Lompat ke isi

Metanarasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dalam teori sosial, metanaratif (juga disebut naratif utama, meta-naratif, atau naratif besar; dalam bahasa Prancis: métarécit atau grand récit) adalah narasi menyeluruh yang mencakup narasi-narasi sejarah yang lebih kecil, yang memberikan legitimasi bagi suatu masyarakat melalui penyelesaian yang diantisipasi dari suatu gagasan utama (yang mungkin belum terwujud).[1]

Istilah ini dipopulerkan oleh filsuf Prancis Jean-François Lyotard pada tahun 1979, dan konsep metanaratif dianggap sebagai gagasan dasar dalam postmodernisme. Istilah naratif utama dan sinonimnya seperti metanaratif juga digunakan dalam bidang naratologi, dengan makna “cerita di dalam cerita”, sebagaimana dikemukakan oleh teoretikus sastra Gérard Genette. Contoh naratif utama dapat ditemukan dalam buku pelajaran sejarah sekolah menengah di Amerika Serikat, seperti yang dikemukakan oleh sarjana Derrick Alridge:[2]

“Kursus dan kurikulum sejarah didominasi oleh naratif utama yang bersifat heroik dan perayaan, seperti penggambaran George Washington dan Thomas Jefferson sebagai ‘Bapak Pendiri’ yang heroik, Abraham Lincoln sebagai ‘Pembebas Agung,’ dan Martin Luther King Jr. sebagai penyelamat mesianis bagi orang kulit hitam Amerika.”[3]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Istilah metanarasi berasal dari gabungan dua kata: “meta,” dari bahasa Yunani yang berarti melampaui atau di luar, dan “narasi,” yang berarti kisah atau cerita yang dikomunikasikan melalui suatu bentuk penceritaan.[4] Secara sederhana, metanarasi dapat dipahami sebagai narasi tentang narasi—sebuah kerangka besar yang memberikan makna, struktur, dan legitimasi terhadap berbagai cerita atau pengalaman manusia dalam suatu kebudayaan.

Meskipun istilah ini telah digunakan sejak awal abad ke-20, konsep metanarasi memperoleh ketenaran dan signifikansi filosofis melalui karya Jean-François Lyotard pada tahun 1979, terutama dalam bukunya La Condition postmoderne: Rapport sur le savoir (The Postmodern Condition: A Report on Knowledge). Dalam karyanya, Lyotard mengemukakan bahwa era postmodern ditandai oleh ketidakpercayaan terhadap metanarasi besar (grand narratives) yang mendominasi pemikiran modernitas.[5]

Metanarasi besar yang dimaksud mencakup gagasan-gagasan universal tentang Kemajuan (Progress), Pencerahan (Enlightenment), Emansipasi, dan Marxisme—seluruhnya merupakan sistem berpikir yang mengklaim dapat menjelaskan arah sejarah, rasionalitas, dan pembebasan manusia secara menyeluruh. Menurut Lyotard, metanarasi semacam ini berfungsi untuk melegitimasi pengetahuan dan kekuasaan, tetapi pada saat yang sama dapat menyingkirkan keberagaman pengalaman, bahasa, dan pandangan yang tidak sesuai dengan kerangka besar tersebut. Oleh karena itu, postmodernisme memunculkan sikap skeptis terhadap klaim-klaim universal dan lebih menekankan pluralitas narasi kecil (petits récits), yaitu cerita-cerita lokal dan kontekstual yang menolak penyatuan dalam satu kerangka makna tunggal.[6]

Istilah metanarasi sering kali disamakan dengan metafiksi, namun keduanya memiliki perbedaan penting. Metafiksi adalah bentuk naratif yang secara sadar menyoroti atau menyingkap sifat fiksional dari penceritaannya sendiri—dengan kata lain, karya tersebut menyadari dan menampilkan dirinya sebagai fiksi. Metanarasi, sebaliknya, tidak berfungsi untuk mengungkap kefiksian naratif, melainkan untuk menjelaskan atau membingkai narasi-narasi lain di dalam suatu sistem makna yang lebih luas. Dengan demikian, metanarasi dapat ditemukan tidak hanya dalam karya sastra, tetapi juga dalam ideologi, teori sejarah, atau bahkan dalam konstruksi sosial tentang identitas dan kebenaran.[7]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "The Columbia dictionary of modern literary and cultural criticism". Choice Reviews Online. 33 (01): 33–0012-33-0012. 1995-09-01. doi:10.5860/choice.33-0012. ISSN 0009-4978.
  2. Ryan, Michael, ed. (2010-12-24). The Encyclopedia of Literary and Cultural Theory (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Wiley. doi:10.1002/9781444337839.wbelctv2m003. isbn 978-1-4051-8312-3.. ISBN 978-1-4051-8312-3.
  3. Alridge, Derrick P. (2006-04). "The Limits of Master Narratives in History Textbooks: An Analysis of Representations of Martin Luther King, Jr". Teachers College Record: The Voice of Scholarship in Education (dalam bahasa Inggris). 108 (4): 662–686. doi:10.1111/j.1467-9620.2006.00664.x. ISSN 0161-4681.
  4. Building the framework: Narrative structure and meta-narrative. Routledge. 2013-06-17. hlm. 20–28. ISBN 978-0-203-15537-0.
  5. Building the framework: Narrative structure and meta-narrative. Routledge. 2013-06-17. hlm. 20–28. ISBN 978-0-203-15537-0.
  6. Building the framework: Narrative structure and meta-narrative. Routledge. 2013-06-17. hlm. 20–28. ISBN 978-0-203-15537-0.
  7. Herman, David; Jahn, Manfred; Ryan, Marie-Laure (2010). Routledge Encyclopedia of Narrative Theory. Routledge. ISBN 978-1-134-45839-4.