Negeri Bakkara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Negeri Bakara
Lembah Bakkara.jpg
Negeri Bakara
Informasi
Lokasi Muara, Kecamatan Bakti Raja, Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
Negara  Indonesia
Pembukaan 1784 (Nama Sebelumnya Desa Huta)
Jenis objek wisata Danau Toba
Luas + 2.500 hektar
Situs web http://haposanbakara.blogspot.com/
Fasilitas bergaya dengan foto, tempat istirahat
Lembah Bakara

Negeri Bakkara (Bahasa Inggris: Premium Bakara Country Alone Bahasa Indonesia: Negeri Bakara Premium Sendiri) sering jg di tulis (Bakkara) Namun penulisan yg benar adalah Bakara (Nama Marga Bakara berada di Muara, Tapanuli Utara), Bakara adalah nama sebuah wilayah di pinggiran baratdaya Danau Toba, yang berada di Muara, Tapanuli Utara dan dalam wilayah administratif Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Sebuah teritori yang terdiri dari beberapa dusundan desa terhampar di lembah yang berjarak belasan kilometer dari Dolok Sanggul. Dibelah oleh dua aliran sungai besar yang berair deras. Sungai terbesar yang dominan adalah Aek Silang yang bersumber dari air terjun yang tercurah dari bentangan perbukitan. Sungai kedua yang lebih kecil bernama Aek Simangira. Keduanya mengaliri beberapa desa dan bermuara di Danau Toba.

Yang terkenal dari daerah ini[sunting | sunting sumber]

Bakara terkenal dengan Aek Sipangolu (air yang menghidupkan). Konon menurut cerita jika seseorang terkena jenis penyakit apapun apabila orang tersebut berendam atau meminum air dari Aek Sipangolu maka ia akan sembuh. Aek Sipangolu adalah sumber air yang keluar dari batu dan mengalir sepanjang masa, airnya segar dan jernih dan bermuara di Danau Toba. Bakara juga terkenal akan bawang merahnya, di mana bawang merah adalah komoditas utama penduduk daerah ini, di samping padi dan kacang tanah. Selain itu, Bakara adalah tempat lahirnya Raja Sisingamangaraja XII. Bakara termasuk wilayah dari kabupaten Humbang Hasundutan yang beribu kota Dolok sanggul. Bakara merupakan ibu kota Kecamatan Baktiraja. Penulisan BAKKARA sebagai Marga dan Huta ( Kampung ) adalah BAKARA.

Aksesibilitas[sunting | sunting sumber]

Untuk menuju Bakkara ini ada terdapat 2 (dua) akses jalan ke daerah ini, jika datang dari arah Medan maka para pengunjung akan masuk dari Siborong-borong menuju arah Kecamatan Muara. Jika datang dari arah Sidikalang maka mereka akan masuk daerah Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan dan menyusuri jalan berliku-liku di pinggir tebing yang menjulang tinggi dan di sisi yang lainnya mempunyai pemandangan indah yaitu jurang yang begitu dalam dan hamparan Danau Toba serta pulau Samosir tampak di kejauhan.

Sejarah Negeri Bakara[sunting | sunting sumber]

RELIGI SISINGAMANGARAJA?[sunting | sunting sumber]

Bakara sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Toba di bawah kepemimpinan Dinasti Sisingamangaraja (Bakara: Huta Harajaon Toba, Tatuan ni Sisingamangaraja) sejak abad ke-16 sampai dengan abad ke-20 (sejak masa Sisingamangaraja I, lahir tahun 1515 hingga gugurnya Sisingamangaraja XII tahun 1907). Dinasti Sisingamangaraja menganut suatu kepercayaan religi Batak yang berasal dari si Raja Batak (Dinasti Pusuk Buhit). Segala tata aturan yang menjadi tradisi di wilayah pengaruhnya mengikuti tata upacara dan kepercayaan Batak. Itu sebabnya Sisingamangaraja dikatakan oleh Belanda sebagai:

  • a. "priester koning van de Batak" atau Raja Imam orang Batak
  • b. “de heilige leider van de Batak” atau pemimpin suci orang Batak
  • c. “Koning Aller Bataks” atau raja dari semua orang Batak - oleh van der Tuuk 1853

Sebelum masuknya pengaruh misionaris Kristen dari Barat ke tanah Batak dimulai oleh Burton and Wards sekitar tahun 1820-an, tidak terdapat kata “agama” atau “ugamo” pada bahasa atau tradisi religi Batak. Yang dikatakan religi atau kepercayaan Batak sesungguhnya adalah bagian dari “Adat Batak” itu sendiri. Adat Batak dalam kehidupan suku Batak tradisional sebagai keyakinan dan pedoman yang dianut untuk mencapai keharmonisan, terjaminnya keteraturan meliputi tata hubungan horizontal dengan sesama maupun hubungan vertikal kepada Sang Maha Pencipta (religi). Jika kemudian terdapat istilah “Malim, Parmalim atau Ugamo Malim” adalah perkembangan berikutnya sejak Ompu Somalaing Pardede, salah satu yang meneruskan tradisi kepercayaan (religi) yang dianut Sisingamangaraja.

Ciri khas religi dan tradisi (bagian dari "adat") Sisingamangaraja yang bersemayam di Bakara (na mian Bakara)

  • 1. Kepercayaan kepada Keesaan Sang Maha Pencipta, Ompu Mulajadi Na Bolon:
    • a. Na so marmula, na so marujung (Yang Tiada Bermula dan Tiada Berakhir);
    • b. Hundul di tatuan di ginjang ni ginjangan di langit ni langitan (Duduk di singgasana di tempat tertinggi, di langit tertinggi) yaitu di langit ketujuh dari "langit si pitu lampis" (langit berlapis tujuh)
  • 2. Marsopit (bersunat/melaksanakan sunat);
  • 3. Mangorom (berpuasa/melaksanakan puasa) pada waktu tertentu;
  • 4. Subang (berpantang) dan ramun (haram) mengonsumsi daging: babi; anjing; hewan bangkai (hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu) – kecuali ikan; darah dan minuman beralkohol (seperti tuak).
  • 5. Bale Pasogit, berbentuk bangunan (berbentuk rumah) sebagai tempat beribadah
  • 6. Memanjatkan tonggo (permohonan takzim) kepada Ompu Mulajadi Nabolon.

KARO, SIMALUNGUN DAN PAKPAK BUKAN BATAK?[sunting | sunting sumber]

Sebutan Batak secara eksternal, dalam sejarah dimulai dari Yunani Kuno oleh Herodotus (1), sebagai istilah untuk suku cannibal “eat human flesh.” Diikuti oleh orang-orang Eropa (Italia, Inggris, Portugis, Jerman dan Belanda) untuk menamakan kelompok suku di Sumatra yang menurut mereka kafir (pagan) atau belum beragama (heatenism).(2) Bagi orang Melayu, Batak sebagai suku suku pengembara dan petualang, pribumi Sumatra di luar suku Melayu. Bahkan dalam kamus Bahasa Indonesia --yang mungkin diserap dari bahasa Melayu,-- kata batak artinya: petualang; pengembara; membatak: 1) bertualang, melanglang, mengembara; 2) merampok; menyamun; pembatak: perampok, penyamun. Secara internal, bagi suku Batak Toba adalah Keturunan Si Raja Batak (Sorimangaraja Batak) dari Pusuk Buhit, yang artinya sipenunggang kuda, berkaitan dengan citra keperkasaan dan kegigihan.(3) Istilah Batak dikenal luas di Eropa setelah tulisan William Marsden 1784, dan ketika masuknya misionaris Kristen kemudian Belanda mulai mendomasi wilayah Sumatra bagian Utara. Istilah Batak dipopulerkan oleh Belanda dan German dalam tulisan-tulisan mereka untuk suku bangsa Pakpak, Karo, Simalungun, Mandailing dan Angkola sebagai suku pribumi di Sumatra bagian Utara, karena selain kedekatan wilayah, terdapat latar belakang kemiripan adat, budaya, bahasa dan aksara yang membedakan mereka dengan suku Melayu dan Aceh yang tinggal berbatasan di sekitar mereka. Sebelum dan pada saat Sumpah Pemuda 1928, perwakilan para pemuda dari Sumatera bagian Utara, menamakan diri “Jong Batak (Jong Batak Bonds),” salah satu tokohnya Amir Sjarifoeddin Harahap dan Sanusi Pane. Semula Angkola dan Mandailing menamakan diri sebagai suku atau orang “Tapanuli” untuk menghindari istilah “Batak yang berkonotasi negative oleh orang Melayu” dan sekarang lebih memilih sebutan Suku Angkola dan Suku Mandailing. Suku bangsa Pakpak, Karo dan Simalungun dari historisnya, tidak berasal dari Suku Batak Toba, dan bukan keturunan Si Raja Batak yang bermukim di Pusuk Buhit sekitar tahun 1200-an. Tetapi dari keturunan Si Raja Batak (kelompok marga-marga Batak Toba) itu ada sebagai kaum pendatang kemudian diterima dan membaur menjadi anggota suku bangsa Pakpak, Karo dan Simalungun. Kelompok Suku Batak Toba yang membaur ini ada yang merubah/menyesuaikan, mengadaptasi atau tetap mempertahankan marganya (inilah yang menjadi persamaan dan kemiripan dari marga-marga). Kini mereka telah kembali kepada identitas sejatinya sebagai suku bangsa Simalungun, Karo, dan Pakpak tanpa menyandang nama atau sebutan "Batak.

NAMA DESA (HUTA) BAKARA KINI TINGGAL KENANGAN[sunting | sunting sumber]

Sebuah desa atau huta di Tano Batak bernama Bakara, sejak zaman dahulu kala telah dikenal dan tercatat dalam sejarah oleh penulis asing, diantaranya:

  • William Marsden, Inggris, tahun 1784 menulis “History of Sumatra,” menceritakan mitologi Batak, bahwa “Batara Guru... ayahnya menurunkan gunung dari kayangan ke Bakarra (Bakara), di wilayah Batta (Batak), sebagai tempat tinggal anaknya” atau “Batara Guru…her father let fall from heaven a lofty mountain, named Bakarra, now situated in the Batta country… as a dwelling for his child….”
  • Jurnal ilmiah “Universal Geography” terbit di London, 1878 mencatat bahwa: “…menelusuri sejarah kerajaan kuno…. Bakara, sebuah desa besar di ujung selatan-barat (barat daya) Tao Toba” atau “…traces of an ancient kingdom…Bakara, a large village at the south-west end of Lake Toba.”
  • Modigliani, seorang antropolog dan ahli botani Italia pernah berkunjung ke Bakara antara Oktober 1890 – Januari 1891, meninggalkan catatan antara lain: “Teluk Bakara sangat indah dan airnya cukup dalam. Dua buah semenanjung (tuktuk) membentuk mulut teluk. Gunung membayangi teluk ini. Gunung itu menurun dari dataran tinggi Toba. Lerengnya di sebelah Barat Daya agak landai hingga ke tepi danau, membentuk lembah yang manis.”

Keindahan alam Tano Bakara tiada berubah sejak dahulu. Tano Bakara senantiasa mempesona dan terjaga kealamiannya. Yang berubah, kini secara “administratif pemerintahan,” nama huta (desa) Bakara menjadi Desa Simamora. Nama Bakara sebagai Huta (Desa) yang telah digunakan ratusan tahun lalu, dan tercatat dalam sejarah Indonesia dan dunia, kini tinggallah kenangan.

Semoga kelak, Indonesia tidak melupakan nama asli desa/huta tersebut, dan tidak akan ada usulan untuk melakukan penyesuaian pada catatan/buku sejarah Indonesia seiring perubahan administratif tersebut, misalnya “Sisingamangaraja lahir di Desa Simamora (eks/dahulu atau d/h. Bakara).” Akan lebih baik: “Sisingamangaraja lahir di Bakara (kini bernama Desa Simamora).”

Namun demikian, masih terdapat apresiasi akan nama “Bakara” pada administrasi pemerintah, yaitu “BAK” singkatan dari “Bakara” untuk nama kecamatannya, yaitu Kecamatan Baktiraja (singkatan dari: Bakara, Tipang dan Janji Raja).

BATAK DI SUMATRA[sunting | sunting sumber]

Berbagai asumsi dan penelitian mengarah bahwa Batak sebelum mendiami pulau Sumatra, berasal dari suatu wilayah di dataran Asia, menyeberang ke pulau Sumatra karena desakan dan perang yang terjadi di tempat asalnya. Dari tulisan dan penelitian sejarawan, ahli geografi, ahli astronomi, ahli bahasa atau pejabat bangsa asing mereka telah mengenal "Batak sebagai wilayah dan/atau suku yang telah ada di pedalaman Sumatra" sejak abad ke-5 sebelum masehi (SM). Informasi sejarah yang tertua dari penelusuran terhadap catatan Herodotus, seorang sejarawan Yunani (Bapak Sejarah Dunia) yang hidup pada 454-425 SM. Ia menyebutkan bahwa di salah satu wilayah Asia yang kaya akan emas, penduduknya disebut Paddei atau Padda (Padeans), istilah ini menunjuk pada pengucapan Batta atau Batak di Sumatra.

Peneliti berikutnya menguatkan catatan Herodotus, yaitu:

  • John Leyden (1775-1811), seorang dokter, pujangga dan ahli bahasa berkebangsaan Inggris, menjelaskan bahwa Batta atau Batay adalah nama suku yang disebut oleh Herodotus sebagai Paday atau Padaioi.
  • Favre (Puierre Etienne Lazare Favre 1812-1887), seorang missionaris Perancis yang meneliti dan menulis beberapa sejarah maupun tata bahasa Melayu berpendapat bahwa Padda yang dikatakan Herodotus adalah Battas yang mendiami pedalaman Sumatra.

Pada abad Masehi, sebutan Batak di Sumatra pertama kali ditemukan pada catatan Chau Ju-Kua atau Chou Ju-kua (1170–1228), seorang pejabat (inspektur bea cukai) di Quanzhou pada masa dinasti Song, Cina. Ia menyebutkan Pa-t’a sebagai wilayah taklukan San-fo-tsi (kerajaan Sriwijaya di Palembang). Pa-t’a dimaksud adalah Batak di Sumatra. Selanjutnya perlu penelitian apakah Suku Batak sebagai suku tua "pribumi asli" Sumatra atau suku pendatang yang telah ada di Sumatra sejak abad sebelum Masehi. BATAK pada literatur-literatur asing disebut: Padda, Paddei, Padaei, Padai, Paddeans, Padaioi, Pa'ta, Pa-t'a, Bota, Moda, Bata, Batta, Batas, Battas, Batech, Battaks, Batak.