Menua sehat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Menua Sehat (British English: healthy ageing) adalah istilah yang sering digunakan oleh para ahli dan praktisi gerontologi untuk mengkampanyekan, mempromosikan dan mendidik masyarakat untuk dapat menjalani kehidupan yang sehat pada masa tua[1]. Menua sehat merupakan salah satu dari tiga program pokok dari lembaga-lembaga pemerhati hak-hak lansia (lanjut usia) untuk menghadapi tren penuaan penduduk yang terjadi di sejumlah negara. Dua program pokok lainnya dalah menua aktif (active ageing) dan menua produktif (produktive ageing)[2].

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Konsep menua sehat pertama kali diperkenalkan secara luas oleh WHO pada tahun 1982 yang dicanangkan sebagai Tahun Usia Lanjut, melalui slogan yang berbunyi “Do not put years into life, but life into years; Long life without continous usefulness, productivity and good quality of life is not a blessing[3]. Inti dari slogan dan kampanye WHO tersebut adalah umur panjang mesti didukung dengan kualitas hidup. Salah satu kriteria untuk mengukur kualitas hidup adalah kesehatan sebagai pilar utama untuk tetap dapat menjalani hidup yang produktif, berguna dan tentu bahagia. Para pemerhati gerontologi sadar bahwa para lansia sangat rentan terhadap berbagai penyakit, karena itu para lansia perlu dibekali dengan managemen hidup sehat agar dapat menjalani sisa hidup mereka dengan baik[4].

Langkah-Langkah Penting[sunting | sunting sumber]

Healthy ageing dipengaruhi oleh 2 faktor utama :

  1. Endogenic factor, yakni berhubungan dengan proses penuaan organ-organ tubuh yang terjadi secara alamiah yang dimulai dengan dengan penuaan sel, jaringan hingga organ tubuh. Perawatan organ tubuh dengan baik dapat memperlambat proses penuaan tersebut.
  2. Exogenic factor, yakni lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya. Seorang lansia akan lebih mudah menjalani hidup yang sehat jika ditempatkan dilingkungan yang sehat, aman dan di tengah masyarakat yang sesuai dengan budaya dan kepribadiannya[5].

Untuk membantu para lansia menjalani hidup sehat para pemerhati gerontologi menganjurkan langkah-langkah berikut:

  • Memberikan pendidikan dan pelatihan bagi kaum lanjut usia tentang managemen hidup sehat
  • Pencegahan dan penurunan beban kecacatan, penyakit kronis dan penuaan dini.
  • Meminimalisir risiko terhadap penyakit kronis yang sering dialami oleh lanjut usia pada umumnya dan meningkatkan faktor determinan yang membantu peningkatan kesehatan.
  • Melaksanakan pelayanan kesehatan yang ramah terhadap lanjut usia dengan memperhatikan hak dan kebutuhan mereka (perempuan dan laki-laki)[6].

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Bdk. Mildawani Tri (2015), Gerontologi, Sebuah Pengantar. Jakarta: Lestari Kirantama, hlm. 47
  2. ^ Lih. "Madrid Plan on Ageing", UN (2002), hlm. 16. Versi digital dapat dilihat di http://www.un.org/en/events/pastevents/pdfs/Madrid_plan.pdf
  3. ^ Ibid
  4. ^ Lih. Komisi Nasional Lanjut Usia, Pengenalan Gerontologi dan Geriartri bagi Masyarakat, Jakarta, 2013, hlm. 45
  5. ^ Komisi Nasional Lanjut Usia, Pedomaan Active Ageing (Penuaan Aktif) bagi Pengelola dan Masyarakat, Jakarta, 2010, hlm. 63
  6. ^ Ibid, hlm. 83