Memori asosiatif (psikologi)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Dalam dunia psikologi, memori asosiatif didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami dan mengingat hubungan antara dua hal yang tidak memiliki kerkaitan. Hal ini mencakup, misalnya, mengingat nama seseorang atau mengingat aroma parfum tertentu.[1] Jenis memori ini mengaitkan secara spesifik hubungan antara obyek-obyek atau konsep-konsep yang berbeda. Salah satu bentuk tes yang umum dilakukan untuk menguji memori asosiatif yakni menguji peserta tes untuk menyebutkan kembali pasangan benda-benda yang tidak mempunyai keterkaitan, seperti pasangan wajah dengan nama.[2] Memori asosiatif merupakan memori yang berdasar pada struktur dan peristiwa/kisah tertentu.[3]

Proses pengkondisian (conditioning)[sunting | sunting sumber]

Dua proses penting dalam mempelajari asosiasi, agar dapat membentuk memori asosiatif, ialah teknik untuk memodifikasi perilaku yang disebut dengan operant conditioning dan proses memahami sesuatu hal yang pada mulanya bersifat netral dipasangkan dengan hal lain yang berpotensi memiliki keterkaitan, yang disebut dengan classical conditioning (pengkondisian klasik). Operant conditioning mengacu pada jenis pembelajaran dimana perilaku dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi perilaku subjek dalam memberikan respon terhadap rangsangan yang diterimanya, sebaliknya classical conditioning ialah ketika respon dikondisikan dengan stimulus yang tidak memiliki hubungan dengannya.

Lokasi dan sirkuit[sunting | sunting sumber]

Struktur neuroanatomi yang mengatur memori asosiatif berada di lobus medial temporal. Lokasi utamanya berada di hipokampus dan daerah di sekitar struktur korteks entorhinal, perirhinal, dan parahipokampal. Manusia dengan lobus medial temporal yang tidak normal karena mengalami kerusakan atau perubahan yang besar di dalam jaringan akibat penyakit atau trauma, telah terbukti menunjukkan pelemahan pada memori yang berfungsi untuk mengenali hal (recognition memory), dalam merespon berbagai jenis rangsangan.[4] Hipokampus juga telah diketahui merupakan lokasi utama untuk memori konsolidasi, terutama yang berkaitan dengan memori episodik (peristiwa/kisah). Input yang bersumber dari stimulus yang tidak memiliki hubungan dikumpulkan di lokasi ini, dan koneksi aktual sinapsis kemudian dibuat dan diperkuat.[5] Selain itu, keterlibatan dari korteks prefrontal,[6][7] area motorik frontal,[8] dan striatum juga telah diketahui dalam proses pembentukan memori asosiatif. Memori asosiatif tidak terbatas hanya pada satu sirkuit tunggal, tetapi berbagai tipe pada memori asosiatif menggunakan sirkuit yang berbeda-beda.

Dasar biologis[sunting | sunting sumber]

Asosiasi yang terbentuk dalam proses pembelajaran memiliki dasar biologis yang telah dipelajari oleh ahli saraf selama beberapa dekade terakhir. Konvergensi informasi biologis yang penting membantu mendorong saraf plastisitas yang menjadi dasar dari pembentukan memori asosiatif .

Penelitian[sunting | sunting sumber]

Memori asosiatif semakin berkurang dalam diri manusia dengan bertambahnya usia. Di samping itu, memori asosiatif tidak berkorelasi dengan hanya satu fungsi memori saja.[9] Stimulasi transcranial direct current meningkatkan performansi dalam aktivitas memori asosiatif. Pasien dengan penyakit Alzheimer diketajui menunjukkan kekurangan dalam beberapa bentuk memori asosiatif ini.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Suzuki, Wendy A. (February 2005). "Associative Learning and the Hippocampus". Psychological Science Agenda. American Psychological Association. 
  2. ^ Matzen, Laura E., Michael C. Trumbo, Ryan C. Leach, and Eric D. Leshikar. "Effects of Non-invasive Brain Stimulation on Associative Memory". Brain Research 1624 (2015): 286-296.
  3. ^ Dennis, Nancy A., Indira C. Turney, Christina E. Webb, and Amy A. Overman. "The Effects of Item Familiarity on the Neural Correlates of Successful Associative Memory Encoding". Cognitive, Affective, & Behavioral Neuroscience 15.4 (2015): 889-900.
  4. ^ Ranganath, Charan, and Maureen Ritchey. "Two Cortical Systems for Memory-guided Behaviour". Nature Reviews Neuroscience 13.10 (2012): 713-26.
  5. ^ Cohen, Neal J., Jennifer Ryan, Caroline Hunt, Lorene Romine, Tracey Wszalek, and Courtney Nash. "Hippocampal System and Declarative (relational) Memory: Summarizing the Data from Functional Neuroimaging Studies". Hippocampus 9.1 (1999): 83-98.
  6. ^ Fanselow, Michael S.; Poulos, Andrew M (2004-08-30). "The Neuroscience of Mammalian Associative Learning". Annual Review of Psychology. 56 (1): 207–234. doi:10.1146/annurev.psych.56.091103.070213. ISSN 0066-4308. 
  7. ^ Becker, Nina, Erika J. Laukka, Grégoria Kalpouzos, Moshe Naveh-Benjamin, Lars Bäckman, and Yvonne Brehmer. "Structural Brain Correlates of Associative Memory in Older Adults". NeuroImage 118 (2015): 146-53.
  8. ^ Brasted P. J., Bussey TJ, Murray EA, Wise SP (2002). "Fornix transection impairs conditional visuomotor learning in tasks involving nonspatially differentiated responses". Journal of Neurophysiology 87: 631-633.
  9. ^ Becker, Nina, Erika J. Laukka, Grégoria Kalpouzos, Moshe Naveh-Benjamin, Lars Bäckman, and Yvonne Brehmer. "Structural Brain Correlates of Associative Memory in Older Adults". NeuroImage 118 (2015): 146-153.
  10. ^ Bastin, Christine, Mohamed Ali Bahri, Frédéric Miévis, Christian Lemaire, Fabienne Collette, Sarah Genon, Jessica Simon, Bénédicte Guillaume, Rachel A. Diana, Andrew P. Yonelinas, and Eric Salmon. "Associative Memory and Its Cerebral Correlates in Alzheimer's Disease: Evidence for Distinct Deficits of Relational and Conjunctive Memory". Neuropsychologia 63 (2014): 99-106.