Lompat ke isi

Merigi Kelindang, Bengkulu Tengah

Merigi Kelindang
Koordinat: 3°38′31″S 102°28′01″E / 3.64207285°S 102.46692446°E / -3.64207285; 102.46692446
Negara Indonesia
ProvinsiBengkulu
KabupatenBengkulu Tengah
Pemerintahan
  Camat-
Populasi
  Total- jiwa
Kode pos
38386
Kode Kemendagri17.09.07 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS1709031 Suntingan nilai di Wikidata
Luas- km²
Desa/kelurahan-
Peta interaktif
Peta

Merigi Kelindang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu, Indonesia.[1]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Nama Merigi merujuk pada sekelompok masyarakat Rejang yang hijrah meninggalkan tanah airnya di Lebong dan bermukim secara permanen di tempat yang baru.[2] Merigi merupakan versi Melayu dari istilah asli dalam bahasa Rejang, migai atau migêi.[3] Ki Geto yang saat itu memimpin keluarnya sebagian orang dari Lebong konon berujar kepada adiknya yang akan naik tahta,"uyo itê sa'ok, keme ami igai belek", yang artinya "sekarang kita berpisah, kami tak akan kembali".[4] Sejak saat itu, kelompok Migai keluar dan bermukim pernah di luar Lebong, berkembang menjadi masyarakat hukum adat Merigi, yang tersebar di Bengkulu Tengah dan Kepahiang.[5]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. BPS Kabupaten Bengkulu Tengah (26 September 2024). Kecamatan Merigi Kelindang dalam Angka 2024. Karang Tinggi: BPS Kabupaten Bengkulu Tengah. hlm. 3, 5. {{cite book}}: |ref=harv tidak validPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. LeBar, Frank M. (1976). Insular Southeast Asia: Sumatra. 2 v. New Haven: Human Relations Area Files, Universitas Yale. hlm. 191. {{cite book}}: |ref=harv tidak valid
  3. "Mengupas Sejarah Rejang di Kabupaten Lebong". Kupas Bengkulu. 4 Juli 2014. Diakses tanggal 29 Maret 2022.
  4. Siddik, Abdullah (1980). Hukum Adat Rejang. Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 51, 105. {{cite book}}: |ref=harv tidak valid
  5. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah (1989). Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Bengkulu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. hlm. 89. {{cite book}}: |ref=harv tidak valid

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]