Ngawen, Muntilan, Magelang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Ngawen
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenMagelang
KecamatanMuntilan
Kodepos56415
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Ngawen adalah desa di kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ngawen terdiri dari 10 dusun, di antaranya dusun Kesaran, Kemiriombo, Ngawen, Kolokendang, Clapar, Judah, Nganten, Jetis,Gejayan, dan Citromengalan. Desa Ngawen memiliki candi Budha peningalan dinasti Saylendra yang disebut juga dengan Candi Ngawen. Candi Ngawen tergolong unik karena dibagian dalam terdapat patung Budha sedangkan bangunan candi itu sendiri bangunan candi Hindu seperti candi Prambanan. Desa Ngawen sendiri mulai dikenal sebagai desa Wisata dengan penduduk yang sebagian besar bertani dan dikenal ramah.

Diwilayah desa Ngawen yaitu dusun Kolokendang sebagian dulu dusun ini adalah dusun pandai besi dan juga petani, didusun ini terdapat makam pahlawan yaitu Lettu Tukiyat, ia gugur waktu perang melawan Belanda, dusun ini juga mempunyai sumber mata air yang tidak pernah kering sekalipun musim kemarau panjang. Sedangkan didusun Clapar sebagian besar juga petani dan juga pengrajin tangkai cangkul dimana dulunya daun cangkul dibuat oleh pandai besi di dusun kolokendang. Didusun Ngaten selain bertani penduduk dusun ini juga dikenal karena memiliki transportasi tradisonal yaitu dokar/delman yang sebagian besar masih beroperasi sebagai sarana transportasi desa Ngawen.

Desa Ngawen adalah desa yang masih mempertahankan kesenian daerah yaitu: Jathilan atau seperti kudalumping, kesenian ini turun temurun masih dipertahankan dan didusun Kemiriombo dan Kesaran biasanya dihari libur dan acara2 besar sering dipentaskan. Seiring dengan dicanangkanya Desa Ngawen sebagai Desa Wisata, sejak itu banyak dusun-dusun yang menghidupkan kembali kesenian kuda lumping. Setelah Dusun Kesaran dan Kemiriombo, menyusul Dusun Clapar dan Dusun Citromenggalan yang kembali menghidupkan kesenian tradisional kuda lumping.. Semoga hal ini dapat menambah potensi desa guna mengangkat Desa Wisata yang sejahtera. Desa ini juga menjunjung tinggi keaneka-ragaman baik dalam membangun kerukunan antar umat beragama dan semangat gotong-royong yang masih terasa dalam kehidupan sehari-harinya.