Michiel de Ruyter
| Michiel de Ruyter | |
|---|---|
De Ruyter pada tahun 1667, karya Ferdinand Bol (Museum Maritim Nasional – versi asli lainnya sekarang ada di Rijksmuseum) | |
| Nama lahir | Michiel Adriaenszoon de Ruyter |
| Julukan | Bestevaêr ("Kakek") |
| Lahir | 24 April 1607 Vlissingen, Republik Belanda |
| Meninggal | 29 April 1676 (umur 69) Sirakusa, Sisilia, Imperium Spanyol (sekarang Italia) |
| Pengabdian | |
| Dinas/cabang | |
| Lama dinas | 1637–1676 |
| Pangkat | Letnan Laksamana Jenderal |
| Pertempuran | |
| Penghargaan | Orde Santo Mikael |
| Hubungan | Engel de Ruyter (anak laki-laki) |
Michiel Adriaenszoon de Ruyter (Vlissingen, 24 Maret 1607 – Teluk Siracusa, 29 April 1676) adalah seorang perwira Angkatan Laut Negara Belanda (bahasa Belanda: Staatse vloot). Prestasinya bersama angkatan laut Belanda selama Perang Inggris–Belanda membuatnya mendapatkan reputasi sebagai komandan angkatan laut terhebat di Eropa di abad ke-17.
De Ruyter berasal dari keluarga sederhana di Zeeland dan mulai berlayar sejak usia dini; pada usia 30 tahun ia telah menjadi nakhoda di armada niaga Belanda. Pada tahun 1641, De Ruyter sempat menjabat sebagai laksamana muda selama Perang Restorasi Portugal, setelah itu ia kembali ke karier perdagangan yang makmur selama satu dekade, sebelum pensiun ke kampung halamannya di Vlissingen. Ketika Perang Inggris–Belanda Pertama pecah pada tahun 1652, De Ruyter menerima komando di Angkatan Laut Belanda di bawah Laksamana Maarten Tromp, menunjukkan prestasi yang gemilang, dan dipromosikan menjadi Laksamana Madya di akhir perang. Pada tahun 1655, ia ikut serta dalam Perang Utara Kedua di pihak Denmark–Norwegia melawan Swedia.
De Ruyter diangkat menjadi Laksamana dan Panglima armada Belanda pada awal Perang Inggris–Belanda Kedua pada tahun 1665, dan pada tahun 1666 ia meraih kemenangan gemilang dalam Pertempuran Empat Hari di bagian selatan Laut Utara. Pada tahun 1667, De Ruyter melaksanakan Serangan ke Medway yang sangat sukses, di mana ia menghancurkan sebagian besar armada Inggris dan merebut kapal bendera Inggris HMS Royal Charles, yang memfasilitasi perdamaian yang menguntungkan bagi Belanda. Dalam Perang Inggris–Belanda Ketiga, aksi De Ruyter selama pertempuran Solebay (1672), Schooneveld (1673), dan Texel (1673) berhasil mencegah invasi pasukan gabungan Inggris-Prancis ke pesisir Belanda. Melanjutkan perjuangannya melawan Prancis, De Ruyter terluka parah oleh peluru meriam dalam Pertempuran Augusta di lepas pantai Sisilia pada tahun 1676, dan meninggal seminggu kemudian di Sirakusa. Jenazahnya dibawa kembali ke Amsterdam, di mana ia diberikan pemakaman kenegaraan dan dimakamkan di Nieuwe Kerk.
Sering dijuluki sebagai pahlawan rakyat Belanda, De Ruyter sangat dihormati oleh para pelaut dan prajuritnya, dan julukannya Bestevaêr (bahasa Belanda modern awal untuk "kakek tua" atau orang yang dituakan) masih digunakan untuk merujuknya di media Belanda hingga saat ini. Beberapa kapal Angkatan Laut Kerajaan Belanda telah dinamai menurut namanya dan kapal benderanya, dan ia dianggap sebagai pendiri Korps Marinir Belanda.
Kehidupan Awal
[sunting | sunting sumber]De Ruyter lahir pada tahun 1607 di Vlissingen Belanda, sebagai anak dari seorang kuli angkut bir dipelabuhan bernama Adriaen Michielszoon dan isterinya Aagje Jansdochter.[1] Hanya sedikit informasi yang diketahui tentang kehidupan awal De Ruyter, tetapi ia diperkirakan menjadi seorang pelaut pada umur 11 tahun. Pada suatu kejadian, ketika ia masih anak anak, ia memanjat tangga untuk naik ke atap sebuah gereja yang berada di kampung halamannya. Karena tidak mengetahui De Ruyter berada di atap, beberapa pekerja kemudian memindahkan tangga tersebut. De Ruyter terpaksa harus memecahkan beberapa genteng atap untuk dapat masuk ke dalam gereja dan keluar dari pintu gereja tersebut. Pada tahun 1622, ia berperang sebagai seorang musketeer dalam angkatan bersenjata Belanda Maurice of Nassau melawan Spanyol dalam misi pembebasan yang bernama Bergen-op-Zoom. Pada tahun yang sama ia bergabung dengan sebuah armada dagang dan terus melanjutkan hidupnya di sana. Berdasarkan sumber dalam Bahasa Inggris, ia aktif bekerja di Dublin sebagai seorang agen untuk sebuah rumah dagang Vlissingen milik Lampsins bersaudara sekitar tahun 1623 sampai 1631. Walaupun sumber yang berbahasa Belanda tidak menjelaskan dimana keberadaannya pada tahun tersebut, tetapi diketahui bahwa De Ruyter sangat lancar berbicara dalam bahasa Irlandia. Ia terkadang melakukan perjalanan sebagai seorang kapten sebuah kapal kargo menuju Mediteranian pesisir Barbaria. Pada tahun tahun tersebut, ia biasa menyebut diriya sebagai "Machgyel Adriensoon", sebutan namanya dengan dialek Zeeuws, ia belum mendapat sebutan sebagai "De Ruyter" pada masa itu. "De Ruyter" adalah sebuah nama panggilan yang diberikan kepadanya. sebuah pennjelasan mengenai nama itu telah ditemukan di dalam bahasa Belanda kuno, ruyten or ruiten, yang berarti "untuk menyerang". Nama De Ruyter diperkirakan memiliki hubungan dengan sebuah samun laut milik Lampsins yang bernama Den Graeuwen Heynst.
Pada tahun 1631, ia menikahi putri seorang petani yang bernama Maayke Velders. Pernikahan itu hanya bertahan hingga akhir tahun 1631, ketika Maayke meninggal setelah melahirkan seorang putri yang juga meninggal 3 minggu kemudian.[2]
Pada tahun 1633 sampai 1635, De Ruyter berlayar dan bekerja sebagai seorang petugas navigasi di kapal bernama Groene Leeuw ("Singa Hijau") yang merupakan sebuah kapal whaling expedition (sebuah ekspedisi penangkapan ikan paus) milik Jan Mayen. Pada saat itu, ia belum menjadi seorang nakhoda/kapten kapal. Pada musim panas 1636, ia menikah, kali ini dengan seorang putri kaya dari kaum burgher yang bernama Neeltje Engels, yang memberikannya empat orang anak. salah satu dari mereka meninggal setelah dilahirkan; yang lainnya bernama Adriaen (1637), Neeltje (1639) and Aelken (1642).
Pada pertengahan tahun 1637, De Ruyter menjadi seorang kapten kapal dari kapal milik swasta yang bertujuan untuk memburu perompak yang beroperasi dari Dunkirk untuk merompak kapal dagang Belanda. Ia menunaikan tugasnya sampai pada tahun 1640. setelah cukup lama berlayar sebagai seorang nakhoda sebuah kapal dagang yang bernama de Vlissingen, ia kembali dihubungi oleh Kelaksamanaan Zeeland untuk menjadi seorang kapten kapal. Keadaan yang sangat sulit sekali, dimana sebuah armada kapal dagang beserta awaknya harus diubah menjadi armada kapal perang yang membawa 26 meriam di dalamnya dibawah perintah Laksamana Gijsels. Mereka berkerja sama dengan Portuguese untuk melawan Spanyol selama masa pemberontakan Portugis.
Sebuah armada kapal, dengan De Ruyter sebagai pemimpin ketiganya, memukul mundur armada kapal Spanyol yang dinamakan Spanish-Dunkirker dalam sebuah pertempuran yang dikenal dengan sebutan Aksi 4 November 1641 di semenanjung Tanjung St. Vincent pada 4 November 1641. Setelah kembali dari pertempuran, ia membeli kapalnya sendiri, the Salamander, dan pada tahun 1642-1652, ia kembali berdagang dan menjelajahi Maroko dan the Hindia Barat (sekarang menjadi Amerika bagian barat) untuk mengumpulkan kekayaan sebagai seorang pedagang (musafir). Selama masa ini, rasa hormat terhadap ia semakin bertambah di antara kapten kapal Belanda yang lain karena ia secara rutin membebaskan budak kristen dengan cara menebus mereka dengan biaya sendiri.
Pada tahun 1650, istri dari De Ruyter, yang pada tahun 1649 memberikannya putra kedua yang diberi nama Engel de Ruyter, secara tak diduga meninggal. Pada 8 Januari 1652, ia menikahi seoarang janda Anna van Gelder dan memutuskan untuk pensiun. Ia membeli sebuah rumah di Flushing, tetapi kehidupannya yang bahagia bersama keluarganya tidak bertahan lama.
Perang Inggris-Belanda Pertama
[sunting | sunting sumber]
Selama Perang Inggris-Belanda Pertama (1652–1654), De Ruyter diminta untuk bergabung dengan armada ekspansi dan bertugas sebagai wakil komandan di salah satu skuadron Zealandic yaitu "director's ships", skuadron kapal perang yang dibiayai swasta. Pada awalnya ia menolak tawaran tersebut,[3] tetapi kemudian De Ruyter membuktikan kemampuannya di bawah komando panglima tertinggi Letnan Laksamana Maarten Tromp. Pangkat Laksamana Jenderal diperuntukkan bagi stadhouder, tetapi pada saat itu, tidak ada seorang pun yang memegang jabatan itu. Mereka memenangkan pertempuran yang dinamakan dengan Pertempuran Plymouth, melawan Laksamana Madya George Ayscue. Ia juga berperang pada Pertempuran Kentish Knock dan Pertempuran Gabbard. De Ruyter menjabat sebagai seorang komandan skuadron, pada masa itu dikenal dengan sebutan Komodor, yang mana pada masa itu jabatan tersebut bukan merupakan jabatan resmi yang ada di dalam Angkatan Laut Belanda.
Kematian Tromp pada saat pertempuran Pertempuran Scheveningen mengakhiri perang tersebut, dan De Ruyter menolak sebuah tawaran yang dengan tegas diberikan oleh Johan de Witt untuk menjadi panglima tinggi angkatan laut karena ia menganggap dirinya tidak layak[4] dan ia juga khawatir kalau hal itu akan akan membawanya kepada konflik dengan Witte de With and Johan Evertsen, yang lebih senior darinya. Lalu, De Ruyter and De Witt menjadi teman. Kolonel Jacob van Wassenaer Obdam kemudian ditunjuk menjadi panglima tinggi Armada Konfederasi yang baru. Kemudian Kolonel Obdam memberikan tawaran kepada De Ruyter untuk menjadi penasihat Angkatan Laut Obdam,[5] tetapi De Ruyter menolaknya. Meskipun demikian, De Ruyter tetap bertugas dalam Angkatan Laut Belanda. Ia kemudian menerima tawaran dari Kelaksamanaan Amsterdam untuk menjadi Laksamana Madya pada 2 Maret 1654. Dan kemudian pindah bersama keluarganya ke kota Amsterdam pada tahun 1655.