Memetika

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Memetika adalah teori konten mental yang didasarkan pada analogi teori evolusi Charles Darwin, yang dipopulerkan oleh Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene (1976). Para pendukungnya menggambarkan memetika sebagai pendekatan untuk model evolusi terhadap transfer informasi budaya.

Meme (dibaca "mim"), analog dengan gen, terkandung sebagai "unit budaya" (ide, keyakinan, pola perilaku, dll) yang "diinangi" dalam pikiran satu atau lebih individu, yang dapat memperbanyak dirinya, sehingga mampu melompat dari satu pikiran ke pikiran lain. Jadi ketika seorang individu dianggap berpengaruh terhadap orang lain yang mengadopsi keyakinannya, hal ini dipandang sebagai replikator-ide yang mereproduksi dirinya dalam inang baru. Sebagaimana halnya dalam genetika, khususnya dalam interpretasi Dawkinsian, kesuksesan meme mungkin disebabkan oleh efektivitas inangnya.[1]

Pengertian Meme[sunting | sunting sumber]

Istilah "meme" berasal dari kata Yunani Kuno μιμητής (mimētḗs) , yang berarti "peniru, penyaru". Istilah yang sama "mneme" digunakan pada tahun 1904 oleh ahli biologi evolusi Jerman Richard Semon, yang dikenal atas pengembangan teori engram tentang memori dalam karyanya Die mnemischen Empfindungen di ihren Beziehungen zu den Originalempfindungen, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1921 dengan judul The Mneme. Hingga kemudian Daniel Schacter menerbitkan Forgotten Ideas, Neglected Pioneers: Richard Semon and the Story of Memory pada tahun 2000, menjadikan karya Semon berpengaruh. Meski demikian Richard Dawkins (1976) mengemukakan istilah "meme" secara independen dari Semon. Ia menulis:

Mimeme” comes from a suitable Greek root, but I want a monosyllable that sounds a bit like “gene”. I hope my classicist friends will forgive me if I abbreviate mimeme to meme. If it is any consolation, it could alternatively be thought of as being related to “memory”, or to the French word même.

"Mimeme" berasal dari akar kata Yunani yang cocok, tapi saya butuh kata bersuku satu yang terdengar sedikit seperti "gen". Saya berharap teman-teman memaafkan saya yang menyingkat mimeme menjadi meme. Jika layak, ini bisa dikaitkan dengan "memori" atau kata Prancis même.

Aliran internalis dan eksternalis[sunting | sunting sumber]

Sejak awal, gerakan memetika langsung terbagi menjadi dua. Kelompok pertama adalah yang ingin tetap berpegang pada definisi Dawkins tentang meme, yaitu “sebuah unit penyebaran budaya”. Gibran Burchett, seorang memetisis lainnya, berperan dalam membantu penelitian dan menciptakan ulang istilah rekayasa memetika, bersama dengan Leveious Rolando dan Larry Lottman. Burchett menyatakan bahwa meme dapat didefinisikan, lebih tepatnya, sebagai “sebuah unit informasi kultural yang dapat disalin, yang terletak di otak”. Pemikiran ini lebih sesuai dengan definisi meme Dawkins yang kedua dalam bukunya The Extended Phenotype. Kelompok kedua mendefinisikan meme sebagai artefak budaya dan perilaku yang dapat diamati. Namun, bertentangan dengan dua pendapat tersebut, Blackmore tidak menolak konsep meme eksternal maupun internal.[2]

Kedua aliran memetika tersebut kemudian dikenal sebagai aliran “internalis" dan "externalis.” Tokoh internalis yang menonjol adalah Lynch dan Richard Brodie; sedangkan tokoh aliran externalis yang terkemuka adalah Derek Gatherer, ahli genetika dari Liverpool John Moores University, dan William Benzon, seorang penulis di bidang evolusi budaya dan seni musik. Dasar pemikiran kaum eksternalis adalah bahwa entitas otak internal tidak dapat diamati, dan memetika tidak dapat dianggap sebagai ilmu, terutama ilmu kuantitatif, kecuali jika memetika ditekankan kepada aspek budaya yang secara langsung dapat dihitung. Kaum internalis membalas dengan berbagai argumen bahwa keadaan otak akhirnya akan bisa diamati secara langsung dengan teknologi canggih, bahwa sebagian besar antropolog budaya setuju bahwa budaya adalah soal kepercayaan dan bukan artefak, atau bahwa artefak tidak bisa menjadi tiruan yang sama seperti entitas mental (DNA). Perdebatan menjadi sengit ketika pada Symposium on Memetics 1998, yang diselenggarakan sebagai bagian dari Konferensi Internasional Cybernetics ke-15, diserukan agar perdebatan mengenai definisi segera diakhiri. Pada tahun 2011, McNamara menunjukkan bahwa pembuatan profil konektivitas fungsional menggunakan alat neuroimaging memungkinkan pengamatan pengolahan meme intern (i-meme) yang merupakan reaksi e-meme eksternal.[3]

Sebuah pernyataan lanjutan yang dikeluarkan aliran internalis muncul pada tahun 2002 dengan terbitnya buku The Electric Meme, oleh Robert Aunger, seorang antropolog dari University of Cambridge. Aunger juga menyelenggarakan sebuah konferensi di Cambridge pada tahun 1999, di mana sosiolog dan antropolog terkemuka mampu menilai kemajuan bidang memetika sampai saat itu. Konferensi ini menghasilkan publikasi buku Darwinizing Culture: The Status of Memetics as a Science, diedit oleh Aunger dan dengan kata pengantar oleh Dennett, pada tahun 2000.

Kritik[sunting | sunting sumber]

Model transfer informasi budaya yang evolusioner ini didasarkan pada konsep bahwa unit-unit informasi, atau "meme", memiliki eksistensi yang independen, dapat menggandakan diri, dan tunduk pada evolusi selektif melalui kekuatan lingkungan.[4] Berawal dari usulan yang ada dalam tulisan-tulisan Richard Dawkins, sejak saat itu kritik berubah menjadi bidang studi yang baru, yang mengarah pada unit-unit budaya yang mereplikasi diri. Telah diusulkan bahwa sama halnya seperti meme yang dianalogikan sebagai gen, memetika dapat dianalogikan sebagai genetika.

Kritikus berpendapat bahwa ada beberapa pernyataan pendukung yang “belum teruji, belum terjamin atau tidak benar.” Luis Benitez-Bribiesca, seorang kritikus memetika, menyebutnya sebuah “pseudo scientific dogma” dan "sebuah gagasan berbahaya yang menimbulkan ancaman bagi kajian yang serius tentang evolusi kesadaran dan budaya". Sebagai kritik faktual, ia merujuk kepada belum adanya kode untuk meme, seperti DNA untuk gen, dan fakta bahwa mekanisme mutasi meme (yaitu, gagasan yang berpindah dari satu otak ke otak yang lain) terlalu tidak stabil (akurasi replikasi yang rendah dan tingkat mutasi yang tinggi), yang akan mengacaukan proses evolusi.[5]

Kritik lain muncul dari ahli semiotika, (misalnya Deacon,[6] Kull[7]) yang menyatakan bahwa konsep meme adalah versi primitif dari konsep “tanda” (sign). Oleh karena itulah, meme dalam memetika digambarkan sebagai sebuah “tanda” tanpa sifat triadiknya. Dengan kata lain, meme adalah “tanda” yang lebih disederhanakan, yang hanya mempunyai kemampuan untuk disalin. Oleh karena itu, dalam arti yang luas, objek yang disalin adalah meme, sedangkan objek yang diterjemahkan dan diinterpretasikan adalah “tanda”.

Mary Midgley mengkritik memetika untuk setidaknya dua alasan:[8] pertama, budaya tidak bisa hanya dipahami dengan memeriksa bagian-bagiannya yang terkecil, karena kebudayaan bersifat seperti pola, seperti arus lautan. Banyak faktor yang lain, misalnya sejarah, harus diperhitungkan; jadi tidak hanya memperhitungkan unsur yang membangun budaya tersebut. Kedua, jika meme bukan pemikiran (dan dengan demikian bukan merupakan fenomena kognitif), seperti yang ditegaskan oleh Daniel C. Dennett dalam buku Darwin's Dangerous Idea, maka status meme yang ontologis terbuka untuk pertanyaan, dan memetisis (yang juga selaku reduksionis) dapat ditantang dengan pertanyaan “apakah meme bahkan ada?”.

Pertanyaan tersebut dapat berkembang menjadi apakah gagasan tentang "meme" adalah meme itu sendiri, atau itu adalah konsep yang benar. Pada dasarnya, memetika adalah usaha untuk menggali pengetahuan melalui metafora organik, yang merupakan pendekatan penelitian yang masih dipertanyakan, karena penerapan metafora dapat menyembunyikan apa yang tidak cocok dalam bidang metafora. Daripada mempelajari kenyataan yang sebenarnya, tanpa prasangka, memetika, seperti kebanyakan penjelasan tentang masyarakat secara sosio-biologis, percaya bahwa mengatakan bahwa apel adalah seperti jeruk adalah analisis yang valid dari apel tersebut.[9]

Perkembangan baru[sunting | sunting sumber]

Dawkins menanggapi melalui buku A Devil’s Chaplain bahwa sebenarnya ada dua jenis proses memetika yaitu kontroversial dan informatif. Proses yang pertama adalah gagasan, tindakan, atau ekspresi budaya, yang memang memiliki varian yang tinggi; misalnya, seorang mahasiswanya yang telah mewarisi beberapa perangai Wittgenstein. Namun, ia juga menjelaskan bahwa meme yang mengoreksi dirinya sendiri, sangat tahan terhadap mutasi. Sebagai contoh, mengajarkan pola origami pada anak-anak di sekolah dasar. Kecuali, dalam kasus yang jarang terjadi, yaitu meme yang disampaikan dalam urutan perintah yang pasti, atau (dalam kasus seorang anak yang pelupa) di akhir perintah. Tipe meme ini cenderung tidak berkembang, dan hanya mengalami mutasi besar dalam peristiwa langka di mana meme tersebut terjadi.

Definisi lain diberikan oleh Hokky Situngkir, mencoba menawarkan formalisme yang lebih ketat untuk meme, memeplexes, dan deme, dengan melihat meme sebagai unit budaya dalam sistem kompleks budaya. Hal ini didasarkan pada algoritma genetika Darwin yang telah dimodifikasi untuk menjelaskan pola evolusi berbeda yang terlihat pada gen dan meme. Dalam metode memetika sebagai cara untuk melihat kebudayaan sebagai sistem adaptif yang kompleks, ia menjelaskan cara untuk melihat memetika sebagai metodologi alternatif evolusi budaya. Namun, ada banyak definisi mungkin yang dikaitkan dengan kata "meme”. Sebagai contoh, dalam bidang simulasi komputer, istilah memetic algorithm digunakan untuk mendefinisikan sudut pandang komputasi tertentu.

Kemungkinan menganalisis meme secara kuantitatif dengan menggunakan alat neuroimaging dan pernyataan bahwa studi tersebut telah dilakukan diberikan oleh McNamara (2011).[10] Penulis ini mengusulkan hyperscanning (scanning dua individu secara bersamaan saat berkomunikasi dalam dua mesin MRI terpisah) sebagai alat utama untuk menyelidiki memetika di masa depan.

Pada tahun 2013 akademisi Australia, JT Velikovsky mengusulkan “holon” sebagai struktur meme,[11] dan mensintesis teori besar tentang meme dari Richard Dawkins, Mihaly Csikszentmihalyi, EO Wilson, Frederick Turner (penyair) dan Arthur Koestler.

Memetika bisa dipahami sebagai metode untuk menganalisis evolusi budaya secara ilmiah. Namun, para pendukung memetika seperti yang dijelaskan dalam Journal of Memetics-Evolutionary Models of Information Transmission (diterbitkan sejak tahun 2005) percaya bahwa “memetika” memiliki potensi untuk menjadi analisis budaya yang penting dan menjanjikan dengan menggunakan kerangka konsep evolusi. Keith Henson yang menulis buku Memetics and the Modular-Mind (Analog Agustus 1987) membuat pernyataan bahwa memetika perlu memasukkan ilmu psikologi evolusioner untuk memahami sifat-sifat psikologis pelaku meme.[12] Hal ini terutama berlaku pada ciri pelaku meme yang bervariasi waktunya, menjelaskan tentang meme, seperti yang mengarah ke pertentangan.[13]

Baru-baru ini, Christopher DiCarlo telah mengembangkan gagasan “memetic equilibrium” untuk menggambarkan keadaan budaya yang sesuai dengan keseimbangan biologis (biological equilibrium). Dalam buku Problem Solving and Neurotransmission in the Upper Paleolithic, DiCarlo berpendapat bahwa seiring dengan kesadaran manusia yang berevolusi dan berkembang, berkembang pula kapasitas nenek moyang kita untuk memikirkan dan mencoba memecahkan masalah lingkungan secara lebih canggih dan terkonsep. Dengan dipahami seperti ini, pemecahan masalah antara kelompok tertentu, bila dianggap memuaskan, sering menghasilkan perasaan kendali lingkungan, stabilitas, singkatnya-memetic equilibrium. Keuntungannya tidak hanya praktis dan menyediakan kegunaan yang murni fungsional, tetapi juga bersifat biokimia dan muncul dalam bentuk neurotransmitter. Hubungan antara kesadaran yang muncul secara bertahap dan bahasa canggih, di mana untuk merumuskan representasi, kesadaran dan bahasa tersebut dikombinasikan dengan keinginan untuk menjaga keseimbangan biologis, dan membuat agar keseimbangan memetika untuk mengisi kesenjangan konseptual untuk memahami tiga aspek yang sangat penting dalam zaman paleolitik akhir: kausalitas, moralitas, dan kematian. Keinginan untuk menjelaskan fenomena yang terkait dengan menjaga kelangsungan hidup dan stasis reproduktif, menghasilkan sikap normatif dalam benak nenek moyang kita, yaitu nilai “survival/reproductive” (atau nilai SR).

Penerapan[sunting | sunting sumber]

Metodologi penelitian yang menerapkan memetika memiliki banyak sebutan: viral marketing, evolusi budaya, sejarah pemikiran, analisis sosial, dan sebagainya. Kebanyakan penerapan ini tidak merujuk pada literatur tentang meme secara langsung tetapi dibangun di atas lensa evolusioner perambatan gagasan yang memperlakukan unit semantik budaya sebagai suatu pola informasi yang mereplikasi diri dan bermutasi informasi, yang dianggap relevan untuk studi ilmiah. Misalnya, bidang hubungan masyarakat diisi dengan upaya untuk memperkenalkan ide-ide baru dan mengubah wacana sosial. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan merancang meme dan menyebarkannya melalui berbagai saluran media. Salah satu contoh bersejarah memetika terapan adalah kampanye hubungan masyarakat pada tahun 1991 sebagai bagian dari penambahan pasukan untuk Perang Teluk yang pertama di Amerika Serikat.[14]

Penerapan memetika untuk memecahkan masalah sistem sosial kompleks yang sulit dan kelestarian lingkungan, baru-baru ini telah dicoba di thwink.org. Dengan menggunakan jenis-jenis meme dan infeksi memetika dalam beberapa model simulasi saham dan aliran, Jack Harich telah menunjukkan beberapa fenomena menarik yang mungkin saja, hanya bisa dijelaskan dengan baik oleh meme. Salah satu modelnya, The Dueling Loops of the Political Powerplace,[15] memperlihatkan bahwa alasan mendasar untuk melakukan korupsi adalah norma dalam politik yang karena keuntungan struktural umpan balik yang melekat diadu satu sama lain. Model lain, The Memetic Evolution of Solutions to Difficult Problems,[16] menggunakan meme, algoritma evolusioner, dan metode ilmiah untuk menunjukkan bagaimana solusi yang kompleks berevolusi dari waktu ke waktu dan bagaimana proses tersebut dapat ditingkatkan. Wawasan yang diperoleh dari model ini digunakan untuk membangun elemen solusi memetika untuk masalah yang keberlanjutan.

Penerapan lain memetika yang dilakukan secara keberlanjutan adalah Climate Meme Project yang dibiayai secara bersama-sama yang dilakukan oleh Joe Brewer dan Balasz Laszlo Karafiath pada musim semi tahun 2013. Penelitian ini didasarkan pada pengumpulan 1000 ekspresi unik berbasis teks yang dikumpulkan dari Twitter, Facebook, dan wawancara terstruktur dengan para aktivis iklim. Temuan utama pada proyek ini adalah bahwa meme pemanasan global tidak efektif untuk menyebarkan wacana tersebut karena menyebabkan tekanan emosi dalam pikiran orang-orang yang mempelajarinya. Terdapat lima ketegangan sentral yang terungkap dalam wacana tentang perubahan iklim, yang masing-masing merupakan titik resonansi di mana dialog dapat terjadi. Ketegangannya berupa “keharmonisan/ketidakharmonisan” (apakah manusia adalah bagian dari alam), “kelangsungan hidup/kepunahan” (membayangkan masa depan baik sebagai keruntuhan total peradaban atau kepunahan total ras manusia), “kerjasama/konflik” (mengenai apakah manusia dapat bekerja sama untuk memecahkan masalah global), “momentum/keragu-raguan” (tentang apakah kita membuat kemajuan pada skala kolektif untuk mengatasi perubahan iklim), dan “elitisme/heretic” (sentimen umum bahwa setiap sisi perdebatan menganggap para ahli yang ada pada pihak lawan sebagai orang yang tidak dapat dipercaya.[17]

Ben Cullen, dalam bukunya, Contagious Ideas,[18] menyampaikan gagasan mengenai meme ke dalam ilmu arkeologi. Dia menciptakan istilah "virus cultural theory", dan menggunakannya untuk mencoba untuk meletakkan teori arkeologi dalam paradigma neo-Darwinian. Memetika arkeologi dapat membantu menerapkan konsep meme pada budaya materialis, khususnya.

Francis Heylighen dari Center Leo Apostel for Interdisciplinary Studies telah mendalilkan apa yang dia sebut "kriteria seleksi memetika”. Kriteria ini membuka jalan kepada bidang khusus “memetika terapan” untuk mengetahui apakah kriteria seleksi ini bisa bertahan jika diuji dengan analisis kuantitatif. Pada tahun 2003, Klaas Chielens melakukan uji ini dalam proyek tesis untuk mendapatkan gelar Master yaitu tentang kemungkinan uji bagi kriteria seleksi.

Dalam buku Selfish Sounds and Linguistic Evolution,[19] linguis Austria, Nikolaus Ritt telah berusaha menggunakan konsep memetika untuk menjelaskan perubahan suara jangka panjang dan konspirasi perubahan pada Bahasa Inggris awal. Telah diperdebatkan bahwa kerangka Darwinian yang umum digunakan untuk menangani perubahan budaya dapat memberikan penjelasan yang kokoh, yang tidak bisa diberikan oleh pendekatan yang berpusat pada pewicara. Buku ini memberikan saran yang relatif konkret tentang struktur materiil meme yang mungkin, dan menyediakan dua studi kasus yang kaya secara empiris.

Seorang akademisi Australia, S.J. Whitty telah menyatakan bahwa manajemen proyek adalah memepleks dengan bahasa dan cerita praktisi sebagai intinya.[20] Pendekatan radikal ini melihat proyek dan manajemen sebagai sebuah ilusi; bangunan manusia yang terdiri dari kumpulan perasaan, harapan, dan sensasi, yang diciptakan dan diberi label oleh otak manusia. Pendekatan Whitty membutuhkan manajer proyek untuk mempertimbangkan bahwa alasan untuk menggunakan manajemen proyek bukan dengan sengaja untuk memaksimalkan keuntungan. Whitty juga mendorong untuk mempertimbangkan manajemen proyek sebagai proses yang terjadi secara alami, melayani diri sendiri, dan terus berkembang yang membentuk organisasi untuk tujuannya sendiri.

Ilmuwan politik Swedia, Mikael Sandberg melawan interpretasi "lamarckian" evolusi kelembagaan dan teknologi dan mempelajari inovasi kreatif teknologi informasi dalam organisasi pemerintah dan swasta di Swedia pada tahun 1990-an dari perspektif memetika.[21] Setelah membandingkannya dengan efek strategi TI ("lamarckian") aktif dengan interaktivitas pengguna-produsen (ko-evolusi Darwin), bukti dari organisasi Swedia menunjukkan bahwa interaktivitas koevolusionar hampir empat kali lebih kuat daripada faktor di balik kreativitas IT sebagai strategi TI "lamarckian".

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kantorovich, Aharon (2013). An Evolutionary View of Science: Imitation and Memetics.
  2. ^ Blackmore, Susan (2003). "Consciousness in meme machines". Journal of Consciousness Studies.
  3. ^ McNamara, Adam (2011). "Can we Measure Memes?". Frontiers in Evolutionary Neuroscience 3
  4. ^ James W. Polichak, "Memes as Pseudoscience", in Michael Shermer, Skeptic Encyclopedia of Pseudoscience. P. 664f.
  5. ^ Benitez-Bribiesca, Luis (2001) Memetics: A dangerous idea. Interciecia 26: 29–31, hal. 29.
  6. ^ Terrence Deacon, The trouble with memes (and what to do about it). The Semiotic Review of Books 10(3).
  7. ^ Kalevi Kull (2000), Copy versus translate, meme versus sign: development of biological textuality. European Journal for Semiotic Studies 12(1), 101–120.
  8. ^ Midgley, Mary. The Solitary Self: Darwin and the Selfish Gene. Acumen, 2010. ISBN 978-1-84465-253-2
  9. ^ Stepan, Nancy L. "Race and Gender: The Role of Analogy in Science." dalam Goldberg, David Theo (ed.) The Anatomy of Racism. University of Minnesota Press, 1990.
  10. ^ McNamara, Adam (2011). "Can we Measure Memes?". Frontiers in Evolutionary Neuroscience.
  11. ^ "Holonic Structure of the Meme - The Unit of Culture". StoryAlity academic weblog, JT Velikovsky. diakses 27-04-2014
  12. ^ "Sex, Drugs, and Cults by H. Keith Henson". Human-nature.com, diakses 27-04-2014
  13. ^ "Evolutionary Psychology, Memes and the Origin of War". Mankindquarterly.org, diakses 27-04-2014
  14. ^ PR Watch. How PR Sold The War In The Persian Gulf. diakses 30-04-2014
  15. ^ The Dueling Loops of the Political Powerplace.
  16. ^ The Memetic Evolution of Solutions to Difficult Problems
  17. ^ Ben Schiller. Using Memes to Improve Climate Change Communication diakses 02-05-2014
  18. ^ Cullen, Ben (2000). Contagious Ideas: On evolution,culture, archaeology, and Cultural Virus Theory. Oxford dan Oakville: Oxbow Books. ISBN 1-84217-014-7.
  19. ^ Ritt, Nikolaus (2004). Selfish Sounds and Linguistic Evolution: A Darwinian Approach to Language Change. New York: Cambridge University Press.
  20. ^ A Memetic Paradigm of Project Management International Journal of Project Management, 23 (8) 575-583
  21. ^ "The Evolution of IT Innovations in Swedish Organizations: A Darwinian Critique of ‘Lamarckian’ Institutional Economics", Journal of Evolutionary Economics, vol. 17, No. 1 (Feb 2007)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]