Lompat ke isi

Metadon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Methadone
Data klinis
Kategori
kehamilan
  • Pengurangan oksigen ke bayi yang belum lahir akibat depresi pernapasan
Potensi
ketergantungan
Moderat
Rute
pemberian
oral, intravena, insuflasi, sublingual, rektal
Kode ATC
Status hukum
Status hukum
Data farmakokinetika
Bioavailabilitas40-90% (oral)
MetabolismeHati
Waktu paruh eliminasi24-36 jam
EkskresiUrine, Tes Berat Jenis dan Bilirubin
Pengenal
  • (RS)-6-(Dimetilamino)-4,4-difenilheptan-3-ona
Nomor CAS
PubChem CID
IUPHAR/BPS
DrugBank
ChemSpider
UNII
CompTox Dashboard (EPA)
ECHA InfoCard100.000.907 Sunting di Wikidata
Data sifat kimia dan fisik
RumusC21H27NO
Massa molar309.445 g/mol
Model 3D (JSmol)
  • CCC(=O)C(CC(C)N(C)C)(c1ccccc1)c2ccccc2
 ☒NcheckY (what is this?)  (verify)

Metadon adalah sejenis obat opioid sintetik, digunakan sebagai analgesik dan untuk merawat kecanduan dari pengguna golongan opioid, seperti heroin, morfin dan kodein. Biasanya dikonsumsi sekali sehari. Mampu bertahan 24 jam, pengembangan turunan metadon dapat bertahan hingga 72 jam.[1][2]

Metadon dikembangkan di Jerman pada tahun 1937, terutama karena Jerman membutuhkan sumber internal opiat. Metadon adalah analog asiklik dari morfin, metadon bertindak pada reseptor opioid yang sama dan tentunya memiliki banyak efek yang sama. Metadon juga digunakan dalam mengelola sakit kronis, karena panjangnya durasi tindakan, efek sangat kuat, dan biaya yang sangat rendah. Metadon diperkenalkan ke Amerika Serikat pada tahun 1947 oleh Eli Lilly and Company .[1]

Kontraindikasi

[sunting | sunting sumber]

Penggunaan metadon tidak dapat diberikan kepada pasien dengan gangguan liver berat dan anak-anak di bawah 18 tahun. Obat ini juga tidak boleh diberikan ke pasien yang alergi (hipersensitif) terhadap metadon dan bahan lain yang dicampurkan dalam pembuatan obat tersebut. Beberapa pabrik pembuat metadon menyebutkan bahwa obat ini dapat menimbulkan efek samping yang merugikan pada pasien dengan asma akut, ketergantungan alkohol akut, pasien dengan cedera kepala yang mengalami peningkatan tekanan intrakranial (tengkorak), serta pasien yang mengalami kejang pada saluran empedu dan ginjal.[3]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 Joseph H, Stancliff S, Langrod J (2000). "Methadone maintenance treatment (MMT): a review of historical and clinical issues". Mt. Sinai J. Med. 67 (5–6): 347–64. PMID 11064485. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  2. Connock M, Juarez-Garcia A, Jowett S; et al. (2007). "Methadone and buprenorphine for the management of opioid dependence: a systematic review and economic evaluation". Health technology assessment (Winchester, England). 11 (9): 1–171, iii–iv. PMID 17313907. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  3. Clinical guidelines and procedures for the use of methadone in the maintenance treatment of opioid dependence Diarsipkan 2017-01-19 di Wayback Machine., Australian Government. 2003.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]