Nuruddin Amin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Nuruddin Amin

S.Ag.
Nuruddin Amin.jpg
Ketua DPC PKB Kab. Jepara
Informasi pribadi
Lahir7 Agustus 1967 (umur 54)
Jepara, Jawa Tengah, Indonesia
Partai politikPartai Kebangkitan Bangsa
Suami/istriHindun Anisah
Anak5
AlmamaterIAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

K.H. Nuruddin Amin (lahir 7 Agustus 1967 atau biasa dipanggil Gus Nung adalah seorang pimpinan pondok pesantren (ponpes) Hasyim Asy'ari di Bangsri, Jepara.

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Putra dari KH. Amin Soleh, dan Hj. Aizzah Amin, mengambil kuliah di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Nuruddin banyak terlibat di pergerakan Nahdlatul 'Ulama di Yogyakarta hingga menjadi Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta,[1] sebelum kemudian kembali ke Jepara dan menjadi Ketua PCNU Jepara[2] dan kini menjabat sebagai Ketua DPC PKB Kab. Jepara.[3]

Memimpin pondok pesantren (ponpes) Hasyim Asy'ari bersama Hindun Anisah, Nuruddin membangun pesantren yang lebih modern, terbuka dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.[4][5]

Aktif di media pers mahasiswa dengan rekam jejak prestisius, membuat Gus Nung terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fak. Adab pada 1988-1989. Sejak muda, sikap determinan dan aktif dimana-mana sudah menjadi ciri khasnya. Baginya, manusia harus menjadi bermanfaat bagi sesama.

Kegigihannya dalam menggeluti dunia media, membuat dirinya didaulat menjadi Sekretaris Forum Diskusi Wartawan Yogyakarta (FDWY) tahun 1990-1998, dan menjadi wartawan di BERNAS pada 1989-1994. Sebagai salah satu jurnalis didikan KOMPAS media dan LP3Y (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Pers Yogyakarta), Nuruddin Amin ditempa oleh wartawan senior; Ashadi Siregar, untuk menjadi wartawan yang jujur dan ‘jual mahal’.

Menjadi idealis dan independen adalah ‘wahyu pertama’ yang diberikan KOMPAS agar Gus Nung muda tetap berjalan dalam pemberitaan yang jujur dan pro-rakyat. Saat wartawan lain diberi amplop oleh Pemerintah, agar mau menulis hal yang baik-baik saja, ia tetap pada pendirian untuk mewartakan dalam jujur dan apa adanya.

Jujur, tegas, dan apa adanya menjadi ciri khas Gus Nung sejak muda. Meski risikonya adalah menjadi sedikit dimusuhi wartawan dari Persatuan Wartawan Indonsia (PWI) karena tidak mau menerima ‘amplop’ dari pemerintah. Para jurnalis idealis ini akhirnya membentuk kelompok diskusi wartawan bernama FDWY. Dan Gus Nung muda akhirnya dilantik menjadi pengurus forum tersebut. Saat menjadi pengurus FDWY, Gus Nung muda bersama kawan-kawan seperjuangan membawa FDWY menjadi salah satu elemen yang menggerakkan berdirinya Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) pada 1994.

Sebagai salah satu penggiat jurnalistik dan corong media yang pro-rakyat, Gus Nung muda sempat didaulat menjadi presidium AJI, dan menjadi Direktur Penerbit LKiS pada sekitar tahun 1993-2000 di Yogyakarta. Kepiawaian dalam rekam jejak jurnalistik, membuat Gus Nung muda didaulat menjadi Sekretaris PWNU (Pengurus Wilayah NU) wilayah DIY pada 1997-2002 di bawah komando H. Sofwan Helmy, sebagai pimpinan PWNU DIY.

Jiwa dan nasionalisme Gus Nung muda semakin terbentuk tatkala dia memahami bahwa Bangsa Indonesia tidak hanya butuh media tapi juga butuh manusia-manusia muda untuk mengawal pergerakan, hingga akhirnya beliau diamanahi menjadi Ketua Pengurus Wilayah GP Anshor DIY.

Politik praktis[sunting | sunting sumber]

Memahami dirinya sebagai kader NU tulen, dan menyandang gelar Gus dari putra kiai besar NU di Jepara yang aktif di dunia pergerakan dan berani lantang membela kepentingan masyarakat. Nuruddin Amin muda menyatakan maju dan masuk sebagai kordinator deklarasi berdirinya PKB pada 23 Juli 1998. di tingkat wilayah DIY, dan menjadi pengurus pertama partai dalam periode 1998-2003.

Pada periode kedua, 2003-2008, nama H. Nuruddin Amin masuk menjadi Sekretaris Dewan Syuro DPW PKB DIY. Namun sejak wafatnya ayahanda KH Amin Soleh pada 19 November 2002, Gus Nung memilih untuk mengabdikan diri berkhidmah di dua tempat; Jogja dan Jepara.

Membagi waktu menjadi pengurus harian partai di Jogja dan menjadi pengasuh pesantren di daerah Jepara, membadali ayah menjadi pemomong masyarakat di bidang agama, khotbah jumat dan membimbing ibadah haji menjadi tantangan sendiri bagi Gus Nung di masa itu.

Namun belum sampai selesai masa jabat beliau sebagai Sekretaris Dewa Syuro, Gus Nung diminta ibunda pulang dan menetap di Jepara. Pada bulan September 2003, Nuruddin -Gus Nung- Amin bersama istri; Hindun Anisah, yang merupakan putri Kyai Krapyak Jogja, mulai boyong dari Jogja ke Bangsri Jepara

Selain menjadi pengasuh pesantren, bersama adiknya KH. Zainal Umam, di PP Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara, Gus Nung juga merupakan Ketua Jam’iyyah Thoriqoh Wahidiyyah dalam menyampaikan Islam Nusantara sebagai Islam Rohmatan Lil Alamin.

Beliau kini mengkampanyakan jargon “Dari santri untuk Indonesia.” Baginya, menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama dan membela kepentingan rakyat adalah amanah, dan itu harus diperjuangkan bersama.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Misrawi, Zuhairi (2010). Gus Dur, santri par excellence: teladan sang guru bangsa (edisi ke-1). Diakses tanggal 8 Juni 2018. 
  2. ^ DEMO TUNGGAL DI KORSEL TOLAK PLTN
  3. ^ Dekati Tokoh NU Jawa Tengah
  4. ^ Syaiful Mustaqim (19 November 2014). "Pemuda-Pemudi Gereja Mukim di Pesantren Hasyim Asyari 2 Hari". NU Online. Diakses tanggal 8 Juni 2018. 
  5. ^ Buroh (7 Oktober 2017). "Pesantren Hasyim Asy'ari Jepara, Mewujudkan Generasi Penerus Unggul, Terampil, dan Berakhlakul Karimah". nahdlatululama.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-06-12. Diakses tanggal 8 Juni 2018. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]