Muhammad dalam Islam
مُحَمَّد | |
| Nabi Islam | |
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | sekitar 570 M[1] |
| Meninggal | Senin, 12 Rabiul Awal 11 H (8 Juni 632 M) |
| Makam | Green Dome, Masjid Nabi, Madinah |
| Pasangan | Lihat istri-istri Muhammad |
| Anak | Lihat anak-anak Muhammad |
| Orang tua |
|
| Karya terkenal | Piagam Madinah |
| Nama lain | Lihat Nama dan gelar Muhammad |
| Kerabat | Lihat Silsilah keluarga Muhammad, Ahlul Bait ("Keluarga Rumah Tangga") |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Islam |
| Muslim leader | |
| Penerus | Lihat Suksesi Muhammad |
| Nama Arab | |
| Pribadi (Ism) | Muḥammad مُحَمَّد |
| Patronimik (Nasab) | Ibn ʿAbd Allāh ibn ʿAbd al-Muṭṭalib ibn Hāshim ibn ʿAbd Manāf ibn Quṣayy ibn Kilāb ٱبْن عَبْد ٱللَّٰه بْن عَبْد ٱلْمُطَّلِب بْن هَاشِم بْن عَبْد مَنَاف بْن قُصَيّ بْن كِلَاب |
| Teknonim (Kunyah) | Abū al-Qāsim أَبُو ٱلْقَاسِم |
| Julukan (Laqab) | Khātam al-Nabiyyīn ('Penutup para Nabi') خَاتَم ٱلنَّبِيِّين |
| Bagian dari seri |
| Islam |
|---|
| Bagian dari seri tentang |
| Muhammad |
|---|
|
|
Dalam Islam, Muhammad (Arab: مُحَمَّد) dihormati sebagai Penutup para nabi yang menyampaikan firman Allah yang kekal (Qur'ān) dari malaikat Jibril (Jibrīl) kepada manusia dan jin.[2][3] Muslim meyakini bahwa Al-Qur'an, teks keagamaan utama dalam Islam, diwahyukan kepada Muhammad oleh Allah, dan bahwa Muhammad diutus untuk membimbing manusia kepada Islam, yang diyakini bukan sebagai agama yang terpisah, melainkan iman asli yang tidak mengalami perubahan dan merupakan agama asal umat manusia (fiṭrah), serta diyakini telah dibawa oleh para nabi sebelumnya termasuk Adam, Abraham, Musa, dan Yesus.[4][5][6][7] Prinsip-prinsip keagamaan, sosial, dan politik yang ditetapkan Muhammad bersama Al-Qur'an menjadi dasar bagi Islam dan dunia Muslim.[8]
Menurut tradisi Muslim, Muhammad diutus kepada masyarakat Arab untuk menyelamatkan mereka dari kemerosotan moral.[9] Setelah menerima wahyu pertamanya pada usia 40 tahun di sebuah gua bernama Hira di Mekkah, ia mulai berdakwah tentang keesaan Tuhan dengan tujuan memberantas penyembahan berhala di Arab pra-Islam.[10][11]
Hal ini memicu penentangan dari penduduk Mekkah, dengan Abu Lahab dan Abu Jahl sebagai musuh Muhammad yang paling terkenal dalam tradisi Islam. Penentangan tersebut berujung pada penganiayaan terhadap Muhammad dan para pengikut Muslimnya, yang kemudian melarikan diri ke Medina, suatu peristiwa yang dikenal sebagai Hijrah.[12][13] Hingga akhirnya Muhammad kembali untuk menghadapi para penyembah berhala di Mekkah, yang berpuncak pada peristiwa setengah-legendaris Perang Badar. Dalam tradisi Islam, peristiwa ini dipahami bukan hanya sebagai pertempuran antara kaum Muslim dan kaum politeis pra-Islam, tetapi juga sebagai pertarungan antara para malaikat yang berpihak kepada Muhammad melawan jin dan dewa-dewa palsu yang berpihak kepada penduduk Mekkah. Setelah kemenangan tersebut, Muhammad diyakini telah membersihkan Jazirah Arab dari kemusyrikan dan menasihati para pengikutnya untuk meninggalkan penyembahan berhala demi keesaan Tuhan.
Sebagai perwujudan petunjuk Tuhan dan teladan dalam meninggalkan penyembahan berhala, Muhammad dipahami sebagai panutan utama dalam hal kebajikan, spiritualitas, dan keunggulan moral.[14] Spiritualitasnya dianggap tercermin dalam peristiwa perjalanan melalui tujuh lapis langit (Mi'raj). Perilaku dan nasihatnya kemudian dikenal sebagai Sunnah, yang membentuk penerapan praktis dari ajaran-ajaran Muhammad. Muhammad dimuliakan dengan berbagai gelar dan nama. Sebagai bentuk penghormatan dan salam, kaum Muslimin menyebut nama Muhammad dengan doa Arab sallallahu 'alayhi wa sallam (‘semoga keselamatan tercurah kepadanya’),[15] yang sering disingkat menjadi “SAW” atau “PBUH”. Kaum Muslimin kerap menyebut Muhammad sebagai “Nabi Muhammad”, atau cukup “Sang Nabi” atau “Sang Rasul”, dan memandangnya sebagai nabi terbesar di antara seluruh nabi.[4][16][17][18]
Dalam Al-Qur’an
[sunting | sunting sumber]Muhammad disebutkan namanya secara langsung sebanyak empat kali dalam Al-Qur’an.[19] Al-Qur’an hanya mengungkap sedikit tentang kehidupan awal Muhammad atau rincian biografis lainnya, tetapi membahas misi kenabiannya, keunggulan moralnya, serta persoalan-persoalan teologis yang berkaitan dengan Muhammad. Menurut Al-Qur’an, Muhammad adalah nabi terakhir dalam rangkaian para nabi yang diutus oleh Tuhan (33:40). Sepanjang Al-Qur’an, Muhammad disebut sebagai “Rasul”, “Rasul Allah”, dan “Nabi”. Istilah lain juga digunakan, termasuk “Pemberi peringatan”, “Pembawa kabar gembira”, dan “orang yang menyeru manusia kepada Tuhan Yang Esa” (Q 12:108, dan 33:45-46). Al-Qur’an menegaskan bahwa Muhammad adalah seorang manusia yang memiliki keunggulan akhlak tertinggi, dan bahwa Allah menjadikannya sebagai teladan yang baik atau “uswah hasanah” bagi kaum Muslim untuk diikuti (Q 68:4, dan 33:21). Dalam beberapa ayat, Al-Qur’an menjelaskan hubungan Muhammad dengan umat manusia. Menurut Al-Qur’an, Allah mengutus Muhammad dengan kebenaran (pesan Allah kepada umat manusia), dan sebagai rahmat bagi seluruh alam (Q 39:33, dan 21:107).
Menurut tradisi Islam, Surah 96:1 merujuk pada perintah malaikat kepada Muhammad untuk membacakan Al-Qur’an.[20] Surah 17:1 diyakini sebagai rujukan terhadap perjalanan Muhammad, yang kemudian dijelaskan secara luas dalam tradisi, termasuk pertemuannya dengan para malaikat dan nabi-nabi terdahulu di langit.[20] Surah 9:40 dipandang sebagai rujukan kepada Muhammad dan seorang sahabatnya (yang oleh para ulama Sunni diidentifikasi sebagai Abu Bakar) yang bersembunyi dari para pengejar Quraisy di sebuah gua.[21] Surah 61:6 diyakini mengingatkan pendengar tentang nubuat kedatangan Muhammad oleh Yesus.[20] Ayat ini juga digunakan oleh kaum Muslim Arab awal untuk mengklaim legitimasi bagi agama baru mereka dalam tradisi-tradisi keagamaan yang telah ada sebelumnya.[22]
Nama dan gelar pujian
[sunting | sunting sumber]Muhammad sering dirujuk dengan berbagai gelar pujian atau julukan berikut:
- an-Nabi, ‘Sang Nabi’
- ar-Rasul, ‘Sang Rasul’
- al-Habib, ‘yang dicintai’
- al-Muṣṭafa, ‘yang terpilih’ (Al-Qur'an 22:75);[23]
- al-Amin, ‘yang terpercaya’ (Shahih Bukhari, 4:52:237)
- as-Sadiq, ‘yang jujur’ (Al-Qur'an 33:22)
- al-Haq, ‘yang benar’ (Al-Qur'an 10:08)
- ar-Rauf, ‘yang penyayang’ (Al-Qur'an 9:128)
- ‘alā khuluq ‘aẓīm (Arab: عَلَى خُلُق عِظِيْم), ‘berakhlak yang agung’ (Al-Qur'an 68:4)
- al-Insan al-Kamil, ‘manusia sempurna’[24]
- Uswah Ḥasan (Arab: أُسْوَة حَسَن), ‘teladan yang baik’ (Al-Qur'an 33:21)
- al-Khatim an-Nabiyin, ‘Penutup para nabi’ (Al-Qur'an 33:40)
- ar-Rahmatul lil 'alameen, ‘rahmat bagi seluruh alam’ (Al-Qur'an 21:107)
- as-Shaheed, ‘saksi’ (Al-Qur'an 33:45)
- al-Mubashir, ‘pembawa kabar gembira’ (Al-Qur'an 11:2)
- an-Nathir, ‘pemberi peringatan’ (Al-Qur'an 11:2)
- al-Mudhakkir, ‘pemberi peringatan’ (Al-Qur'an 88:21)
- ad-Da'i, ‘orang yang menyeru [kepada Allah]’ (Al-Qur'an 12:108)
- al-Bashir, ‘pembawa kabar’ (Al-Qur'an 2:119)
- an-Nur, ‘cahaya yang terwujud’ (Al-Qur'an 05:15)
- as-Siraj-un-Munir, ‘pelita yang menerangi’ (Al-Qur'an 33:46)
- al-Karim, ‘yang mulia’ (Al-Qur'an 69:40)
- an-Nimatullah, ‘nikmat Ilahi’ (Al-Qur'an 16:83)
- al-Muzzammil, ‘yang berselimut’ (Al-Qur'an 73:01)
- al-Muddathir, ‘yang berselubung’ (Al-Qur'an 74:01)
- al-'Aqib, ‘yang terakhir [nabi]’ (Sahih Muslim, 4:1859, Shahih Bukhari, 4:56:732)
- al-Mutawakkil, ‘yang bertawakal [kepada Allah]’ (Al-Qur'an 9:129)
- al-Kutham, ‘yang dermawan’
- al-Mahi, ‘penghapus [kekufuran]’ (Shahih Bukhari, 4:56:732)
- al-Muqaffi, ‘yang mengikuti [seluruh nabi sebelumnya]’
- an-Nabiyyu at-Tawbah, ‘nabi pertobatan’
- al-Fatih, ‘pembuka’
- al-Hashir, ‘penghimpun (yang pertama dibangkitkan) pada hari kiamat’ (Shahih Bukhari, 4:56:732)
- as-Shafe'e, ‘pemberi syafaat’ (Shahih Bukhari, 9:93:601, Al-Qur'an 3:159, Al-Qur'an 4:64, Al-Qur'an 60:12)
- al-Mushaffaun, ‘yang syafaatnya akan diterima’ (Al-Qur'an 19:87, Al-Qur'an 20:109).
Ia juga memiliki nama-nama berikut:
Ikhtisar
[sunting | sunting sumber]Dalam tradisi Muslim, Muhammad diyakini memiliki ciri-ciri yang bersifat dunia lain, seperti tubuhnya yang bercahaya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, setiap kali Muhammad memasuki kegelapan, cahaya memancar di sekelilingnya seperti cahaya bulan.[25] Muhammad juga digambarkan memiliki wajah yang bercahaya.[26] Dengan demikian, Muhammad diyakini mencerminkan nama-nama Allah berupa “rahmat” dan “petunjuk”, berbeda dengan Setan (Iblīs), yang mencerminkan “murka” dan “kesombongan”.[27][28]
Meskipun menurut tradisi Muhammad pernah mengatakan bahwa ia hanyalah seorang manusia biasa, sejumlah mukjizat dikatakan telah dilakukan olehnya.[29] Terhadap pernyataan Al-Qur’an yang mengingatkan tentang sifat kemanusiaan Muhammad, “Aku hanyalah seorang manusia seperti kalian”, kaum Muslim menanggapi: “Benar, tetapi seperti batu rubi di antara bebatuan”, yang menunjuk pada keserupaan lahiriah Muhammad dengan manusia biasa, namun batinnya membawa Cahaya Ilahi.[30]
Pada masa pasca-Qur’ani, sebagian Muslim memandang Muhammad semata-mata sebagai pemberi peringatan akan penghakiman Tuhan dan bukan sebagai pembawa mukjizat.[31] Menurut salah satu riwayat tentang Muhammad, Al-Qur’an adalah satu-satunya mukjizat yang dianugerahkan kepadanya.[31]
Nabi terakhir
[sunting | sunting sumber]Muhammad dipandang sebagai rasul dan nabi terakhir oleh seluruh cabang utama Islam, yang diutus oleh Tuhan untuk membimbing umat manusia ke jalan yang benar (Al-Qur’an 7:157).[4][32][33][34][35] Al-Qur’an menggunakan sebutan Khatam an-Nabiyyin (Surah 33:40) (Arab:خاتم النبين), yang diterjemahkan sebagai Penutup para nabi. Gelar ini secara umum dipahami oleh kaum Muslimin sebagai bermakna bahwa Muhammad adalah yang terakhir dalam rangkaian para nabi yang dimulai dari Adam.[36][37][38] Keyakinan bahwa Muhammad adalah nabi terakhir merupakan keimanan fundamental,[39][40] yang dianut baik oleh teologi Sunni maupun Syiah.[41][42]
Meskipun Muhammad dianggap sebagai nabi terakhir yang diutus, ia diyakini sebagai nabi pertama yang diciptakan.[43] Dalam Islam Sunni, dinisbatkan kepada Al-Tirmidhi, bahwa ketika Muhammad ditanya kapan kenabiannya dimulai, ia menjawab: “Ketika Adam berada di antara ruh dan jasad.”[44] Versi lain yang lebih populer namun kurang terautentikasi menyatakan: “ketika Adam berada di antara air dan tanah.”[45] Sebagaimana dicatat oleh Ibn Sa'd, Qatada ibn Di'ama mengutip Muhammad: “Aku adalah manusia pertama dalam penciptaan dan aku adalah yang terakhir pada kebangkitan.”[46]
Menurut sebuah tradisi Syiah, bukan hanya Muhammad, tetapi juga Ali telah mendahului penciptaan Adam. Oleh karena itu, setelah para malaikat bersujud kepada Adam, Tuhan memerintahkan Adam untuk memandang ke Arasy Allah. Lalu ia melihat tubuh Muhammad yang bercahaya beserta keluarganya.[47] Ketika Adam berada di surga, ia membaca Syahadat yang terukir di Arasy Allah, yang dalam tradisi Syiah juga menyebutkan Ali.[47]
Filsafat Muslim dan rasionalisme
[sunting | sunting sumber]Filsafat Islam (Falsafa) berupaya menawarkan penjelasan ilmiah mengenai kenabian.[48] Teori-teori filosofis semacam ini juga kemungkinan digunakan untuk melegitimasi Muhammad sebagai seorang pembuat hukum dan negarawan.[48] Muhammad diidentifikasi oleh sebagian sarjana Islam dengan konsep Platonik logos, berdasarkan keyakinan akan pra-eksistensinya.[49]
Dengan mengintegrasikan terjemahan filsafat Aristotelian ke dalam filsafat Islam awal, al-Farabi menerima keberadaan berbagai intelek langit. Dalam tafsir-tafsir Neo-Platonik awal atas Aristoteles, intelek-intelek ini telah dibandingkan dengan cahaya.[50] Al-Farabi menggambarkan intelek pasif manusia individual sebagai penerima konsep-konsep universal dari intelek aktif langit.[51] Hanya ketika intelek individual berada dalam hubungan (konjungsi) dengan intelek aktif, ia mampu menerima pemikiran intelek aktif ke dalam kapasitas mentalnya sendiri. Dibedakan antara kenabian dan wahyu, yang terakhir disampaikan secara langsung kepada daya imajinatif individu.[52] Ia menjelaskan kemampuan kenabian Muhammad melalui model epistemologis ini,[53] yang kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh para sarjana Muslim selanjutnya, seperti Avicenna, al-Ghazali, dan ibn Arabi.[54]
Tradisi Sufi Ibn Arabi memperluas gagasan pra-eksistensi Muhammad, yang dipadukan dengan teori rasionalistik. Qunawi mengidentifikasi Muhammad dengan pena (Qalam), yang diperintahkan Tuhan untuk menuliskan segala sesuatu yang akan ada dan terjadi.[55] Meskipun terdapat beberapa kemiripan dengan doktrin Kristen tentang pra-eksistensi Kristus, Islam senantiasa menggambarkan Muhammad sebagai makhluk ciptaan dan tidak pernah sebagai bagian dari Tuhan atau pribadi di dalam Tuhan.[56]
Moralitas dan Sunnah
[sunting | sunting sumber]Kaum Muslim meyakini bahwa Muhammad memiliki keutamaan moral pada tingkat tertinggi, dan merupakan sosok dengan keunggulan akhlak.[14][33] Ia merepresentasikan “prototipe kesempurnaan manusia” dan merupakan yang terbaik di antara ciptaan Tuhan.[14][57] Oleh karena itu, bagi kaum Muslim, kehidupan dan karakter Muhammad merupakan teladan yang sangat baik untuk diteladani, baik pada tataran sosial maupun spiritual.[33][57] Keutamaan-keutamaan yang mencirikan dirinya antara lain kesederhanaan dan kerendahan hati, pemaafan dan kemurahan hati, kejujuran, keadilan, kesabaran, serta pengendalian diri.[14] Para penulis biografi Muslim tentang Muhammad dalam karya-karya mereka banyak menyoroti karakter moral Muhammad. Selain itu, terdapat suatu genre biografi yang mendekati kehidupannya dengan berfokus pada kualitas moralnya, alih-alih membahas urusan-urusan lahiriah kehidupannya.[14][33] Para sarjana ini mencatat bahwa ia senantiasa menjaga kejujuran dan keadilan dalam perbuatannya.[58]
Selama lebih dari tiga belas abad, kaum Muslim telah meneladani kehidupan mereka berdasarkan nabi mereka Muhammad. Mereka bangun setiap pagi sebagaimana ia bangun; mereka makan sebagaimana ia makan; mereka membersihkan diri sebagaimana ia membersihkan diri; dan mereka berperilaku bahkan dalam tindakan-tindakan terkecil kehidupan sehari-hari sebagaimana ia berperilaku.
— S. A. Nigosian
Dalam teologi Islam serta pemikiran hukum dan keagamaan Muslim, Muhammad—yang diilhami oleh Tuhan untuk bertindak dengan bijaksana dan sesuai dengan kehendak-Nya—memberikan teladan yang melengkapi wahyu Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an; dan tindakan serta ucapannya—yang dikenal sebagai Sunnah—menjadi model bagi perilaku Muslim.[59] Sunnah dapat didefinisikan sebagai “tindakan, keputusan, dan praktik yang disetujui, dibolehkan, atau dibenarkan oleh Muhammad”.[60] Sunnah juga mencakup persetujuan Muhammad terhadap tindakan atau cara tertentu seseorang (pada masa hidup Muhammad) yang, ketika disampaikan kepadanya, umumnya disetujui olehnya.[61] Sunnah, sebagaimana dicatat dalam literatur Hadis, mencakup aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan kehidupan domestik, sosial, ekonomi, dan politik laki-laki.[60] Ia membahas berbagai aktivitas dan keyakinan Islam, mulai dari praktik sederhana seperti cara yang tepat memasuki masjid dan kebersihan pribadi, hingga persoalan yang melibatkan cinta antara Tuhan dan manusia.[62] Sunnah Muhammad menjadi model bagi kaum Muslim untuk membentuk kehidupan mereka sesuai dengan standar tersebut. Al-Qur’an memerintahkan orang-orang beriman untuk melaksanakan salat, berpuasa, menunaikan ibadah haji, dan membayar Zakat, namun Muhammad-lah yang secara praktis mengajarkan kepada orang-orang beriman bagaimana melaksanakan semua itu.[62]
Biografi
[sunting | sunting sumber]Biografi Muhammad tersimpan dalam Al-Sīra al-Nabawiyya (biografi kenabian). Salah satu biografi kenabian tertulis paling awal dinisbatkan kepada ibn ʾIsḥāq, yang naskah aslinya telah hilang; hanya versi yang lebih kemudian yang disunting oleh ibn Hishām yang masih bertahan.[63] Namun, unsur-unsur dari biografi ibn ʾIsḥāq tetap bertahan dalam karya-karya lain, seperti sejarah para nabi karya al-Ṭabarī.[63] Muhammad kerap digambarkan baik dalam istilah supranatural maupun duniawi. Sementara biografi-biografi awal menampilkannya sebagai jiwa manusia pra-eksistensial dengan kekuatan mukjizat dan kemaksuman, ia tetap dapat diteladani secara manusiawi dalam cinta dan pengabdiannya, yang kemudian menjadi sunnah bagi para pengikutnya.[64]
Sejak abad ke-19, biografi Muhammad semakin terjalin dengan kisah-kisah non-Muslim tentang Muhammad,[65] sehingga mengaburkan perbedaan antara Muhammad kenabian dalam tradisi Islam dan Muhammad yang dihumanisasi dalam penggambaran non-Muslim.[66] Dengan demikian, kisah-kisah Islam pra-modern berpusat pada fungsi Muhammad sebagai nabi dan kenaikan mukjizatnya ke langit, sementara banyak penulis biografi Islam modern merekonstruksi kehidupannya sebagai negarawan ideal atau reformis sosial.[67] Pentingnya peran Muhammad sebagai pemimpin militer secara khusus mulai menonjol melalui tulisan-tulisan Ahmet Refik Altınay.[68] Kelangkaan kisah hagiografis pada era modern menyebabkan penerimaan umum terhadap penggambaran sejarah Muhammad oleh para sarjana non-Muslim juga.[68]
Tahun-tahun awal
[sunting | sunting sumber]Muhammad, putra 'Abdullah ibn Abd al-Muttalib ibn Hashim dan istrinya Aminah, lahir pada sekitar tahun 570 M[1][n 1] di kota Mekkah di Semenanjung Arab. Ia merupakan anggota keluarga Banu Hashim, sebuah cabang terhormat dari suku Quraysh yang bergengsi dan berpengaruh. Secara umum dikatakan bahwa ‘Abd al-Muttalib menamai anak tersebut “Muhammad” (Arab: مُحَمَّد).[69]
Kelahiran
[sunting | sunting sumber]
Muhammad tidak hanya dipandang sebagai tokoh sejarah Muhammad, tetapi juga sebagai manifestasi duniawi dari Muhammad kosmik, yang mendahului penciptaan Bumi atau Adam.[70][71] Motif Barakah dan Nūr kerap digunakan untuk menggambarkan kelahiran Muhammad sebagai peristiwa mukjizat.[72] Menurut Sīrah karya Ibn Isḥāq, pada saat pembuahan, sebuah cahaya berpindah dari ayah Muhammad kepada ibunya.[72][73] Selama masa kehamilan, cahaya memancar dari perut ibu Muhammad.[73] Dalam beberapa riwayat, ia juga dikunjungi oleh seorang malaikat.[74] Sīrah karya Ibn Hischām menyebutkan sebuah penglihatan yang dialami oleh ibu Muhammad. Seorang makhluk yang tidak dikenal datang kepadanya dan mengabarkan tentang Muhammad:
"Engkau telah mengandung pemimpin umat ini; ketika ia jatuh ke bumi, ucapkanlah: ‘Aku menitipkannya kepada perlindungan Yang Maha Esa dari kejahatan setiap orang yang dengki’, lalu namailah ia Muhammad."

Tradisi bahwa ruh Muhammad telah ada sebelum kelahirannya dibenarkan dengan pernyataan Al-Qur’an bahwa “Allah menciptakan ruh-ruh sebelum jasad”.[75] Tokoh lain, seperti Sahl al-Tustari, meyakini bahwa Ayat Cahaya dalam Al-Qur’an mengisyaratkan pra-eksistensi Muhammad, dengan membandingkannya dengan Cahaya Muhammad.[76][77] Sejumlah teolog reformis kemudian, seperti al-Ghazali (Asy‘ari) dan Ibn Taymiyyah (proto-Salafi), menolak gagasan bahwa Muhammad telah ada sebelum kelahiran dan menyatakan bahwa yang telah ada sebelumnya hanyalah konsep tentang Muhammad sebelum pembuahan fisiknya.[78][79]
Masa kanak-kanak
[sunting | sunting sumber]Muhammad telah menjadi yatim sejak usia dini. Beberapa bulan sebelum kelahirannya, ayahnya wafat di dekat Madinah dalam sebuah ekspedisi dagang ke Suriah.[80][81][82]
Ketika Muhammad berusia enam tahun, ia menemani ibunya Amina dalam kunjungannya ke Madinah, kemungkinan untuk menziarahi makam mendiang suaminya. Dalam perjalanan kembali ke Mekkah, Amina wafat di sebuah tempat terpencil bernama Abwa, sekitar setengah perjalanan menuju Mekkah, dan dimakamkan di sana. Muhammad kemudian diasuh oleh kakek dari pihak ayahnya, Abd al-Muttalib, yang wafat ketika Muhammad berusia delapan tahun, sehingga ia berada dalam asuhan pamannya, Abu Talib. Dalam tradisi Islam, keyatiman Muhammad sejak usia dini dipandang sebagai bagian dari rencana Ilahi agar ia “mengembangkan lebih awal sifat kemandirian, perenungan, dan keteguhan”.[83] Sarjana Muslim Muhammad Ali memandang kisah Muhammad sebagai paralel spiritual dengan kehidupan Musa, dengan banyak aspek kehidupan mereka yang serupa.[84]
Menurut kebiasaan Arab, setelah kelahirannya, bayi Muhammad diserahkan kepada kabilah Banu Sa'ad, sebuah suku Badui tetangga, agar ia memperoleh kefasihan bahasa yang murni dan adab bebas padang pasir.[85] Di sana, Muhammad menghabiskan lima tahun pertama kehidupannya bersama ibu susunya, Halima. Tradisi Islam menyatakan bahwa pada masa ini Allah mengutus dua malaikat yang membelah dadanya, mengeluarkan hatinya, dan menghilangkan segumpal darah darinya. Setelah itu, hatinya dicuci dengan air Zamzam. Dalam tradisi Islam, peristiwa ini dimaknai sebagai pensucian Allah terhadap nabi-Nya dan perlindungan dari dosa.[86][87]
Sekitar usia dua belas tahun, Muhammad menemani pamannya Abu Talib dalam sebuah perjalanan dagang ke Suriah, dan memperoleh pengalaman dalam kegiatan niaga.[88] Dalam perjalanan ini, Muhammad dikatakan dikenali oleh seorang rahib Kristen, Bahira, yang menubuatkan masa depan Muhammad sebagai nabi Allah.[11][89]
Sekitar usia 25 tahun, Muhammad dipekerjakan sebagai pengelola kegiatan dagang Khadijah, seorang wanita dari suku Quraysh.
Kesejahteraan sosial
[sunting | sunting sumber]
Antara tahun 580 M dan 590 M, Mekkah mengalami pertikaian berdarah antara Quraisy dan Bani Hawazin yang berlangsung selama empat tahun, sebelum akhirnya dicapai suatu gencatan senjata. Setelah gencatan senjata tersebut, dibentuk sebuah persekutuan bernama Hilf al-Fudul (Perjanjian Orang-Orang Berbudi Luhur)[90] yang bertujuan mencegah kekerasan dan ketidakadilan lebih lanjut; serta untuk berpihak kepada pihak yang tertindas. Sebuah sumpah diikrarkan oleh keturunan Hasyim dan keluarga-keluarga kerabatnya, di mana Muhammad juga menjadi salah satu anggotanya.[88]
Tradisi Islam mengaitkan Muhammad dengan penyelesaian sengketa secara damai terkait penempatan Batu Hitam di dinding Ka'bah, ketika para pemimpin kabilah tidak dapat menentukan kabilah mana yang berhak memperoleh kehormatan tersebut. Batu Hitam telah dilepaskan untuk memudahkan pembangunan kembali Ka'bah karena kondisinya yang telah rusak. Perselisihan semakin memanas dan pertumpahan darah menjadi sangat mungkin terjadi. Para pemimpin kabilah sepakat untuk menunggu orang berikutnya yang memasuki gerbang Ka'bah dan memintanya untuk memutuskan. Muhammad yang saat itu berusia 35 tahun masuk melalui gerbang tersebut sebagai orang pertama, lalu meminta sebuah kain selendang yang dibentangkannya di tanah dan meletakkan batu itu di tengahnya. Muhammad kemudian meminta para pemimpin kabilah mengangkat masing-masing sudut kain tersebut hingga mencapai ketinggian yang sesuai, lalu ia sendiri menempatkan batu itu pada posisi yang semestinya. Dengan kebijaksanaan Muhammad, pertumpahan darah pun berhasil dihindarkan.[91]
Kenabian
[sunting | sunting sumber]
Ketika Muhammad berusia 40 tahun,[92] ia mulai menerima wahyu pertamanya pada tahun 610 M. Ayat-ayat pertama yang diturunkan adalah lima ayat pertama dari Surah al-Alaq, yang dibawa oleh malaikat agung Jibril (Jabrāʾīl) dari Tuhan kepada Muhammad di Gua Hira di Jabal Hira.[93][94][95]
Ketika sedang bertafakur di Gua Hira,[96] Jibril menampakkan diri di hadapannya dan memerintahkannya untuk “membaca”, yang kemudian dijawab Muhammad—karena dalam tradisi Islam ia dianggap tidak dapat membaca—:[97] “Aku tidak dapat membaca.” Lalu malaikat itu memeluknya dan menekannya dengan kuat. Hal ini dikatakan terjadi sebanyak tiga kali hingga Muhammad mengucapkan bagian Al-Qur’an yang diwahyukan.[98] Peristiwa ini terjadi dua kali lagi, setelah itu malaikat tersebut memerintahkan Muhammad untuk membacakan ayat-ayat berikut:[93][94]
Bacalah, wahai Nabi, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan—
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
yang mengajar dengan perantaraan pena—
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Wahyu-wahyu ini diyakini telah masuk ke dalam hati (qalb) Muhammad dalam bentuk penglihatan dan suara, yang kemudian ia sampaikan ke dalam kata-kata sebagai firman Tuhan secara harfiah.[99][100][101] Wahyu-wahyu tersebut kemudian dituliskan, dikumpulkan, dan dikenal sebagai Al-Qur'an, teks keagamaan utama dalam Islam.[102][103][104][105]
Selama tiga tahun pertama masa kerasulannya, Muhammad menyampaikan Islam secara sembunyi-sembunyi, terutama kepada kerabat dekat dan sahabat-sahabat terdekatnya. Orang pertama yang beriman kepadanya adalah istrinya Khadijah, diikuti oleh Ali, sepupunya, dan Zayd ibn Harithah. Di antara para pemeluk awal lainnya terdapat Abu Bakr, Uthman ibn Affan, Hamza ibn Abdul Muttalib, Sa'ad ibn Abi Waqqas, Abdullah ibn Masud, Arqam, Abu Dharr al-Ghifari, Ammar ibn Yasir, dan Bilal ibn Rabah.[106]
Penentangan dan penganiayaan
[sunting | sunting sumber]Ajaran-ajaran awal Muhammad mengundang penentangan keras dari kalangan kaya dan kabilah-kabilah terkemuka di Mekkah yang khawatir akan kehilangan bukan hanya tradisi pagan leluhur mereka, tetapi juga bisnis ziarah yang menguntungkan.[107] Pada awalnya, penentangan ini terbatas pada ejekan dan sindiran yang terbukti tidak cukup untuk menghentikan berkembangnya keimanan Muhammad, sehingga mereka segera beralih pada penganiayaan aktif.[108] Bentuk-bentuk penganiayaan tersebut meliputi serangan verbal, pengucilan, boikot yang gagal, serta kekerasan fisik.[107][109] Terkejut oleh meningkatnya penganiayaan terhadap para pemeluk baru, Muhammad pada tahun 615 M memerintahkan sebagian pengikutnya untuk hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia), sebuah negeri yang diperintah oleh Raja Aṣḥama ibn Abjar, yang terkenal akan keadilan dan kebijaksanaannya.[110] Sebanyak sebelas pria dan empat wanita melakukan hijrah tersebut, dan kemudian disusul oleh rombongan lain pada waktu berikutnya.[110][111]

Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2
- Conrad, Lawrence I. (1987). "Abraha and Muhammad: some observations apropos of chronology and literary topoi in the early Arabic historical tradition1". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 50 (2): 225–40. doi:10.1017/S0041977X00049016. S2CID 162350288.
- {{Cite book|last=Sherrard Beaumont Burnaby|url=(https://archive.org/details/elementsofjewish00burnuoft%7Ctitle=Elements) of the Jewish and Muhammadan calendars: with rules and tables and explanatory notes on the Julian and Gregorian calendars|publisher=G. Bell|year=1901|page=[(https://archive.org/details/elementsofjewish00burnuoft/page/465) 465]}}
- Hamidullah, Muhammad (February 1969). ["The Nasi', the Hijrah Calendar and the Need of Preparing a New Concordance for the Hijrah and Gregorian Eras: Why the Existing Western Concordances are Not to be Relied Upon" (PDF). The) Islamic Review & Arab Affairs: 6–12. Diarsipkan dari [asli (PDF) tanggal 5) November 2012. ; ;
- ↑ Nasr, Seyyed Hossein, dan Mehdi Aminrazavi. An Anthology of Philosophy in Persia, Vol. 2: Ismaili Thought in the Classical Age. Bloomsbury Academic, 2008. hlm. 258
- ↑ Theuma, Edmund. "Qur'anic exegesis: Muhammad & the Jinn." (1996).
- 1 2 3 {{cite book |last=Esposito |first=John |author-link=John Esposito |title=Islam: The Straight Path |year=1998 |publisher=Oxford University Press |isbn=978-0-19-511233-7 |page=[(https://archive.org/details/islamstraightpat00espo_0/page/12) 12] |url=(https://archive.org/details/islamstraightpat00espo_0/page/12) }}
- ↑ Esposito (2002b), hlm. 4–5.
- ↑ {{cite book|last=Peters|first=F. E.|title=Islam: A Guide for Jews and Christians|year=2003|publisher=Princeton University Press|isbn=978-0-691-11553-5|page=[(https://archive.org/details/islamguideforjew00fepe/page/9) 9]|url=(https://archive.org/details/islamguideforjew00fepe/page/9}})
- ↑ {{cite book|last=Esposito|first=John|title=Islam: The Straight Path |edition=Edisi ke-3 |year=1998|publisher=Oxford University Press|isbn=978-0-19-511234-4|pages=[(https://archive.org/details/islamstraightpat0000espo/page/9) 9, 12]|url=(https://archive.org/details/islamstraightpat0000espo}})
- ↑ "Muhammad (prophet)". Encarta Encyclopedia. Redmond, WA: Microsoft. 2007.
- ↑ Hawting, Gerald R. The idea of idolatry and the emergence of Islam: From polemic to history. Cambridge University Press, 1999. p. 2
- ↑ Muir, William (1861). [(https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.215983/page/n54/mode/1up) Life of Mahomet]. Vol. 2. London: Smith, Elder, & Co. hlm. 55.
- 1 2 Shibli Nomani. Sirat-un-Nabi. Vol 1 Lahore.
- ↑ Hitti, Philip Khuri (1946). History of the Arabs. London: Macmillan and Co. hlm. 116.
- ↑ [(https://www.britannica.com/EBchecked/topic/396226/Muhammad/251796/The-advent-of-the-revelation-and-the-Meccan-period) "Muhammad"]. Encyclopædia Britannica Online. Encyclopædia Britannica, Inc. 2013. [(https://web.archive.org/web/20130127111138/https://www.britannica.com/EBchecked/topic/396226/Muhammad/251796/The-advent-of-the-revelation-and-the-Meccan-period) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 27 January 2013. Diakses tanggal 27 January 2013. ;
- 1 2 3 4 5 {{cite book |editor=Matt Stefon|title=Islamic Beliefs and Practices |url=(https://archive.org/details/islamicbeliefspr0000stef) |url-access=registration|publisher=Britannica Educational Publishing |year=2010 |location=New York City |isbn=978-1-61530-060-0|page=[(https://archive.org/details/islamicbeliefspr0000stef/page/58) 58]}}
- ↑ Matt Stefon (2010). Islamic Beliefs and Practices, p. 18
- ↑ Morgan, Garry R (2012). [(https://books.google.com/books?id=kph_W86k-VoC&pg=PT77) Understanding World Religions in 15 Minutes a Day]. Baker Books. hlm. 77. ISBN 978-1-4412-5988-2. [(https://web.archive.org/web/20160624065901/https://books.google.com/books?id=kph_W86k-VoC&pg=PT77) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 24 June 2016. Diakses tanggal 29 September 2015. ;
- ↑ Mead, Jean (2008). [(https://books.google.com/books?id=CdJtfwE8_H4C&pg=PA5) Why Is Muhammad Important to Muslims]. Evans Brothers. hlm. 5. ISBN 978-0-237-53409-7. [(https://web.archive.org/web/20160623223317/https://books.google.com/books?id=CdJtfwE8_H4C&pg=PA5) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 23 June 2016. Diakses tanggal 29 September 2015. ;
- ↑ Riedling, Ann Marlow (2014). [(https://books.google.com/books?id=e5QTBAAAQBAJ&pg=PT38) Is Your God My God]. WestBow. hlm. 38. ISBN 978-1-4908-4038-3. [(https://web.archive.org/web/20160514162431/https://books.google.com/books?id=e5QTBAAAQBAJ&pg=PT38) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 14 May 2016. Diakses tanggal 29 September 2015. ;
- ↑ Norman Calder, Jawid Mojaddedi, Andew Rippin “Classical Islam A sourcebook of religious literature” Routledge Tayor & Francis Group 2003 p. 16
- 1 2 3 Brannon, Wheeler. "Prophets in the Quran: An introduction to the Quran and Muslim exegesis." A&C Black (2002).
- ↑ Brend, Barbara. "Figurative Art in Medieval Islam and the Riddle of Bihzād of Herāt (1465–1535). By Michael Barry. p. 308. Paris, Flammarion, 2004." Journal of the Royal Asiatic Society 17.1 (2007): 308.
- ↑ Virani, Shafique N. (2011). ["Taqiyya and Identity in a South Asian Community". The) Journal of Asian Studies. 70 (1): 99–139. doi:10.1017/S0021911810002974. ISSN 0021-9118. S2CID 143431047. p. 128.
- ↑ Khalidi, T. (2009). Images of Muhammad: Narratives of the Prophet in Islam Across the Centuries. USA: Doubleday. p. 209
- ↑ [(http://www.muslimphilosophy.com/ip/rep/H022.htm#H022SECT4) Ibn al-'Arabi, Muhyi al-Din (1164–1240), The 'perfect human' and the Muhammadan reality] Lua error in mw.uri.lua at line 142: Invalid port number in string.
- ↑ Gruber, Christiane. "Between logos (Kalima) and light (Nūr): representations of the Prophet Muhammad in Islamic painting." Muqarnas, Volume 26. Brill, 2009. 229-262.
- ↑ Gruber, Christiane. "Between logos (Kalima) and light (Nūr): representations of the Prophet Muhammad in Islamic painting." Muqarnas, Volume 26. Brill, 2009.
- ↑ Rustom, Mohammed. "Devil's advocate: ʿAyn al-Quḍāt's defence of Iblis in context." Studia Islamica 115.1 (2020): 87
- ↑ Korangy, Alireza, Hanadi Al-Samman, and Michael Beard, eds. The beloved in Middle Eastern literatures: The culture of love and languishing. Bloomsbury Publishing, 2017. p. 90-96
- ↑ A.J. Wensinck, Muʿd̲j̲iza, Encyclopedia of Islam
- ↑ Schimmel, A. (2014). And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety. USA: University of North Carolina Press. chapter 7
- 1 2 Brockopp, Jonathan E., ed. The Cambridge Companion to Muhammad. Cambridge University Press, 2010. p. 46
- ↑ {{cite book |last=Nigosian |first=S. A. |title=Islam: Its History, Teaching, and Practices |url=(https://archive.org/details/islamitshistoryt0000nigo) |url-access=registration |year=2004 |publisher=Indiana University Press |location=Indiana |isbn=978-0-253-21627-4 |page=[(https://archive.org/details/islamitshistoryt0000nigo/page/17) 17] }}
- 1 2 3 4 Juan E. Campo, ed. (2009). Encyclopedia of Islam. Facts on File. hlm. 494. ISBN 978-0-8160-5454-1 [(https://books.google.com/books?id=OZbyz_Hr-eIC&pg=PA494) [https://books.google.com/books?id=OZbyz_Hr-eIC&pg=PA494%5D(https://books.google.com/books?id=OZbyz_Hr-eIC&pg=PA494)]. [(https://web.archive.org/web/20150930121515/https://books.google.com/books?id=OZbyz_Hr-eIC&lpg=PP1&dq=isbn%3A1438126964&pg=PA494) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 2015-09-30. ; ;
- ↑ Clark, Malcolm (2003). [(https://books.google.com/books?id=zPXu561ZpvgC&pg=PT100) Islam for Dummies]. Indiana: Wiley Publishing Inc. hlm. 100. ISBN 9781118053966. [(https://web.archive.org/web/20150924043530/https://books.google.com/books?id=zPXu561ZpvgC&pg=PT100#v=onepage&q&f=true) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 2015-09-24. ;
- ↑ [(https://www.britannica.com/EBchecked/topic/396226/Muhammad) "Muhammad"]. Encyclopædia Britannica Online. Encyclopædia Britannica, Inc. 2013. [(https://web.archive.org/web/20130202060950/https://www.britannica.com/EBchecked/topic/396226/Muhammad) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 2 February 2013. Diakses tanggal 27 January 2013. ;
- ↑ Esposito, John L., ed. (2003). "Khatam al-Nabiyyin". The Oxford Dictionary of Islam. Oxford: Oxford University Press. hlm. 171.
Khatam al-Nabiyyin: Seal of the prophets. Phrase occurs in Quran 33:40, referring to Muhammad, and is regarded by Muslims as meaning that he is the last of the series of prophets that began with Adam.
- ↑ Mir, Mustansir (1987). "Seal of the Prophets, The". Dictionary of Qur'ānic Terms and Concepts. New York: Garland Publishing. hlm. 171.
Muḥammad is called "the seal of the prophets" in 33:40. The expression means that Muḥammad is the final prophet, and that the institution of prophecy after him is "sealed."
- ↑ Hughes, Thomas Patrick (1885). [(https://books.google.com/books?id=rDtbAAAAQAAJ&pg=PA270) "K͟HĀTIMU 'N-NABĪYĪN"]. A Dictionary of Islam: Being a Cyclopædia of the Doctrines, Rites, Ceremonies, and Customs, Together with the Technical and Theological Terms, of the Muhammadan Religion. London: W. H. Allen. hlm. 270. [(https://web.archive.org/web/20151004045311/https://books.google.com/books?id=rDtbAAAAQAAJ&pg=PA270) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 2015-10-04.
K͟HĀTIMU 'N-NABĪYĪN (خاتم النبيين). "The seal of the Prophets." A title assumed by Muhammad in the Qur'ān. Surah xxxiii. 40: "He is the Apostle of God and the 'seal of the Prophets'." By which is meant, that he is the last of the Prophets.
; - ↑ Coeli Fitzpatrick; Adam Hani Walker, ed. (2014). [(https://books.google.com/books?id=2AtvBAAAQBAJ&pg=PA16) "Muhammad in History, Thought, and Culture: An Encyclopedia of the Prophet of God [2 volumes]"]. Muhammad in History, Thought, and Culture: An Encyclopedia of the Prophet of God. ABC-CLIO. hlm. 16. ISBN 978-1-61069-178-9. [(https://web.archive.org/web/20160427082038/https://books.google.com/books?id=2AtvBAAAQBAJ&pg=PA16) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 2016-04-27. ;
- ↑ Bogle, Emory C. (1998). [(https://books.google.com/books?id=IpFhLDUw20gC&pg=PA135) Islam: Origin and Belief]. University of Texas Press. hlm. 135. ISBN 978-0-292-70862-4. [(https://web.archive.org/web/20160624053507/https://books.google.com/books?id=IpFhLDUw20gC&pg=PA135) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 24 June 2016. Diakses tanggal 18 October 2015. ;
- ↑ Goldziher, Ignác (1981). ["Sects". Introduction to Islamic Theology and Law. Translated) by Andras and Ruth Hamori from the German Vorlesungen über den Islam (1910). Princeton, New Jersey: Princeton University Press. hlm. 220–21. ISBN 0691100993. [Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2015-10-05.
Sunnī and Shī'ī theology alike understood it to mean that Muhammad ended the series of Prophets, that he had accomplished for all eternity what his predecessors had prepared, that he was God's last messenger delivering God's last message to mankind.
; ](https://web.archive.org/web/20151005103712/https://books.google.com/books?id=6zeStDQZOSgC&pg=PA220%7Carchive-date=2015-10-05}}) - ↑ Martin, Richard C., ed. (2004). ["'Ali". Encyclopedia of Islam and the Muslim World. Vol. 1. New York: Macmillan. hlm. 37. ](https://books.google.com/books?id=xL9YAwAAQBAJ&pg=PA37}})
- ↑ Marion Holmes Katz The Birth of The Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam Routledge 2007 ISBN 978-1-135-98394-9 page 13
- ↑ Marion Holmes Katz The Birth of The Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam Routledge 2007 ISBN 978-1-135-98394-9 page 13
- ↑ G. Widengren Historia Religionum, Volume 2 Religions of the Present, Band 2 Brill 1971 ISBN 978-9-004-02598-1 page 177
- ↑ Goldziher, Ignaz. "Neuplatonische und gnostische Elemente im Ḥadῑṯ." (1909): 317-344.
- 1 2 M.J. Kister Adam: A Study of Some Legends in Tafsir and Hadit Literature Approaches to the History of the Interpretation of The Qur'an, Oxford 1988 p. 129
- 1 2 Brockopp, Jonathan E., ed. The Cambridge Companion to Muhammad. Cambridge University Press, 2010. p. 169
- ↑ Sufism: love & wisdom Jean-Louis Michon, Roger Gaetani 2006 ISBN 0-941532-75-5 p. 242
- ↑ Brockopp, Jonathan E., ed. The Cambridge Companion to Muhammad. Cambridge University Press, 2010. p. 159-161
- ↑ Brockopp, Jonathan E., ed. The Cambridge Companion to Muhammad. Cambridge University Press, 2010. p. 163
- ↑ Brockopp, Jonathan E., ed. The Cambridge Companion to Muhammad. Cambridge University Press, 2010. p. 166
- ↑ Brockopp, Jonathan E., ed. The Cambridge Companion to Muhammad. Cambridge University Press, 2010. p. 163-169
- ↑ Brockopp, Jonathan E., ed. The Cambridge Companion to Muhammad. Cambridge University Press, 2010. p. 173-178
- ↑ Rustom, Mohammed. "The cosmology of the Muhammadan Reality." Ishrāq: Islamic Philosophy Yearbook 4 (2013): 540-5.
- ↑ Rom Landau The Philosophy of Ibn 'Arabi Routledge 2013 ISBN 978-1-135-02969-2
- 1 2 {{cite book |last=Nigosian |first=S. A. |title= Islam: Its History, Teaching, and Practices |url= (https://archive.org/details/islamitshistoryt0000nigo) |url-access=registration |year=2004 |publisher=Indiana University Press |location=Indiana |isbn= 978-0-253-21627-4 |page=[(https://archive.org/details/islamitshistoryt0000nigo/page/15) 15]}}
- ↑ {{cite book |last=Khadduri |first=Majid |title=The Islamic Conception of Justice |url=(https://archive.org/details/islamicconceptio0000khad) |url-access=registration |year=1984 |publisher=The Johns Hopkins University Press |isbn=978-0-8018-6974-7 |page=[(https://archive.org/details/islamicconceptio0000khad/page/8) 8]}}
- ↑ "Sunnah." In The Islamic World: Past and Present. Ed. John L. Esposito. Oxford Islamic Studies Online. 22-Apr-2013. [(https://web.archive.org/web/20140419025308/http://www.oxfordislamicstudies.com/article/opr/t243/e332) "Sunnah - Oxford Islamic Studies Online"]. Diarsipkan dari [(http://www.oxfordislamicstudies.com/article/opr/t243/e332) asli] tanggal 2014-04-19. Diakses tanggal 2013-04-22. ;
- 1 2 Nigosian (2004), p. 80
- ↑ Muhammad Taqi Usmani (2004). [(https://books.google.com/books?id=XIxvo6IUo5IC&pg=PA6) The Authority of Sunnah]. hlm. 6. [(https://web.archive.org/web/20151022064636/https://books.google.com/books?id=XIxvo6IUo5IC&lpg=PA5&pg=PA6) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 2015-10-22. ;
- 1 2 Stefon, Islamic Beliefs and Practices, p. 59
- 1 2 Shoemaker, Stephen J. The Death of a Prophet: The End of Muhammad's Life and the Beginnings of Islam. University of Pennsylvania Press, 2011. p. 75
- ↑ Khalidi, T. (2009). Images of Muhammad: Narratives of the Prophet in Islam Across the Centuries. USA: Doubleday. p. 18
- ↑ Raven, W. (2011). Biography of the Prophet. In K. Fleet, G. Krämer, D. Matringe, J. Nawas and D. J. Stewart (eds.), Encyclopaedia of Islam Three Online. Brill. (https://doi.org/10.1163/1573-3912_ei3_COM_23716)
- ↑ Ali, Kecia. The lives of Muhammad. Harvard University Press, 2014. p. 461
- ↑ Ali, Kecia. The lives of Muhammad. Harvard University Press, 2014. p. 465
- 1 2 Hagen, Gottfried. "The imagined and the historical Muhammad." (2009): 97-111.
- ↑ Sell, Edward (1913). [(https://web.archive.org/web/20131031202846/http://www.muhammadanism.org/Canon_Sell/muhammad/life_muhammad.pdf) The Life of Muhammad]. Madras. hlm. 7. Diarsipkan dari [(http://www.muhammadanism.org/Canon_Sell/muhammad/life_muhammad.pdf) asli] tanggal 31 October 2013. Diakses tanggal 19 January 2013. ; Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
- ↑ Josiane Cauquelin, Paul Lim, Birgit Mayer-Koenig Asian Values: Encounter with Diversity Routledge 2014 ISBN 978-1-136-84125-5
- ↑ Brockopp, Jonathan E., ed. The Cambridge Companion to Muhammad. Cambridge University Press, 2010. p. 141
- 1 2 Katz, M. H. (2017). Birthday of the Prophet. In K. Fleet, G. Krämer, D. Matringe, J. Nawas and D. J. Stewart (eds.), Encyclopaedia of Islam Three Online. Brill. (https://doi.org/10.1163/1573-3912_ei3_COM_24018)
- 1 2 Katz, M. H. (2007). The Birth of The Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam. Vereinigtes Königreich: Taylor & Francis. p. 13
- ↑ Stephen Burge. 2024. 'Angels (malāʾika)', St Andrews Encyclopaedia of Theology. Edited by Brendan N. Wolfe et al. (https://www.saet.ac.uk/Islam/Angels) Accessed: 4 November 2024 p. 12
- ↑ Katz, M. H. (2007). The Birth of The Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam. Vereinigtes Königreich: Taylor & Francis. p. 15
- ↑ Brockopp, Jonathan E., ed. The Cambridge Companion to Muhammad. Cambridge University Press, 2010. p. 127
- ↑ Katz, M. H. (2007). The Birth of The Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam. Vereinigtes Königreich: Taylor & Francis. p. 14
- ↑ Marion Holmes Katz The Birth of The Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam Routledge 2007 ISBN 978-1-135-98394-9 page 14
- ↑ Rubin, U., “Nūr Muḥammadī”, in: Encyclopaedia of Islam, Second Edition, Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. Consulted online on 4 December 2023 DOI:10.1163/1573-3912_islam_SIM_5985 First published online: 2012 First print edition: ISBN 9789004161214, 1960-2007
- ↑ {{cite book|last=Khan|first=Muhammad Zafrullah|title=Muhammad: Seal of the Prophets|year=1980|publisher=Routledge & Kegan Paul|isbn=978-0-7100-0610-3|page=[(https://archive.org/details/muhammadsealofpr0000khan/page/12) 12]|url=(https://archive.org/details/muhammadsealofpr0000khan}})
- ↑ Article "AL-SHĀM" by C.E. Bosworth, Encyclopaedia of Islam, Volume 9 (1997), page 261.
- ↑ Kamal S. Salibi (2003). [(https://books.google.com/books?id=t_amYLJq4SQC) A House of Many Mansions: The History of Lebanon Reconsidered]. I.B.Tauris. hlm. 61–62. ISBN 978-1-86064-912-7. [(https://web.archive.org/web/20160516031507/https://books.google.com/books?id=t_amYLJq4SQC) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 2016-05-16.
To the Arabs, this same territory, which the Romans considered Arabian, formed part of what they called Bilad al-Sham, which was their own name for Syria. From the classical perspective however Syria, including Palestine, formed no more than the western fringes of what was reckoned to be Arabia between the first line of cities and the coast. Since there is no clear dividing line between what are called today the Syrian and Arabian deserts, which actually form one stretch of arid tableland, the classical concept of what actually constituted Syria had more to its credit geographically than the vaguer Arab concept of Syria as Bilad al-Sham. Under the Romans, there was actually a province of Syria, with its capital at Antioch, which carried the name of the territory. Otherwise, down the centuries, Syria like Arabia and Mesopotamia was no more than a geographic expression. In Islamic times, the Arab geographers used the name arabicized as Suriyah, to denote one special region of Bilad al-Sham, which was the middle section of the valley of the Orontes river, in the vicinity of the towns of Homs and Hama. They also noted that it was an old name for the whole of Bilad al-Sham which had gone out of use. As a geographic expression, however, the name Syria survived in its original classical sense in Byzantine and Western European usage, and also in the Syriac literature of some of the Eastern Christian churches, from which it occasionally found its way into Christian Arabic usage. It was only in the nineteenth century that the use of the name was revived in its modern Arabic form, frequently as Suriyya rather than the older Suriyah, to denote the whole of Bilad al-Sham: first of all in the Christian Arabic literature of the period, and under the influence of Western Europe. By the end of that century it had already replaced the name of Bilad al-Sham even in Muslim Arabic usage.
; - ↑ {{cite book|last=Khan|first=Muhammad Zafrullah|title=Muhammad: Seal of the Prophets|year=1980|publisher=Routledge & Kegan Paul|isbn=978-0-7100-0610-3|page=[(https://archive.org/details/muhammadsealofpr0000khan/page/15) 15]|url=(https://archive.org/details/muhammadsealofpr0000khan}})
- ↑ Ali, Muhammad (2011). [(https://books.google.com/books?id=f_j9ayrVpHMC&pg=PT113) Introduction to the Study of The Holy Qur'an]. Ahmadiyya Anjuman Ishaat Islam Lahore USA. hlm. 113. ISBN 978-1-934271-21-6. [(https://web.archive.org/web/20151029034335/https://books.google.com/books?id=f_j9ayrVpHMC&pg=PT113) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 2015-10-29. ;
- ↑ Muir, William (1861). [(https://archive.org/details/lifemahomet00muirgoog) Life of Mahomet]. Vol. 2. London: Smith, Elder, & Co. hlm. xvii-xviii. Diakses tanggal 18 January 2013.
- ↑ Stefon, Islamic Beliefs and Practices, pp. 22–23
- ↑ Al Mubarakpuri, Safi ur Rahman (2002). [(https://books.google.com/books?id=r_80rJHIaOMC&pg=PA74) Ar-Raheeq Al-Makhtum (The Sealed Nectar)]. Darussalam. hlm. 74. ISBN 978-9960-899-55-8. [(https://web.archive.org/web/20151031184558/https://books.google.com/books?id=r_80rJHIaOMC&lpg=PP1&pg=PA74) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 2015-10-31. ;
- 1 2 {{cite book|last=Khan|first=Muhammad Zafrullah|title=Muhammad: Seal of the Prophets|year=1980|publisher=Routledge & Kegan Paul|isbn=978-0-7100-0610-3|page=[(https://archive.org/details/muhammadsealofpr0000khan/page/16) 16]|url=(https://archive.org/details/muhammadsealofpr0000khan}})
- ↑ Sell (1913), p. 12
- ↑ {{cite book |last=Ramadan |first=Tariq |author-link=Tariq Ramadan |title=In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad |url=(https://archive.org/details/infootstepsofpro00rama%7Curl-access=registration) |year=2007 |publisher=Oxford University Press|page=[(https://archive.org/details/infootstepsofpro00rama/page/21) 21]|isbn=978-0-19-530880-8 }}
- ↑ Stefon, Islamic Beliefs and Practices, p. 24
- ↑ Wheeler, Historical Dictionary of Prophets in Islam and Judaism, "Noah"
- 1 2 Brown, Daniel (2003). A New Introduction to Islam. Blackwell Publishing Professional. hlm. 72–73. ISBN 978-0-631-21604-9.
- 1 2 Sell, Edward (1913). The Life of Muhammad. Madras: Smith, Elder, & Co. hlm. 29.
- ↑ Bennett, Clinton (1998). [In Search of Muhammad. London: Cassell. hlm. 2. ISBN 978-0-304-70401-9.
- ↑ {{cite book |last=Bogle |first=Emory C. |author-link=Emory C. Bogle. |title=Islam: Origin and Belief |year=1998 |publisher=Texas University Press |isbn=978-0-292-70862-4 |page=[(https://archive.org/details/islam00emor/page/6) 6] |url=(https://archive.org/details/islam00emor/page/6) }}
- ↑ Campo (2009), p. 494
- ↑ Wheeler, Brannon. "Prophets in the Quran." Prophets in the Quran (2002): 1-400.
- ↑ Brockopp, Jonathan E., ed. The Cambridge Companion to Muhammad. Cambridge University Press, 2010. p. 178
- ↑ Donner, Fred M. Muhammad and the Believers. Harvard University Press, 2010. p. 40-41
- ↑ [(https://www.britannica.com/EBchecked/topic/396226/Muhammad/251799/Muhammad-and-the-Quran) "Muhammad and the Quran"]. Encyclopædia Britannica Online. Encyclopædia Britannica, Inc. 2013. [(https://web.archive.org/web/20130117061518/https://www.britannica.com/EBchecked/topic/396226/Muhammad/251799/Muhammad-and-the-Quran) Diarsipkan] dari versi aslinya tanggal 17 January 2013. Diakses tanggal 7 March 2013. ;
- ↑ Juan E. Campo, ed. (2009). Encyclopedia of Islam. Facts on File. hlm. 570–573. ISBN 978-0-8160-5454-1 [(https://books.google.com/books?id=OZbyz_Hr-eIC&pg=PA570) [https://books.google.com/books?id=OZbyz_Hr-eIC&pg=PA570%5D(https://books.google.com/books?id=OZbyz_Hr-eIC&pg=PA570)].
The Quran is the sacred scripture of Islam. Muslims believe it contains the infallible word of God as revealed to Muhammad the Prophet in the Arabic language during the latter part of his life, between the years 610 and 632… (p. 570). Quran was revealed piecemeal during Muhammad's life, between 610 C.E. and 632 C.E., and that it was collected into a physical book (mushaf) only after his death. Early commentaries and Islamic historical sources support this understanding of the Quran's early development, although they are unclear in other respects. They report that the third caliph, Uthman ibn Affan (r. 644–656) ordered a committee headed by Zayd ibn Thabit (d. ca. 655), Muhammad's scribe, to establish a single authoritative recension of the Quran… (p. 572-3).
; - ↑ {{cite encyclopedia |editor= Oliver Leaman |encyclopedia= The Qur'an: An Encyclopedia |url= [[Routledge(https://books.google.com/books?id=isDgI0-0Ip4C&pg=PA520%7Cpublisher=Routledge) |year=2006 |isbn=9-78-0-415-32639-1|page=520}}
- ↑ {{cite book |editor=Matt Stefon|title=Islamic Beliefs and Practices |url=[[Britannica(https://archive.org/details/islamicbeliefspr0000stef%7Curl-access=registration%7Cpublisher=Britannica) Educational Publishing |year=2010 |location=New York City |isbn=978-1-61530-060-0|pages=[(https://archive.org/details/islamicbeliefspr0000stef/page/39) 39–40]}}
- ↑ {{cite book |last=Nigosian |first=S. A. |title=Islam: Its History, Teaching, and Practices |url=(https://archive.org/details/islamitshistoryt0000nigo) |url-access=registration |year=2004 |publisher=Indiana University Press |location=Indiana |isbn=978-0-253-21627-4 |pages=[(https://archive.org/details/islamitshistoryt0000nigo/page/65) 65]–68}}
- ↑ Donner, Fred M. Muhammad and the Believers. Harvard University Press, 2010. p. 41
- 1 2 Juan E. Campo, ed. (2009). [(https://books.google.com/books?id=OZbyz_Hr-eIC&pg=PA493) "Muhammad"]. Encyclopedia of Islam. Facts on File. hlm. 493. ISBN 978-0-8160-5454-1.
- ↑ Hitti, Philip Khuri (1946). History of the Arabs. Macmillan and Co. hlm. 113–4.
- ↑ Holt, P. M.; Ann K. S. Lambton; Bernard Lewis, ed. (1977). The Cambridge History of Islam. Vol. IA. Cambridge University Press. hlm. 38. ISBN 978-0-521-29135-4.
- 1 2 {{cite book|last=Khan|first=Muhammad Zafrullah|title=Muhammad: Seal of the Prophets|year=1980|publisher=Routledge & Kegan Paul|isbn=978-0-7100-0610-3|page=[(https://archive.org/details/muhammadsealofpr0000khan/page/42) 42]|url=(https://archive.org/details/muhammadsealofpr0000khan}})
- ↑ Hitti, Philip Khuri (1946). History of the Arabs. Macmillan and Co. hlm. 114.
- ↑ Pendapat mengenai tanggal pasti kelahiran Muhammad sedikit berbeda. Shibli Nomani dan Philip Khuri Hitti menetapkan tanggal tersebut pada tahun 571 M. Namun, 20 Agustus 570 M umumnya diterima. Lihat Muir, jilid ii, hlm. 13–14 untuk informasi lebih lanjut.
<ref> untuk kelompok bernama "n", tapi tidak ditemukan tanda <references group="n"/> yang berkaitan
