Media online

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Media online adalah konten yang tersaji dalam bentuk online dan dapat diakses dengan internet. New media tidak mengubah video, gambar, audio, teks menjadi data digital (byte), melainkan hanya teknologi multimedia. Portal berita, website, email, televisi online merupakan beberapa contoh dari media online.[1]

Klasifikasi Media Online[sunting | sunting sumber]

  1. Media cetak yang beralih ke media online seperti, media-indonesia.com, seputar-indonesia.com dan lainnya.
  2. Penyiaran radio yang dapat beralih ke media online antara lain, radioaustralia.net.au
  3. Mulai adanya televisi online seperti CNN.com, metrotvnews.com
  4. Portal berita online yang tidak ada kaitannya dengan media cetak atau elektronik, seperti antaranew.com
  5. Situs berita yang memiliki link berita lainnya di suatu situs berita online, seperti Yahoo! News, Google News.[1]

Karakteristik Media Online[sunting | sunting sumber]

Media online memiliki karakteristik khusus yang membedakan dengan media konvensional, karakteristik tersebut terdiri dari :[2]

  • Kecepatan informasi : Jurnalisme sekarang ini memanfaatkan internet sebagai media utama, dalam mendistribusikan sebuah berita. Hal tersebut karena internet lebih cepat dalam mendistribusikan berita, dibandingkan dengan yang konvensional. Jurnalisme dapat memberikan sebuah berita yang up to date, mengenai sebuah peristiwa yang baru saja terjadi. Keberadaan media online yang mudah diakses, membuat masyarakat menjadi lebih cepat untuk mengetahui sebuah peristiwa yang terjadi. Tentu saja aktualisasi kecepatan informasi di media online, tidak dapat dirasakan pada media konvensional.
  • Pembaruan informasi : Keberadaan internet yang mudah diakses kapan dan dimana saja, mempermudah jurnalisme online untuk dapat memperbarui konten berita kapan saja. Hal tersebut membantu para jurnalisme, untuk terus memberikan update berita terbaru pada setiap berita. Agar masyarakat yang berada jauh dari tempat peristiwa, tetap dapat update perkembangan dari peristiwa tersebut dalam waktu cepat.
  • Timbal balik : Berbeda dengan media konvensional dan elektronik yang sifatnya satu arah, media online memiliki bentuk komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah tersebut, dilakukan dengan pemberian fasilitas forum diskusi. Sehingga masyarakat dapat memberikan pendapat mereka, mengenai peristiwa yang sedang terjadi atau kepada tim redaksi.
  • Personalisasi : Karakteristik lainnya yang dimiliki oleh media online adalah personalisasi. Pada media online, pembaca diberikan kebebasan untuk membaca berita yang dibutuhkan. Media online memberikan mesin pencari dan pengelompokan kategori berita, sehingga mempermudahkan para pembaca untuk mencari berita yang sesuai.
  • Kapasitas tidak terbatas : Pada media online tidak ada batasan kapasitas, dalam memproduksi dan mendistribusikan sebuah berita. Media online lebih bebas untuk mempublikasikan banyak berita, dibandingkan media konvensional. Hal ini karena media online memiliki data base, yang menampung berbagai macam berita dalam jumlah banyak. Tentunya, membantu pembaca untuk mencari berita yang sesuai maupun berita yang sudah lama.
  • Pranala (hyperlink) : Karakteristik lainnya adalah hyperlink, pada media online terdapat fasilitas hyperlink yang tidak ada pada media konvensional dan elektronik. Hyperlink digunakan pada media online,  untuk menghubungkan berita yang dipublikasikan dengan berita lain yang serupa.
  • Multimedia capability : Pada media online para jurnalisme dapat menyertakan berbagai macam media secara bersamaan. Jurnalisme dapat menggunakan teks, gambar, video, audio atau komponen lainnya, disajikan dalam satu halaman berita.

Kelemahan Media Online[sunting | sunting sumber]

  1. Bergantung dengan perangkat serta internet. Apabila tidak ada jaringan internet, tidak bisa diakses
  2. Dapat dilakukan oleh semua orang, jika mereka tidak memiliki kemampuan dalam menulis tetap memiliki media online dan meniru informasi dari platform lain
  3. Dapat melelahkan mata, karena membaca informasi dari media online terlalu lama
  4. Akurasi terabaikan, karena media online memprioritaskan kecepatan. Tidak seperti media cetak yang selalu mengunggulkan kredibilitas suatu informasi.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Romli, Asep Syamsul M. (2018-10-10). Jurnalistik Online: Panduan Mengelola Media Online. Nuansa Cendekia. ISBN 978-602-350-723-8. 
  2. ^ "MAKNA JURNALISME DALAM ERA DIGITAL : SUATU PELUANG DAN TRANSFORMASI | Diakom : Jurnal Media dan Komunikasi" (dalam bahasa Inggris).