak tapol lain yang dipukuli bahkan dibunuh. Ia sempat tercekat beberapa kali saat menceritakan pengalaman kelamnya sebagai tahanan di Pulau Buru kepada jurnalis BBC Indonesia. "Kalau cerita [soal masa] di tahanan gini jadi ingat tenan. Ingat semua, ingat teman-teman...," ia terdiam beberapa saat. "Kami sering lapar. Kalau cerita masa ini... payah. Banyak yang meninggal. Teman-teman masih muda banyak yang...," Hwie akhirnya tak sanggup melanjutkan kalimatnya.[4]

Membantu Pram

[sunting | sunting sumber]

Sebelum di Pulau Buru, Hwie sudah mengenal Pram dan meliput ceramah-ceramahnya. Namun, baru di pulau itu mereka saling mengenal lebih dekat. Pram menganggap dia sebagai murid. Hwie juga memperoleh nasihat dari Pram tentang bagaimana menjalani masa penahanan dengan lebih tabah, seperti menghindari terlalu memikirkan orang tua yang ditinggalkan.[4]

Sastrawan itu sempat dilarang menulis sebelum akhirnya diperbolehkan oleh petugas, tapi dengan pengawasan ketat. Hwie mengatakan bahwa para tapol sangat menghargai Pram dan karya-karyanya sehingga mereka secara suka rela bahu membahu membantunya meneruskan aktivitas itu. Pram selama di tahanan sulit bertemu dan berdiskusi dengan tapol lain karena ia diisolasi. Ia dikurung secara terpisah di sebuah gubuk di Unit 3 yang berjarak sekitar satu kilometer dan agak naik. Beberapa tugas Hwie antara lain mencarikan informasi yang dibutuhkan Pram, mencarikan media tulis saat Pram kehabisan kertas, dan mengetik serta menyunting draf tulisannya. Secara sembunyi-sembunyi, ia berkomunikasi dengan Pram lewat lubang di gubuk bambu tempat Pram ditahan. Tugas itu bukan tanpa resiko, ia bisa sewaktu-waktu diinterogasi dan disiksa jika ketahuan. Ia, misalnya, pernah disuruh Pram mencari informasi terkait sejarah dan Hwie meneruskannya ke Profesor Saleh Iskandar Poeradisastra di Unit V dan beberapa narasumber ahli di bidang mereka masing-masing. Ia sering mendapatkan penjelasan dari Pram berdasarkan hasil catatannya sendiri dari bertanya kepada tapol-tapol itu. Para tapol juga menjadi perantara informasi saat Pram menulis buku "Perawan Remaja di Sarang Penyamun". Mereka mendatangi dan mewawancarai bekas jugun ianfu yang hidup di Pulau Buru.[4] Hwie secara iseng mencoba meminjam mesin tik dan meminta kertas sedikit dari kantor administrasi unit, dan ternyata diberi. Ia meminjamkan mesin tik itu ke Pram saat jam makan siang, ia juga terkadang membantu mengetik sementara Pram mendiktekan pemikirannya. Dia juga memperbaiki kesalahan pada hasil ketikan Pram.[3] Saat stok kertas habis, Hwie mencarikan Pram kertas pembungkus semen yang sudah ia bersihkan dan potong seukuran folio.[4]

Hwie menyembunyikan kertas-kertas hasil tulisan Pram dengan membungkusnya dengan daun pisang. Mereka lantas membuat lubang di tanah dan meletakkannya di sana. Tak lupa, mereka juga menutupnya dengan tutupan yang mirip dengan penutup tangki septik. Strategi itu berhasil karena semua orang mengira itu tempat buangan tinja.[3] Menjelang hari pembebasannya, ia ditanyai Pram apakah berani dan bersedia menyelundupkan karya-karyanya sehingga bisa dibawa ke Jawa. Hwie langsung menyatakan kesanggupannya, ia menyembunyikan naskah-naskah itu di gulungan baju kotor dan menempatkannya ke dalam besek (wadah dari anyaman bambu). Untungnya, saat pengecekan, petugas tidak sampai menggeledah barang bawaannya.[4]

Mendirikan Perpustakaan Medayu Agung

[sunting | sunting sumber]

Salah satu cita-cita Hwie adalah memiliki perpustakaan besar. Pada 2001,[9] ia mewujudkan impiannya itu dengan mendirikan Perpustakaan Medayu Agung yang terletak di Jalan Medayu Selatan IV, Surabaya bagian selatan. Di perpustakaan dua lantai itu, ia menyimpan koleksi lamanya berupa buku-buku ilmu sosial dan sejarah, kliping media cetak, dan dokumentasi foto. Beberapa buku langka juga menjadi koleksi Medayu Agung, seperti buku asli Mein Kampf karya Adolf Hitler, buku-buku Soekarno, dan naskah asli Tetralogi Pulau Buru.[4][7][10] Ia juga memperoleh bantuan banyak pihak untuk mengadakan infrastruktur dan koleksi, antara lain para politikus, masyarakat Tionghoa-Indonesia yang menetap di luar negeri, serta anak-anak korban 1965.[1] Saat ini, pengelolaannya dilakukan oleh Yayasan Medayu Agung dengan dukungan dari Pemerintah Kota Surabaya.[9]

Daftar rujukan

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Leksana, Grace (2018-07-13). "Memoar Oei Hiem Hwie: Dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung, by Oei Hiem Hwie". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia (dalam bahasa Inggris). 174 (2–3): 338–341. doi:10.1163/22134379-17402015. ISSN 0006-2294.
  2. Hurek, Lambertus. "Tokoh Literasi Surabaya Oei Hiem Hwie Tutup Usia, Kawan Pramoedya di Pulau Buru - Radar Surabaya". Tokoh Literasi Surabaya Oei Hiem Hwie Tutup Usia, Kawan Pramoedya di Pulau Buru - Radar Surabaya. Diakses tanggal 2025-09-03.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Marching, Soe Tjen (2015-05-06). "Oei Hiem Hwie: Editor Pramoedya di Buru". Islam Bergerak. Diakses tanggal 2025-09-03.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Putri, Famega Syavira (2021-10-02). "Wartawan keturunan Tionghoa pada 1965, Oei Hiem Hwie, yang memilih jadi WNI, kemudian dituduh PKI dan dipenjara". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2025-09-03.
  5. Wibowo, Kukuh S. (11 Juli 2020). "Oei Him Hwie, si Penjaga Karya Pramoedya". Tempo. Diakses tanggal 2025-09-03.
  6. 1 2 3 4 5 Asyhad, Moh Habib (2025-09-04). "Oei Hiem Hwie dan Jasa Besarnya kepada Pramoedya Ananta Toer". Intisari. Diakses tanggal 2025-09-07.
  7. 1 2 3 4 5 Susilo, Nina (2008-10-15). "Dari Terompet Masyarakat ke Medayu Agung". Kompas. Diakses tanggal 2025-09-03.
  8. Handayani, Selvika Tiyo (2016-05-20). "Perkembangan SMA Taman Harapan tahun 1958-2014 serta kontribusinya dalam pendidikan multikultural / Selvika Tiyo Handayani". Universitas Negeri Malang.
  9. 1 2 Rokimdadas (2025-09-03). "‎Pak Wie Wafat, Penjaga Catatan Sejarah dan Karya Pramoedya Ananta Toer". Kempalan. Diakses tanggal 2025-09-03.
  10. "Menengok Naskah Asli 'Tetralogi Pulau Buru' Karya Pramoedya Ananta Toer". Tugu Jatim. 2021-01-19. Diakses tanggal 2025-09-03.