Lompat ke isi

Model-model komunikasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Diagram showing the most common components of models of communication
Berbagai model komunikasi mencakup gagasan bahwa seorang pengirim mengenkripsi atau mengenkode sebuah pesan dan menggunakan saluran untuk menyampaikannya kepada penerima. Gangguan (noise) dapat mengacaukan pesan selama proses penyampaian. Penerima kemudian mendekode pesan tersebut dan memberikan suatu bentuk umpan balik.[1]

Model komunikasi menyederhanakan atau merepresentasikan proses komunikasi. Sebagian besar model komunikasi berupaya menggambarkan baik komunikasi verbal maupun komunikasi nonverbal, dan sering memahami keduanya sebagai pertukaran pesan. Fungsinya adalah memberikan gambaran ringkas tentang proses komunikasi yang kompleks. Hal ini membantu para peneliti merumuskan hipotesis, menerapkan konsep-konsep yang berkaitan dengan komunikasi pada kasus nyata, serta menguji prediksi. Meskipun berguna, banyak model dikritik karena dianggap terlalu sederhana dan mengabaikan aspek-aspek penting. Komponen serta interaksinya biasanya ditampilkan dalam bentuk diagram. Beberapa komponen dasar dan bentuk interaksi sering muncul kembali di berbagai model. Di antaranya adalah gagasan bahwa seorang pengirim mengenkode informasi ke dalam bentuk pesan dan mengirimkannya kepada penerima melalui suatu saluran. Penerima perlu mendekode pesan tersebut untuk memahami gagasan awal dan memberikan semacam umpan balik. Dalam kedua kasus, gangguan dapat muncul dan mendistorsi pesan.

Model komunikasi diklasifikasikan berdasarkan tujuan penggunaannya dan bagaimana model tersebut memandang proses komunikasi. Model umum berlaku untuk semua bentuk komunikasi, sedangkan model khusus membatasi diri pada bentuk tertentu, seperti komunikasi massa. Model transmisi linear memahami komunikasi sebagai proses satu arah, di mana pengirim menyampaikan gagasan kepada penerima. Model interaksi mencakup lingkar umpan balik, di mana penerima memberikan respons setelah menerima pesan. Model transaksi memandang pengiriman dan tanggapan sebagai kegiatan yang berlangsung secara bersamaan. Model ini beranggapan bahwa makna diciptakan melalui proses tersebut dan tidak ada sebelumnya. Model konstitutif dan konstruksionis menekankan bahwa komunikasi merupakan fenomena dasar yang menentukan bagaimana manusia memahami dan mengalami realitas. Model antarpribadi menggambarkan pertukaran komunikasi antara manusia, sedangkan model intrapribadi membahas komunikasi dengan diri sendiri. Model komunikasi non-manusia menjelaskan komunikasi di antara spesies lain. Jenis lainnya mencakup model pengkodean-penguraian, model hipodermik, dan model relasional.

Masalah komunikasi telah dibahas sejak zaman Yunani Kuno, namun bidang ilmu komunikasi baru berkembang menjadi disiplin penelitian tersendiri pada pertengahan abad ke-20. Semua model awal merupakan model transmisi linear, seperti model Lasswell, model Shannon–Weaver, model Gerbner, dan model Berlo. Untuk banyak tujuan, model-model tersebut kemudian digantikan oleh model interaksi seperti model Schramm. Mulai tahun 1970-an, model transaksi komunikasi seperti model Barnlund diajukan untuk mengatasi keterbatasan model interaksi. Model-model ini menjadi dasar bagi perkembangan lebih lanjut dalam bentuk model konstitutif.

Definisi dan fungsi

[sunting | sunting sumber]

Model komunikasi merupakan representasi dari proses komunikasi. Model ini berusaha memberikan penjelasan sederhana tentang proses tersebut dengan menyoroti karakteristik dan komponen dasarnya. Sebagai gambaran yang disederhanakan, model hanya menampilkan aspek-aspek yang, menurut perancangnya, dianggap paling penting dalam komunikasi.[2][3] Komunikasi dapat didefinisikan sebagai penyampaian gagasan. Model komunikasi umum berupaya menjelaskan semua bentuk komunikasi, termasuk komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal, serta bentuk visual, auditori, dan olfaktori.[4] Dalam pengertian yang paling luas, komunikasi tidak terbatas pada manusia saja, tetapi juga terjadi di antara hewan dan antarspesies. Namun demikian, model komunikasi umumnya berfokus pada komunikasi manusia sebagai bentuk paradigmatik.[5] Model-model ini biasanya melibatkan bentuk interaksi antara dua pihak atau lebih di mana pesan dipertukarkan.[6][7] Proses komunikasi secara keseluruhan sangat kompleks, sehingga model komunikasi hanya menampilkan ciri-ciri yang paling menonjol dengan memperlihatkan bagaimana komponen utama berfungsi dan saling berinteraksi.[8] Biasanya hal ini dilakukan dalam bentuk visualisasi yang disederhanakan dengan mengabaikan beberapa aspek demi kesederhanaan.[9][10][11]

Beberapa teoretikus, seperti Paul Cobley dan Peter J. Schulz, membedakan antara model komunikasi dan teori komunikasi. Perbedaan ini didasarkan pada gagasan bahwa teori komunikasi berusaha menyediakan kerangka konseptual yang lebih abstrak dan cukup kuat untuk merepresentasikan realitas yang mendasarinya secara akurat meskipun kompleks.[11] Ahli teori komunikasi Robert Craig melihat perbedaannya pada fakta bahwa model terutama merepresentasikan komunikasi, sementara teori juga berfungsi untuk menjelaskannya.[12] Menurut Frank Dance, tidak ada satu model komunikasi pun yang sepenuhnya komprehensif karena masing-masing hanya menyoroti aspek tertentu dan mengabaikan yang lain. Oleh karena itu, ia menyarankan agar digunakan kumpulan model yang beragam.[13]

Model komunikasi memiliki berbagai fungsi. Penyajiannya yang sederhana membantu mahasiswa dan peneliti mengidentifikasi langkah-langkah utama dalam proses komunikasi dan menerapkan konsep-konsep yang berkaitan dengan komunikasi pada kasus nyata.[8][9] Gambaran terpadu yang mereka berikan memudahkan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan fenomena yang diamati. Model komunikasi dapat menjadi panduan dalam merumuskan hipotesis dan prediksi mengenai bagaimana proses komunikasi berlangsung serta menunjukkan bagaimana proses tersebut dapat diukur.[14][10] Salah satu tujuannya adalah menunjukkan cara meningkatkan efektivitas komunikasi, misalnya dengan menghindari distorsi akibat gangguan atau dengan menelusuri bagaimana faktor-faktor sosial dan ekonomi memengaruhi kualitas komunikasi.[4]

Konsep dasar

[sunting | sunting sumber]

Banyak konsep dasar yang muncul kembali dalam berbagai model, seperti “pengirim”, “penerima”, “pesan”, “saluran”, “sinyal”, “pengkodean”, “penguraian (decoding)”, “gangguan”, “umpan balik”, dan “konteks”. Makna dari istilah-istilah tersebut dapat sedikit berbeda antara satu model dengan yang lain, dan terkadang istilah berbeda digunakan untuk menggambarkan gagasan yang sama. Model sederhana hanya menggunakan beberapa konsep ini, sementara model yang lebih kompleks mencakup banyak di antaranya.[8][9][10]

Pengirim bertanggung jawab untuk membuat pesan dan mengirimkannya kepada penerima. Beberapa teoretikus menggunakan istilah sumber dan tujuan sebagai gantinya. Pesan itu sendiri dapat bersifat verbal maupun nonverbal dan berisi suatu bentuk informasi.[9][15] Proses pengkodean menerjemahkan pesan ke dalam sinyal yang dapat disampaikan melalui suatu saluran. Saluran merupakan jalur sensorik tempat sinyal tersebut bergerak. Misalnya, ketika seseorang mengungkapkan pikirannya melalui pidato, gagasan tersebut dikodekan menjadi suara, yang disalurkan melalui udara sebagai mediumnya. Penguraian (decoding) merupakan kebalikan dari pengkodean: terjadi ketika sinyal diterjemahkan kembali menjadi pesan.[16][17][18]

Gangguan adalah setiap pengaruh yang menghambat pesan mencapai tujuannya. Beberapa teoretikus membedakan antara gangguan lingkungan dan gangguan semantik: gangguan lingkungan mendistorsi sinyal dalam perjalanannya menuju penerima, sedangkan gangguan semantik terjadi selama proses pengkodean atau penguraian—misalnya ketika sebuah kata ambigu dalam pesan ditafsirkan penerima secara berbeda dari maksud pengirim.[9][19] Umpan balik berarti penerima memberikan respons terhadap pesan dengan menyampaikan sejumlah informasi kembali kepada pengirim awal.[9] Konteks merujuk pada keadaan atau situasi tempat komunikasi berlangsung. Istilah ini memiliki cakupan luas dan dapat mencakup lingkungan fisik, keadaan mental para pelaku komunikasi, serta situasi sosial secara umum.[20]

Klasifikasi

[sunting | sunting sumber]

Model komunikasi diklasifikasikan dalam berbagai cara, dan klasifikasi yang diusulkan sering kali saling tumpang tindih. Beberapa model bersifat umum dalam arti berupaya menjelaskan semua bentuk komunikasi. Model lainnya bersifat khusus: hanya berlaku untuk bidang atau area tertentu. Sebagai contoh, model komunikasi massa merupakan model khusus yang tidak dimaksudkan untuk memberikan penjelasan universal tentang komunikasi.[21] Perbedaan lain terdapat antara model linear dan non-linear. Sebagian besar model komunikasi awal adalah model linear. Model-model ini menggambarkan komunikasi sebagai proses satu arah, di mana pesan mengalir dari komunikator kepada khalayak. Sebaliknya, model non-linear bersifat multi-arah: pesan dikirim bolak-balik antara para partisipan. Menurut Uma Narula, model linear menggambarkan tindakan komunikasi tunggal, sedangkan model non-linear menggambarkan keseluruhan proses komunikasi.[22][10][23]

Penyampaian langsung

[sunting | sunting sumber]
Model penyampaian langsung[9]

Model penyampaian langsung menggambarkan komunikasi sebagai proses satu arah. Dalam model ini, seorang pengirim dengan sengaja menyampaikan pesan kepada penerima, dan penerimaan pesan tersebut menjadi titik akhir dari proses komunikasi. Karena tidak terdapat lingkar umpan balik, pengirim mungkin tidak mengetahui apakah pesan yang dikirim telah sampai kepada tujuan yang dimaksud. Sebagian besar model awal merupakan model penyampaian langsung. Karena sifatnya yang linear, model ini sering kali dianggap terlalu sederhana untuk menggambarkan dinamika berbagai bentuk komunikasi, seperti percakapan tatap muka yang berlangsung dua arah.[9][24]

Dengan hanya berfokus pada pengirim, model ini mengabaikan sudut pandang audiens. Misalnya, mendengarkan biasanya bukan sekadar kegiatan pasif, melainkan proses aktif yang melibatkan kemampuan mendengarkan dan penafsiran.[25] Namun demikian, beberapa bentuk komunikasi dapat digambarkan secara akurat melalui model ini, seperti berbagai jenis komunikasi berbasis komputer. Contohnya mencakup pesan teks, pengiriman email, penulisan blog, atau berbagi konten di media sosial.[9][24]

Interaksi

[sunting | sunting sumber]
Model interaksi[9]

Dalam model interaksi, para peserta komunikasi secara bergantian menempati posisi sebagai pengirim dan penerima. Setelah menerima sebuah pesan, penerima kemudian menghasilkan pesan baru dan mengirimkannya kembali kepada pengirim semula sebagai bentuk umpan balik. Dengan demikian, komunikasi dipandang sebagai proses dua arah. Hal ini menambah tingkat kompleksitas karena setiap peserta berperan ganda — sekaligus sebagai pengirim dan penerima — dan secara bergantian berpindah antara kedua posisi tersebut.[9][24]

Dalam model interaksi, tahapan komunikasi terjadi secara berurutan: pertama, sebuah pesan dikirim dan diterima; kemudian pesan balasan dikirim sebagai umpan balik, dan seterusnya. Adanya lingkaran umpan balik ini memungkinkan pengirim menilai apakah pesannya telah diterima dengan baik dan mencapai efek yang diharapkan, atau justru mengalami gangguan (noise).[26]

Sebagai contoh, model interaksi dapat menggambarkan percakapan melalui pesan instan: pengirim mengirim pesan dan menunggu tanggapan dari penerima. Contoh lainnya adalah sesi tanya jawab, di mana seseorang mengajukan pertanyaan lalu menunggu jawaban dari pihak lain.

Model interaksi biasanya lebih menekankan pada proses interaktif dibanding pada aspek teknis penyampaian pesan di setiap tahap. Oleh karena itu, konteks yang memengaruhi pertukaran pesan menjadi lebih penting. Konteks tersebut mencakup konteks fisik, seperti jarak antara pembicara, serta konteks psikologis, yang meliputi faktor mental dan emosional seperti stres atau kecemasan.[9][24]

Model Schramm merupakan salah satu model interaksi paling awal.[27]

Transaksi

[sunting | sunting sumber]
Model transaksi[9]

Model transaksi berbeda dari model interaksi dalam dua hal utama. Pertama, model ini memahami pengiriman dan tanggapan sebagai proses yang berlangsung secara bersamaan. Pendekatan ini dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana pendengar menggunakan komunikasi nonverbal, seperti postur tubuh dan ekspresi wajah, sebagai bentuk umpan balik. Dengan cara ini, pendengar dapat memberikan sinyal apakah mereka setuju atau tidak dengan pesan yang disampaikan, bahkan ketika pembicara masih berbicara. Umpan balik semacam ini pada gilirannya dapat memengaruhi pesan pembicara saat pesan tersebut sedang diucapkan.

Kedua, model transaksi menekankan bahwa makna diciptakan dalam proses komunikasi — makna tidak ada sebelum komunikasi terjadi. Pandangan ini sering disertai dengan gagasan bahwa komunikasi membentuk realitas sosial seperti hubungan antarmanusia, identitas pribadi, dan komunitas.[9][24][28] Proses ini juga memengaruhi para komunikator itu sendiri pada berbagai tingkat — mulai dari pikiran dan perasaan hingga identitas sosial mereka.[29]

Model transaksi biasanya memberikan penekanan lebih besar pada konteks dan bagaimana konteks tersebut membentuk pertukaran informasi. Konteks ini kadang dibedakan menjadi tiga jenis: sosial, relasional, dan kultural. Konteks sosial mencakup aturan eksplisit maupun implisit tentang bentuk pesan dan umpan balik yang dianggap dapat diterima. Misalnya, seseorang tidak seharusnya memotong pembicaraan orang lain, dan sapaan perlu dibalas. Konteks relasional bersifat lebih spesifik, karena berkaitan dengan hubungan sebelumnya dan sejarah bersama antara para komunikator — misalnya apakah mereka teman, tetangga, rekan kerja, atau bahkan pesaing. Konteks kultural mencakup identitas sosial para komunikator, seperti ras, gender, kebangsaan, orientasi seksual, dan kelas sosial.[9][30][31] Model komunikasi Barnlund merupakan salah satu model transaksi awal yang berpengaruh.[27]

Model Konstitutif dan Konstruksionis

[sunting | sunting sumber]

Model konstitutif berpendapat bahwa makna “secara reflektif dibangun, dipertahankan, atau dinegosiasikan dalam tindakan berkomunikasi.”[32] Artinya, komunikasi bukan sekadar pertukaran paket informasi yang sudah jadi, melainkan sebuah proses kreatif — berbeda dari pandangan yang terdapat pada banyak model penyampaian langsung.[33][23]

Menurut Robert Craig, hal ini menunjukkan bahwa komunikasi merupakan fenomena sosial dasar yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui faktor psikologis, kultural, atau ekonomi. Sebaliknya, komunikasi justru menjadi penyebab utama dari proses-proses sosial lainnya, bukan hasil dari proses-proses tersebut.[34]

Model konstitutif sangat berkaitan dengan model konstruksionis, yang memandang komunikasi sebagai proses dasar yang membentuk cara manusia memahami, merepresentasikan, dan mengalami realitas. Menurut kaum konstruksionis sosial seperti George Herbert Mead, realitas bukanlah sesuatu yang sepenuhnya eksternal, melainkan bergantung pada bagaimana realitas itu dikonseptualisasikan — dan proses konseptualisasi ini terjadi melalui komunikasi.[35]

Interpribadi dan intrapribadi

[sunting | sunting sumber]
Model komunikasi intrapribadi oleh Larry L. Barker dan Gordon Wiseman. Bagian kiri diagram menunjukkan awal dari proses tersebut: rangsangan eksternal dan internal (panah merah dan ungu) diterima oleh individu. Rangsangan ini memicu berbagai proses kognitif (area berwarna hijau) yang terlibat dalam penafsiran terhadap rangsangan tersebut. Proses-proses ini kemudian menghasilkan dan menyampaikan rangsangan baru, yang sekali lagi akan diterima dan diolah kembali.[36]

Non-manusia

[sunting | sunting sumber]
Diagram of the steps of plant communication
Tahapan komunikasi pada tumbuhan[37]

Disiplin ilmu studi komunikasi dan berbagai model komunikasi yang dikembangkan di dalamnya tidak terbatas pada komunikasi manusia saja. Bidang ini juga mencakup pembahasan mengenai komunikasi di antara spesies lain, seperti hewan non-manusia dan tumbuhan. Model komunikasi non-manusia umumnya menekankan aspek praktis dari komunikasi, yaitu dampaknya terhadap perilaku. Salah satu contohnya adalah bahwa komunikasi memberikan keuntungan secara evolusioner bagi makhluk yang melakukannya.[38]

Beberapa model komunikasi hewan memiliki kesamaan dengan model komunikasi manusia karena keduanya memandang proses komunikasi sebagai pertukaran informasi. Pertukaran ini membantu para pelaku komunikasi mengurangi ketidakpastian dan bertindak dengan cara yang menguntungkan bagi mereka.[39] Pendekatan lain dijelaskan dalam manipulative model komunikasi hewan, yang berpendapat bahwa inti komunikasi bukanlah pertukaran informasi, melainkan usaha untuk memengaruhi perilaku organisme lain. Pengaruh ini terutama memberikan keuntungan bagi pengirim pesan dan tidak selalu melibatkan penyampaian pesan secara langsung. Dengan cara ini, pengirim dapat “memanfaatkan kekuatan otot makhluk lain”.[40] Pendekatan lain yang sedikit berbeda menyoroti aspek kooperatif dari komunikasi, dan berpendapat bahwa baik pengirim maupun penerima memperoleh manfaat dari pertukaran tersebut.[41]

Model komunikasi pada tumbuhan biasanya memahami komunikasi dalam kerangka perubahan dan respons biokimia. Menurut Richard Karban, proses ini dimulai dengan adanya isyarat (cue) yang dipancarkan oleh pengirim, kemudian diterima oleh penerima. Penerima kemudian memproses informasi tersebut dan mengubahnya menjadi suatu bentuk respons tertentu.[37][42][43]

Lain-lain

[sunting | sunting sumber]

Beberapa klasifikasi tambahan terhadap model komunikasi telah diajukan. Istilah model enkoding-dekoding digunakan untuk setiap model yang mencakup tahapan enkoding dan dekoding dalam penjelasan proses komunikasi. Model seperti ini menekankan bahwa untuk mengirimkan informasi, diperlukan sebuah kode. Kode adalah sistem tanda yang digunakan untuk mengekspresikan gagasan dan menafsirkan pesan. Model enkoding-dekoding terkadang dikontraskan dengan model inferensial. Dalam model inferensial, penerima tidak hanya tertarik pada informasi yang dikirim, tetapi juga berusaha menafsirkan niat pengirim di balik perumusan pesan tersebut.[44][45][46]

Model hipodermik, yang juga dikenal sebagai teori peluru ajaib, berasumsi bahwa komunikasi dapat disederhanakan menjadi proses pemindahan ide, informasi, atau perasaan dari pengirim ke penerima. Dalam model ini, pesan diibaratkan seperti peluru ajaib yang ditembakkan oleh pengirim yang aktif kepada penerima yang pasif dan tak berdaya. Model ini sangat berkaitan erat dengan model transmisi linear dan berlawanan dengan model resepsi, yang menempatkan penerima sebagai pihak yang aktif dalam proses komunikasi dan pembentukan makna.[47][48][49]

Model relasional menekankan pentingnya hubungan antara para komunikator. Misalnya, Wilbur Schramm berpendapat bahwa hubungan tersebut memengaruhi ekspektasi yang dibawa oleh para partisipan dalam proses pertukaran pesan serta peran yang mereka jalankan di dalamnya. Peran ini memengaruhi bagaimana para komunikator berusaha berkontribusi terhadap tujuan komunikasi. Dalam konteks pembelajaran, misalnya, peran guru mencakup berbagi dan menjelaskan informasi, sementara peran siswa mencakup belajar serta mengajukan pertanyaan untuk memperjelas.[50][51] Model relasional juga menjelaskan bagaimana komunikasi dapat memengaruhi hubungan antar komunikator. Sebagai contoh, komunikasi antara pasien dan staf rumah sakit dapat memengaruhi apakah pasien merasa diperhatikan atau justru mengalami dehumanisasi.[52] Model relasional memiliki keterkaitan erat dengan model konvergensi.[51] Dalam model konvergensi, tujuan komunikasi adalah mencapai kesepahaman bersama. Umpan balik memiliki peran sentral dalam hal ini: umpan balik yang efektif membantu tercapainya tujuan tersebut, sementara umpan balik yang tidak efektif justru mengarah pada perbedaan pemahaman.[53][54]

Model perbedaan menyoroti peran perbedaan gender dan ras dalam proses komunikasi. Beberapa teori berpendapat, misalnya, bahwa laki-laki dan perempuan memiliki gaya komunikasi yang berbeda serta berupaya mencapai tujuan yang berbeda melalui komunikasi.[55][56]

Kajian tentang komunikasi telah dilakukan sejak masa Yunani Kuno, dan salah satu model komunikasi pertama dikemukakan oleh Aristoteles.[2] Namun, bidang studi komunikasi baru berkembang menjadi disiplin penelitian tersendiri pada abad ke-20. Pada tahap awal perkembangannya, bidang ini sering meminjam model dan konsep dari disiplin lain seperti psikologi, sosiologi, antropologi, dan ilmu politik. Seiring dengan perkembangannya sebagai ilmu mandiri, bidang komunikasi mulai semakin banyak bergantung pada model dan konsepnya sendiri. Dimulai pada tahun 1940-an dan dekade-dekade berikutnya, berbagai model komunikasi baru dikembangkan. Sebagian besar model awal merupakan model transmisi linear. Untuk berbagai tujuan, model-model tersebut kemudian digantikan oleh model non-linear seperti model interaksi, transaksi, dan konvergensi.[4][6][57]

Aristoteles

[sunting | sunting sumber]

Salah satu model komunikasi paling awal dikemukakan oleh Aristoteles.[2][58] Ia membahas komunikasi dalam risalahnya berjudul Rhētorikḗ dan menggambarkannya sebagai sebuah tékhnē atau seni.[59] Modelnya terutama berfokus pada kegiatan berbicara di depan umum dan terdiri atas lima unsur: pembicara, pesan, audiens, kesempatan, dan dampak yang ditimbulkan.[58][60]

Menurut model komunikasi Aristoteles, pembicara bertujuan untuk memberikan pengaruh pada audiens, misalnya dengan membujuk mereka agar menerima suatu pendapat atau melakukan tindakan tertentu. Pesan yang sama dapat menimbulkan efek yang sangat berbeda tergantung pada audiens dan situasinya. Karena itu, pembicara perlu mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dan menyusun pesannya sesuai konteks.[58][60] Banyak unsur dasar dari model komunikasi Aristoteles masih dapat ditemukan dalam model komunikasi modern saat ini.[2]

Representasi visual dari model komunikasi Lasswell sebagai model transmisi linear.[61][62]

Model Lasswell merupakan salah satu model komunikasi awal yang berpengaruh. Model ini dikemukakan oleh Harold Lasswell pada tahun 1948 dan menggunakan lima pertanyaan untuk mengidentifikasi serta menjelaskan aspek utama dalam komunikasi: “Siapa?”, “Mengatakan Apa?”, “Melalui Saluran Apa?”, “Kepada Siapa?”, dan “Dengan Efek Apa?”.[63][64][65] Kelima pertanyaan ini berkaitan dengan lima komponen dasar dalam proses komunikasi: pengirim, pesan, saluran, penerima, dan efeknya.[61][66][67]

Sebagai contoh, dalam konteks tajuk berita surat kabar, kelima komponen tersebut adalah wartawan (pengirim), isi tajuk berita (pesan), surat kabar itu sendiri (saluran), pembaca (penerima), dan tanggapan pembaca terhadap tajuk berita tersebut (efek).[68] Lasswell mengaitkan masing-masing komponen tersebut dengan bidang kajian tertentu: analisis kontrol, analisis isi, analisis media, analisis khalayak, dan analisis efek.[69]

Model ini umumnya dipandang sebagai model transmisi linear dan awalnya dirumuskan khusus untuk komunikasi massa seperti radio, televisi, dan surat kabar. Namun demikian, model ini juga digunakan dalam bidang lain seperti media baru.[62][66][70] Banyak teoretikus menganggapnya sebagai model universal yang berlaku bagi segala bentuk komunikasi. Model ini sering dikutip sebagai model komunikasi, meskipun beberapa teoretikus seperti Zachary S. Sapienza dan rekan-rekannya meragukan karakterisasi tersebut dan menilainya lebih tepat sebagai alat penggali pertanyaan, rumusan, atau konstruksi konseptual.[62]

Model Lasswell sering dikritik karena kesederhanaannya. Misalnya, model ini tidak secara eksplisit membahas faktor penting seperti gangguan (noise) dan umpan balik (feedback loop). Model ini juga tidak menyinggung pengaruh konteks fisik, emosional, sosial, dan budaya.[62][65][66] Kekurangan ini mendorong beberapa teoretikus untuk memperluas model Lasswell. Misalnya, pada tahun 1958 Richard Braddock menerbitkan pengembangan model ini dengan menambahkan dua pertanyaan baru: “Dalam Kondisi Apa?” dan “Untuk Tujuan Apa?”.[62][71][72]

Shannon dan Weaver

[sunting | sunting sumber]
Model komunikasi Shannon–Weaver [73]

Model Shannon–Weaver merupakan salah satu model komunikasi awal yang berpengaruh.[10][29][74] Model ini merupakan model transmisi linear yang diterbitkan pada tahun 1948 dan menggambarkan komunikasi sebagai interaksi dari lima komponen dasar: sumber, pemancar, saluran, penerima, dan tujuan.[2][29][75] Sumber bertanggung jawab untuk menghasilkan pesan. Pesan ini diterjemahkan oleh pemancar menjadi sinyal, yang kemudian dikirimkan melalui saluran. Penerima memiliki fungsi kebalikan dari pemancar: ia menerjemahkan sinyal kembali menjadi pesan yang kemudian disampaikan kepada tujuan. Model Shannon–Weaver awalnya dirumuskan sebagai analogi cara kerja sambungan telepon, tetapi dimaksudkan sebagai model umum untuk semua bentuk komunikasi. Dalam kasus panggilan telepon kabel, orang yang menelepon merupakan sumber dan teleponnya berperan sebagai pemancar yang mengubah pesan menjadi sinyal listrik. Kabel berfungsi sebagai saluran. Orang yang menerima panggilan merupakan tujuan, dan teleponnya berfungsi sebagai penerima.[29][76][77]

Claude Shannon dan Warren Weaver mengategorikan serta membahas permasalahan yang relevan dengan model komunikasi pada tiga tingkat dasar: masalah teknis, semantik, dan efektivitas. Ketiganya berkaitan dengan persoalan tentang bagaimana simbol-simbol dalam pesan ditransmisikan kepada penerima, bagaimana simbol-simbol tersebut membawa makna, serta bagaimana memastikan pesan memberikan efek yang diinginkan pada penerima.[77][78] Shannon dan Weaver memusatkan perhatian mereka pada tingkat teknis dengan membahas bagaimana gangguan (noise) dapat memengaruhi sinyal. Hal ini menyulitkan penerima untuk merekonstruksi maksud sumber yang terdapat dalam pesan asli. Mereka berusaha mengatasi masalah ini dengan membuat pesan menjadi redundan, sehingga lebih mudah untuk mendeteksi distorsi.[79][80][81]

Model Shannon–Weaver memiliki pengaruh besar dalam bidang teori komunikasi dan teori informasi.[77][81] Namun, model ini sering dikritik karena menyederhanakan beberapa bagian dari proses komunikasi. Misalnya, model ini menggambarkan komunikasi sebagai proses satu arah dan bukan sebagai interaksi dinamis dari pesan yang berlangsung dua arah antara para partisipan.[10][23][82]

Diagram of Newcomb's model of communication
Unsur dasar model Newcomb adalah dua komunikator (A dan B) dan sebuah topik (X). Panah melambangkan orientasi yang dimiliki para komunikator terhadap satu sama lain dan terhadap topik tersebut.[83]

Model Newcomb pertama kali dipublikasikan oleh Theodore M. Newcomb dalam makalahnya tahun 1953 berjudul An approach to the study of communicative acts.[84][85] Model ini dikenal sebagai model komunikasi ABX karena memahami komunikasi melalui tiga komponen utama: dua pihak (A dan B) yang saling berinteraksi mengenai suatu topik atau objek (X). A dan B dapat berupa individu maupun kelompok, seperti serikat pekerja atau negara. X dapat berupa bagian apa pun dari lingkungan bersama mereka, seperti suatu benda tertentu atau orang lain.[86][87][88]

Model ABX berbeda dari model sebelumnya karena berfokus pada hubungan sosial antara para pelaku komunikasi dalam bentuk orientasi atau sikap yang mereka miliki terhadap satu sama lain dan terhadap topik pembicaraan.[85][89][90] Orientasi ini dapat bersifat positif maupun negatif dan mencakup keyakinan atau pandangan tertentu. Orientasi tersebut memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana proses komunikasi berlangsung. Misalnya, penting untuk diketahui apakah A dan B saling menyukai dan apakah mereka memiliki sikap yang sama terhadap X.[86][87]

Newcomb memandang komunikasi sebagai “respon yang dipelajari terhadap ketegangan” yang muncul akibat perbedaan orientasi.[91] Fungsi sosial dari komunikasi, menurutnya, adalah untuk mempertahankan keseimbangan dalam sistem sosial dengan menjaga agar berbagai orientasi tersebut tetap seimbang.[90] Dalam kata-kata Newcomb, komunikasi memungkinkan “dua atau lebih individu untuk mempertahankan orientasi secara bersamaan terhadap satu sama lain dan terhadap objek-objek dalam lingkungan eksternal”.[85]

Orientasi A dan B bersifat dinamis — dapat berubah dan saling memengaruhi. Perbedaan yang signifikan di antara keduanya, seperti perbedaan pendapat mengenai X, akan menimbulkan ketegangan dalam hubungan. Dalam situasi semacam itu, komunikasi bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan memulihkan keseimbangan melalui pertukaran informasi tentang objek yang dimaksud.[88][89]

Sebagai contoh, jika A dan B adalah teman, dan X adalah seseorang yang keduanya kenal, maka keadaan seimbang (equilibrium) berarti mereka memiliki sikap yang sama terhadap X. Namun, ketidakseimbangan atau ketegangan terjadi jika A menyukai X sementara B tidak. Kondisi ini mendorong A dan B untuk saling bertukar informasi tentang X hingga mereka mencapai sikap bersama. Semakin penting X bagi A dan B, semakin kuat pula dorongan untuk mencapai kesepahaman tersebut.[90]

Diagram of Westley and MacLean's model of communication
Perluasan model Newcomb oleh Westley dan MacLean.[92]

Salah satu pengembangan paling berpengaruh dari model Newcomb dilakukan oleh Westley dan MacLean. Mereka memperkenalkan konsep asimetrika informasi (asymmetry of information), yaitu kondisi ketika pengirim pesan (A) memiliki pengetahuan tentang beberapa topik (X₁ hingga X₃), tetapi harus memilih dan menyusun pesan tertentu (X′) untuk disampaikan kepada penerima (B). Sementara itu, persepsi langsung B terhadap topik-topik tersebut terbatas hanya pada sebagian kecil saja (X₁B).[86][93]

Selain itu, Westley dan MacLean menambahkan unsur umpan balik (feedback, fBA) dari penerima (B) kepada pengirim (A).[89] Penambahan ini menekankan bahwa komunikasi bukan sekadar proses satu arah, tetapi melibatkan respons yang memengaruhi jalannya pertukaran pesan.

Lebih lanjut, mereka juga memperluas model tersebut untuk menjelaskan komunikasi massa. Dalam konteks ini, mereka menambahkan komponen baru, yaitu C, yang berperan sebagai gatekeeper atau penjaga gerbang informasi. Komponen ini berfungsi menyaring dan menyeleksi pesan asli sebelum disampaikan kepada khalayak luas.[10][93][94]

Dengan demikian, model Westley dan MacLean tidak hanya memperkaya model ABX dengan dimensi informasi dan umpan balik, tetapi juga menyesuaikannya untuk menjelaskan dinamika komunikasi dalam konteks media massa, di mana penyebaran pesan sering kali dimediasi dan dipengaruhi oleh pihak ketiga (C).

Model komunikasi Schramm berbeda dari model sebelumnya karena menyertakan putaran umpan balik.[95]

Model komunikasi Schramm merupakan salah satu model interaksi komunikasi paling awal.[27][96][97] Model ini dipublikasikan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1954 sebagai tanggapan dan penyempurnaan terhadap model komunikasi linier, seperti model Lasswell dan model Shannon–Weaver.[98] Perbedaan utamanya terletak pada cara pandang terhadap audiens. Schramm tidak melihat penerima pesan sebagai pihak pasif yang hanya menerima informasi, melainkan sebagai partisipan aktif yang dapat memberikan tanggapan dengan mengirimkan pesan balik sebagai bentuk umpan balik (feedback).[30][97][99] Umpan balik menjadi bagian penting dari berbagai bentuk komunikasi karena memungkinkan para partisipan untuk mendeteksi dan memperbaiki kesalahpahaman yang mungkin terjadi selama proses komunikasi.[30]

Salah satu syarat komunikasi yang berhasil adalah pesan tersebut terletak pada bidang pengalaman yang tumpang tindih dari para peserta.[100]

Bagi Schramm, komunikasi didasarkan pada hubungan antara sumber (source) dan tujuan (destination), serta terdiri atas proses berbagi gagasan atau informasi.[101][102] Agar hal ini terjadi, sumber harus mengubah gagasannya ke dalam bentuk simbolik sebagai sebuah pesan.[27][103][104] Pesan ini kemudian dikirimkan kepada tujuan melalui saluran (channel), seperti gelombang suara atau tinta di atas kertas.[30][103] Pihak tujuan kemudian harus mendekode dan menafsirkan pesan tersebut untuk merekonstruksi gagasan asli. Proses enkoding dan dekoding ini sepadan dengan peran pemancar (transmitter) dan penerima (receiver) dalam model Shannon–Weaver.[105] Menurut Schramm, proses-proses ini dipengaruhi oleh bidang pengalaman (field of experience) dari masing-masing partisipan. Bidang pengalaman mencakup pengalaman hidup masa lalu yang memengaruhi apa yang dapat dipahami dan dikenal oleh seseorang.[30][106][107] Komunikasi akan gagal jika pesan berada di luar bidang pengalaman penerima, karena penerima tidak mampu mendekode dan menghubungkannya dengan gagasan pengirim.[108][104][109] Sumber gangguan lain dapat berupa kebisingan eksternal (external noise) atau kesalahan dalam tahap dekoding maupun enkoding.[110]

Schramm berpendapat bahwa komunikasi yang berhasil ditandai dengan tercapainya efek yang diinginkan. Ia membahas kondisi agar hal tersebut dapat terjadi, di antaranya adalah memastikan bahwa penerima memberikan perhatian (attention), bahwa pesan mudah dipahami, serta bahwa audiens mampu dan termotivasi untuk bereaksi sesuai dengan maksud pengirim.[111][112] Pada tahun 1970-an, Schramm mengajukan modifikasi terhadap model aslinya untuk menyesuaikan dengan berbagai temuan baru dalam kajian komunikasi.[113][30][114] Pendekatan barunya menekankan hubungan antarpartisipan, yang menentukan tujuan komunikasi serta peran yang dimainkan oleh masing-masing pihak.[113][51][115]

George Gerbner pertama kali mempublikasikan model komunikasinya dalam makalah tahun 1956 berjudul “Toward a General Model of Communication.”[116][117] Model ini merupakan model transmisi linear yang didasarkan pada model Shannon–Weaver dan model Lasswell, namun memperluas keduanya dengan berbagai cara.[118][117][119] Tujuan utamanya adalah untuk memberikan penjelasan umum tentang semua bentuk komunikasi.[120][121] Salah satu inovasinya adalah bahwa model ini tidak dimulai dari pesan atau gagasan, melainkan dari sebuah peristiwa (event). Agen komunikasi mempersepsikan peristiwa tersebut dan kemudian membuat pesan tentangnya.[117][121]

Bagi Gerbner, pesan bukanlah paket makna yang sudah ada sebelum komunikasi berlangsung. Pesan justru diciptakan dalam proses enkoding dan dipengaruhi oleh kode serta saluran yang digunakan. Ia berasumsi bahwa tujuan komunikasi adalah memberi tahu seseorang tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui.[121][122]

Gerbner menguraikan sepuluh komponen utama dalam proses komunikasi: (1) seseorang (2) yang mempersepsikan suatu peristiwa (3) dan bereaksi (4) dalam suatu situasi (5) melalui suatu cara atau alat (6) dengan tujuan untuk menyediakan bahan (7) dalam bentuk tertentu (8) dan dalam konteks tertentu (9) yang menyampaikan isi (10) dengan akibat tertentu. [119][123] Setiap komponen tersebut berkaitan dengan bidang kajian yang berbeda. Misalnya, penelitian tentang komunikator dan khalayak membahas komponen pertama, sementara penelitian persepsi berkaitan dengan komponen kedua. Dalam contoh yang diberikan Gerbner: “seorang pria melihat rumah yang terbakar di seberang jalan dan berteriak ‘Kebakaran!’” Dalam kasus ini, “seseorang” merujuk pada pria tersebut, dan peristiwa yang dipersepsikan adalah rumah yang terbakar. Komponen lainnya mencakup suaranya sebagai alat (means) dan api sebagai isi yang disampaikan (conveyed content).[124]

Diagram showing Gerbner's model of communication
Model komunikasi Gerbner dimulai dengan persepsi suatu peristiwa. M adalah komunikator yang merumuskan pesan tentang peristiwa tersebut. Pesan tersebut kemudian dipersepsi dan diinterpretasikan oleh khalayak, yang dalam diagram diberi label M₂.[125]

Hubungan antara pesan dan realitas merupakan hal yang sangat penting bagi Gerbner.[120][118][119] Karena alasan ini, modelnya mencakup dua dimensi. Dimensi horizontal berkaitan dengan hubungan antara komunikator dan peristiwa, sedangkan dimensi vertikal berkaitan dengan hubungan antara komunikator dan pesan.[126] Proses komunikasi dimulai pada dimensi horizontal dengan adanya suatu peristiwa yang dipersepsi oleh pengirim. Langkah berikutnya terjadi pada dimensi vertikal, di mana persepsi tersebut diterjemahkan menjadi sebuah sinyal yang memuat pesan. Pesan memiliki dua aspek utama: isi dan bentuk. Isi merupakan informasi tentang peristiwa tersebut. Langkah terakhir kembali pada dimensi horizontal, ketika audiens mempersepsi dan menafsirkan pesan mengenai peristiwa itu.[120][118][117] Semua tahapan ini merupakan proses kreatif yang melibatkan pemilihan unsur-unsur tertentu untuk disertakan.[117] Sebagai contoh, suatu peristiwa tidak pernah dapat dipersepsi secara utuh. Komunikator harus memilih dan menafsirkan bagian-bagian yang paling menonjol dari peristiwa tersebut. Hal yang sama juga terjadi ketika pesan dikodekan: persepsi biasanya terlalu kompleks untuk dikomunikasikan sepenuhnya, sehingga hanya aspek-aspek paling penting yang diungkapkan. Proses seleksi juga berlaku dalam pemilihan kode dan saluran komunikasi yang digunakan. Ketersediaan saluran ini berbeda-beda antara satu individu dengan individu lain, serta bergantung pada situasi. Sebagai contoh, banyak orang tidak memiliki akses terhadap media massa seperti televisi untuk menyampaikan pesan mereka kepada khalayak luas.[118][122]

Penekanan Gerbner terhadap hubungan antara pesan dan realitas telah memberikan pengaruh besar bagi model-model komunikasi berikutnya. Namun, model Gerbner masih memiliki sejumlah keterbatasan yang diwarisi dari model-model sebelumnya. Salah satu contohnya adalah fokusnya pada transmisi informasi secara linear tanpa pembahasan mendalam mengenai peran umpan balik. Masalah lainnya berkaitan dengan pertanyaan tentang bagaimana makna diciptakan.[118][121][127]

Diagram of the SMCR model
Model Berlo mencakup pembahasan terperinci mengenai empat komponen utama komunikasi dan berbagai aspeknya.[128][129]

Model Berlo merupakan model komunikasi berbentuk transmisi linear. Model ini dikemukakan oleh David Berlo pada tahun 1960 dan dipengaruhi oleh model-model sebelumnya, seperti model Shannon–Weaver dan model Schramm.[130][131][132] Model ini umumnya dikenal sebagai model Sumber–Pesan–Saluran–Penerima (Source–Message–Channel–Receiver, atau SMCR) karena terdiri atas empat komponen utama: sumber, pesan, saluran, dan penerima.[133][134] Masing-masing komponen ini memiliki sejumlah aspek tersendiri, dan fokus utama model ini adalah pembahasan mendalam terhadap setiap aspeknya.

Bagi Berlo, seluruh bentuk komunikasi merupakan upaya untuk memengaruhi perilaku penerima. Untuk mencapai hal tersebut, sumber harus mengekspresikan tujuannya dengan cara mengkodekannya ke dalam sebuah pesan.[135][136][137] Pesan ini kemudian dikirimkan melalui suatu saluran kepada penerima, yang harus mendekodekannya agar dapat memahami dan meresponsnya.[133][138] Komunikasi dianggap berhasil apabila respons penerima sesuai dengan tujuan sumber.[139][138]

Fokus utama Berlo dalam membahas komponen dan aspeknya adalah untuk menganalisis pengaruh masing-masing terhadap keberhasilan komunikasi.[139][138] Sumber dan penerima biasanya adalah individu, tetapi dapat pula berupa kelompok atau lembaga.[140] Pada tingkat ini, Berlo mengidentifikasi empat ciri utama: keterampilan komunikasi, sikap, pengetahuan, serta sistem sosial-budaya.[141][142][143]

Keterampilan komunikasi terutama meliputi kemampuan sumber dalam mengodekan pesan dan kemampuan penerima dalam mendekodekannya. Sikap mengacu pada pandangan positif atau negatif yang dimiliki sumber dan penerima terhadap diri mereka sendiri, terhadap satu sama lain, serta terhadap topik yang dibahas. Pengetahuan merujuk pada pemahaman terhadap topik pembicaraan, sedangkan sistem sosial-budaya mencakup keyakinan dan norma sosial yang berlaku dalam budaya dan konteks sosial para pelaku komunikasi.[144][140] Secara umum, semakin mirip sumber dan penerima dalam keempat faktor tersebut, semakin besar pula kemungkinan komunikasi berlangsung dengan sukses.[129][138][140] Komunikasi dapat gagal, misalnya, apabila penerima tidak memiliki keterampilan dekode yang memadai untuk memahami pesan, atau jika sumber memiliki sikap merendahkan terhadap penerima.[145][140]

Dalam komponen pesan, faktor utama meliputi kode, isi, dan perlakuan (treatment), yang masing-masing dapat dianalisis berdasarkan struktur dan unsurnya. Kode adalah sistem tanda yang digunakan untuk mengekspresikan pesan, misalnya bahasa. Isi merupakan gagasan atau informasi yang terkandung dalam pesan. Pemilihan isi yang tepat serta kode yang sesuai untuk menyampaikan isi tersebut berperan penting dalam keberhasilan komunikasi. Istilah perlakuan digunakan Berlo untuk menggambarkan gaya atau cara penyampaian pesan oleh sumber. Saluran merupakan media dan proses yang digunakan untuk mentransmisikan pesan.[146][140]

Berlo menganalisis saluran terutama berdasarkan pancaindra yang digunakan untuk menerima pesan, yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan.[147][134][142] Model SMCR telah menginspirasi banyak teori komunikasi berikutnya.[133] Namun, model ini sering dikritik karena dianggap terlalu sederhana, sebab tidak membahas peran umpan balik (feedback loop) dan kurang menyoroti pengaruh gangguan (noise) serta hambatan lain dalam proses komunikasi.[133][134][140]

Diagram of Dance's helical model of communication
Model heliks Dance memahami komunikasi dalam analogi heliks yang bergerak ke atas dan melebar.

Model heliks komunikasi karya Frank Dance pertama kali diterbitkan dalam bukunya tahun 1967 berjudul Human Communication Theory.[148][149][150] Model ini dimaksudkan sebagai tanggapan dan penyempurnaan atas model linear dan sirkular, dengan menekankan sifat komunikasi yang dinamis serta bagaimana komunikasi mengubah para pesertanya. Dance melihat kelemahan model linear terletak pada upayanya memahami komunikasi sebagai aliran pesan satu arah dari pengirim ke penerima. Menurutnya, kelemahan ini dihindari oleh model sirkular yang memasukkan umpan balik, di mana pesan dipertukarkan bolak-balik. Namun, Dance mengkritik pendekatan sirkular karena “mengisyaratkan bahwa komunikasi kembali sepenuhnya ke titik awal yang sama seperti saat dimulai”.[10][149][151]

Dance berpendapat bahwa sebuah heliks merupakan representasi yang lebih memadai dari proses komunikasi karena menggambarkan adanya gerak maju yang terus-menerus. Bentuk ini menunjukkan bagaimana isi dan struktur dari tindakan komunikasi sebelumnya memengaruhi isi dan struktur komunikasi berikutnya. Dalam hal ini, komunikasi memiliki dampak yang bertahan lama terhadap para pelaku komunikasi dan terus berkembang sebagai suatu proses. Gerakan heliks yang melebar ke atas menggambarkan bentuk optimisme karena memandang komunikasi sebagai sarana pertumbuhan, pembelajaran, dan perbaikan diri.[149][150] Gagasan dasar di balik model heliks komunikasi Dance juga ditemukan dalam ilmu pendidikan melalui pendekatan spiral yang dikemukakan oleh Jerome Bruner.[151] Model Dance ini telah dikritik dengan alasan bahwa ia hanya menyoroti sebagian aspek komunikasi dan tidak menyediakan alat untuk analisis yang lebih mendalam.[149]

Model Barnlund merupakan model komunikasi transaksional yang berpengaruh dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1970.[152][153][154] Tujuan model ini adalah untuk menghindari ketidakakuratan dari model-model sebelumnya serta menjelaskan komunikasi dalam seluruh kompleksitasnya. Hal ini termasuk menolak gagasan bahwa komunikasi didefinisikan sebagai proses penyampaian gagasan dari pengirim kepada penerima.[9][152] Bagi Barnlund, komunikasi “adalah proses penciptaan makna, bukan sekadar produksi pesan”.[28] Ia berpendapat bahwa dunia dan objek-objek di dalamnya tidak memiliki makna secara inheren. Makna hanya muncul sejauh manusia melakukan penafsiran dan memberikan arti melalui proses decoding dan encoding. Dalam proses tersebut, manusia berusaha mengurangi ketidakpastian dan mencapai pemahaman bersama.[153][155][156]

Model Barnlund didasarkan pada serangkaian asumsi dasar.[157][158] Menurut Barnlund, setiap aktivitas yang menciptakan makna merupakan bentuk komunikasi.[155] Ia memandang komunikasi sebagai sesuatu yang dinamis, karena makna tidak bersifat tetap melainkan tergantung pada praktik penafsiran manusia yang juga dapat berubah. Komunikasi bersifat berkesinambungan karena tidak memiliki awal maupun akhir—manusia senantiasa melakukan decoding terhadap isyarat dan encoding terhadap respons, bahkan ketika tidak ada orang lain di sekitarnya. Bagi Barnlund, komunikasi juga bersifat sirkular, karena tidak ada pembagian tegas antara pengirim dan penerima seperti yang ditemukan dalam model linear.[159] Komunikasi bersifat tidak dapat diputar balik karena memiliki berbagai dampak terhadap pelaku komunikasi yang tidak bisa dihapuskan.[152][153][160] Komunikasi juga bersifat kompleks karena melibatkan banyak komponen dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang memengaruhi jalannya proses tersebut.[156][161] Karena kompleksitasnya, komunikasi bersifat tidak dapat diulang—tidak mungkin mengendalikan seluruh faktor untuk sepenuhnya mengulangi suatu interaksi sebelumnya, bahkan ketika pelaku komunikasi dan pesan yang disampaikan sama.[152][153][162]

Model Barnlund berpijak pada gagasan bahwa komunikasi terdiri atas proses decoding terhadap isyarat dengan memberi makna padanya, serta encoding terhadap respons yang sesuai.[156][158][163] Barnlund membedakan tiga jenis isyarat, yaitu isyarat publik, privat, dan perilaku. Isyarat publik dapat diakses oleh siapa pun dalam suatu situasi, seperti pohon di taman atau meja di ruangan. Isyarat privat hanya dapat diakses oleh satu orang, misalnya koin di dalam saku atau rasa gatal di pergelangan tangan. Sementara itu, isyarat perilaku berada di bawah kendali pelaku komunikasi dan menjadi sarana utama komunikasi. Jenis ini mencakup perilaku verbal, seperti mendiskusikan usulan bisnis, serta perilaku nonverbal, seperti mengangkat alis atau duduk di kursi.[156][164][165] Model Barnlund ini berpengaruh besar, baik karena inovasinya maupun karena kritiknya terhadap model-model sebelumnya.[152][158] Namun, beberapa keberatan terhadap model ini menyatakan bahwa model tersebut tidak sama bermanfaatnya untuk semua bentuk komunikasi dan tidak menjelaskan secara rinci bagaimana makna dihasilkan.[153]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Fujishin 2009, hlm. 8.
  2. 1 2 3 4 5 Ruben 2001, [https://www.encyclopedia.com/media/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/models-communication Models Of Communication].
  3. West 2010.
  4. 1 2 3 Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 1–8], Introduction.
  5. UMN staff 2013, [https://open.lib.umn.edu/communication/chapter/1-1-communication-history-and-forms/ 1.1 Communication: History and Forms].
  6. 1 2 Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 60], communication models.
  7. Craig 1999.
  8. 1 2 3 Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 10–12, 23–25], 1. Basic Communication Models.
  9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 UMN staff 2013, [https://open.lib.umn.edu/communication/chapter/1-2-the-communication-process/ 1.2 The Communication Process]. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "FOOTNOTEUMN staff20131.2 The Communication Process" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  10. 1 2 3 4 5 6 7 8 McQuail 2008, hlm. [https://www.wiley.com/en-us/The+International+Encyclopedia+of+Communication%2C+12+Volume+Set-p-9781405131995 3143–9], Models of communication.
  11. 1 2 Cobley & Schulz 2013, hlm. [https://www.degruyter.com/document/doi/10.1515/9783110240450/html 7–10], Introduction.
  12. Craig 2013, hlm. 46–47.
  13. Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 23], 1. Basic Communication Models.
  14. Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 23–25], 1. Basic Communication Models.
  15. Steinberg 2007, hlm. [https://books.google.com/books?id=g8GRgXYeo_kC&pg=PA91 91].
  16. Sereno & Mortensen 1970, hlm. [https://books.google.com/books?id=vQwEAQAAIAAJ 122–3], Communication Theory: Decoding-Encoding.
  17. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 125], encoding.
  18. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 44], channel.
  19. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 296], noise.
  20. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 72], context.
  21. Fiske 2011, hlm. [https://www.routledge.com/Introduction-to-Communication-Studies/Fiske/p/book/9780415596497 24, 30], 2. Other models.
  22. Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 12–14], 1. Basic Communication Models.
  23. 1 2 3 Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 438], transmission models.
  24. 1 2 3 4 5 Kastberg 2019, hlm. [https://books.google.com/books?id=esLDDwAAQBAJ&pg=PA56 56].
  25. Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 15–17], 1. Basic Communication Models.
  26. Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 15–19], 1. Basic Communication Models.
  27. 1 2 3 4 Littlejohn & Foss 2009, hlm. [https://books.google.com/books?id=2veMwywplPUC&pg=PA176 176].
  28. 1 2 Barnlund 2013, hlm. 48.
  29. 1 2 3 4 Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 387], Shannon and Weaver's model.
  30. 1 2 3 4 5 6 Blythe 2009.
  31. Barnlund 2013, hlm. 58.
  32. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 69], constitutive models.
  33. Fiske 2011, hlm. [https://www.routledge.com/Introduction-to-Communication-Studies/Fiske/p/book/9780415596497 2], 2. Other models.
  34. Littlejohn & Foss 2009, hlm. [https://books.google.com/books?id=2veMwywplPUC&pg=PA177 176–7].
  35. Barker & Wiseman 1966, hlm. 174.
  36. 1 2 Karban 2015, hlm. 7.
  37. Balda, Pepperberg & Kamil 1998, hlm. [https://books.google.com/books?id=504iRS01AK0C&pg=PA227 227–9].
  38. Krebs & Dawkins 1995, hlm. 381, cited in Ferretti 2022, hlm. [https://books.google.com/books?id=dLSEEAAAQBAJ&pg=PA35 35–6]
  39. Ferretti 2022, hlm. [https://books.google.com/books?id=dLSEEAAAQBAJ&pg=PA35 35–6].
  40. Vieira, Gagliano & Ryan 2015, hlm. [https://books.google.com/books?id=ELpRCwAAQBAJ&pg=PA40 40].
  41. Baluška & Ninkovic 2010, hlm. [https://books.google.com/books?id=9hUpvAoY_HAC&pg=PA7 7, 128].
  42. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 125], encoding-decoding model.
  43. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 51], code.
  44. Chandler & Munday 2011, [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C inferential model].
  45. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 193], hypodermic model.
  46. Schramm 1971, hlm. 8-9.
  47. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 357], reception model.
  48. Schramm 1971, hlm. 17-9, 34-8.
  49. 1 2 3 Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 364], relational models.
  50. Montgomery 1993, hlm. [https://books.google.com/books?id=k-RyAwAAQBAJ&pg=PA18 18–9].
  51. Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 19–20], 1. Basic Communication Models.
  52. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 78], convergence model.
  53. Chandler & Munday 2011, hlm. [https://books.google.com/books?id=nLuJz-ZB828C 101], difference model.
  54. Orbe & Harris 2022, hlm. [https://books.google.com/books?id=G7-ZEAAAQBAJ&pg=PA143 143].
  55. Cobley & Schulz 2013, hlm. [https://www.degruyter.com/document/doi/10.1515/9783110240450/html 1–7], Introduction.
  56. 1 2 3 Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 25], 1. Basic Communication Models.
  57. Rosenfield 2011, hlm. 61–62, III. An Aristotelian Theory of Communication.
  58. 1 2 Eisenberg & Gamble 1991, hlm. [https://books.google.com/books?id=8h_fmTfBU3oC&pg=PA25 25].
  59. 1 2 Steinberg 2007, hlm. 52–3. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "FOOTNOTESteinberg200752–3" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  60. 1 2 3 4 5 Sapienza, Iyer & Veenstra 2015, hlm. 599–622.
  61. Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 26], 1. Basic Communication Models.
  62. Fiske 2011, hlm. [https://www.routledge.com/Introduction-to-Communication-Studies/Fiske/p/book/9780415596497 30–31], 2. Other models.
  63. 1 2 Watson & Hill 2012, hlm. 154, Lasswell's model of communication.
  64. 1 2 3 Tengan, Aigbavboa & Thwala 2021, hlm. [https://books.google.com/books?id=8nQhEAAAQBAJ&pg=PT110 110].
  65. Berger 1995, hlm. [https://books.google.com/books?id=AfTl2r4K_wUC&pg=PA12 12–3].
  66. Baldwin et al. 2014, hlm. [https://books.google.com/books?id=AhofAgAAQBAJ&pg=PA204 204].
  67. Lasswell 1948, hlm. 117, The Structure and Function of Communication in Society.
  68. Wenxiu 2015, hlm. 245–9.
  69. Feicheng 2022, hlm. [https://books.google.com/books?id=E4pyEAAAQBAJ&pg=PA24 24].
  70. Braddock 1958, hlm. 88–93.
  71. Weaver 1998, hlm. 7.
  72. Li 2007, hlm. 5439–5442.
  73. Shannon 1948, hlm. 381.
  74. Shannon 1948, hlm. 380–382.
  75. 1 2 3 Fiske 2011, hlm. [https://www.routledge.com/Introduction-to-Communication-Studies/Fiske/p/book/9780415596497 6–10], 1. Communication theory.
  76. Weaver 1998, hlm. [https://books.google.com/books?id=fRrvAAAAMAAJ 4–6], Recent Contributions to the Mathematical Theory of Communication.
  77. Fiske 2011, hlm. [https://www.routledge.com/Introduction-to-Communication-Studies/Fiske/p/book/9780415596497 10–15], 1. Communication theory.
  78. Weaver 1998, hlm. [https://books.google.com/books?id=fRrvAAAAMAAJ 4–9, 18–19], Recent Contributions to the Mathematical Theory of Communication.
  79. 1 2 Januszewski 2001, hlm. [https://books.google.com/books?id=mlZsIIoOaSYC&pg=PA29 29].
  80. Marsh 1983, hlm. [https://books.google.com/books?id=2Wtpgvb6o94C&pg=PA358 358].
  81. Newcomb 1953, hlm. 394.
  82. Newcomb 1953, hlm. [https://philpapers.org/rec/NEWAAT-4 393–404].
  83. 1 2 3 Watson & Hill 2012, hlm. 195–6, Newcomb's ABX model of communication.
  84. 1 2 3 Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 22, 33], 1. Basic Communication Models.
  85. 1 2 Fiske 2011, hlm. [https://www.routledge.com/Introduction-to-Communication-Studies/Fiske/p/book/9780415596497 31–32], 2. Other models.
  86. 1 2 Feather 1967, hlm. [https://books.google.com/books?id=H4ardmrt5rkC&pg=PA135 135–7].
  87. 1 2 3 Gałajda 2017, hlm. [https://books.google.com/books?id=FXkoDwAAQBAJ&pg=PA5 5].
  88. 1 2 3 Fiske 2010, hlm. [https://books.google.com/books?id=kfEtCgAAQBAJ&pg=PA29 29–32].
  89. Mcquail & Windahl 2015, hlm. [https://books.google.com/books?id=hLpACwAAQBAJ&pg=PA27 27–8].
  90. Narula 2006, hlm. 33.
  91. 1 2 Fiske 2011, hlm. [https://www.routledge.com/Introduction-to-Communication-Studies/Fiske/p/book/9780415596497 32–34], 2. Other models.
  92. Mcquail & Windahl 2015, hlm. [https://books.google.com/books?id=hLpACwAAQBAJ&pg=PA38 38–40].
  93. Schramm 1954, hlm. 8, How communication works.
  94. Steinberg 1995, hlm. [https://books.google.com/books?id=VPs3kidEqXYC&pg=PA18 18].
  95. 1 2 Bowman & Targowski 1987, hlm. 21–34.
  96. Liu, Volcic & Gallois 2014, hlm. [https://books.google.com/books?id=QfSICwAAQBAJ&pg=PA38 38].
  97. Schramm 1954, hlm. [https://books.google.com/books?id=z2aaAQAACAAJ 4, 7–9, 16], How communication works.
  98. Schramm 1954, hlm. 6, How communication works.
  99. Schramm 1954, hlm. [https://books.google.com/books?id=z2aaAQAACAAJ 3], How communication works.
  100. Ruben 2017, hlm. [https://books.google.com/books?id=Fm5QDwAAQBAJ&pg=PA12 12].
  101. 1 2 Schramm 1954, hlm. [https://books.google.com/books?id=z2aaAQAACAAJ 3–5], How communication works.
  102. 1 2 Moore 1994, hlm. [https://books.google.com/books?id=icMsdAGHQpEC&pg=PA90 90–1].
  103. Liu, Volcic & Gallois 2014, hlm. [https://books.google.com/books?id=QfSICwAAQBAJ&pg=PA36 36–38].
  104. Schramm 1954, hlm. [https://books.google.com/books?id=z2aaAQAACAAJ 6–7], How communication works.
  105. Dwyer 2012, hlm. [https://books.google.com/books?id=xhHiBAAAQBAJ&pg=PA10 10].
  106. Schramm 1954, hlm. [https://books.google.com/books?id=z2aaAQAACAAJ 6–8], How communication works.
  107. Meng 2020, hlm. [https://books.google.com/books?id=b0HWDwAAQBAJ&pg=PA120 120].
  108. Schramm 1954, hlm. [https://books.google.com/books?id=z2aaAQAACAAJ 3–5, 13–16], How communication works.
  109. Schramm 1954, hlm. [https://books.google.com/books?id=z2aaAQAACAAJ 13], How communication works.
  110. Babe 2015, hlm. [https://books.google.com/books?id=YAKeCAAAQBAJ&pg=PA90 90].
  111. 1 2 Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 22, 30–31], 1. Basic Communication Models.
  112. Schramm 1971, hlm. 6.
  113. Schramm 1971, hlm. 7-8.
  114. Gerbner 1956, hlm. 171.
  115. 1 2 3 4 5 Watson & Hill 2012, hlm. 112-3, Gerbner's model of communication.
  116. 1 2 3 4 5 Fiske 2011, hlm. [https://www.routledge.com/Introduction-to-Communication-Studies/Fiske/p/book/9780415596497 24–30], 2. Other models.
  117. 1 2 3 Berger 1995, hlm. [https://books.google.com/books?id=AfTl2r4K_wUC&pg=PA14 14].
  118. 1 2 3 Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 21, 31–32], 1. Basic Communication Models.
  119. 1 2 3 4 Beck, Bennett & Wall 2002, hlm. [https://books.google.com/books?id=WICsoZhPm1IC&pg=PP105 93–102].
  120. 1 2 Holmes 2005, hlm. [https://books.google.com/books?id=CsWBdJzPcBcC&pg=PA57 57–8].
  121. Gerbner 1956, hlm. 173.
  122. Gerbner 1956, hlm. 173-6.
  123. Watson & Hill 2012, hlm. 112.
  124. Gerbner 1956, hlm. 176-8.
  125. McKeown 2005, hlm. [https://books.google.com/books?id=1f6JAgAAQBAJ&pg=PA34 34].
  126. Berlo 1960, hlm. 72, 3. The fidelity of communication.
  127. 1 2 Mannan 2013, hlm. 19. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "FOOTNOTEMannan201319" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  128. Berlo 1960, hlm. [https://books.google.com/books?id=0k9IAAAAMAAJ 40], 3. The fidelity of communication.
  129. Melkote & Steeves 2001, hlm. [https://books.google.com/books?id=PKAi6t2e5AEC&pg=PA108 108].
  130. Straubhaar, LaRose & Davenport 2015, hlm. [https://books.google.com/books?id=jUR-BAAAQBAJ&pg=PT47 18–9].
  131. 1 2 3 4 Pande 2020, hlm. [https://sk.sagepub.com/reference/the-sage-encyclopedia-of-mass-media-and-society/i15120.xml 1588–1589], SMCR Model.
  132. 1 2 3 Tengan, Aigbavboa & Thwala 2021, hlm. [https://books.google.com/books?id=8nQhEAAAQBAJ&pg=PT112 94].
  133. Berlo 1960, hlm. [https://books.google.com/books?id=0k9IAAAAMAAJ 1–22], 1. Communication: Scope and Purpose.
  134. Jandt 2010, hlm. [https://books.google.com/books?id=3nqUSY2C4wsC&pg=PA41 41].
  135. Zaharna 2022, hlm. [https://books.google.com/books?id=dSxTEAAAQBAJ&pg=PA70 70].
  136. 1 2 3 4 Agunga 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=85WbPmx9QlcC&pg=PA381 381].
  137. 1 2 Berlo 1960, hlm. [https://books.google.com/books?id=0k9IAAAAMAAJ 40–41], 3. The fidelity of communication.
  138. 1 2 3 4 5 6 Taylor 1962, hlm. [https://www.jstor.org/stable/43093688 8–10].
  139. Berlo 1960, hlm. [https://books.google.com/books?id=0k9IAAAAMAAJ 50, 72], 3. The fidelity of communication.
  140. 1 2 Januszewski 2001, hlm. [https://books.google.com/books?id=mlZsIIoOaSYC&pg=PA30 30].
  141. Stead 1972, hlm. [https://www.jstor.org/stable/254868 389–394].
  142. Berlo 1960, hlm. [https://books.google.com/books?id=0k9IAAAAMAAJ 42–50], 3. The fidelity of communication.
  143. Berlo 1960, hlm. [https://books.google.com/books?id=0k9IAAAAMAAJ 45–48], 3. The fidelity of communication.
  144. Berlo 1960, hlm. [https://books.google.com/books?id=0k9IAAAAMAAJ 54–63], 3. The fidelity of communication.
  145. Narula 2006, hlm. [https://books.google.com/books?id=AuRyXwyAJ78C 12–13, 21], 1. Basic Communication Models.
  146. Dance 1967.
  147. 1 2 3 4 Mcquail & Windahl 2015, hlm. [https://books.google.com/books?id=rn5ACwAAQBAJ&pg=PT35 16–22].
  148. 1 2 Ehrlich 2000, hlm. [https://books.google.com/books?id=GmlrWZ_xE1kC&pg=PA98 98–9].
  149. 1 2 Watson & Hill 2012, hlm. [https://books.google.com/books?id=XKP-63dSKNsC&pg=PA71 71].
  150. 1 2 3 4 5 Littlejohn & Foss 2009, hlm. 175–6, Constitutive View of Communication.
  151. 1 2 3 4 5 Lawson et al. 2019, hlm. [https://books.google.com/books?id=fIOWDwAAQBAJ&pg=PA77 76–7].
  152. Barnlund 2013.
  153. 1 2 Barnlund 2013, hlm. 47.
  154. 1 2 3 4 Watson & Hill 2015, hlm. [https://books.google.com/books?id=IdGBCgAAQBAJ&pg=PA20 20–22].
  155. Barnlund 2013, hlm. 47-53.
  156. 1 2 3 Dwyer 2012, hlm. [https://books.google.com/books?id=xhHiBAAAQBAJ&pg=PA12 12].
  157. Barnlund 2013, hlm. 48-9.
  158. Barnlund 2013, hlm. 51-2.
  159. Barnlund 2013, hlm. 52-3.
  160. Barnlund 2013, hlm. 51.
  161. Barnlund 2013, hlm. 57-60.
  162. Barnlund 2013, hlm. 54.
  163. Powell & Powell 2010, hlm. [https://books.google.com/books?id=86KMAgAAQBAJ 10–11].