Monero

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 

Monero
Monero-Logo.svg
Simbol sahamXMR
Pengembangan
Perancang awalNicolas van Saberhagen
Buku putih"CryptoNote v 2.0"
Rilis perdana18 April 2014; 8 tahun lalu (2014-04-18)
Rilis stabil terkini0.17.2.3 / 1 September 2021; 9 bulan lalu (2021-09-01)
Status pengembanganAktif
Model sumberSumber terbuka
LisensiMIT License
Situs webgetmonero.org
Buku besar
Fungsi hashRandomX
Hadiah blok1.16 XMR
Waktu blok2 menit
Pasokan beredar~18,009,002
Batas pasokanTak terbatas

Monero adalah mata uang kripto yang terdesentralisasi. Monero menggunakan beberapa teknik untuk mengaburkan transaksi, yaitu buku besar yang terdistribusi secara publik, dan teknologi peningkat privasi. Dengan ini, dicapailah anonimitas dan kesepadanan. Detil yang disembunyikan dari pengamat luar antara lain adalah isi alamat, jumlah, riwayat transaksi, dan juga jumlah uang pada alamat tersebut.

Protokol yang digunakan bersumber terbuka dan dibuat berdasarkan CryptoNote, sebuah konsep yang dijelaskan pada kertas putih yang dipublikasikan pada 2013 oleh Nicolas van Saberhagen. Komunitas kriptograpfi menggunakan konsep ini untuk mendesain Monero, dan menyebarkan jaringan pertamanya pada 2014. Monero menggunakan tanda tangan cincin, bukti tanpa informasi, dan "alamat tersembunyi" untuk mengaburkan detil transaksi. Fitur-fitur privasi ini sudah merupakan bawaan pada protokol yang digunakan, tetapi pengguna tetap dapat membagikan kunci yang mereka punya kepada pihak ketiga untuk diaudit. Transaksi divalidasi melalui jaringan penambang yang menjalankan RandomX, sebuah algoritma bukti hasil kerja. Algoritma ini memberikan koin baru kepada penambang, dan didesain untuk kebal terhadap penambangan metode ASIC.

Monero memiliki komunitas pengembang ketiga terbesar diantara semua mata uang kripto, setelah bitcoin dan Ethereum. Fitur privasi yang ditawarkan telah menarik perhatian cypherpunks (orang-orang yang mendukung penggunaan mata uang kripto) dan pengguna yang menginginkan fitur privasi yang tidak disediakan oleh mata uang kripto lainnya. Penggunaan Monero pada aktivitas terlarang telah meningkat, seperti pencucian uang, pasar jaringan gelap, perangkat pemeras, dan cryptojacking. Layanan Pendapatan Internal (IRS) Amerika Serikat telah memasang hadiah kepada kontraktor yang bisa mengembangkan teknologi pelacak Monero.[1]

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Akar Monero bisa dilacak kembali ke CryptoNote, sebuah protokol mata uang kripto yang pertama dijelaskan pada sebuah kertas putih yang ditulis oleh Nicolas van Saberhagen (diduga nama samaran) pada Oktober 2013.[2] Penulis menjelaskan privasi dan anonimitas sebagai aspek yang "paling penting dalam uang elektronik" dan menyebut kemampuan bitcoin untuk dilacak sebagai sebuah "celah serius".[3] Seorang pengguna forum Bitcointalk bernama "thankful_for_today" mengkodekan ide ini kesebuah koin yang awalnya mereka beri nama BitMonero. Pengguna forum lain tidak setuju dengan keputusan BitMonero yang dibuat thankful_for_today , sehingga mereka mengcabangkan proyek tersebut pada 2014 untuk membuat monero.[2] Monero berarti koin dalam bahasa Esperanto, dan kadang menggunakan moneroj sebagai kata jamaknya.[4] Identitas van Saberhagen dan thankful_for_today masih anonim.[2]

Monero memiliki komunitas pengembang ketiga terbesar, setelah bitcoin dan Ethereum. [3] Pengurus utama protokol ini awalnya adalah pengembang dari Afrika Selatan bernama Riccardo Spagni.[5] Kebanyakan dari tim pengembang inti memilih untuk tetap anonim.[6]

Privasi[sunting | sunting sumber]

Tanda tangan cincin memberikan sifat ambiguitas pada analisa rantai blok.
Bahan pemasaran yang disebarkan oleh komunitas monero [7] untuk mempromosikan crypto-anarchism.

Fitur utama yang ditawarkan Monero adalah fitur privasi dan anonimitas.[8].[2][6] Meskipun buku besar nya publik dan terdesentralisasi, semua detil transaksi terkaburkan.[9] Ini berbanding terbalik dengan bitcoin, di mana semua detil transaksi, alamat pengguna, dan isi uang alamat berupa publik dan transparan.[2][6] Fitur inilah yang membuat monero memiliki pengikut yang setia, diantaranya pengikutnya adalah para crypto-anarchists, cypherpunks, dan para pendukung privasi.[3]

Alamat pengguna yang mengirimkan monero terlindungi melalui tanda tangan cincin, yang mengelompokkan alamat pengirim dengan alamat-alamat lain..[2] Pengaburan jumlah transaksi dimulai pada 2017 dengan diimplementasinya ring confidential transactions(RingCTs).[2][10] Pengembang juga mengimplementasikan metode bukti tanpa informasi yang disebut "Bulletproofs", yang menjamin transaksi terjadi tanpa mengungkapkan jumlahnya.[11] Penerima monero dilindungi melalui "alamat tersembunyi", alamat yang dihasilkan oleh pengguna lain untuk mendapatkan dana, tetapi tidak bisa dilacak ke pemiliknya oleh pengamat jaringan.[2] Fitur privasi inilah yang dipaksakan pada jaringan monero secara bawaan.[2] Meskipun begitu, pengguna tetap memiliki pilihan untuk membagikan kunci privat mereka, yang akan memperbolehkan pihak ketiga untuk melihat dan mengaudit isi dompet mereka,[12] atau membagikan kunci transaksi untuk mengaudit sebuah transaksi.[13]

Protokol monero ini mengaburkan alamat IP perangkat-perangkat yang menghasilkan transaksi. Hal ini dilakukan melalui metode propagasi siaran transaksi. Pada metode ini, transaksi baru awalnya diteruskan ke satu simpul di jaringan peer-to-peer monero, dan lalu dilakukan metode probabilistik berulang-ulang untuk menentukan apakah transaksi harus dikirim ke hanya satu simpul atau disiarkan ke banyak simpul dalam proses yang disebut flooding.[14][15][16] Metode ini dimotivasi oleh pasar analisis blockchain yang berkembang dan potensi penggunaan botnet untuk analisis.[17]

Upaya untuk melacak transaksi[sunting | sunting sumber]

Pada April 2017, peneliti menyoroti tiga ancaman utama terhadap privasi pengguna monero. Yang pertama bergantung pada memanfaatkan ukuran tanda tangan cincin berukuran nol dan kemampuan untuk melihat jumlah keluaran. Yang kedua, "Leveraging Output Merging", yaitu pelacakan transaksi di mana dua keluaran dimiliki oleh pengguna yang sama, contohnya adalah ketika seorang pengguna mengirim dana ke diri mereka sendiri (disebut "churning", atau "memutarkan uang"). Terakhir, "Temporal Analysis", yang menunjukkan bahwa memprediksi keluaran yang tepat dalam tanda tangan cincin mungkin bisa lebih mudah daripada yang diperkirakan sebelumnya.[17] Tim pengembangan monero merespons bahwa mereka telah mengatasi masalah pertama dengan pengenalan RingCTs pada Januari 2017, serta mewajibkan ukuran minimum tanda tangan cincin pada Maret 2016.[18] Pada tahun 2018, para peneliti mempresentasikan kemungkinan kerentanan dalam sebuah makalah berjudul "An Empirical Analysis of Traceability in the Monero Blockchain".[19] Tim pengembangan monero merespons pada Maret 2018.[20]

Pada bulan September 2020, divisi investigasi kriminal Layanan Pendapatan Internal Amerika Serikat (IRS-CI), mengadakan sayembara dengan hadiah $625.000 untuk kontraktor yang dapat mengembangkan alat untuk membantu melacak monero, mata uang kripto lain yang tingkat privasinya ditingkatkan, Jaringan Petir bitcoin, atau protokol " lapisan 2" lainnya. [21][3] Kontrak tersebut dihadiahkan kepada kelompok analisis blockchain Chainalysis dan Integra FEC.[3]

Penambangan[sunting | sunting sumber]

GUI Monero yang sedang dijalankan di simpul jarak jauh

Monero menggunakan algoritma bukti hasil kerja yang disebut RandomX untuk memvalidasi transaksi. Metode ini diperkenalkan pada November 2019 untuk menggantikan algoritma CryptoNightR yang sebelumnya digunakan.[22][23]Kedua algoritme dirancang agar tahan terhadap penambangan Aplikasi-spesifik sirkuit terpadu (ASIC), yang biasanya digunakan untuk menambang mata uang kripto lain seperti bitcoin.[24][25] Monero dapat ditambang dengan lumayan efisien pada perangkat keras tingkat konsumen seperti x86, x86-64, ARM dan GPU, dan sebagai hasilnya monero berhasil populer di kalangan penambang berbasis malware.[26][27]

Penggunaan pada aktivitas terlarang[sunting | sunting sumber]

Fitur privasi Monero telah membuatnya populer untuk digunakan pada kegiatan yang terlarang.[9][28][29]

Pasar Jaringan Gelap[sunting | sunting sumber]

Monero adalah alat pertukaran umum di pasar jaringan gelap.[2] Pada Agustus 2016, pasar gelap AlphaBay mengizinkan penjualnya untuk mulai menerima monero sebagai pengganti bitcoin. [2] Reuters, organisasi berita Inggris, melaporkan pada tahun 2019 bahwa tiga dari lima pasar jaringan gelap terbesar menerima monero, meskipun bitcoin masih menjadi bentuk pembayaran yang paling banyak digunakan.[9]

Malware Penambang[sunting | sunting sumber]

Peretas telah menyematkan malware ke situs web dan aplikasi yang membajak CPU korban untuk menambang monero (terkadang disebut cryptojacking ).[5][30] Pada akhir 2017, beberapa penyedia layanan malware dan antivirus memblokir Coinhive, penambang monero yang ditulis menggunakan bahasa pemograman JavaScript yang disematkan di situs web dan aplikasi, yang dalam beberapa kasus, disematkan oleh peretas. Coinhive membuat skrip sebagai pengganti untuk iklan, yang berarti sebuah situs web atau aplikasi dapat menyematkannya, dan menggunakan CPU pengunjung situs web untuk menambang mata uang kripto saat pengunjung mengonsumsi konten web, dan pemilik situs atau aplikasi akan mendapatkan beberapa persentase dari koin yang ditambang oleh pengunjung.[31] Beberapa situs web dan aplikasi melakukan ini tanpa memberi tahu pengunjung. Beberapa peretas menerapkannya dengan cara yang menguras CPU pengunjung. Akibatnya, skrip diblokir oleh perusahaan yang menawarkan daftar pemblokiran iklan, layanan antivirus, dan layanan antimalware.[32][30]

Perangkat Pemeras[sunting | sunting sumber]

Ransomware yang dikerahkan pada tahun 2021 oleh REvil . Peretas menuntut pembayaran dalam monero.[33]

Monero terkadang digunakan oleh grup perangkat pemeras. Menurut CNBC, pada paruh pertama tahun 2018, monero digunakan dalam 44% serangan perangkat pemeras yang mentargetkan mata uang kripto.[34]

Salah satu kelompok di balik serangan ransomware WannaCry 2017, The Shadow Brokers, berusaha menukar uang tebusan yang mereka kumpulkan dalam bitcoin ke monero. Ars Technica dan Fast Company melaporkan bahwa pertukaran berhasil,[35][5] tetapi BBC News melaporkan bahwa layanan yang ingin dicoba digunakan oleh penjahat, ShapeShift, menolak pertukaran tersebut.[36] The Shadow Brokers mulai menerima monero sebagai pembayaran di akhir tahun 2017.[35]

Pada tahun 2021, CNBC, Financial Times, dan Newsweek melaporkan bahwa permintaan untuk monero meningkat setelah tebusan berupa bitcoin pada serangan siber Colonial Pipeline berhasil didapatkan kembali oleh pemerintah.[6][3][37] Peretasan pada Mei 2021 memaksa Colonial pipeline untuk membayar tebusan $4,4 juta dalam bitcoin, tetapi sebagian besar telah berhasil didapatkan kembali oleh pemerintah federal Amerika Serikat pada bulan berikutnya.[37] Kelompok di balik serangan tersebut, DarkSide, biasanya meminta pembayaran dalam bitcoin atau monero, tetapi membebankan biaya tambahan 10-20% dari tebusan untuk pembayaran yang dilakukan dalam bitcoin karena risiko keterlacakannya yang terus meningkat.[3] Grup Ransomware REvil menghapus opsi untuk membayar uang tebusan dalam bitcoin pada tahun 2021, dan hanya menerima monero.[3] Negosiator perangkat pemeras, kelompok yang membantu korban membayar uang tebusan, telah menghubungi pengembang monero untuk memahami teknologinya.[3] Meskipun demikian, CNBC melaporkan bahwa bitcoin masih menjadi mata uang pilihan yang diminta di sebagian besar serangan ransomware, karena perusahaan asuransi menolak membayar tebusan karena masalah keterlacakan. [6]

Tanggapan regulasi[sunting | sunting sumber]

Efek monero ke pasar gelap telah memengaruhi beberapa bursa untuk tidak mencantumkannya. Ini mempersulit pengguna untuk menukar monero dengan mata uang fiat atau mata uang kripto lainnya.[6] Bursa di Korea Selatan dan Australia telah menghapus monero dan koin privasi lainnya karena tekanan peraturan.[38]

Pada tahun 2018, Europol dan direkturnya Rob Wainwright menulis bahwa tahun ini para kriminal akan beralih dari menggunakan bitcoin ke monero, serta Ethereum, dash, dan zcash.[39]Bloomberg dan CNN melaporkan bahwa permintaan monero ini disebabkan karena pihak berwenang menjadi lebih handal dalam memantau blockchain bitcoin. [40] [39]

Publisitas[sunting | sunting sumber]

  • Setelah banyak platform pembayaran online menutup akses bagi nasionalis kulit putih setelah Pawai Unite the Right pada tahun 2017, beberapa dari mereka, termasuk Christopher Cantwell dan Andrew Auernheimer ("weev"), mulai menggunakan dan mempromosikan monero.[41][42]
  • Pada bulan Desember 2017, tim monero mengumumkan kemitraan dengan 45 musisi dan beberapa toko online agar monero digunakan sebagai bentuk pembayaran barang dagangan mereka.[5]
  • Pada November 2018, Bail Bloc merilis aplikasi seluler yang menambang monero untuk mengumpulkan dana bagi terdakwa berpenghasilan rendah yang tidak dapat membayar uang jaminannya mereka sendiri.[43][44]

Referensi[sunting | sunting sumber]

 

  1. ^ Phillips Erb, Kelly. "IRS Will Pay Up To $625,000 If You Can Crack Monero, Other Privacy Coins". Forbes.com. Forbes. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k "Monero, the Drug Dealer's Cryptocurrency of Choice, Is on Fire". WIRED. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Desember 2018. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  3. ^ a b c d e f g h i Murphy, Hannah (22 Juni 2021). "Inside monero, emerging crypto of choice for cybercriminals". Financial Times. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  4. ^ "Moneropedia: Mnemonic Seed". getmonero.org, The Monero Project (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  5. ^ a b c d Melendez, Steven (18 Desember 2017). "Highly Anonymized Cryptocurrency Monero Peeks Out Of The Shadows". Fast Company (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  6. ^ a b c d e f Sigalos, MacKenzie (13 Juni 2021). "Why some cyber criminals are ditching bitcoin for a cryptocurrency called monero". CNBC (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  7. ^ "Press Kit". getmonero.org, The Monero Project (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-09-09. 
  8. ^ Hern, Alex (11 Desember 2017). "Missed the bitcoin boom? Five more baffling cryptocurrencies to blow your savings on". The Guardian. ISSN 0261-3077. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-12-15. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  9. ^ a b c Wilson, Tom (15 Mei 2019). "Explainer: 'Privacy coin' Monero offers near total anonymity". Reuters (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  10. ^ "Bittercoin: true blockchain believers versus the trough of disillusionment". TechCrunch. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 Desember 2018. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  11. ^ Alsalami, Nasser; Zhang, Bingsheng (2019). "SoK: A Systematic Study of Anonymity in Cryptocurrencies". 2019 IEEE Conference on Dependable and Secure Computing (DSC). pp. 1–6 SoK: A Systematic Study of Anonymity in Cryptocurrencies.
  12. ^ "How to Verify Your Funds with a Private View Key". monero.how. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 Maret 2021. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  13. ^ "How to Prove Payment". getmonero.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Mei 2021. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  14. ^ Bojja Venkatakrishnan, Shaileshh; Fanti, Giulia; Viswanath, Pramod (13 Juni 2017). "Dandelion: Redesigning the Bitcoin Network for Anonymity". Proceedings of the ACM on Measurement and Analysis of Computing Systems. 1 (1): 22:1–22:34. arXiv:1701.04439alt=Dapat diakses gratis. doi:10.1145/3084459alt=Dapat diakses gratis. 
  15. ^ Fanti, Giulia; Venkatakrishnan, Shaileshh Bojja; Bakshi, Surya; Denby, Bradley; Bhargava, Shruti; Miller, Andrew; Viswanath, Pramod (13 Juni 2018). "Dandelion++: Lightweight Cryptocurrency Networking with Formal Anonymity Guarantees". Proceedings of the ACM on Measurement and Analysis of Computing Systems. 2 (2): 29:1–29:35. arXiv:1805.11060alt=Dapat diakses gratis. doi:10.1145/3224424alt=Dapat diakses gratis. 
  16. ^ "Dandelion for Monero". www.monerooutreach.org. 3 Maret 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Januari 2021. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  17. ^ a b "Dandelion for Monero". www.monerooutreach.org. 3 Maret 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Januari 2021. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  18. ^ "Dandelion for Monero". www.monerooutreach.org. 3 Maret 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Januari 2021. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  19. ^ Moser, Malte et al. (2018). "An Empirical Analysis of Traceability in the Monero Blockchain". Proceedings on Privacy Enhancing Technologies. 2018 (3): 143. DOI:10.1515/popets-2018-0025.
  20. ^ "Response to "An Empirical Analysis of Traceability in the Monero Blockchain", Version 2 Diarsipkan 24 Januari 2021 di Wayback Machine.". GetMonero.org. Diakses pada 2 Desember 2021.
  21. ^ "Response to "An Empirical Analysis of Traceability in the Monero Blockchain", Version 2 Diarsipkan 24 Januari 2021 di Wayback Machine.". GetMonero.org. Diakses pada 2 Desember 2021.
  22. ^ "RandomX is a new Proof-of-Work (PoW) algorithm used where decentralisation matters". www.monerooutreach.org. 5 Juni 2019. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 Agustus 2019. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  23. ^ ErCiccione. "Monero 0.15.0.0 "Carbon Chamaeleon" released". Monero. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 Desember 2019. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  24. ^ "How a few companies are bitcoining it". The Economist. 19 Juni 2018. ISSN 0013-0613. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 Desember 2018. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  25. ^ Gibbs, Samuel (13 Desember 2017). "Billions of video site visitors unwittingly mine cryptocurrency as they watch". The Guardian. ISSN 0261-3077. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 November 2020. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  26. ^ Brandom, Russell (19 Desember 2017). "Backdoor coin-mining hacks are spreading as prices rise". The Verge. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Desember 2018. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  27. ^ Palmer, Danny. "Cyber attackers are cashing in on cryptocurrency mining - but here's why they're avoiding bitcoin". ZDNet. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 Maret 2019. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  28. ^ Kshetri, Nir (2018). "Cryptocurrencies: Transparency Versus Privacy". Computer. IEEE Computer Society. 51 (11): 99–111. DOI:10.1109/MC.2018.2876182.
  29. ^ "Meet Monero, the Currency Dark Net Dealers Hope Is More Anonymous Than Bitcoin". Motherboard. 23 Agustus 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 November 2018. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  30. ^ a b Tung, Liam. "Android security: Coin miners show up in apps and sites to wear out your CPU | ZDNet". ZDNet. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 Desember 2017. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  31. ^ Thomson, Iain (19 Oktober 2017). "Stealth web crypto-cash miner Coinhive back to the drawing board as blockers move in". The Register. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 November 2017. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  32. ^ Goodin, Dan (30 Oktober 2017). "A surge of sites and apps are exhausting your CPU to mine cryptocurrency". Ars Technica. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 November 2017. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  33. ^ Barrett, Brian (2 July 2021). "A New Kind of Ransomware Tsunami Hits Hundreds of Companies". WIRED. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 July 2021. 
  34. ^ Rooney, Kate (7 Juni 2018). "$1.1 billion in cryptocurrency has been stolen this year, and it was apparently easy to do". CNBC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 September 2018. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  35. ^ a b Gallagher, Sean (4 Agustus 2017). "Researchers say WannaCry operator moved bitcoins to "untraceable" Monero". Ars Technica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  36. ^ "Wannacry money laundering attempt thwarted". BBC News (dalam bahasa Inggris). 4 Agusuts 2017. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  37. ^ a b Browne, Ed (15 Juni 2021). "Monero developer expects more criminal groups to use the crypto for ransoms". Newsweek (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  38. ^ Ikeda, Scott (7 November 2020). "South Korea's New Crypto AML Law Bans Trading of "Privacy Coins" (Monero, Zcash) Diarsipkan 16 Desember 2020 di Wayback Machine.". CPO magazine. Diakses pada 2 Desember 2021.
  39. ^ a b Kottasová, Ivana (3 Januari 2018). "Bitcoin is too hot for criminals. They're using monero instead". CNNMoney. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  40. ^ Kharif, Olga (2 Januari 2018). "The Criminal Underworld Is Dropping Bitcoin for Another Currency". Bloomberg. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 Juni 2021. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  41. ^ Hayden, Michael Edison (27 Maret 2018). "White supremacists are investing in a cryptocurrency that promises to be completely untraceable". Newsweek. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 April 2019. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  42. ^ Cox, Joseph (5 Maret 2018). "Neo-Nazis Turn to Privacy-Focused Cryptocurrency Monero". Motherboard. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 September 2018. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  43. ^ "Mining cryptocurrency helps raise bail for those who can't | CBC Radio". CBC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 September 2018. Diakses tanggal 18 November 2018. 
  44. ^ "You Can Now Mine Cryptocurrency to Bail People Out of Jail". Motherboard. 15 November 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 November 2018. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]