Mulsa plastik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Pemasangan mulsa plastik menggunakan mesin

Mulsa plastik adalah lembaran plastik penutup lahan tanaman budi daya yang bertujuan untuk melindungi permukaan tanah dari erosi, menjaga kelembaban dan struktur tanah, serta menghambat pertumbuhan gulma.[1] Mulsa plastik termasuk jenis mulsa anorganik karena terbuat dari bahan polietilena berdensitas rendah yang dihasilkan melalui poses polimerisasi etilen dibawah tekanan tinggi.[2] Penggunaan mulsa plastik banyak digunakan pada budi daya tanaman dengan sistem intensifikasi produksi, seperti tanaman hortikultura jenis sayur-sayuran.[2][3]

Jenis[sunting | sunting sumber]

Jenis mulsa plastik umumnya dibedakan berdasarkan warna dan intesitas cahaya yang dapat diteruskan, beberapa warna antara lain; bening, putih, perak, hitam, hitam perak, merah dan biru.[2][4][5] Warna mulsa akan menentukan energi radiasi matahari yang diterima dan berdampak pada suhu lapisan olah tanah, selain itu cahaya yang dipantulkan permukaan mulsa berpengaruh kepada kondisi lingkungan sekitar tanaman.[2]

Keuntungan[sunting | sunting sumber]

Penggunaan mulsa plastik memiliki beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan jenis mulsa lainnya, keuntungan tersebut antara lain:[2]

  • Produksi lebih tinggi, peningkatan suhu tanah akan memacu pertumbuhan tanaman serta mempercepat masa panen, dari hasil penelitian masa panen lebih cepat 7-14 hari.[2]
  • Mengurangi evaporasi, dengan tertutupnya tanah dengan mulsa plastik kehilangan air akibat evaporasi akan berkurang, selain itu pada penggunaan irigasi tetes pada lahan dengan mulsa plastik akan menjaga kelembaban tanah serta meningkatkan kebutuhan air bagi tanaman.[2] Penggunaan air lebih efisien karena dapat mengurangi penggunaan air sampai dengan 45% dibandingkan dengan irigasi penyemprotan.[2]
  • Penanganan gulma lebih rendah, mulsa plastik hitam dan hitam perak akan mengurangi intensitas cahaya ke permukaan tanah sehingga gulma cenderung tidak tumbuh. Namun pada penggunaan mulsa bening masih dibutuhkan penyemprotan herbisida untuk mencegah tumbuhnya gulma.[2]
  • Mengurangi kehilangan hara dari pupuk, aliran air permukaan akan tertahan oleh mulsa plastik sehingga unsur hara pupuk tidak akan hilang oleh pencucian. Penggunaan mulsa plastik akan menjaga nutrisi bagi tanaman berada pada zona perakaran, sehingga penggunaan nutrisi lebih efisien.[2]

Kekurangan[sunting | sunting sumber]

Penggunaan mulsa plastik jenis bioplastik yang berbahan dasar berasal dari tebu atau glukosa

Penggunaan plastik sebagai bahan utama mulsa plastik memberikan kekurangan dari segi lingkungan serta harga:[2]

  • Limbah, setelah masa pemakaian habis mulsa plastik akan dibongkar masalah utama dari penggunaan mulsa plastik adalah bahan mulsa yang sulit terurai di alam. [2] Pada awal tahun 1960-an plastik mudah terurai atau bioplastik mulai dikenal sebagai salah satu solusi penanganan sampah plastik. [2]
  • Ongkos produksi awal yang lebih besar, penggunaan mulsa plastik membutuhkan bahan serta alat pemasangan seperti lembaran plastik, pembuat lubang, pengolahan tanah, yang akan meningkatkan ongkos produksi. [2] Pada akhir tahun 1950 mekanisasi pemasangan mulsa mulai diterapkan pada tanaman sayur-sayuran untuk meningkatkan produksi. [2]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Mulsa: cara mudah untuk konservasi tanah". World Agroforestry Centre. Diakses tanggal 20 April 2014. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o (Inggris) Lament, William James Jr. (March 1993). "Plastic Mulches for the Production of Vegetable Crops" (PDF). 3 (l). HortTechnology: 35-39. 
  3. ^ Ginting, C.E.; Pinem, M.I., dan Tobing, M.C. (September 2013). "Pengaruh Penggunaan Beberapa Mulsa Plastik Dan Varietas Terhadap Serangan Penyakit Antraknosa (Colletotrichum capsicii Sydow.) pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.) di Lapangan". Jurnal Online Agroekoteknologi. 1 (4): 1004-1017. ISSN 2337-6597. 
  4. ^ Setyorini, D., D. Indradewa dan E. Sulistyoningsih (2008). "Pengaruh Umur Tanam dan Warna Mulsa Plastik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tomat". Agrivita. Universitas Gadjah Mada. 30 (2): 179-188. 
  5. ^ Kusumasiwi A.W.P, Sri Muhartini, dan Sri Trisnowati (2012). "Pengaruh Warna Mulsa Plastik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Terung (Solanum melongena L.) Tumpangsari dengan Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir.)". Skripsi Fakultas Pertanian. Jurusan Budidaya Pertanian UGM.