Neraka dalam Buddhisme

| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Niraya (Pali dan Sanskerta)[1] atau Naraka (Dewanagari: नरक; IAST: Naraka; Pali: Naraka; Hanzi: 地獄/奈落; Pinyin: Dìyù/Nàiluò; Jepang: 地獄/奈落, Jigoku/Naraku) adalah suatu istilah dalam alam-alam kehidupan buddhis[2] yang biasanya diterjemahkan sebagai "neraka" atau "tempat penyucian" (bahasa Inggris: purgatory).[3][note 1][4] Pandangan Buddhisme mengenai neraka berbeda dengan konsep neraka di agama-agama Abrahamik dan agama Hindu dalam tiga hal: pertama, makhluk yang berada di neraka tidak sedang menjalani hukuman dari Tuhan (Pali: issara, terj. har. 'Sang Penguasa; Iswara'); kedua, tidak ada roh atau jiwa kekal (Pali: anattā, terj. har. 'tanpa atma') yang pergi ke neraka, melainkan lahir kembali sebagai individu baru penghuni neraka;[5] ketiga, jangka waktu yang dijalani suatu makhluk saat berada di dalam neraka tidaklah selama-lamanya,[6][7] meskipun biasanya berlangsung dengan sangat lama.[8][9]
Rujukan kitabiah mengenai alam-alam neraka memberikan gambaran yang sangat spesifik mengenai bentuk penderitaan di dalamnya (seperti pada MN 129 dan MN 130). Namun, kepustakaan Pali Theravāda menegaskan bahwa penderitaan ini tidak bersifat abadi layaknya konsep neraka dalam tradisi keagamaan lain; makhluk yang terlahir di sana pada akhirnya akan terlahir lahir di alam lain setelah akibat karma buruknya habis.[10] Menurut Buddhisme, terlahirnya suatu makhluk ke alam neraka merupakan akibat dari akumulasi perbuatan berkehendak (karma) semasa hidupnya, dan mereka berada di neraka dalam jangka waktu tertentu sampai akibat karma buruknya habis.[11][12] Setelah akibat karma buruk yang mengondisikan kelahiran di neraka telah habis, suatu makhluk dapat terlahir kembali ke alam yang lebih tinggi sebagai akibat dari menjalani potensi akibat karma yang belum matang.[13]
Oleh karena interaksi Buddhisme Han dengan Taoisme dan kepercayaan tradisional Tionghoa, maka alam-alam neraka dalam Buddhisme kemudian menjadi paralel dengan Diyu, alam neraka dalam mitologi Tionghoa.
Penafsiran Theravāda
[sunting | sunting sumber]Penggambaran neraka
[sunting | sunting sumber]Gambaran kitabiah
[sunting | sunting sumber]- Bālapaṇḍita Sutta (MN 129), membandingkan hasil perbuatan orang bodoh (bāla) dan orang bijak (paṇḍita). Di sini, Buddha memberikan perumpamaan yang sangat eksplisit tentang siksaan fisik di neraka, termasuk hukuman Pañcavidhabandhana (penusukan lima pasak besi panas).
- Devadūta Sutta (MN 130), sumber paling komprehensif di Suttapiṭaka mengenai anatomi neraka. Sutta ini berfokus pada proses interogasi oleh Raja Yama (Dewa Kematian) terhadap makhluk-makhluk yang semasa hidupnya mengabaikan lima "Utusan Dewa" (bayi, orang tua, orang sakit, tawanan yang dihukum, dan mayat)—yakni realitas tentang kelahiran, penuaan, penyakit, hukuman, dan kematian. Setelah interogasi, sutta ini merinci secara komprehensif penjatuhan hukuman Pañcavidhabandhana (penusukan lima pasak besi panas) dan tahapan penyiksaan di dalam Mahāniraya ("Neraka Besar") beserta kawasan-kawasan yang berbatasan langsung dengannya.
- Kokāliya Sutta (SN 6.10; Snp 3.10; AN 10.89), isinya sedikit berbeda karena Buddha menjelaskan masa kehidupan (durasi) di neraka menggunakan nama-nama seperti Ababa, Ahaha, Kumuda, Sogandhika, Uppala, Puṇḍarīka, dan Paduma. Dalam perkembangan selanjutnya, terutama dalam tradisi Mahāyāna, nama-nama durasi waktu ini sering ditafsirkan sebagai "Neraka Dingin".
- Nimi Jātaka (Ja 541), berisi deskripsi yang menyerupai "tur keliling neraka," menceritakan Raja Nimi yang diajak oleh Dewa Mātali untuk melihat langsung berbagai jenis siksaan di neraka secara spesifik berdasarkan karma buruknya.
Di kitab Kathāvatthu dalam Abhidhammapiṭaka, salah satu kitab buddhis paling awal yang ditulis sekitar tahun 250–100 SM, sebuah versi mengenai neraka telah dikembangkan, dideskripsikan, dan didiskusikan secara utuh. Kitab ini mungkin merupakan salah satu karya keagamaan paling awal yang menyajikan gambaran mengenai neraka.[14] Kitab Kathāvatthu mendiskusikan topik-topik terkait seperti apakah neraka adalah hasil dari perbuatan buruk tertentu atau wujud dari perbuatan buruk itu sendiri. Lebih lanjut, kitab ini berargumen bahwa neraka adalah suatu kondisi yang dialami di kehidupan selanjutnya sebagai akibat dari perbuatan buruk,[15] yang menghubungkan neraka dengan konsep pembalasan atas perbuatan buruk dan ganjaran atas perbuatan baik.[16]
| Demikian pula, para bhikkhu, kesakitan dan kesedihan yang orang itu alami karena ditusuk dengan tiga ratus tombak adalah tidak berarti dibandingkan penderitaan neraka; bahkan tidak ada sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan. | Evameva kho, bhikkhave, yaṁ so puriso tīhi sattisatehi haññamāno tatonidānaṁ dukkhaṁ domanassaṁ paṭisaṁvedeti taṁ nirayakassa dukkhassa upanidhāya saṅkhampi na upeti, kalabhāgampi na upeti, upanidhampi na upeti. | |
| — Bālapaṇḍita Sutta, MN 129 terj. Indra Anggara | ||
Gambaran seni rupa
[sunting | sunting sumber]Negara-negara Buddhis Theravāda mengembangkan berbagai seni rupa yang secara visual menggambarkan penderitaan di neraka. Tradisi ini mencakup mural dinding di dalam tempat ibadah, lukisan pada gulungan kain, hingga pembangunan taman patung raksasa (seperti yang populer dalam tradisi Buddhisme di Thailand dan Buddhisme di Myanmar). Karya seni ini berfungsi sebagai sarana didaktik untuk mengingatkan umat akan hukum karma, menggambarkan secara rinci konsekuensi dari perbuatan buruk agar seseorang terdorong untuk hidup bajik.
- Mural dari sebuah wat di Thailand utara yang menggambarkan makhluk-makhluk telanjang memanjat pohon berduri, dipatuk burung dari atas, dan diserang dari bawah oleh penjaga neraka yang bersenjatakan tombak.
- Mural dari sebuah wat di Thailand utara. Makhluk-makhluk yang telanjang dibawa ke hadapan Yama untuk diadili. Phra Malai mengawasi dari atas saat makhluk-makhluk digoreng dalam kawah minyak besar.
- Gambaran siksaan neraka di Wat Saket, Bangkok.
- Detail mural yang menunjukkan Neraka Buddhis di Wat Saket, Distrik Bang Lamphu, Bangkok, Thailand.
- Adegan hukuman perebusan di taman neraka Wat Muang, Thailand
- Pohon berduri yang harus dipanjat sebagai bentuk hukuman di taman neraka Wat Muang, Thailand.
- Patung raksasa makhluk hantu (peta) di taman neraka Wat Muang, Thailand.
Penyebab masuk neraka
[sunting | sunting sumber]Selain memberikan deskripsi alam, teks-teks dalam Suttapiṭaka juga menjelaskan tentang perbuatan yang menyebabkan makhluk-makhluk terjerumus ke neraka. Penyebab-penyebab utama tersebut meliputi:
- Melakukan sepuluh jenis perbuatan tidak bajik (Sāleyyaka Sutta, MN 41).
- Tidak menjaga sila-sila dasar, dan memegang erat pandangan salah (Jāṇussoṇī Sutta, AN 10.177).
- Melakukan setidaknya satu dari lima karma buruk berat (Pali: pañcānantariya-kamma), yaitu: membunuh orang tua, membunuh seorang arahat, melukai Buddha, atau menciptakan perpecahan di dalam Sangha (Parikuppa Sutta, AN 5.129).
- Memiliki sifat suka bertengkar dan menjadi pengganggu bagi pihak lain (Kapila Sutta atau Dhammacariya Sutta, Snp 2.6).[17][18]
Pada intinya, sebab-sebab tersebut diuraikan dari pelanggaran terhadap lima sila (pañcasīla) melalui Sepuluh Jalan Karma Tidak Baik (akusalakammapatha):[17][19]
- Pembunuhan makhluk hidup (pāṇātipāta)
- Pencurian (adinnādāna)
- Perbuatan asusila (kāmesumicchācāra)
- Perkataan tidak benar (musāvāda)
- Ucapan fitnah (pisuṇavācā)
- Ucapan kasar (pharusavācā)
- Omong kosong (samphappalāpa)
- Dambaan (abhijjhā)
- Rasa benci, niat jahat (vyāpāda)
- Pandangan salah (micchādiṭṭhi)
Sebab pasti terlahir di neraka adalah melakukan lima karma yang keji (ānantariyakamma), yakni:[17][19]
- Membunuh ibu kandung
- Membunuh ayah kandung
- Membunuh seorang arahat
- Dengan maksud jahat melukai tubuh Tathāgata
- Memecah belah Sangha
Lebih lanjut, tiga kelompok pandangan-salah juga bisa menyebabkan kelahiran di neraka Avīci:[17][19]
- Pandangan tentang tiadanya dampak dari perbuatan (akiriya diṭṭhi) yang menolak adanya akibat dari karma baik dan karma tidak baik.
- Pandangan fatalis tentang tiadanya sebab (ahetuka diṭṭhi) yang menyangkal akar, sebab, dan kondisi. Pandangan ini menolak adanya sebab dari suatu kejadian: semua kejadian muncul karena kebetulan saja—tanpa sebab.
- Pandangan nihilis (natthika diṭṭhi) yang menolak baik sebab maupun akibat dari suatu perbuatan.
Klasifikasi neraka
[sunting | sunting sumber]Dalam Devadūta Sutta (MN 130), Buddha mendeskripsikan satu pusat penyiksaan (mahāniraya) yang dikelilingi oleh kawasan-kawasan yang berbatasan langsung (samanantarā):[20][21]
- Mahāniraya (Neraka Besar), pusat penyiksaan
- Samanantarā, kawasan yang berbatasan langsung:
- Gūthaniraya (Neraka Kotoran)
- Kukkulaniraya (Neraka Abu Membara)
- Simbalivana (Hutan Pohon Simbali/Sutra Katun)
- Asipattavana (Hutan Daun Pedang)
- Khārodakā Nadī (Sungai Air Tajam/Asam)
Neraka besar
[sunting | sunting sumber]Menurut Devadūta Sutta (MN 130), Neraka Besar (Mahāniraya) digambarkan sebagai struktur penyiksaan utama berpintu empat dengan dinding, lantai, dan atap besi yang berpijar. Berdasarkan Saṃkicca Jātaka (Ja 530), terdapat daftar sistematis mengenai delapan neraka besar (mahāniraya) beserta jenis penyiksaan spesifik bagi para penghuninya. Neraka-neraka besar terdiri atas delapan jenis:
1. Sañjīva
[sunting | sunting sumber]Sañjīva berarti "hidup". Dalam neraka ini, para penjaga neraka (nirayapāla) secara terus-menerus mencacah dan memotong para penghuninya menjadi potongan-potongan kecil menggunakan berbagai senjata api. Meskipun demikian, mereka tetap hidup (pulih kembali secara instan) untuk mengalami siksaan tersebut secara berulang kali sampai akibat karma buruknya habis.[22][23]
2. Kāḷasutta
[sunting | sunting sumber]Kāḷasutta berarti "tali pengukur" yang biasa digunakan oleh tukang kayu. Para penjaga neraka membaringkan tubuh makhluk di atas tanah panas membara, menandainya dengan garis pengukur (tali pengukur hitam), lalu memotong tubuh tersebut menggunakan kapak menjadi delapan atau enam belas bagian mengikuti garis yang telah dibuat.[22][23]
3. Saṅghāta
[sunting | sunting sumber]Saṅghāta berarti "benturan bersama". Neraka ini menjadi tempat bagi makhluk-makhluk untuk dihimpit dan digiling hingga luluh lantak di antara dua gunung api raksasa yang saling berbenturan. Rol besi besar menghancurkan makhluk-makhluk yang ditanamkan setinggi pinggang ke dalam lembaran besi panas setebal sembilan yojana. Rol besi besar itu datang dari empat arah dan menghancurkan mereka secara bolak-balik.[22][23]
4. Jālarorūva
[sunting | sunting sumber]Jālarorūva berarti "jeritan jaring". Neraka ini juga dikenal sebagai Rorūva saja. Makhluk-makhluk di sini terjerat dalam jaring perunggu membara dan disiksa dengan lidah api yang masuk melalui sembilan lubang tubuh hingga membakar habis bagian dalamnya.[22][23]
5. Dhūmarorūva
[sunting | sunting sumber]Dhūmarorūva berarti "jeritan asap". Neraka ini juga dikenal sebagai Mahārorūva. Neraka ini dipenuhi asap tajam binasa yang masuk melalui sembilan lubang tubuh para penghuninya hingga menyebabkan tubuh mereka mengeluarkan uap.[22][23]
6. Tāpana
[sunting | sunting sumber]Tāpana berarti "pemanggangan". Para penghuninya disula pada pasak-pasak besi seukuran batang pohon palem. Tanah, pasak, serta makhluk-makhluk di sana seluruhnya terbakar; mereka mengalami penderitaan dalam kondisi tidak dapat bergerak (imobilitas paksa).[22][23]
7. Patāpana
[sunting | sunting sumber]Patāpana berarti "pemanggangan hebat". Neraka ini juga dikenal sebagai Mahātapana. Berbeda dengan Tāpana, makhluk di sini dipaksa terus bergerak mendaki gunung api membara. Begitu mencapai puncak, angin yang tercipta oleh kekuatan kamma menghempaskan mereka jatuh ke bawah hingga tertancap pada jajaran pasak-pasak tajam di permukaan tanah.[22][23]
8. Avīci
[sunting | sunting sumber]Avīci (atau Mahāvīci) berarti "tanpa jeda, tanpa ruang tersisa" karena kenyataan bahwa neraka ini dipenuhi api, makhluk-makhluk berkarma buruk, dan siksaan terus-menerus. Neraka ini merupakan tingkatan neraka dengan penyiksaan paling berat. Api neraka berkobar hebat di mana-mana tanpa ada ruang di antara nyala api. Makhluk-makhluk di dalamnya berdesakan di neraka ini seperti biji sesawi dalam tabung bambu. Tidak ada pula ruang kosong di antara orang-orang berdosa. Penderitaan dan siksaan tiada henti, tanpa jeda di antaranya.[22][23]
Berdasarkan Kokālika Sutta (AN 10,89), terdapat penyebutan sepuluh nama neraka dengan masa kehidupan yang semakin lama secara berurutan. Penyebutan ini berkaitan dengan kisah Kokālika, seorang biku berwatak jahat yang menghina Sāriputta dan Moggallāna, hingga mengakibatkan dirinya terlahir kembali di Neraka Paduma dalam jangka waktu yang sangat lama. Meskipun Tripitaka Pali menyebut sepuluh nama berbeda, kitab Manorathapūraṇī, kitab komentar atas Aṅguttaranikāya, menyatakan bahwa nama-nama tersebut bukanlah neraka yang terpisah, melainkan merujuk pada periode waktu yang dihabiskan di neraka Avīci.[24] Kesepuluh nama neraka tersebut beserta arti harfiahnya meliputi:[25]
- Abbuda Niraya (Neraka "Tumor" atau Neraka "Janin").
- Nirabbuda Niraya (Neraka "Bebas-Tumor")
- Ababa Niraya (Neraka "Ababa")
- Aṭaṭa Niraya (Neraka "Aṭaṭa")
- Ahaha Niraya (Neraka "Ahaha")
- Kumuda Niraya (Neraka "Lili Air Putih")
- Sogandhika Niraya (Neraka "Harum Semerbak")
- Uppalako Niraya (Neraka "Seroja Biru")
- Puṇḍarīka Niraya (Neraka "Seroja Putih")
- Paduma Niraya (Neraka "Seroja Merah")
Setiap neraka tersebut memiliki masa kehidupan dua puluh kali lipat lebih lama dibandingkan tingkat sebelumnya. Masa kehidupan makhluk di Neraka Paduma digambarkan sangat luar biasa lama, bahkan melampaui masa hidup sebuah alam semesta, baik menurut perhitungan kuno maupun modern.[25]
Neraka kecil
[sunting | sunting sumber]1. Gūthaniraya
[sunting | sunting sumber]Gūthaniraya berarti "Neraka Kotoran". Neraka yang dipenuhi oleh tahi membusuk. Kawasannya berbatasan langsung dengan pintu keluar Mahāniraya.[20][21]
2. Kukkulaniraya
[sunting | sunting sumber]Kukkula berarti "Neraka Abu Membara". Neraka ini dipenuhi oleh abu bara. Kawasannya berbatasan langsung dengan Gūthaniraya.[20][21]
3. Simbalivana
[sunting | sunting sumber]Simbalivana berarti "Hutan Pohon Simbali/Sutra Katun". Kawasan ini dipenuhi oleh hutan pohon berduri, dan berbatasan langsung dengan Kukkulaniraya.[20][21]
4. Asipattavana
[sunting | sunting sumber]Asipattavana berarti "Hutan Daun Pedang". Kawasan ini dipenuhi oleh daun pedang, dan berbatasan langsung dengan Simbalivana.[20][21]
5. Khārodakā Nadī atau Vetaraṇī
[sunting | sunting sumber]Khārodakā Nadī berarti "Sungai Air Tajam/Asam". Kawasan ini dipenuhi oleh air garam dan duri rotan, dan berbatasan langsung dengan Asipattavana.[20][21] Lebih lanjut, dalam kitab Papañcasūdanī (kitab komentar untuk Majjhimanikāya), sebagai usaha sistematisasi klasifikasi neraka, Buddhaghosa menjelaskan bahwa Vetaraṇī merupakan nama lain dari kawasan Khārodakā Nadī.[26][note 2]
Neraka antarloka
[sunting | sunting sumber]Kitab komentar Theravāda mengenalkan istilah "neraka antar-loka" (Pali: lokantarika-niraya).[27] Neraka antarloka adalah "ruang di pertemuan tiga sistem dunia (loka), ruang tempat para pelaku kejahatan menderita atas perbuatan jahat mereka."[28] Neraka ini didefinisikan dengan cara berikut:
Ketika tiga alam semesta bertemu, terdapat ruang tempat neraka Lokantarika berada, tempat sinar matahari maupun sinar bulan tidak dapat mencapai. Kegelapan total berkuasa di sana. Mereka yang menghina dan mengejek orang-orang mulia dan berbudi luhur menjadi peta (hantu kelaparan) atau asura-kāya dan menderita kelaparan di neraka ini. Mereka berpegangan pada dinding alam semesta dalam kegelapan total. Mereka salah mengira makhluk jahat lain sebagai makanan, dan mencoba saling menggigit. Setelah melakukan itu, mereka jatuh ke dalam air es dan binasa.[29]
Neraka lainnya
[sunting | sunting sumber]Lohakumbhī
[sunting | sunting sumber]Lohakumbhī adalah alam neraka spesifik yang ditandai dengan logam cair panas, dan terletak di bawah kerak bumi dekat tempat tinggal manusia (khususnya dekat Rājagaha).[30]
Syair tentang neraka
[sunting | sunting sumber]Bab Niraya Vagga ("Kelompok Bait tentang Neraka") dalam kitab Dhammapada (Dhp 306-319) dari Khuddakanikāya mengandung empat belas syair tentang neraka:[31]
Dhp 306
- Abhūtavādī nirayaṃ upeti, yo vāpi katvā na karomi cāha;
- ubhopi te pecca samā bhavanti, nihīnakammā manujā parattha.
Orang yang selalu berbicara tidak benar dan juga orang yang setelah berbuat kemudian berkata, "Aku tidak melakukannya," akan masuk neraka. Dua macam orang yang mempunyai kelakuan rendah ini, mempunyai nasib yang sama dalam dunia selanjutnya.
Dhp 307
- Kāsāvakaṇṭhā bahavo, pāpadhammā asaññatā;
- pāpā pāpehi kammehi, nirayaṃ te upapajjare.
Bila seseorang menjadi bhikkhu dengan mengenakan jubah kuning tetapi masih berkelakuan buruk dan tidak terkendali, maka sebagai akibat perbuatan-perbuatan jahatnya sendiri, ia akan masuk ke alam neraka.
Dhp 308
- Seyyo ayoguḷo bhutto, tatto aggisikhūpamo;
- yañce bhuñjeyya dussīlo, raṭṭhapiṇḍamasaññato.
Lebih baik menelan bola besi panas seperti bara api daripada selalu menerima makanan (pindapata) dari orang lain dan tetap berkelakuan buruk serta tak terkendali.
Dhp 309
- Cattāri ṭhānāni naro pamatto, āpajjati paradārūpasevī;
- apuññalābhaṃ na nikāmaseyyaṃ, nindaṃ tatīyaṃ nirayaṃ catutthaṃ.
Orang yang lengah dan berbuat asusila akan menerima empat ganjaran, yaitu: pertama, ia akan menerima akibat buruk; kedua, ia tidak dapat tidur dengan tenang; ketiga, namanya tercela; dan keempat, ia akan masuk ke alam neraka.
Dhp 310
- Apuññalābho ca gatī ca pāpikā, bhītassa bhītāya ratī ca thokikā;
- rājā ca daṇḍaṃ garukaṃ paṇeti, tasmā naro paradāraṃ na seve.
Ia akan menerima akibat buruk dan kelahiran rendah pada kehidupannya yang akan datang. Sungguh singkat kenikmatan yang diperoleh lelaki dan wanita yang ketakutan, dan raja pun akan menjatuhkan hukuman berat. Oleh karena itu, janganlah seseorang berbuat asusila dengan istri orang lain.
Dhp 311
- Kuso yathā duggahito, hatthamevānukantati;
- sāmaññaṃ dupparāmaṭṭhaṃ, nirayāyupakaḍḍhati.
Bagaikan rumput kusa, bila dipegang secara salah akan melukai tangan, begitu juga kehidupan seorang pertapa; apabila dijalankan secara salah akan menyeret orang ke neraka.
Dhp 312
- Yaṃ kiñci sithilaṃ kammaṃ, saṃkiliṭṭhañca yaṃ vataṃ;
- saṅkassaraṃ brahmacariyaṃ, na taṃ hoti mahapphalaṃ.
Bila suatu pekerjaan dikerjakan dengan seenaknya, suatu tekad tidak dijalankan dengan selayaknya; kehidupan suci tidak dijalankan dengan sepenuh hati, maka semuanya ini tidak akan membuahkan hasil yang besar.
Dhp 313
- Kayirā ce kayirāthenaṃ, daḷhamenaṃ parakkame;
- sithilo hi paribbājo, bhiyyo ākirate rajaṃ.
Hendaknya orang mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati. Suatu kehidupan suci yang dijalankan dengan seenaknya akan membangkitkan debu nafsu yang lebih besar.
Dhp 314
- Akataṃ dukkaṭaṃ seyyo, pacchā tappati dukkaṭaṃ;
- katañca sukataṃ seyyo, yaṃ katvā nānutappati.
Sebaiknya seseorang tidak melakukan perbuatan jahat, karena di kemudian hari perbuatan itu akan menyiksa dirinya sendiri. Lebih baik seseorang melakukan perbuatan baik, karena setelah melakukannya ia tidak akan menyesal.
Dhp 315
- Nagaraṃ yathā paccantaṃ, guttaṃ santarabāhiraṃ;
- evaṃ gopetha attānaṃ, khaṇo vo mā upaccagā. khaṇātītā hi socanti, nirayamhi samappitā.
Bagaikan perbatasan negara yang dijaga kuat di bagian dalam dan luar, begitu pula seharusnya engkau menjaga dirimu, janganlah membiarkan kesempatan baik (dalam era ajaran Sang Buddha) ini berlalu. Oleh karena mereka yang melepaskan kesempatan ini akan bersedih hati bila nanti berada di alam neraka.
Dhp 316
- Alajjitāye lajjanti, lajjitāye na lajjare;
- micchādiṭṭhisamādānā, sattā gacchanti duggatiṃ.
Mereka yang merasa malu terhadap apa yang sebenarnya tidak memalukan, dan sebaliknya tidak merasa malu terhadap apa yang sebenarnya memalukan, maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara.
Dhp 317
- Abhaye bhayadassino, bhaye cābhayadassino;
- micchādiṭṭhisamādānā, sattā gacchanti duggatiṃ.
Mereka yang merasa takut terhadap apa yang sebenarnya tidak menakutkan, dan sebaliknya tidak merasa takut terhadap apa yang sebenarnya menakutkan, maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara.
Dhp 318
- Avajje vajjamatino, vajje cāvajjadassino;
- micchādiṭṭhisamādānā, sattā gacchanti duggatiṃ.
Mereka yang menganggap tercela terhadap apa yang sebenarnya tidak tercela, dan menganggap tidak tercela terhadap apa yang sebenarnya tercela, maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara.
Dhp 319
- Vajjañca vajjato ñatvā, avajjañca avajjato;
- sammādiṭṭhisamādānā, sattā gacchanti suggatiṃ.
Mereka yang mengetahui apa yang tercela sebagai tercela, dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tecela, maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu akan masuk ke alam bahagia.
Penafsiran Mahāyāna
[sunting | sunting sumber]Penggambaran neraka
[sunting | sunting sumber]Dalam tradisi Mahāyāna, terdapat beberapa sistem untuk menghitung neraka-neraka ini dan merinci siksaannya. Beberapa sumber kepustakaan Mahāyāna mendeskripsikan lima ratus atau bahkan ratusan ribu neraka yang berbeda. Salah satu sistem yang paling umum adalah "Delapan Neraka Panas Besar" dan "Delapan Neraka Dingin Besar". Secara fisik, neraka dianggap sebagai serangkaian lapisan yang membentang di bawah Jambudvīpa. Terdapat pula serangkaian neraka terisolasi dan neraka perbatasan yang disebut Pratyeka naraka dan Lokantarika.
Penderitaan para penghuni di neraka sering kali menyerupai penderitaan para preta, dan kedua jenis makhluk ini kadang tertukar bagi orang umum. Perbedaan paling mendasar adalah bahwa makhluk di neraka terkurung di dunia bawah tanah mereka, sementara para preta bebas bergerak.
Mengenai bagaimana makhluk-makhluk bisa masuk ke neraka, mereka tidak dilahirkan di neraka melainkan muncul melalui manifestasi (upapāta उपपात) sebagai makhluk dewasa di bawah pengaruh kekuatan karma. Tubuh tempat mereka bermanifestasi terbuat dari materi ulet yang dapat menahan rasa sakit yang paling ekstrem sekalipun. Dalam beberapa teks, disebutkan bahwa tubuh mereka berukuran raksasa untuk memperpanjang penderitaan tersebut.[32]
Delapan neraka panas
[sunting | sunting sumber]Uṣṇanaraka (उष्णनरक; terj. har. 'Neraka Panas'), juga disebut Delapan Neraka Panas (Hanzi: 八熱地獄; Pinyin: Bārè Dìyù; 八熱地獄, Hachinetsu Jigoku) atau Delapan Neraka Besar/Utama (Hanzi: 八大地獄; Pinyin: Bādà Dìyù; 八大地獄, Hachidai Jigoku), dijelaskan di bawah ini.
Neraka untuk pelaku kejahatan "fisik"
[sunting | sunting sumber]1. Sañjīva
[sunting | sunting sumber]Sañjīva (नरक; Hanzi: 等活地獄; Pinyin: Děnghuó Dìyù; 等活地獄, Tōkatsu Jigoku), Naraka "Menghidupkan Kembali", memiliki tanah yang terbuat dari besi panas yang dipanaskan oleh api yang sangat besar. Ini adalah alam yang ditetapkan bagi mereka yang melakukan tindakan kekerasan dan pembunuhan dengan niat yang jelas untuk membunuh makhluk hidup, atas dasar keinginan untuk menghancurkan sumber kehidupan mereka.[33][34][35] Makhluk di naraka ini muncul dalam keadaan dewasa, dan langsung berada dalam kondisi ketakutan dan penderitaan. Segera setelah makhluk tersebut mulai takut disakiti oleh pihak lain, sesama mereka muncul dan saling menyerang menggunakan cakar besi, kemudian penjaga neraka muncul dan menyerang makhluk tersebut dengan senjata api. Begitu makhluk tersebut mengalami ketidaksadaran layaknya kematian, mereka tiba-tiba dikembalikan ke kesehatan penuh saat angin dingin menghidupkan mereka kembali, dan serangan dimulai lagi. Siklus penyiksaan ini terus berlanjut hingga karma buruk mereka habis.[36] Penyiksaan lain yang dialami di Naraka ini meliputi: dijatuhi logam cair, diiris menjadi potongan-potongan, dan menderita akibat panasnya tanah besi oleh para penjaga neraka.[37][38]
Pembunuhan yang murni tidak disengaja tidak mengarah ke neraka ini. Contoh pembunuhan yang tidak mengarah ke neraka ini meliputi: tidak sengaja menginjak serangga, membunuh saat menancapkan pasak ke tanah, seorang dokter yang berusaha mengobati orang sakit tetapi tanpa sadar membunuh pasiennya, orang tua yang mencoba mendisiplinkan perilaku anaknya dan tanpa sengaja membunuh mereka, serta ketika nyala api menarik serangga menuju kehancurannya sendiri.[39] Mengonsumsi daging juga bukan merupakan tindakan karma buruk dalam kondisi di mana individu tersebut tidak melihat atau mendengar pembunuhan hewan tersebut, atau membiarkan hewan tersebut dibunuh secara khusus untuk mereka. Neraka ini seharusnya membuat para praktisi sadar akan ketergantungan mereka pada kehidupan makhluk di sekitarnya. Tujuannya adalah untuk mencegah penderitaan yang tidak perlu pada hewan, namun tidak sepenuhnya melarang konsumsi daging.[40]
Neraka ini dikatakan berada 1.000 yojana di bawah Jambudvīpa dan terbentang sejauh 10.000 yojana di setiap arah.[41]
Saddharmasmṛtyupasthānasūtra ("Sutra Penyadaran Hukum Sejati") menyebutkan enam belas neraka satelit/subsider pada neraka ini dan membahas tujuh di antaranya secara rinci.[42] Neraka-neraka subsider tersebut adalah: Kawasan Tahi Berlumpur, yang penuh dengan kotoran mendidih dan serangga;[43] Kawasan Roda Pedang, tempat besi jatuh dari langit seperti hujan dan tertutup oleh hutan pedang; Kawasan Wajan Pemanggang, tempat orang yang memanggang hewan akan menerima perlakuan yang sama; Kawasan Ragam Penderitaan; Kawasan Kegelapan, yang merupakan ruang gelap dan orang-orang di sana dibakar oleh api buram sementara angin berapi bertiup merobek kulit mereka;[44] Kawasan Ketidakbahagiaan, tempat api besar menyala dan penghuninya dimangsa oleh hewan-hewan; dan terakhir Kawasan Penderitaan Ekstrem, tempat orang malas yang melakukan pembunuhan dibakar.[42][45]
2. Kālasūtra
[sunting | sunting sumber]Kālasūtra (कालसूत्र; Hanzi: 黑繩地獄; Pinyin: Hēishéng Dìyù; 黒縄地獄, Kokujō Jigoku), Naraka "Benang Hitam", mencakup siksaan dari Sañjīva. Rasa sakit yang dialami di neraka ini sepuluh kali lipat lebih parah daripada yang diderita di Sañjīva.[46] Selain itu, garis-garis hitam digambar di tubuh mereka, yang digunakan para penjaga neraka sebagai panduan untuk memotong makhluk-makhluk tersebut menggunakan gergaji berapi dan kapak tajam.[37][41][47] Versi kedua dari neraka ini mendeskripsikannya sebagai tempat di mana tali-tali hitam dibentangkan melintasi pegunungan dengan kuali-kuali panas ditempatkan di bawahnya. Para penjaga neraka ini memaksa penghuninya membawa bungkusan besi berat dan berjalan menyeberangi tali tersebut hingga mereka jatuh ke dalam kuali di bawahnya.[48] Ini adalah tempat bagi mereka yang telah melakukan pembunuhan, perampokan, atau berbohong, serta mereka yang menjadi anak laki-laki durhaka atau wanita bermuka dua.[47]
Naraka ini mencakup tempat-tempat seperti neraka Chandala bagi mereka yang mencuri dari orang sakit atau mengambil benda-benda yang tidak layak mereka gunakan.[49] Mereka disiksa oleh burung-burung jahat raksasa yang mengeluarkan isi perut mereka. Hukuman lainnya termasuk dipaksa memakan tembaga cair dan ditusuk dengan tombak.[50]
Genshin mendeskripsikan neraka subsider di kawasan ini dengan lebih rinci. Salah satu contohnya adalah Kawasan Ratapan Setara dan Penerimaan Penderitaan, tempat para penghuninya diikat pada tali hitam yang terbakar lalu dijatuhkan ke atas pedang-pedang di bawahnya. Anjing-anjing pemburu dengan taring panas kemudian mencabik-cabik tubuh mereka.[51]
3. Saṃghāta
[sunting | sunting sumber]Saṃghāta (संघात; Hanzi: 眾合地獄; Pinyin: Zhònghé Dìyù; 衆合地獄, Shugō Jigoku), Naraka "Penghancuran",[52] dikelilingi oleh bongkahan batu raksasa yang saling berbenturan dan menghancurkan makhluk-makhluk menjadi jeli berdarah. Ketika bebatuan tersebut bergerak memisah kembali, kehidupan makhluk itu dipulihkan, dan prosesnya dimulai dari awal.[37] Di dalam naraka ini, mayat-mayat dimakan oleh iblis, beruang, dan burung.[53] Elang berparuh api merobek organ-organ mereka. Saddharmasmṛtyupasthānasūtra memberikan penggambaran lain tentang neraka ini. Para penjaga kemudian akan menggantung mereka pada kait besi.[53][54]
Kelahiran kembali ke neraka ini disebabkan oleh sikap yang tidak pantas terhadap cinta dan pemanjaan seksual yang dikombinasikan dengan tindakan pembunuhan.[47][55] Penduduk neraka ini awalnya dipertemukan dengan seorang wanita cantik yang mengingatkan mereka pada wanita yang pernah mereka cintai, duduk di atas pohon dan mengundang mereka untuk memanjat. Saat memanjat, daun-daun pedang yang panas mengiris tubuh mereka, tetapi penghuni tersebut dipenuhi dengan hasrat yang sangat besar sehingga mereka mencapai puncak, hanya untuk menemukan bahwa wanita itu kini berada di bawah pohon mengundang mereka turun. Hal ini diulang terus-menerus dan sang tahanan menghabiskan ratusan ribu tahun dalam siklus ini.[55][53] Ini mewakili orang-orang yang tetap hidup dalam ketidaktahuan dan memiliki cinta egosentris, karena mereka tidak menyadari bahwa mereka berada di dalam neraka penipuan diri mereka sendiri. Mereka menyalahkan penderitaan mereka pada keadaan di sekitar mereka alih-alih melihat ke dalam pikiran mereka sendiri yang terpenjara.[56]
Neraka subsider pertama, Kawasan Pandangan Salah, dideskripsikan oleh Genshin sebagai tempat bagi mereka yang telah melecehkan anak-anak. Mereka yang berakhir di neraka ini dipaksa untuk menyaksikan anak-anak mereka ditusuk oleh penjaga neraka. Saat ini terjadi, mereka mengalami penderitaan yang tak terkatakan saat mereka digantung terbalik dan tembaga cair dituangkan ke dalam tubuh mereka melalui anus.[57] Neraka lainnya adalah Kawasan Penahanan Penderitaan. Pria yang menculik wanita milik orang lain digantung terbalik dari sebuah pohon dan dipanggang di bawah api yang memasuki mulut mereka serta membakar bagian dalam tubuh mereka saat mereka mencoba menjerit.[57] Neraka lainnya adalah Kawasan Ragam Penderitaan dan Siksaan tempat para pria yang melakukan pemerkosaan homoseksual dilahirkan kembali. Pria-pria ini dipeluk oleh sosok-sosok dari orang yang mereka lecehkan. Setelah dibakar dengan cara ini, mereka hidup kembali dan dalam ketakutan mereka mencoba melarikan diri hanya untuk jatuh dari tebing, dan akhirnya dimangsa oleh burung-burung berparuh api dan rubah.[58][59]
4. Raurava
[sunting | sunting sumber]Raurava (रौरव; Hanzi: 叫喚地獄; Pinyin: Jiàohuàn Dìyù; 叫喚地獄, Kyōkan Jigoku), Naraka "Jeritan",[60] adalah tempat di mana makhluk yang menjerit-jerit berlarian liar, mencari perlindungan dari tanah yang terbakar saat mereka dihanguskan oleh kobaran api.[37][36] Deskripsi lain dari neraka ini menyebutkan bahwa para tahanan memohon belas kasihan kepada penjaga neraka, yang terbuat dari emas dan memiliki kaki panjang yang memungkinkan mereka berlari secepat angin, setelah mendengar suara-suara iblis yang mengerikan.[61] Hal ini justru meningkatkan kemarahan iblis-iblis tersebut, yang kemudian mencongkel mulut para tahanan dengan penjepit untuk menuangkan tembaga cair ke dalamnya guna menghancurkan organ-organ mereka.[62][63][64]
Alasan utama untuk terlahir kembali ke alam neraka ini adalah asupan dan penggunaan zat adiktif/minuman keras yang tidak pantas dikombinasikan dengan tindakan membunuh, mencuri, dan pemanjaan seksual. Enam belas neraka subsider dari naraka Raurava ini merinci sejumlah kasus yang melibatkan pemberian alkohol kepada para biksu dengan tujuan mengganggu mereka, penggunaan zat pemabuk sebagai sarana rayuan, penambahan air pada alkohol oleh para pedagang dengan niat meraup uang ekstra,[65] penyediaan minuman keras bagi hewan, atau pemanfaatan alkohol untuk membunuh atau merampok orang lain.[66] Meskipun demikian, konsumsi alkohol hanya dilarang sejauh itu menghalangi praktik moralitas yang benar. Neraka ini mungkin terkait dengan konsumsi alkohol, namun neraka ini tidak pernah menghukum individu yang minum sendirian atau bersama teman-teman. Namun, deskripsi neraka ini mencakup referensi ke efek negatif alkohol, seperti dampaknya yang merusak pada tubuh dan efek menjengkelkan pada pikiran, sehingga menyarankan pantangan dari minuman keras.[67]
Neraka untuk pelaku kejahatan "verbal"
[sunting | sunting sumber]5. Mahāraurava
[sunting | sunting sumber]Mahāraurava (महारौरव; Hanzi: 大叫喚地獄; Pinyin: Dàjiàohuàn Dìyù; 大叫喚地獄, Daikyōkan Jigoku), Naraka "Jeritan Besar", mirip dengan Raurava.[41] Penyebab utama jatuhnya seseorang ke neraka ini adalah berbohong dan penggunaan kata-kata yang tidak pantas sehubungan dengan pelanggaran yang diuraikan di naraka sebelumnya. Ini adalah neraka pertama di mana kondisi psikologis memiliki konsekuensi yang lebih besar daripada kondisi fisik terkait perbuatan buruk tersebut.[67] Di Neraka Kecil Penderitaan yang Tak Tertahankan, mereka yang melakukan sumpah palsu atau penyuapan disiksa dengan membiarkan ular lahir di dalam tubuh mereka. Setiap kebohongan menciptakan lebih banyak ular karena hewan tersebut mewakili ketakutan batin seperti perasaan tidak mampu, kehilangan harta benda, dan sebagainya yang diabadikan oleh kebohongan lebih lanjut.[68] Walaupun tidak ada pembedaan mutlak antara kebenaran dan kepalsuan dalam ajaran Buddha, bukan berarti seseorang boleh secara sengaja menipu orang lain.[68]
Neraka subsider mencakup Kawasan Menerima Penderitaan Ditusuk Mata Tombak, di mana jarum besi panas ditusukkan ke dalam mulut dan lidah para penghuninya. Di Kawasan Tempat Menerima Penderitaan Tanpa Batas, para penjaga menarik lidah mereka dengan penjepit besi panas.[69][70]
Neraka untuk pelaku kejahatan "mental"
[sunting | sunting sumber]6. Tāpana
[sunting | sunting sumber]Tāpana (तपन; Hanzi: 焦熱/炎熱地獄; Pinyin: Jiāorè/Yánrè Dìyù; 焦熱/炎熱地獄, Shōnetsu/Ennetsu Jigoku), Naraka "Pemanasan",[71] adalah tempat penjaga neraka menusuk para penghuninya dengan tombak berapi sampai api keluar dari hidung dan mulut mereka.[37] Lebih lanjut, mereka dilemparkan ke atas permukaan besi yang terbakar dan dipukuli oleh penjaga hingga mereka hancur menjadi gumpalan daging atau digoreng di dalam wajan. Mereka ditusuk dari bokong hingga ke kepala dengan ludah dan dipanggang, terbakar sampai nyala api menembus tulang dan sumsum mereka. Dibandingkan dengan api neraka ini, api dari naraka sebelumnya terasa seperti salju bagi para penghuninya.[72][73][74]
Sebagai neraka pertama yang murni berkaitan dengan tindakan mental, neraka ini menargetkan rintangan-rintangan utama menuju pencerahan. Rintangan ini termasuk penolakan terhadap hukum karma dan eksistensi baik serta buruk, yang dianggap oleh Buddha historis sebagai sesuatu yang buruk karena menjauhkan orang dari tanggung jawab pribadi.[75] Kunci menuju pencerahan terletak di dalam pikiran manusia, dan jika pikiran tersebut menipu dirinya sendiri, kemungkinan pencerahan itu akan musnah.[76]
Salah satu tempat di neraka ini adalah Kawasan pundarika, di mana setiap orang dilalap api. Sebuah suara memanggil mereka untuk mendekat dan minum dari danau bunga seroja (pundarika). Mereka mengikuti suara tersebut dan jatuh ke dalam lubang yang dilalap api yang membakar habis tubuh mereka. Tubuh mereka dipulihkan kembali tetapi akan segera terbakar lagi seiring berlanjutnya siklus ini. Meskipun demikian, mereka mengulangi usaha mereka untuk menemukan danau seroja guna memuaskan dahaga mereka. Orang-orang yang membuat diri mereka kelaparan dengan harapan mencapai surga, dan orang-orang yang membimbing orang lain untuk mempercayai pandangan-pandangan keliru (heterodoks), akan ditemukan di neraka ini.[77][78][75]
Tempat kedua adalah Kawasan Angin Api Gelap. Orang-orang di sini terpenjara dalam pusaran angin yang menyebabkan mereka berputar-putar. Mereka diombang-ambingkan oleh angin yang menerjang tubuh mereka setajam pedang dan memotongnya menjadi potongan-potongan kecil. Setelah itu mereka dihidupkan kembali dan proses ini diulang. Neraka ini dikhususkan untuk kepercayaan bahwa segala sesuatu dapat diklasifikasikan ke dalam hal-hal yang permanen dan tidak permanen.[77][79][80]
Neraka-neraka ini menunjukkan bahwa walaupun agama Buddha memiliki toleransi terhadap agama lain, beberapa sutra secara jelas mengutuk keyakinan dan praktik yang berbeda dari apa yang diajarkan oleh Buddha historis.[80]
7. Pratāpana
[sunting | sunting sumber]Pratāpana (प्रतापन; Hanzi: 大焦熱/大炎熱/極熱地獄; Pinyin: Dàjiāorè/Dàyánrè/Jírè Dìyù; 大焦熱/大炎熱/極熱地獄, Daishōnetsu/Daiennetsu/Gokunetsu Jigoku), Naraka "Pemanasan Hebat",[81] adalah tempat di mana iblis-iblis berperut hitam, bermata api, dan bergigi bengkok menghantui mereka yang terlahir kembali, mencengkeram tenggorokan penghuninya dan menyeret mereka melintasi pegunungan dan kota serta melintasi lautan.[47][37][82] Genshin mendeskripsikan bahwa saat mencapai pintu masuk ke neraka ini, mereka dihina oleh Raja Yama atas dosa-dosa yang mereka lakukan di kehidupan sebelumnya. Terpenjara oleh tali karma buruk mereka sendiri, mereka pun memasuki Pratāpana naraka.[82] Neraka ini sepenuhnya dilalap api dan ratapan makhluk-makhluk lain. Nyala api dari naraka ini adalah karma buruk individu itu sendiri yang membuat mereka menderita.[82]
Neraka ini menakdirkan siksaan bagi mereka yang secara seksual telah menodai agama.[83] Penodaan ini mencakup merayu para biksu, biksuni, dan umat awam wanita yang bajik. Mereka yang merayu umat awam wanita dibuat menderita di dalam Neraka Cacing Berbentuk Tali Busur dengan diikat dan dibaringkan di atas lantai yang menyala, di mana kaitan-kaitan besi dipasang. Saat mereka menjerit kesakitan, penjaga neraka memasukkan cacing berbentuk tali busur ke dalam tubuh si pendosa. Cacing ini membakar bagian dalam tubuh mereka dan melahap organ dalam sambil mengeluarkan racun yang menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Setelah proses ini, cacing tersebut memecahkan lubang di tubuh dan meluncur keluar.[47]
Neraka lain yang dapat ditemukan di sini adalah Tempat Rambut yang Menyakitkan, yang menampung para wanita yang berusaha memperdaya para biksu ke dalam godaan seksual. Wanita-wanita semacam itu dibuat menderita dengan dikelupas kulitnya oleh penjaga neraka sampai hanya tersisa tulang-belulangnya. Kulitnya pulih kembali dan siksaan ini diulang. Kadang-kadang para penjaga hanya mengupas bagian-bagian kecil lalu memanggangnya. Melarikan diri dari penyiksaan ini, mereka berlari ke pelukan biksu yang mereka rayu, lalu penglihatan mereka berubah menjadi nyala api yang membakar. Hampir mustahil wanita seperti itu dapat terlahir kembali sebagai manusia; jika pun ia terlahir kembali sebagai manusia, ia akan berakhir buruk rupa dan cacat, dipaksa membersihkan kotoran dan dipukuli bahkan oleh anak-anaknya sendiri.[84]
8. Avīci
[sunting | sunting sumber]Avīci (अवीचि; Hanzi: 無間/阿鼻地獄; Pinyin: Wújiàn/Ābí Dìyù; 無間/阿鼻地獄, Mugen/Abi Jigoku), Naraka "Tanpa Jeda",[85] adalah yang terdalam dari Delapan Neraka Panas. Makhluk-makhluk dipanggang dalam oven raksasa yang menyala dengan penderitaan yang mengerikan.[37] Naraka Avici terletak di bagian terbawah dari Alam Kama (Alam Nafsu Keinginan), dan saat makhluk-makhluk berada dalam kondisi antara penjelmaan ulang dan ditakdirkan untuk masuk ke neraka ini, mereka berseru:
Tidak ada yang lain selain kobaran api.
Mereka memenuhi langit dan tidak ada celah (di antara nyala api).
Di empat penjuru, di empat arah perantara
Dan di tanah, tidak ada tempat yang bebas (dari nyala api).
Setiap tempat di tanah dipenuhi dengan orang jahat.
Aku tidak bisa bergantung pada apa pun.
Aku sendirian, tanpa teman.
Aku berada dalam kegelapan alam jahat ini
Dan akan (segera) memasuki lautan api.
Di langit, aku tidak bisa
Melihat matahari, bulan, maupun bintang-bintang.[86][87]
Hingga mereka mencapai neraka Avici, mereka akan jatuh selama dua ribu tahun dalam postur terbalik, karena postur ini menyimbolkan pandangan keliru mereka sendiri (Sanskerta: viparyāsa).[88][89]
Penderitaan di neraka-neraka ini seribu kali lebih parah daripada yang ditemui di neraka-neraka sebelumnya, membuat penghuni neraka sebelumnya tampak sebahagia deva yang paling terberkahi. Bau setiap pendosa memiliki aroma busuk yang menjijikkan, dan suara-suara dari naraka ini akan membuat siapapun yang mendengarnya mati ketakutan.[89] Neraka Avici dikelilingi oleh tujuh dinding besi dan tujuh jaring besi, serta di setiap sudutnya diposisikan seekor anjing perunggu raksasa dengan mata seperti kilat, taring seperti pedang, dan gigi seperti pisau gunung. Di bawahnya terdapat delapan belas hutan dengan daun-daun yang tajam.[88] Terdapat tujuh dinding dan panji-panji yang memancarkan api di dalam neraka. Selain itu, ditempatkan di sini delapan belas kuali tempat perunggu cair mengalir, dan ada ular-ular yang menyemburkan racun dan api di mana-mana. Suara yang mereka hasilkan seperti seratus ribu guruh yang menarik bola-bola besi dari langit. Hewan lain yang hidup di sini adalah cacing yang menyemburkan api.[88][90]
Deskripsi lain dari neraka ini adalah terdapat api di mana-mana yang menembus, membakar, memutus urat daging, dan meretakkan tubuh mereka yang menetap di sana. Tidak ada apa-apa selain api, dan satu-satunya tanda bahwa ada makhluk yang ada di dalamnya adalah jeritan-jeritan. Semua makhluk dipaksa memanjat gunung besi yang panas menyengat. Penderitaan tambahan meliputi pencabutan lidah dan pemaksaan untuk menelan bola besi serta perunggu cair sembari mulut dibuka paksa dengan penjepit. Ini mengakibatkan tenggorokan dan organ dalam mereka terbakar habis.[91][92]
Dalam Ōjōyōshū-nya, Genshin mendeskripsikan beberapa neraka subsider dari neraka ini, dimulai dengan penggambaran Kawasan Tempat Rubah Besi Diberi Makan. Semua makhluk di sini dilalap api. Di atas semua itu, ubin besi turun dari langit seperti badai petir, menghancurkan segala sesuatu di bawahnya. Rubah dengan gigi membara berjalan menuju tubuh-tubuh yang hancur dan menyantapnya. Semua orang yang merusak properti Buddhis dengan membakarnya akan dihukum di neraka ini.[93][94] Di Kawasan Perut Hitam, semua makhluk termakan oleh rasa lapar mereka sendiri hingga terpaksa memakan daging mereka sendiri. Ular berperut hitam juga menyerang mereka di sini. Mereka yang memakan barang persembahan untuk Buddha akan menderita di tempat ini.[93][95] Tempat lainnya adalah Kawasan Tempat Gunung Besi Turun seperti Hujan. Di tempat ini, gunung-gunung besi yang berjatuhan menghancurkan tubuh para pendosa menjadi gumpalan daging. Terdapat sebelas api berbentuk menara yang membakar siapa saja yang mendekat, serta para penjaga dengan pedang yang menyayat para pendosa di wilayah ini sembari menuangkan timah cair ke dalam luka tersebut. Mereka yang mencuri dan memakan makanan pratyekabuddha ditakdirkan untuk pergi ke sini.[96][97] Neraka subsider berikutnya adalah Kawasan Burung, yang dihuni oleh burung sebesar gajah dengan paruh tajam yang menyemburkan api. Burung itu mencengkeram makhluk di kawasan ini lalu menjatuhkannya dari langit, membuat mereka hancur berkeping-keping di tanah. Jalanannya dipenuhi pisau yang menonjol dan menembus tubuh mereka yang berjalan di atasnya. Selain itu, mereka diserang oleh anjing-anjing dengan taring yang terbakar.[96][98]
Neraka ini adalah tempat yang ditakdirkan bagi mereka yang telah melakukan salah satu dari Lima Pelanggaran Besar dalam agama Buddha (Sanskerta: ānantarika-karma) yang meliputi pembunuhan terhadap ibu atau ayah biologis seseorang, niat jahat untuk melukai Buddha atau komunitas Buddhis, serta pembunuhan terhadap seorang Arahat. Untuk layak masuk ke neraka Avici, dosa-dosa ini harus dilakukan dengan niat yang disengaja, karena mereka secara sadar telah mengabaikan kebaikan di dalam diri mereka dan sadar sepenuhnya atas dosa mereka.[89] Dosa ini juga mencakup merampas peluang orang lain untuk mencapai pencerahan[99] dan menghancurkan bagian dari diri seseorang di bawah prinsip Kemunculan yang Saling Bergantungan (Sanskerta: pratītyasamutpāda).[100]
Delapan neraka dingin
[sunting | sunting sumber]Śītanaraka (शीतनरक; terj. har. 'Neraka Dingin'), juga disebut Delapan Neraka Dingin (Hanzi: 八寒地獄; Pinyin: Bāhán Dìyù; 八寒地獄, Hakkan Jigoku) dan dikatakan terletak di sebuah Cakkavāla dalam sutra-sutra Buddhis, adalah tempat para pendosa disiksa dengan hawa dingin yang tak tertahankan. Empat nama pertama mencerminkan jeritan yang disuarakan oleh para penderita di neraka-neraka ini karena dingin yang tidak dapat ditoleransi. Empat neraka terakhir dinamai berdasarkan perubahan yang konon dialami oleh daging seseorang saat terpapar dingin yang intens di sana. Sebagai contoh, di neraka "Seroja Merah Tua", rasa dinginnya dikatakan sangat parah sehingga punggung seseorang pecah terbuka dan daging berdarah muncul, menyerupai bunga seroja merah tua.
Kitab Abhidharmakośa mendeskripsikan "Delapan Neraka Dingin" sebagai berikut:[37][101][102]
- Arbuda (अर्बुद; Pinyin: Èbùtuó; bahasa Jepang:
頞部陀 ; Rōmaji: Abuda), Neraka Lepuh, adalah dataran gelap membeku yang dikelilingi pegunungan es dan terus-menerus disapu badai salju. Penduduk dunia ini muncul dalam keadaan dewasa dan menetap seumur hidup dalam keadaan telanjang dan sendirian, sementara hawa dingin menimbulkan lepuh di sekujur tubuh mereka. Durasi masa kehidupan di naraka ini dikatakan setara dengan waktu yang dibutuhkan untuk mengosongkan satu tong wijen jika seseorang hanya mengambil satu biji wijen setiap seratus tahun. - Nirarbuda (अर्बुद; Pinyin: Nícìbùtuó; bahasa Jepang:
尼剌部陀 ; Rōmaji: Nirabuda), Neraka Lepuh yang Pecah, jauh lebih dingin daripada Arbuda. Di sana, lepuh-lepuh tersebut pecah, membuat tubuh makhluk-makhluk tersebut berlumuran darah beku dan nanah. - Aṭaṭa (अटट; Pinyin: Èxīzhā; bahasa Jepang:
頞哳吒 ; Rōmaji: Atata) adalah Neraka Gigi Menggigil/Bergemeretak. Di sana, makhluk-makhluk menggigil kedinginan sementara gigi mereka bergemeretak, menghasilkan suara aṭ-aṭ-aṭ menggunakan mulut mereka. - Hahava (हहव; Pinyin: Huòhuòpó; bahasa Jepang:
臛臛婆 ; Rōmaji: Kakaba) adalah Neraka Ratapan. Di sana, makhluk-makhluk meratap dalam kedinginan, mengeluarkan rintihan kesakitan haa, haa. - Huhuva (हुहुव; Pinyin: Hǔhǔpó; bahasa Jepang:
虎虎婆 ; Rōmaji: Kokoba), Neraka Erangan, adalah tempat makhluk-makhluk mengerang kesakitan, menghasilkan suara hu, hu. - Utpala (उत्पल; Pinyin: Wàbōluó; bahasa Jepang:
嗢鉢羅 ; Rōmaji: Ubara) adalah Neraka Seroja Biru. Rasa dingin yang intens di sana membuat kulit berubah menjadi biru layaknya warna bunga lili air utpala. - Padma (पद्म; Pinyin: Bōtèmó; bahasa Jepang:
鉢特摩 ; Rōmaji: Wadoma) adalah Neraka Seroja Merah Tua (Pinyin: Hónglián Dìyù; bahasa Jepang:紅蓮 地獄; Rōmaji: Guren Jigoku). Di sini, badai salju mengamuk dan meretakkan kulit yang membeku, membuat seseorang terluka parah dan berdarah. - Mahāpadma (महापद्म; Pinyin: Móhēbōtèmó; bahasa Jepang:
摩訶鉢特摩 ; Rōmaji: Makawadoma) adalah Neraka Seroja Merah Tua Besar (Pinyin: Dàhónglián Dìyù; bahasa Jepang:大紅蓮 地獄; Rōmaji: Daiguren Jigoku). Seluruh tubuh hancur berkeping-keping dan organ-organ internal terpapar hawa dingin, lalu ikut retak.
Menurut Mahāyāna Mahāparinirvāṇa Sūtra, kedelapan neraka tersebut adalah:
- Neraka Hahava,
- Neraka Aṭaṭa,
- Neraka Alalā,
- Neraka Ababa,
- Neraka Utpala (Neraka Seroja Biru),
- Neraka Padma (Neraka Seroja Merah Tua),
- Neraka Kumuda (Neraka Seroja Merah Terang),
- Neraka Pundarīka (Neraka Seroja Putih).
Di neraka pertama, dingin yang ekstrem menghasilkan ruam dingin/chilblain di sekujur tubuh seseorang. Di neraka kedua, ruam tersebut memburuk dan akhirnya pecah. Tiga neraka berikutnya dinamai dari jeritan para penderita yang menghuninya. Di neraka keenam, daging seseorang berubah menjadi biru akibat hawa dingin ekstrem. Di dua neraka terakhir, dingin membuat daging seseorang pecah terbuka, menyerupai bunga seroja merah tua.[101]
Dalam literatur Mahāyāna
[sunting | sunting sumber]Dīrghāgama atau Āgama-sūtra Panjang (Hanzi: 長阿含經; Pinyin: cháng āhán jīng),[103] diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin dalam 22 gulungan (fasikel) dari naskah asli bahasa Indik oleh Buddhayaśas (Hanzi: 佛陀耶舍; Pinyin: Fótuóyéshě) dan Zhu Fonian (竺佛念) pada 412–413 M.[104] Literatur ini memuat 30 kitab suci terpisah dalam empat kelompok (varga). Varga keempat, yang berkaitan dengan kosmologi Buddhis,[105] memuat "Bab tentang Neraka" (地獄品; dìyù pǐn) di dalam Sutra Kisah Penciptaan Dunia (世記經; shìjì jīng). Dalam teks ini, Sang Buddha mendeskripsikan setiap neraka kepada para sangha dengan sangat mendetail, dimulai dengan lokasi fisik dan nama-namanya:
佛告比丘: 「此四天下有八千天下圍遶其外。復有大海水周匝圍遶八千天下。復有大金剛山遶大海水。金剛山外復有第二大金剛山。二山中間窈窈冥冥。日月神天有大威力。不能以光照及於彼。彼有八大地獄。其一地獄有十六小地獄。第一大地獄名想。第二名黑繩。第三名堆壓。第四名叫喚。第五名大叫喚。第六名燒炙。第七名大燒炙。第八名無間。其想地獄有十六小獄。小獄縱廣五百由旬。第一小獄名曰黑沙。二名沸屎。三名五百丁。四名飢。五名渴。六名一銅釜。七名多銅釜。八名石磨。九名膿血。十名量火。十一名灰河。十二名鐵丸。十三名釿斧。十四名犲狼。十五名劍樹。十六名寒氷。」[106]
Sang Buddha memberi tahu para bhikṣu, terdapat 8.000 benua yang mengelilingi empat benua [di bumi]. Terdapat pula lautan besar yang mengelilingi 8.000 benua tersebut. Terdapat pula barisan pegunungan intan besar yang mengelilingi lautan besar tersebut. Di seberang barisan pegunungan intan besar ini masih ada barisan pegunungan intan besar kedua. Dan di antara dua barisan pegunungan ini terbentang kegelapan. Matahari dan bulan di langit surgawi dengan kekuatannya yang agung tidak mampu menjangkau [kegelapan] itu dengan cahayanya. Di dalam [ruang di antara dua barisan pegunungan intan] tersebut terdapat delapan neraka besar. Bersamaan dengan setiap neraka besar, terdapat enam belas neraka kecil.
Neraka besar pertama bernama Pikiran. Yang kedua bernama Tali Hitam. Yang ketiga bernama Penghancur. Yang keempat bernama Rintihan. Yang kelima bernama Rintihan Besar. Yang keenam bernama Pembakaran. Yang ketujuh bernama Pembakaran Hebat. Yang kedelapan bernama Tanpa Jeda. Neraka Pikiran memuat enam belas neraka kecil. Neraka-neraka kecil ini memiliki luas 500 yojana persegi. Neraka kecil pertama bernama Pasir Hitam. Neraka kedua bernama Kotoran Mendidih. Yang ketiga bernama Lima Ratus Paku. Yang keempat bernama Kelaparan. Yang kelima bernama Kehausan. Yang keenam bernama Kuali Tembaga Tunggal. Yang ketujuh bernama Banyak Kuali Tembaga. Yang kedelapan bernama Lesung Batu. Yang kesembilan bernama Nanah dan Darah. Yang kesepuluh bernama Api Penakar. Yang kesebelas bernama Sungai Abu. Yang kedua belas bernama Peluru Besi. Yang ketiga belas bernama Kapak dan Beliung. Yang keempat belas bernama Jakal dan Serigala. Yang kelima belas bernama Sayatan Pedang. Yang keenam belas bernama Dingin dan Es.
Bukti lebih lanjut yang mendukung pentingnya teks-teks ini dalam membahas neraka terletak pada investigasi mendalam para penganut Buddha tentang hakikat neraka dan para penghuninya. Terjemahan bahasa Mandarin abad kelima Buddhavarman untuk Abhidharma-vibhāṣā-śāstra (Hanzi: 阿毘曇毘婆沙論; Pinyin: āpídámó pípóshā lùn) mempertanyakan apakah para penjaga neraka yang menyiksa makhluk neraka juga merupakan makhluk hidup (sattva), wujud apa yang mereka ambil, dan bahasa apa yang mereka gunakan.[107] Kitab Abhidharmakośa (Gedung Harta Pengetahuan Luhur) adalah teks akar yang menjelaskan klasifikasi paling umum, yakni Delapan Neraka Dingin dan Delapan Neraka Panas.[108] Terjemahannya ke bahasa Mandarin abad ketujuh oleh Xuanzang (玄奘) juga menaruh perhatian pada apakah para penjaga neraka adalah makhluk yang memiliki kesadaran, serta bagaimana mereka dapat menerima ganjaran karma, apakah mereka menciptakan karma buruk sama sekali, dan mengapa mereka tidak terpengaruh secara fisik dan terbakar oleh api neraka.[109]
Deskripsi mengenai naraka merupakan subjek umum dalam beberapa bentuk komentar Buddhis dan literatur populer sebagai kisah peringatan terhadap nasib yang menimpa pelaku kejahatan, sekaligus dorongan menuju kebajikan.[110]
Sutra Mahāyāna dari Bodhisatwa Kṣitigarbha (Dìzàng atau Jizō) secara gamblang mendeskripsikan penderitaan di naraka dan menjelaskan bagaimana orang biasa dapat melimpahkan jasa kebajikan guna meringankan penderitaan makhluk-makhluk di sana.[111] Salah satu contohnya adalah arca-arca Kṣitigarbha yang diyakini dapat mempersingkat periode waktu yang harus ditanggung anak-anak dalam penderitaan di dunia bawah.[112]
Genshin, seorang biksu dari Buddhisme Tanah Murni, memulai karya Ōjōyōshū-nya dengan penjelasan tentang penderitaan di dalam delapan naraka panas. Buku ini merupakan karya penting dalam pergerakan Buddhisme Tanah Murni dan menguraikan beberapa pemikiran mengenai kosmologi dan praktik keagamaan.[113] Genshin mengasumsikan pendirian umum Buddhis bahwa kehidupan di dalam Enam Alam Kelahiran Kembali selalu dicirikan oleh duḥkha (penderitaan) sehingga harus ditinggalkan.[114] Tujuan deskripsinya tentang penderitaan ekstrem di naraka kemungkinan adalah untuk meyakinkan orang-orang tentang ajaran dan praktik Buddhisme Tanah Murni serta menghentikan kemelekatan mereka pada keberadaan transmigrasi di dalam siklus samsara.[115] Teks-teks Lamrim di Tibet juga memuat deskripsi yang serupa.
Teks-teks Buddhis berbahasa Mandarin banyak memperluas deskripsi mengenai naraka (Diyu), merinci naraka-naraka tambahan beserta hukumannya, dan memperluas peran Raja Yama dan para asistennya, sang Kepala Sapi dan Muka Kuda. Dalam naskah-naskah ini, naraka menjadi bagian integral dari birokrasi dunia lain yang mencerminkan sistem tata usaha Kekaisaran Tiongkok.
Upacara Butsumyōe
[sunting | sunting sumber]Butsumyōe (仏名会) adalah upacara pertobatan yang berlangsung selama tiga hari. Ini merupakan acara tahunan di Jepang dari tahun 830 hingga 838. Nama-nama Buddha di tiga masa (lampau, sekarang, dan masa depan) dilantunkan untuk bertobat dari perbuatan buruk yang dilakukan selama tahun tersebut. Penggambaran neraka Buddhis digunakan dalam wujud lukisan (jigoku-e 地獄絵). Lukisan-lukisan ini digunakan untuk membangkitkan rasa welas asih bagi para pendosa yang telah jatuh ke neraka.[116]
Kitab Kurōdo-shiki 蔵人式 (894), Eiga Monogatari (1028–1107) dan Makura-sōshi (1102) memuat uraian tentang tabir neraka, yang membuktikan penyebarannya yang luas dalam upacara Butsumyōe. Motif-motif penggambaran naraka ini kemungkinan besar dilandaskan pada seni rupa zaman Nara dan bukan, sebagaimana sering dikemukakan, bersumber dari Ōjōyōshū.[116]
Pameran delapan belas neraka
[sunting | sunting sumber]Vihara Madou Daitian di Taiwan memamerkan penggambaran Delapan Belas Neraka (麻豆代天府 十八層地獄) sebagaimana dibayangkan dalam pandangan agama Buddha Mahāyāna. Mereka yang jatuh ke neraka ini digambarkan diborgol saat menerima hukuman. Siksaan yang digambarkan tersebut meliputi digergaji berkeping-keping oleh penjaga neraka, diserang binatang-binatang buas, atau dijatuhkan ke Kolam Darah Neraka.[117]
- Kolam Darah Neraka pada Pameran Delapan Belas Neraka di Kuil Madou Daitian (麻豆代天府 十八層地獄)
- Seorang penjaga neraka menggergaji penghuni neraka hingga hancur berkeping-keping
Interpretasi konsep neraka
[sunting | sunting sumber]Matsunaga berargumen bahwa konsep Naraka diciptakan untuk menggerakkan umat pada periode tersebut agar mengarahkan tindakan hidup sehari-harinya menuju pencapaian pencerahan.[118] Naraka tidak memberikan garis besar khusus tentang perilaku moral yang mengarah ke pencerahan, tetapi ia bertindak sebagai sebuah pedoman untuk mencapainya. Jika tidak demikian, kata Matsunaga, setiap orang akan terbebas dari tanggung jawab mereka sendiri. Setiap individu harus menempuh jalannya masing-masing yang bergantung pada ruang, waktu, dan karma perbuatan masa lalunya. Agama Buddha menganjurkan bahwa manusia memiliki kesanggupan untuk membentuk dirinya sendiri sehingga berkuasa membangun surga dan nerakanya sendiri.[119]
Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Para penerjemah awal Kanon Buddhis ke bahasa Inggris tampaknya lebih memilih menggunakan istilah "purgatory" ("tempat penyucian, purgatorium") daripada "hell" ("neraka") untuk istilah naraka karena, tidak seperti bayangan neraka dalam Kekristenan, purgatory bukanlah tempat yang abadi.
- ↑ Lihat juga ekspresi "khārodakā nadīti vetaraṇī nāma tambalohanadī" ("yang dimaksud dengan 'sungai berair tajam/korosif' (khārodakā nadī) adalah sungai lelehan tembaga yang bernama vetaraṇī") dalam Papañcasūdanī (Majjhimanikāya-aṭṭhakathā) secara langsung di sini.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Braavig (2009), hlm. 259. "Niraya" (Sanskerta: निरय, Pali: 𑀦𑀺𑀭𑀬) juga digunakan dalam literatur Hindu awal yang menggambarkan neraka. nir-r berarti "untuk keluar" atau "untuk berpisah" yang merujuk pada neraka sebagai suatu tempat dihancurkannya karma buruk.
- ↑ Thakur, Upendra (1992). India and Japan, a Study in Interaction During 5th Cent. – 14th Cent. A.D. Abhinav Publications. ISBN 8170172896.
- ↑ Braavig (2009), hlm. 257.
- ↑ Laut, Jens Peter (2013). "Hells in Central Asian Turkic Buddhism and Early Turkic Islam". Tra Quattro Paradisi: Esperienze, Ideologie e Riti Relativi Alla Morte Tra Oriente e Occidente: 20. ISBN 978-88-97735-10-6 – via Università Ca' Foscari Venezia.
- ↑ David Kalupahana, Causality: The Central Philosophy of Buddhism. The University Press of Hawaii, 1975, hlm. 44.
- ↑ "Naraka – iSites" (PDF). isites.harvard.edu. 2015.
- ↑ Braavig (2009): hlm. 257.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra, T 84, 33b (diterjemahkan oleh Rhodes (2000) dalam hlm. 30). Salah satu contoh untuk menggambarkan lamanya waktu yang dihabiskan seseorang di satu Naraka (dalam hal ini "Neraka Kebangkitan") dijelaskan dalam Saddharmasmṛtyupasthānasūtra sebagai: "Lima puluh tahun kehidupan manusia sama dengan satu hari dan satu malam di surga Empat Raja Surgawi. Masa hidup di sana adalah lima ratus tahun. Masa hidup (makhluk) di Surga Empat Raja Surgawi sama dengan satu hari dan satu malam di neraka ini.... [Selesai. Masa hidup didasarkan pada kitab Abhidharmakosa.... Hal yang sama berlaku untuk enam (neraka) berikut.] Yu p 'o sai chieh ching berpendapat bahwa satu tahun di surga pertama (yaitu, Surga Empat Raja Surgawi) sama dengan satu hari dan satu malam di neraka pertama (yaitu, Neraka Kebangkitan)."
- ↑ Braavig (2009), hlm. 272. Dalam tradisi buddhis, usia alam semesta tidak dihitung dalam milenium tetapi dalam "kalpa". "Kalpa" berulang secara abadi dan "[...] panjang. Tidak mudah untuk menghitung berapa tahun, berapa ratus tahun, berapa ribu tahun, berapa ratus ribu tahun."
- ↑ "The Thirty-one Planes of Existence". Access to Insight. Diakses tanggal 27 April 2026.
- ↑ Braarvig, Jens (2009). "The Buddhist Hell: An Early Instance of the Idea?". Numen. 56 (2–3): 254–281. doi:10.1163/156852709X405008. JSTOR 27793792.
- ↑ Laut (2013), hlm. 20.
- ↑ Laut (2013), hlm. 21.
- ↑ Braavig (2009), hlm. 254.
- ↑ Braavig (2009), hlm. 260. Penulis menjelaskan bahwa membunuh ibu, membunuh ayah, membunuh seorang suci yang telah sempurna (arahat), melukai Buddha dengan niat jahat, dan memecah belah sangha semuanya mengarah ke neraka.
- ↑ Braavig (2009), hlm. 261.
- 1 2 3 4 Kheminda, Ashin (2020-02-01). KAMMA: Pusaran Kelahiran & Kematian Tanpa Awal. Yayasan Dhammavihari. ISBN 978-623-94011-0-8.
- ↑ Suvanno, Venerable (2001). The 31 Planes of Existence (PDF). Penang: Inward Path. hlm. 79. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 3 4 5 6 Ñāṇamoli, Bhikkhu; Bodhi, Bhikkhu (1995). The Middle Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikāya. Boston: Wisdom Publications. hlm. 1033–1035. ISBN 978-0861710720.
- 1 2 3 4 5 6 Punnadhammo, Bhikkhu (2018). The Buddhist Cosmos: A Comprehensive Survey of the Early Buddhist Worldview (PDF). Arrow River Hermitage. hlm. 215–216.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Punnadhammo, Bhikkhu (2018). The Buddhist Cosmos: A Comprehensive Survey of the Early Buddhist Worldview (PDF). Arrow River Hermitage. hlm. 220.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 "The nature of hells (niraya) [Part 1]". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2010-03-14. Diakses tanggal 2026-04-27.
- ↑ "AN 10.89 : Kokālika Sutta" Catatan kaki no.8. DhammaCitta. Diakses tanggal 2026-04-27.
- 1 2 Punnadhammo, Bhikkhu (2018). The Buddhist Cosmos: A Comprehensive Survey of the Early Buddhist Worldview (PDF). Arrow River Hermitage. hlm. 221.
- ↑ "Vetarani, Vetaraṇī, Vetaranī: 4 definitions - Pali Kanon: Pali Proper Names". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2009-04-12. Diakses tanggal 2026-04-27.
- ↑ "Lokantarika Hell: Significance and symbolism". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2024-09-18. Diakses tanggal 2026-04-27.
- ↑ Mingun Sayadaw (1990). "Maha Buddhavamsa—The Great Chronicle of Buddhas - Eighteen Abhabbaṭṭhānas [Chapter 8]". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-27.
- ↑ Ashin Janakabhivamsa (1999). "Abhidhamma in Daily Life - How The World Came To An End [Part 2]". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-27.
- ↑ "Lohakumbhi hell: Significance and symbolism". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2024-09-19. Diakses tanggal 2026-04-27.
- ↑ "Niraya Vagga". Samaggi Phala. 26 Oktober 2010. Diakses tanggal 2026-04-27.
- ↑ Laut (2013), hlm. 27.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 81.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 82. Pembunuhan yang menyebabkan seseorang muncul di neraka ini disebabkan oleh reaksi emosional yang spontan dan tanpa perasaan. Ini bukanlah pembunuhan yang direncanakan dengan matang, karena hal tersebut akan mencakup kejahatan mental alih-alih fisik dan akan mengarah ke Naraka Avici.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 81. Tidak ada perbedaan nyata antara membunuh hewan atau manusia, karena semua makhluk memiliki hak hidup yang setara dalam agama Buddha.
- 1 2 Laut (2013), hlm. 21.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Alexander, Jane (2009). The Body, Mind, Spirit Miscellany: The Ultimate Collection of Fascinations, Facts, Truths, and Insights. London: Duncan Baird Publishers. hlm. 150–151. ISBN 978-1844838370.
- ↑ Malik, Akhtar (2007). Survey of Buddhist Temples and Monasteries. New Delhi: Anmol Publications. hlm. 50. ISBN 978-8126132591.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 82.
- ↑ Matsunaga; Mastunaga (1971): hlm. 84.
- 1 2 3 Morgan, Diane (2010). Essential Buddhism: A Comprehensive Guide to Belief and Practice. Santa Barbara, California: Praeger. hlm. 73. ISBN 978-0313384523.
- 1 2 Saddharmasmṛtyupasthānasūtra. Daftar enam belas neraka subsider dapat ditemukan pada T 17, 27 a—b dan deskripsi dari tujuh neraka subsider dapat ditemukan pada T 17, 27b—29b.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 81. Lebih rincinya, di neraka subsider ini mereka yang telah membunuh burung atau rusa tanpa merasa menyesal akan disiksa dengan ditempatkan di dalam lubang kotoran panas yang dicampur dengan tembaga cair. Orang-orang yang berakhir di tempat ini tersandung melalui kotoran tersebut dan dipaksa untuk memakannya sementara belatung dengan paruh tajam memasuki mulut mereka dan memangsa orang tersebut.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 82. Di neraka ini, mereka yang menyembelih domba dengan cara membekapnya atau membunuh kura-kura dengan menghancurkannya menggunakan genteng, menderita karena api buram yang perlahan-lahan membakar mereka sementara lingkungan di neraka ini, yang terdiri dari gunung-gunung intan, runtuh. Gunung-gunung yang runtuh merobek-robek penduduk neraka ini saat mereka mencoba berteriak keras tetapi suara mereka tertahan, persis seperti domba dan kura-kura yang tidak bisa berteriak saat mereka membunuhnya.
- ↑ Rhodes (2000), hlm. 31.
- ↑ Rhodes (2000): hlm. 32.
- 1 2 3 4 5 Laut (2013): hlm. 21.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 85. Versi kedua ini dideskripsikan dalam Sutra Penyadaran Hukum Sejati.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 86. Mengambil kepemilikan atas suatu benda tidak hanya sebatas mencuri tetapi juga mencakup makna mengambil sesuatu yang tidak pantas dimiliki oleh individu tersebut. Rasa syukur atas benda-benda di dunia sangat diperlukan untuk menyadari bahwa seseorang tidak serta-merta berhak atas kepemilikan.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 86.
- ↑ Rhodes (2000): hlm. 33. Genshin mendasarkan deskripsinya pada saddharmasmṛtyupasthānasūtra (T 17, 29c).
- ↑ Terdapat berbagai terjemahan untuk Saṃghāta. Terjemahan yang memungkinkan mencakup "Neraka Penuh Sesak" (Matsunaga, hlm. 87) atau "Neraka Perkumpulan" (Rhodes, hlm. 33).
- 1 2 3 Rhodes (2000): hlm. 34.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra, T 17, 31b–32b.
- 1 2 Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 88.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 89.
- 1 2 Rhodes (2000): hlm. 35.
- ↑ Rhoden (2000): hlm. 35.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra: T 17, 34b–c.
- ↑ Rhoden (2000): hlm. 36. Terjemahan lain yang memungkinkan adalah "Neraka Ratapan".
- ↑ Rhoden (2000): hlm. 37. Genshin memparafrasekan Ta chih tu lun (T 25,176a) dalam penjelasannya bahwa para tahanan memohon belas kasihan kepada para iblis.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 90.
- ↑ Rhoden (2000): hlm. 36.
- ↑ Rhoden (2000): hlm. 37. Deskripsi tentang tahanan yang dipaksa minum tembaga cair didasarkan pada saddharmasmṛtyupasthānasūtra (T 17, 41a).
- ↑ Rhodes (2000): hlm. 37. Pedagang-pedagang ini berakhir di Kawasan Cacing di Ujung Api. Di tempat ini mereka menjadi sasaran empat ratus empat jenis penyakit.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 90—91.
- 1 2 Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 92.
- 1 2 Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 93.
- ↑ Rhoden (2000): hlm. 38.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra: T 17, 53a.
- ↑ Terjemahan lain yang memungkinkan mencakup "Neraka Panas yang Membakar" (Matsunaga, hlm. 94) atau "Neraka Panas yang Menghanguskan" (Rhoden, hlm. 39).
- ↑ Rhoden (2000): hlm. 39.
- ↑ Yogācārabhūmi (T 30, 296a). Karya ini menjelaskan bagian di mana mereka dipukuli, digoreng, dan dipanggang di atas ludah.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra: T 17, 55c. Sutra ini mencakup deskripsi tentang intensitas nyala api di naraka ini.
- 1 2 Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 94.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 96.
- 1 2 Rhoden (2000): hlm. 40.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra: T 17, 56 a-b.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra: T 17, 61 b–c. Teks ini berargumen bahwa walaupun tubuh mungkin tidak kekal, empat elemen dasar adalah kekal.
- 1 2 Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 95.
- ↑ Terjemahan yang memungkinkan mencakup "Neraka Panas Terik yang Hebat" (Rhoden, hlm. 40) atau "Neraka Panas Pembakaran Hebat" (Matsunaga, hlm. 97).
- 1 2 3 Rhoden (2000): hlm. 41.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 98. Hal ini juga menekankan bahwa mereka yang merampas kesempatan para biksu dan biksuni untuk mencapai pencerahan melalui rayuan seksual atau keyakinan yang tidak pantas, akan dihukum.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 98. Catatan bahwa ia berakhir buruk rupa dan cacat adalah deskripsi yang ditujukan kepada umat awam.
- ↑ (Terjemahan lain yang memungkinkan mencakup "Neraka Tanpa Interval" Matsunaga, hlm. 99)
- ↑ Rhoden (2000): hlm. 42.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra: T 84, 35 c)
- 1 2 3 Rhoden (2000): hlm. 43.
- 1 2 3 Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 100.
- ↑ Kuan fo san mei hai ching: T 15, 668c.
- ↑ Yogācārabhūmi: T 30, 296b.
- ↑ Rhoden (2000): hlm. 43—44.
- 1 2 Rhoden (2000): hlm. 44.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra: T 17, 84c–85b.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra: T 17 85b—c.
- 1 2 Rhoden (2000): hlm. 45.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra: 87a—b.
- ↑ Saddharmasmṛtyupasthānasūtra: T 17 87—88a.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 101.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 102.
- 1 2 "Eight cold hells".
- ↑ "The eight cold hells". 31 July 2018.
- ↑ Taisho vol. 1, no. 1, 1a–149c
- ↑ "長阿含經," Digital Dictionary of Buddhism, http://www.buddhism-dict.net/cgi-bin/xpr-ddb.pl?q=長阿含經, diakses 5 Mei 2014 (dapat diakses dengan login nama pengguna "guest" dan mengosongkan kata sandi)
- ↑ "長阿含經," Digital Dictionary of Buddhism, http://www.buddhism-dict.net/cgi-bin/xpr-ddb.pl?q=長阿含經
- ↑ T1, no. 1, hlm. 121, b29-c13
- ↑ 《阿毘曇毘婆沙論》卷7〈2 智品〉Abhidharma-vibhāṣā-śāstra, fasikel 7, "Bab tentang Kebijaksanaan," T28, no. 1546, hlm. 48, a5-25
- ↑ Buswell, Robert E. (2003). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton, NJ: Princeton University Press. hlm. 86. ISBN 9781400848058.
- ↑ 《阿毘達磨俱舍論》卷11〈3 分別世品〉Abhidharmakośa śāstra, fasikel 11, "Bab tentang Mencermati Dunia," T1558, no. 29, hlm. 1–160
- ↑ 诸经佛说地狱集要 (dalam bahasa Tionghoa). Diarsipkan dari asli tanggal 2010-02-10.
- ↑ Zhiru (2007). The making of a savior bodhisattva: Dizang in Medieval China ([Online-Ausg.]. ed.). Honolulu (T.H.): University of Hawai'i press. hlm. 68. ISBN 978-0824830458.
- ↑ Hearn, Lafcadio (1910): Glimpses of Unfamiliar Japan. Leipyig: Bernhard Tauchnitz. hlm. 16-18.
- ↑ Rhodes, Robert. F. (2000). "Imagining Hell: Genshin's Vision of the Buddhist Hells as found in the "Ōjōyōshū"". The Eastern Buddhist. 32 (1): 23. JSTOR 44362242.
- ↑ Rhodes (2000), hlm. 23.
- ↑ Rhodes (2000), hlm. 24.
- 1 2 Tamura, M. (2015). Egakareru jigoku, katarareru jigoku. Miyai Shoten. hlm. 200-201.
- ↑ (1988). Jigoku hyakukei. Heibonsha. hlm. 95-96.
- ↑ Matsunaga; Matsunaga (1971): hlm. 72.
- ↑ Matsunaga; Matsunage (1971): hlm. 73. Matsunaga berargumen bahwa cara penggunaan citra neraka Buddhis ini sejalan dengan pandangan relativitas moral dalam ajaran Buddha.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Matsunaga, Alicia; Matsunaga, Daigan (1971). The Buddhist concept of hell. New York: Philosophical Library.
- Teiser, Stephen F. (1988). "Having Once Died and Returned to Life: Representations of Hell in Medieval China". Harvard Journal of Asiatic Studies. 48 (2): 433–464. doi:10.2307/2719317. JSTOR 2719317.
- Law, Bimala Churn; Barua, Beni Madhab (1973). Heaven and hell in Buddhist perspective. Varanasi: Bhartiya Pub. House.