Museum Situs Kota China
museum | |
|---|---|
Museum Situs Kota China di Kelurahan Paya Pasir | |
| Tempat | |
Koordinat: 3°43′23.67570″N 98°39′24.31714″E / 3.7232432500°N 98.6567547611°E | |
| Negara berdaulat | Indonesia |
| Provinsi di Indonesia | Sumatera Utara |
| Kota di Indonesia | Medan |
| Kecamatan | Medan Marelan |
| Kelurahan | Paya Pasir |
| Negara | Indonesia |
| Sejarah | |
| Pembuatan | 2008 |
| Informasi tambahan | |
| Zona waktu | |
Museum Situs Kota China (ditulis juga sebagai Museum Situs Kotta Cinna) adalah sebuah situs arkeologi yang terletak di tepi danau Siombak, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.[1] Museum ini dibangun pada tahun 2008 oleh seorang sejarawan bernama Ichwan Azhari dan diresmikan oleh pemerintah pada tahun 2009.[2]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Dari abad ke-11 sampai 14 Masehi, Kota China adalah pelabuhan dagang internasional. Kapal-kapal yang berlabuh berasal dari Persia, Hindia dan Tiongkok. Di Kota China ditemukan keramik dari Persia dan Tiongkok, uang koin dari Sri Lanka dan Tiongkok, dan patung Buddha dari Hindia.[3][4]
Situs Kota China di Medan Marelan telah diketahui sejak tahun 1970-an, namun jejak sejarahnya mulai terkuak sejak ditemukanya sebuah arca kuno tepatnya pada saat adanya penggalian tanah menggunakan alat berat untuk penimbunan pembangunan jalan Tol Belmera pada tahun 1986 silam.[3] Kota China adalah kerajaan yang makmur dan terdapat bandar internasional yang dihuni para imigran asal Tiongkok. Pada umumnya, bangsa Tiongkok datang dengan latar belakang keinginan untuk mencari peruntungan hidup lebih baik dari tempat asalnya dengan melakukan bisnis perdagangan.[5]
Pada masa Dinasti Song, bandar Kota China mengalami kejayaan. Kawasan daratan dan pantai dihuni imigran dari negeri Tiongkok, dengan pelabuhan rakyat serta jalur perdagangan tersibuk. Transaksi perdagangan seperti tembikar, guci, keramik, rempah-rempah dan arca berlanggam Chola atau India Selatan. Di bandar ini juga berlangsung beragam aktivitas budaya. Bukti dari sejarah pelabuhan ini diketahui setelah adanya penemuan kayu rangka dari bangkai kapal. Bandar Kota China mendadak terhenti setelah kota itu dilanda musibah alam. Kawasan pelabuhan laut yang berkembang pesat, terkubur menjadi daratan. Dari cerita legenda di masyarakat, hilangnya Kota China dikarenakan menerima kutukan dan diserang oleh pasukan kepah. Sedangkan sebagian lain beranggapan, kota tempat imigran Tiongkok itu hilang setelah terkena bencana tsunami.[6]
Sekitar lima abad kemudian setelah bandar Kota China terjadi pendangkalan, pelabuhan baru lalu berdiri di kawasan Bandar Labuhan Deli. Saat ini lokasinya berada di wilayah Kelurahan Pekan Labuhan yang berjarak sekitar 3 kilometer dari lokasi situs Kota China. Sejarah bandar Labuhan Deli dibangun pada tahun 1814 setelah raja ketiga dari Kesultanan Deli yaitu Tuanku Panglima Pasutan, memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Deli dari Deli Tua ke daerah Labuhan Deli.[6]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ PCBM, Dit (2018-04-25). "Situs Kota Cina di Medan Marelan | Direktorat Pelindungan Kebudayaan". Diakses tanggal 2025-05-21.
- ↑ Rusmiyati, dkk. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid I (PDF). Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. hlm. 54. ISBN 978-979-8250-66-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 Kusumo, Rizky (2025-10-08). "Situs Kota Cina di Pesisir Kota Medan, Pernah Jadi Pelabuhan Internasional pada Abad ke 11 M". Garuda Nyala Fajar Indonesia. Diakses tanggal 2025-05-21.
- ↑ Molana, Datuk Haris. "Situs Kota Cina, Bukti Medan Pernah Jadi Kota Pelabuhan Internasional". detiksumut. Diakses tanggal 2025-05-21.
- ↑ Naibaho, Antonius. "Situs Kota Cina Medan Marelan". Pariwisata Sumatera Utara. Diakses tanggal 2025-05-21.
- 1 2 Kencana, Mifta (2023-01-04). "Menelusuri Museum Situs Kota China Di Medan -". Diakses tanggal 2025-05-21.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]3°43′21″N 98°39′22″E / 3.72250°N 98.65611°E(Indonesia) Situs Pariwisata Kota Medan
