Lompat ke isi

Meriyati Roeslani Hoegeng

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Meriyati Roeslani Hoegeng
Lahir(1925-06-23)23 Juni 1925
Yogyakarta, Hindia Belanda
Meninggal3 Februari 2026(2026-02-03) (umur 100)
Rs. Polri Said Soekanto Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia
MakamTPBU Giri Tama Bogor
Nama lainMerry Roeslani
Suami/istri
(m. 1946; meninggal 2004)
Anak3
KerabatBesar Mertokusumo (paman)

Meriyati Roeslani Hoegeng (juga dikenal sebagai Merry Roeslani; 23 Juni 1925  3 Februari 2026) adalah istri dari Hoegeng Iman Santoso Kepala Kepolisian Republik Indonesia ke-5.

Kehidupan

[sunting | sunting sumber]

Tidak banyak yang diketahui mengenai riwayat hidup Meriyati sebelum menikah dengan Hoegeng, namun ia diketahui lahir pada tanggal 23 Juni 1925. Ia merupakan keturunan Indo yang lahir dari pasangan dr. Mas Soemakno Martokoesoemo, yang pernah bekerja sebagai Inspektur Kesehatan untuk daerah Jawa Tengah yang berkedudukan di Yogyakarta dengan Jeanne Reyneke van Stuwe.[1] Dan ia juga merupakan keponakan dari Mr. Besar Martokoesomo, advokat pribumi pertama di Indonesia.

Ketika ia pertama kali bertemu dengan Hoegeng, mereka berdua bekerja sebagai pemeran sandiwara radio bertajuk Saija dan Adinda, yang disiarkan di Radio Angkatan Laut, Darat, dan Oedara (ALDO) Yogyakarta dan RRI Yogyakarta. Pada waktu itu, Hoegeng merupakan perwira Angkatan Laut Republik Indonesia dengan pangkat Mayor. Mereka kemudian menikah pada tanggal 31 Oktober 1946 di Yogyakarta. Tak lama setelahnya, Hoegeng pun meletakkan jabatannya di angkatan laut dan kembali menjadi perwira kepolisian.[2]

Semenjak ia menikah dengan Hoegeng, ia dikenal selalu mengikuti suaminya. Mulai dari ketika mereka harus mengungsi semenjak Agresi Militer Belanda I hingga ketika Hoegeng ditempatkan di Medan sebagai Kepala Bagian Reserse Kriminal pada tahun 1956.[3] Ketika Hoegeng ditempatkan di Jakarta dan belum mendapat jabatan, Meriyati mulai membuka usaha toko bunga di Pasar Cikini untuk mendukung finansial keluarganya. Namun, ketika Hoegeng mendapatkan jabatan sebagai Kepala Jawatan Imigrasi, Meriyati pun menutup usahanya atas permintaan suaminya. Penutupan itu dikarenakan mereka takut kalau toko bunga lain menjadi merugi karena relasi di Jawatan Imigrasi akan selalu membeli bunga di toko bunganya hanya karena pemiliknya adalah istri kepala jawatan.[4]

Ketika Hoegeng dipensiunkan dini dari kepolisian, Meriyati dan Hoegeng pun menghabiskan masa tua dengan menekuni hobi seperti melukis dan menyanyi. Keduanya mulai membuka usaha melukis untuk memenuhi kebutuhan berdua dan 3 anak-anaknya. Mereka juga sempat menjadi pengisi acara baik di radio dan televisi. Mereka dikenal mengisi acara "The Hawaiian Seniors" di Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan sering kali berduet menyanyikan lagu bernuansa Hawaii, sebelum pada akhirnya Hoegeng dicekal karena terlibat dalam Petisi 50.[2]

Hoegeng dan Meriyati menghabiskan masa tua di Depok hingga Hoegeng meninggal pada tahun 2004. Meriyati sendiri tidak pernah melibatkan diri dalam kepengurusan organisasi istri kepolisian selama hidupnya.[2]

Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-100, Meriyati meluncurkan buku biografinya yang berjudul Meriyati Hoegeng-100 Tahun Langkah Setia Pengabdian. Buku tersebut disusun oleh cucunya, Krisnadi Ramajaya Hoegeng.

Tanda kehormatan

[sunting | sunting sumber]

Tanda kehormatan

[sunting | sunting sumber]

Meninggal dunia

[sunting | sunting sumber]

Meriyati tutup usia tanggal 3 Februari 2026 pada usia 100 tahun di Rumah Sakit Polri Said Soekanto Kramat Jati, Jakarta Timur dikarenakan sakit.[6]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Santoso, Hoegeng Iman; Hadimadja, Ramadhan Karta (1993). Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan: Sebuah Autobiografi. Pustaka Sinar Harapan. ISBN 9789794162224. ; ;
  2. 1 2 3 Santoso, Aris; Sirait, Hasudungan; Hasibuan, Imran (2009). Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa. Penerbit Bentang. ISBN 978-979-1227-65-0. ; ;
  3. Harahap, M. Hilal Eka Saputra (2 Desember 2024). "Profil Jenderal Hoegeng Imam Santoso, Polisi yang jujur dan sederhana". ANTARA. Diakses tanggal 27 Juni 2025.
  4. "Demi Hoegeng, Toko Bunga pun Ditutup". JPNN. 18 November 2013. Diakses tanggal 27 Juni 2025.
  5. Mahendra, Rizky Adha. "Prabowo Anugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Bhayangkara Pratama ke Meri Hoegeng". detiknews. Diakses tanggal 2026-02-04.
  6. Komara, Indra (3 Februari 2026). "Eyang Meri Hoegeng Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun". Detik.com. Diakses tanggal 3 Februari 2026.