Mawardi Waly

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Mawardi Waly atau pernah juga dituliskan sebagai Al-Mursyiduna Abuya Syekh Tgk. H. Mawardi Waly, Lc, MA al-Khalidy An-Naqsabandiy al-Minangkabawi Al Asyi adalah salah satu keturunan dari Abuya Syekh Muda Waly dari istrinya yang kedua bernama Syekhah Hj. Ummi Rabi’ah binti Syekh Muhammad Jamil Jaho al-Minangkabawi. Mawardi Waly adalah salah satu ulama sufi yang bertempat tinggal di Aceh Selatan.

Kelahiran dan Pendidikan Awal[sunting | sunting sumber]

Mawardi Waly lahir di Jaho, Tanah Datar, Sumatera Barat pada 15 September 1942, ia akrab dipanggil dengan nama Abu Mawardi Waly oleh para muridnya.

Pendidikan dini diperolehnya dari didikan ayah dan abangnya yang bernama Abuya Syekh Prof. Dr. Muhibbuddin Waly, MA yang juga seorang santri senior pada pesantren yang dipimpin oleh ayahnya. Selepas pendidikan dini, ia mulai memasuki sekolah umum di SR Labuhan Haji pada tahun 1954.

Pendidikan tingginya dimulai dengan belajar di IAIN Imam Bonjol dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta namun karena mendapat beasiswa dari PERTI maka ia berangkat ke Mesir dan menyelesaikan sarjana dan pascasarjananya di Universitas al-Azhar Kairo dari tahun 1965-1971.[1]

Karier[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Kariernya dalam bidang pendidikan dimulai setelah ia tamat dari al-Azhar dengan memimpin Ponpes MTI Syekh Muhammad Jamil Jaho, Nagari Jaho Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada 1979-1982.

Setelah dari Sumatera Barat, ia diserahi tugas untuk mengajar dan mengurus Dayah Darussalam yang didirikan oleh ayahnya di Labuhan Haji hingga akhirnya ia dipercaya untuk memimpin Dayah Darussalam pada periode 1989-1995. Setelah periode kepemimpinannya di Dayah Darussalam, Abu Mawardi Waly kemudian menjadi pengajar di dua pesantren yaitu Dayah Darussalam, Aceh Selatan dan Pesantren MTI di Sumatera Barat. Akhirnya pada tahun 2002, ia diminta untuk kembali memimpin Pesantren MTI, Sumatera Barat yang dilakukannya hingga tahun 2012.

Pada tahun 2012, pimpinan Dayah Darussalam Abuya Syekh Prof. Dr. Muhibbuddin Waly, MA meninggal dunia sehingga Abu Mawardi Waly memutuskan untuk kembali ke Aceh dan mendampingi saudaranya yang bernama Abuya Drs. Jamaludin Waly untuk memimpin Dayah Darussalam. Ketika Abuya Drs. Jamaludin Waly meninggal pada tahun 2016, Abu Mawardi Waly akhirnya kembali diminta untuk menjadi Pimpinan atau Rais ‘Aam Dayah Darussalam al-Waliyah sekaligus pembina Ma’had Aly Syekh Muda Waly sampai sekarang.

Selain sibuk memimpin dayah dan pesantren, Abu Mawardi Waly juga aktif di HMI dan Perti, bahkan ia sempat menjadi Ketua Perti Sumatera Barat pada periode 1977-1987.[2]

Non Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Di luar bidang pendidikan, Abu Mawardi Waly juga pernah menjadi hakim di Pengadilan Tinggi Agama Padang, Sumatera Barat pada tahun 1980-1982. Tidak hanya itu, pada masa Orde Baru, Abu Mawardi Waly juga sempat menjadi anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat untuk periode 1977-1987. Ketika itu ia menjadi wakil dari PPP.

Hubungan dengan Tariqat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah[sunting | sunting sumber]

Abu Mawardi Waly adalah salah satu mursyid Tarekat Naqsabandiyah yang bersanad kepada ayahnya, Syaikhul Islam Muhammad Waly. Saat ini ia aktif mengajarkan tarekat tersebut serta aktif pula memimpin suluk pada waktu-waktu tertentu.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Pimpinan Ponpes yang Jadi Politikus". Serambi Indonesia. Diakses tanggal 2021-06-11. 
  2. ^ a b Nawawi, Rozal Nawafil bin (2021-06-10). "Abuya Mawardi Waly, Ulama Perti yang Alim Nan Sufi". Tarbiyah Islamiyah. Diakses tanggal 2021-06-11.