Ngadirejo, Temanggung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Ngadirejo
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Temanggung
Pemerintahan
 • Camat Agus Munadi
Luas 5.331 ha
Jumlah penduduk 52.080 (2008)
Kepadatan 977 jiwa/km² (2008)
Desa/kelurahan 19 desa
1 kelurahan

Ngadirejo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini berjarak sekitar 22 Km arah utara dari ibukota kabupaten Temanggung. Pusat pemerintahannya berada di desa Ngadirejo. Sebagian kecamatan Ngadirejo berada di lereng timur Gunung Sindoro.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kecamatan Candiroto
Selatan Kecamatan Bansari
Barat Kecamatan Candiroto
Timur Kecamatan Jumo, Kecamatan Kedu dan Kecamatan Parakan

Desa/ kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Banjarsari
  2. Campursari
  3. Dlimoyo
  4. Gandu Wetan
  5. Gejagan
  6. Giripurno
  7. Gondangwinangun
  8. Karanggedong
  9. Kataan
  10. Katekan
  11. Manggong
  12. Mangunsari
  13. Medari
  14. Munggangsari
  15. Ngadirejo
  16. Ngaren
  17. Patirejo
  18. Pringapus
  19. Purbosari
  20. Tegalrejo

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Mata pencaharian utama penduduk adalah dari pertanian. Padi, sayur mayur dan tembakau merupakan hasil utama pertanian kecamatan Ngadirejo. Pertanian padi ditanam sepanjang tahun, sesekali diselingi dengan tanaman palawija atau sayur mayur. Sedangkan pertanian tembakau mulai penanaman sekitar bulan Januari untuk tanah tegalan dan sekitar April-Mei untuk tanah sawahan. Panen tembakau bersamaan antara tanah tegalan dan sawahan yaitu mulai pada awal agustus sampai dengan awal Oktober.

Walau kota Ngadirejo berada di lereng gunung namun kegiatan otomotif di Ngadirejo tergolong maju, dari urusan drag race, free style , motor cross , off road , modif motor sampai car extreme modification ada di kota kecil ini, dan sekarang mulai berkembang olahraga sepeda downhill dan MTB (mountain bike).

Sosial dan budaya[sunting | sunting sumber]

Kesenian[sunting | sunting sumber]

Kesenian Ngadirejo cukup semarak, hal itu ditunjukkan dengan banyaknya komunitas kesenian yang bermunculan. Beberapa kelompok kesenian di Ngadirejo adalah jaran kepang, topeng loreng, wayang kulit dan ketoprak.

Potensi[sunting | sunting sumber]

Pertanian dan peternakan[sunting | sunting sumber]

Tanaman yang dapat dikembangkan di Kecamatan Ngadirejo antara lain : Padi, Jagung, Ketela Pohon. Untuk Tanaman sayuran antara lain : Kobis, Lombok, Sawi. Untuk Buah-buahan antara lain : Jambu Biji, Pepaya, Pisang. Tanaman Perkebunan antara lain : Kopi Arabika, Kopi Robusta, Cengkeh, Kelapa, Kakao, Tembakau. Peternakan antara lain : Sapi Potong, Kerbau, Kuda, Kambing, Domba, Kelinci, Ayam Buras, Ayam Ras, Iitik, Entok, Burung Puyuh, Angsa. Perikanan antara lain : Karper, Lele, Nila, Tawes, Gabus, Udang, Kodok.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

1. Umbul Jumprit
Merupakan suatu kawasan mata air yang terletak di lereng Gunung Sindara, desa Tegalrejo, dengan ketinggian 2.100 meter dpl. Situs ini terletak sekitar 26 kilometer di sebelah barat laut Kota Temanggung. Mata air Umbul Jumprit ini tidak pernah kering meskipun pada saat musim kemarau dan menjadi sumber air bagi Sungai Progo. Mata air ini berada di bawah sebuah gua dan dinaungi pohon besar yang teduh.[1] Umbul Jumprit memiliki panorama alam pegunungan dan bumi perkemahan berhawa sejuk. Tempat ini erat hubungannya dengan legenda Kyai Nujum Majapahit yang tertulis dalam serat Chentini. Didekat mata air Jumprit terdapat makam Ki Jumprit. Air dari Umbul Jumprit juga digunakan sebagai air Berkah untuk upacara Tri Suci Waisak setiap tahunnya.

2. Candi Pringapus
Merupakan candi di desa Pringapus. Arca-arca berartistik Hindu yang erat kaitanya dengan Dewa Siwa menandakan bahwa Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Siwaistis. Candi Pringapus dibangun pada tahun tahun 772 C atau 850 Masehi menurut prasasti yang ditemukan di sekitar candi ketika diadakan restorasi pada tahun 1932. Candi ini merupakan replika Mahameru, nama sebuah gunung tempat tinggal para dewata. Hal ini terbukti dengan adanya adanya hiasan antefiks dan relief Hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ anonim (21 September 2008). "Umbul Jumprit, Memasuki Masa Lalu". Kompas. Diakses tanggal 24 Juli 2016. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]