Meriam antipesawat swagerak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
ZSU-23-4 buatan Soviet di California. ZSU-23 adalah sistem SPAAG modern ikonik.

Kendaraan antipesawat, juga dikenal sebagai meriam antipesawat swagerak (SPAAG) atau sistem pertahanan udara swagerak (SPAD), adalah kendaraan bergerak dengan kemampuan antipesawat udara khusus. istilah yang setara dengan SPAAG di Rusia adalah ZSU, untuk zenitnaya samokhodnaya ustanovka, ("dudukan antipesawat swagerak").

Sistem senjata khusus yang digunakan termasuk senapan mesin, meriam otomatis, meriam yang lebih besar, atau rudal, dan beberapa senjata mount dan rudal jarak jauh (misalnya Pantsir-S1). Platform yang digunakan meliputi truk dan kendaraan tempur yang lebih berat seperti APC dan tank, yang menambah perlindungan dari pesawat terbang, artileri, dan tembakan senjata ringan untuk pengerahan di garis depan.

Meriam antipesawat udara biasanya dipasang pada kubah yang mampu berputar cepat dengan tingkat elevasi yang tinggi untuk melacak pesawat yang bergerak cepat. Meriam-meriam itu sering dipasang dalam konfigurasi dudukan ganda atau empat laras, memungkinkan laju tembak yang tinggi. Selain itu, sebagian besar meriam antipesawat dapat digunakan dalam peran penembakan langsung terhadap target permukaan dengan sangat baik. Saat ini, rudal (umumnya dipasang pada kubah serupa) telah menggantikan meriam antipesawat.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Meriam QF 3 inci Perang Dunia 1, Inggris, terpasang di truk.

Perang Dunia I[sunting | sunting sumber]

Senapan mesin antipesawat telah lama dipasang di truk, dan ini cukup umum selama Perang Dunia I. Pendahulu dari meriam antipesawat "88" Jerman Perang Dunia II, yaitu meriam antipesawat 77 mm Jerman dipasang di truk dan digunakan secara efektif terhadap tank-tank Inggris.

QF 3 inch 20 cwt buatan Inggris dipasang pada truk untuk digunakan di Front Barat.

Periode antarperang[sunting | sunting sumber]

Di antara dua Perang Dunia, Britania Raya mengembangkan meriam Birch, sebuah artileri mulltiguna pada sasis roda rantai lapis baja yang mampu mempertahankan formasi dengan tank-tank lain di medan yang sulit. Meriamnya bisa diangkat untuk penggunaan antipesawat.

Vickers Armstrong juga mengembangkan SPAAG berdasarkan sasis tank ringan Mk.E 6-ton/traktor Dragon Medium Mark IV, memasang senjata Vickers QF-1 "Pom-Pom" berkaliber 40  mm. Sekitar 26 dijual ke Siam dan beraksi sebagai senjata pendukung infanteri dan senjata AA selama perang Perancis-Thailand (1940-1941) bersama dengan 30 tank Vickers Mk.E Type B 6 ton. Ini mungkin merupakan SPAAG roda rantai pertama yang diproduksi secara seri. Kemudian Inggris juga mengembangkan versi Light Tank Mk.VI yang dipersenjatai dengan empat senapan mesin yang dikenal sebagai Light Tank AA Mk.I. Dan juga versi dengan senapan mesin ganda 15 mm berdasarkan Light Tank Mk.V diproduksi.

Di antara para perintis awal senjata AA yang bisa bergerak sendiri adalah Jerman. Pada saat perang, mereka menerjunkan Sd.Kfz. 10/4 dan 6/2, halftrack kargo dengan meriam AA laras tunggal 20 mm atau 37 mm. Kemudian dalam perang, halftrack Jerman serupa dipasang meriam 20 mm empat laras.

Perang Dunia II[sunting | sunting sumber]

Wirbelwind Jerman - sebuah 20 mm Flakvierling pada sasis Panzer IV.

Meriam yang lebih besar dipasang pada truk yang lebih besar, tetapi pemasangan ini umumnya membutuhkan setelan di luar truk untuk melepaskan kaki penstabil yang dibutuhkan senjata ini. Satu pengecualian untuk peraturan ini adalah Cannone da 90/53 Italia yang sangat efektif ketika dipasang pada truk, yang dikenal sebagai "autocannoni da 90/53 ". 90/53 adalah senjata yang ditakuti terutama dalam peran antitank, tetapi hanya beberapa ratus yang diproduksi pada saat gencatan senjata pada tahun 1943.

Negara-negara lain cenderung mengembangkan sasis truk. Mulai tahun 1941, Inggris mengembangkan metode "en portee" yaitu memasang meriam antitank (awalnya 2 pounder) di atas truk. Ini untuk mencegah meriam dari kerusakan ketika ditarik dengan jarak jauh melintasi padang pasir yang berbatu-batu dan metode itu dimaksudkan hanya untuk menjadi metode pembawa, meriamnya harus dibongkar untuk dapat menembak. Namun, para kru cenderung menembakkan meriam mereka dari kendaraannya karena alasan mobilitas.[1] Hal ini jelas menginspirasi Morris C9/B (secara resmi dinamakan "Carrier, SP, 4x4, 40 mm AA"), sebuah Bofors 40 mm dipasang pada sasis yang berasal dari truk Traktor Artileri Lapangan Morris "Quad".[1] Jenis serupa, berdasarkan sasis truk 3-ton, diproduksi di Inggris, Kanada dan Australia, dan secara bersama-sama menjadi senjata AA swagerak dengan jumlah paling banyak dalam layanan Inggris.[1]

Angkatan Darat AS membawa Bofors 40 mm AA yang diderek truk bersama dengan unit yang dipasang truk yang dilengkapi dengan kubah mekanis ketika pasukan Amerika berangkat menuju Inggris dan kemudian ke Prancis. Kubahnya membawa empat senapan mesin .50 inci (12,7 mm), yang lintasan tembaknya disesuaikan agar menyatu di satu titik di mana pesawat musuh diperkirakan akan muncul di ketinggian tertentu ketika akan menyerang pasukan di darat.

Ketertarikan pada AA mobile beralih ke kendaraan yang lebih berat dengan massa dan stabilitas yang diperlukan untuk dengan mudah mengatur meriam dengan semua ukuran. Mungkin keinginan untuk memiliki kendaraan antipesawat berlapis baja untuk perlindungan sendiri juga membantu tren ini.

Konsep SPAAG lapis baja dipelopori oleh Hongaria selama Perang Dunia II dengan memproduksi 40M Nimrod berdasarkan lisensi Luftvärnskanonvagn L-62 Anti II yang diperoleh dari Swedia. Jerman kemudian mengikuti tren ini dengan seri "Flakpanzer" mereka. SPAAGs Perang Dunia II Jerman termasuk Möbelwagen, Wirbelwind, Ostwind dan Kugelblitz. Pasukan lain mengikuti dengan desain mereka sendiri, terutama M16 Amerika yang dibuat dengan memasang M2HB Browning empat laras pada M3 Half-track.

Inggris mengembangkan SPAAG mereka sendiri sepanjang perang dengan memasang beberapa senapan mesin dan meriam ringan pada berbagai tank dan sasis mobil lapis baja. Pada 1943, tank Crusader AA, yang memasang meriam Bofors 40 mm atau dua-tiga meriam Oerlikon 20 mm. Meskipun digunakan selama pendaratan Normandia, pada saat itu pesawat Jerman telah diurus oleh pasukan udara Sekutu sendiri sehingga tank-tank AA itu tidak terlalu dibutuhkan.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]