Mundardjito

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Prof. Dr. Mundardjito (lahir di Bogor, 8 November 1936 – meninggal di Jakarta, 2 Juli 2021 pada umur 84 tahun) merupakan seorang arkeolog dari Indonesia yang dijuluki sebagai Bapak Arkeologi Indonesia.[1] Dia terkenal karena mengenalkan ilmu metodologi arkeologi yang dia pelajari dari Universitas Athens di Yunani pada tahun 1971 sekaligus membuat cabang ilmu baru, yaitu ekologi dalam arkeologi ruang pada tahun 1993. Mundardjito merupakan mantan guru besar tetap di Universitas Indonesia. Setelah pensiun pada tahun 2001, dia menjadi guru besar tidak tetap di Universitas Indonesia (UI).[2] Mundardjito telah mendapatkan penghargaan nasional seperti Penghargaan Ahmad Bakrie Award pada tahun 2014 dan Satyalencana Karya Satya pada tahun 1994.

Pendidikan dan masa awal kehidupan[sunting | sunting sumber]

Mundardjito adalah anak kedua dari enam bersaudara dari dokter hewan Soedarjo yang merupakan Kepala Kebun Raya Bogor.[3] Dia sekolah di Sekolah Dasar Negeri Bogor pada tahun 1943 dan lulus pada tahun 1949. Selanjutnya, dia melanjutkan Sekolah Menengah Pertama Negeri Bogor pada tahun 1949 sampai tahun 1952.[4] Saat bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri Bogor pada tahun 1952 hingga 1955, Mundardjito mulai tertarik dengan arkeologi karena gurunya merupakan seorang arkeolog yang berasal dari Jakarta.[3] Pada tahun 1956, Mundardjito memilih Jurusan Arkeologi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sebagai pilihan studi perguruan tingginya. Selama berkuliah, dia bekerja sambilan sebagai pemusi dalam sebuah band untuk membantu biaya kuliahnya.[5] Akan tetapi, ketika lulus ujian menjadi sarjana muda pada tahun 1961, Tjan Tjoe Siem yang saat itu menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra bertanya kepada Mundardjito apakah dia mau jadi pemain musik atau jadi sarjana sehingga Mundarjito memutuskan berhenti menjadi pemusik.[6]

Mundardjito lulus sebagai sarjana pada tahun 1963 dengan skripsi yang mengambil tema penelitian di Bayat, Klaten dan menjadi asisten dosen arkeologi di Universitas Indonesia. Dia mendapatkan beasiswa untuk belajar metodologi arkeologi di Universitas Athens pada tahun 1969 selama dua tahun bersama Noerhadi Magetsari. Di bawah bimbingan Spyridon Marinatos, Mundardjito belajar metode pendisiplinan calon arkeolog agar menggunakan cetok untuk mendapatkan perasaan berbeda ketika menggali peninggalan arkeologis.[6] Mundardjito juga mendapatkan beasiswa untuk belajar teori arkeologi di Universitas Pennyslvania, Amerika Serikat selama satu tahun.[4]

Mundardjito meraih gelar doktoral di UI pada tahun 1993 tanpa melalui pendidikan magister dengan gelar cum laude yang dipromosikan oleh Harsja W. Bachtiar dengan disertasi berjudul “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buddha di Daerah Istimewa Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro.”[2][4][7]

Karier dan kontribusi di bidang arkeologi di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Mundardjito telah menjadi dosen tetap sejak tahun 1964 sampai tahun 2001 di Universitas Indonesia dan pernah menjadi Ketua Jurusan Arkeologi UI pada periode 1970 sampai 1972. Dia juga sempat menjadi Pembantu Dekan III Fakultas Sastra UI dari tahun 1972 sampai tahun 1976.[4] Dia diangkat sebagai Guru Besar UI pada tahun dan pada tahun 2001 memutuskan pensiun saat berusia 65 tahun.[8]

Mundardjito telah mengenalkan metodologi dan teori arkeologi di Indonesia sekaligus mengembangkan cabang ilmu arkeologi baru yaitu arkeologi ekologi dan keruangan pada tahun 1993[9] yang dia perkenalkan dalam disertasinya.[7] Selain hal tersebut, Mundardjito juga menjadi salah satu penyusun Kode Etik Arkeolog pada tahun 1997 dalam pertemuan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI)[8] yang dia dirikan pada tanggal 4 Februari 1976 bersama rekan-rekannya.[10]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Mundardjito mendapatkan penghargaan satyalancana tiga puluh tahun dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 1994 dan gelar bangsawan Kanjeng Raden Haryo dari Paku Buwono XIII di Keraton Solo pada tahun 2010.[4] Dia juga mendapatkan penghargaan Satyalacana Kebudayaan pada tahun 2013.[11] Pada tahun 2014, Mundarjito meraih penghargaan Bakrie Award untuk kategori pemikiran sosial.[12]

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Bapak Arkeologi Indonesia Khawatirkan Kondisi Candi Borobudur". detiknews. 2 April 2013. Diakses tanggal 9 April 2021. 
  2. ^ a b "Guru Arkeologi Indonesia". tokoh.id (dalam bahasa Inggris). 1 Desember 2009. Diakses tanggal 9 April 2021. 
  3. ^ a b "Kepedulian arkeolog Mundardjito". BBC News Indonesia. 31 Juli 2012. Diakses tanggal 9 April 2021. 
  4. ^ a b c d e "Penghargaan Tokoh Arkeologi: Prof. DR. Moendardjito". Hari Purbakala 105 (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 9 April 2021. 
  5. ^ "Guru Arkeologi Indonesia Halaman all". KOMPAS.com. 11 Januari 2009. Diakses tanggal 9 April 2021. 
  6. ^ a b ""Saya Belajar Banyak di Yunani" - Memoar - majalah.tempo.co". Tempo (dalam bahasa Inggris). 31 Maret 2013. Diakses tanggal 9 April 2021. ((Perlu berlangganan (help)). 
  7. ^ a b Mundardjito (5 Juni 1993). "Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro" (PDF). iseas.edu.sg. Diakses tanggal 9 April 2021. 
  8. ^ a b "Detektif Masa Silam". Tempo (dalam bahasa Inggris). 18 Februari 2008. Diakses tanggal 9 April 2021. ((Perlu berlangganan (help)). 
  9. ^ Winata Sumber, Dhika kusuma (27 Juli 2018). "Arkeolog Prof Mundardjito Didapuk sebagai Tokoh IAAI". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 9 April 2021. 
  10. ^ "Sejarah Pembentukan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia". Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 9 April 2021. 
  11. ^ "GELAR MALAM ANUGERAH KEBUDAYAAN DAN PENGHARGAAN MAESTRO SENI TRADISI 2013". Ditjen Kebudayaan. 19 November 2013. Diakses tanggal 9 April 2021. 
  12. ^ "Enam Tokoh Pemenang Achmad Bakrie Award XII | Halaman 3". www.viva.co.id. 9 Desember 2014. Diakses tanggal 9 April 2021.