Masker dalam pandemi COVID-19

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pengguna layanan kereta api di Padang mengantre dengan menerapkan prinsip jaga jarak dan menggunakan masker.
Penduduk di Wuhan mengenakan masker (7 April 2020)

Penggunaan masker selama pandemi koronavirus mendapat rekomendasi dari berbagai badan kesehatan dan pemerintah di seluruh dunia. Namun tidak semuanya sepaham tentang protokol penggunaannya. Ada beberapa negara yang menganjurkan semua masyarakat menggunakannya, namun yang lain menganjurkan hanya pasien yang sakit dan pekerja medis yang menggunakannya. Selain itu badan kesehatan juga beberapa kali mengubah posisi dan rekomendasi mereka terkait penggunaan masker, dari tidak menganjurkan hingga menganjurkan sebagian hingga menganjurkan semua.[1] Penggunaan masker selama pandemi ini telah menimbulkan kelangkaan masker, penimbunan masker, kenaikan harga masker, pendistribusian dan pembatasan oleh pemerintah, hingga berebut masker antar negara.[2][3]

Dalam kondisi pandemi, pemerintah mengambil keputusan secara cepat untuk relaksasi terhadap kebijakan lockdown, tindakan pencegahan pada virus Covid-19 sangat sulit untuk diterapkan oleh masyarakat dan hal tersebut membutuhkan waktu yang banyak untuk menanamkan suatu kedisiplinan yang tinggi hingga ditemukannya vaksin. Mengenakan masker seperti anjuran pemerintah maupun organisasi kesehatan dunia hanya berperan dalam mencegah gelombang kedua infeksi Covid-19 dari sistem layanan perawatan kesehatan yang mengalami overload dalam menerima pasien di rumah sakit. Persyaratan penggunaan masker selain diimplementasikan oleh pemerintah, seharusnya organisasi atau penyedia layanan publik dalam sektor kesehatan dapat membuat dan memberikan aturan kewajiban menggunakan masker untuk memperoleh pelayanan di setiap insitusi. Selain itu, perlu diperhatikan juga mekanisme distribusi masker dengan tetap berfokus pada manfaat kesehatan masyarakat luas secara merata.[4]

Selain mencuci tangan, penggunaan masker pada kondisi pandemi sangat berperan dalam pencegahan proses transmisi virus COVID-19 dari satu orang ke orang lain. Masker mampu memblokir jets tubulent dari batuk atau mengontrol infeksi airborne dari orang sekitar dengan cara menahan partikel-partikel virus. Masker dapat memfiltrasi partikel mengandung virus seperti aerosol atau droplet seperti virus Covid-19.[5]

Penggunaan masker pada setiap individu sangat bervariasi tergantung kondisi tempat. Beberapa individu menggunakan masker tanpa menutupi mulut dan hidung sepenuhnya atau penggunaan masker dengan frekuensi lebih dari frekuensi yang disarankan oleh aturan pemerintah. Individu yang sedang menggunakan masker dianjurkan untuk tidak menyetuh bagian wajah dan bagian luar dari masker karena dapat masker menjadi kotor dan menimbulkan virus. Penggunaan masker secara universal di setiap negara yang terkena pandemi adalah bertujuan untuk mencegah munculnya diskriminasi terhadap stigma negatif pada masyarakat luas bahwa individu yang menggunakan masker merupakan tanda yang memiliki gejala penyakit seperti Covid-19. Untuk menghilangkan stigma tersebut maka dibuat peraturan yang mengharuskan setiap individu menggunakan masker saat berada diluar rumah.[6]

Penggunaan masker yang dilakukan individu di depan umum jauh lebih banyak dilakukan di negara Asia karena memiliki pengalaman terhadap kondisi epidemi dan pandemi virus. Ditemukan bahwa penggunaan masker akan lebih efektif dalam membatasi penyebaran Covid-19 yang terjadi di negara Taiwan.[7] Perlindungan terhadap wajah, baik dalam bentuk masker atau yang lain berperan penting dalam mengurangi pandemi seperti yang terlihat dari penyebaran Covid-19 yang semakin berkurang dalam negara-negara yang memberlakukan penggunaan masker secara ketat dan aturan dari pemerintah yang dijalankan dengan baik.[8]

Jenis-jenis masker[sunting | sunting sumber]

Jenis-jenis masker yang digunakan, mulai dari paling tidak efektif hingga paling efektif, adalah masker kain dan masker debu, masker medis (non-bedah),[9][10] masker bedah, dan masker filter respirator, seperti masker N95 dan masker FPP. Masker-masker ini biasa digunakan bersama dengan kacamata plastik medis, pelindung wajah plastik, dan peralatan proteksi lainnya.

Masker kain[sunting | sunting sumber]

Masker kain rumahan

Masker ini dapat dibuat sendiri maupun dibuat pabrik dari bahan kain biasa dengan berbagai motif dan bentuk, dan digunakan untuk menutupi hidung dan mulut. Masker ini terutama banyak digunakan terkait dengan kelangkaan masker yang lebih efektif terkait dengan anjuran pemerintah supaya setiap warganya memakai masker. Desain dan spesifikasi masker ini bebas, tidak diatur regulasi, dan tidak melindungi penggunanya terhadap virus.[11][12][13] Masker jenis ini dapat digunakan lebih dari sekali, dan beberapa jenis dapat dicuci dan dipakai lagi.

Selain masker buatan sendiri, masker buatan pabrik (misalnya masker debu yang digunakan di lokasi konstruksi bangunan maupun masker kain yang dibuat menyerupai masker medis) yang juga tidak efektif dalam melindungi dari virus, juga dapat dimasukkan ke kategori ini.

Masker kain direkomendasikan sebagai penghalang yang sangat sederhana untuk mencegah virus yang ada di udara masuk dan terhirup oleh orang lain pada saat orang yang terinfeksi Covid-19 bersin, batuk, dan berbicara yang sering disebut dengan kontrol sumber. Rekomendasi ini diberlakukan berdasarkan penelitian tentang dampak pernapasan dalam penyebaran virus yang menyebabkan Covid-19 yang dikaitkan dengan bukti yang didapatkan dari hasil studi klinis dan penelitian di laboratorium yang menunjukkan bahwa masker kain mengurangi resiko saat dipakai dengan baik yakni menutupi hidung, mulut hingga dagu. Covid-19 dapat menyebar terutama pada orang-orang yang berjarak sekitar 1 meter dengan orang yang terinfeksi, sehingga penggunaan masker kain sangat penting ketika orang-orang saling berdekatan satu sama lain atau pembatasan jarak sulit untuk diterapkan.[14] Bukti yang didapatkan untuk menggunakan masker kain dalam mencegah penularan berbagai virus pernapasan di masyarakat masih sangat terbatas pada beberapa studi yang dilakukan oleh sebagian besar peneliti.[15]

Suplai dari masker bedah yang tidak mencukupi kebutuhan suatu negara membuat masyarakat dan pemerintah memperbolehkan penggunaan masker kain akan tetapi dengan berbagai perdebatan terkait efektivitas penggunaan masker kain mulai bermunculan. Masker kain buatan dirumah masih memungkinkan dalam memberikan perlindungan meskipun umumnya lebih rendah dari masker bedah, selain itu uji klinis efektivitasnya di dalam laboratorium masih kurang.[16] Ketika bertemu dengan pasien yang positif Covid-19 yang tidak menggunakan masker bedah atau masker kain secara efektif tersaring partikel virus corona selama batuk jika menggunakan masker pelindung baik itu masker medis ataupun masker kain, bahkan kontaminasi virus ditemukan lebih banyak di luar permukaan masker dibandingkan permukaan bagian dalam.[17] Karena terbatasnya ketersediaan masker untuk tenaga kesehatan mengalami krisis, termasuk masker N95, di beberapa negara masker non-medis dan adanya pratik penimbunan masker secara ilegal maka beberapa organisasi kesehatan dunia merekomendasikan pemakaian masker kain untuk digunakan oleh masyarakat biasa.[18]

Masker medis[sunting | sunting sumber]

Masker sekali pakai ini (baik masker bedah maupun non-bedah), jika dipakai dengan benar, dapat membantu melindungi dari partikel besar, percikan pernapasan, tetesan, percikan, semprotan, yang mengandung virus dan bakteria, sehingga tidak masuk ke hidung dan mulut pengguna masker. Selain itu juga mencegah cairan pernafasan penggunanya berdampak ke orang lain (pencegahan dua arah).[19]

Walaupun demikian, masker medis tidak dapat menyaring partikel yang sangat kecil. Masker ini juga tidak melindungi penggunanya secara sempurna, dikarenakan desainnya yang longgar, sehingga ada celah antara wajah dan masker. masker ini dibuat dari kain nontenun dengan teknik melt blowing.[20][21]

Masker ini biasanya memiliki material logam yang dapat dilengkungkan sesuai dengan bentuk hidung, supaya lebih efektif dalam menghalangi partikel berbahaya. Apabila masker ini dan masker N95 digunakan dalam waktu lama, dapat meninggalkan bekas di wajah.

Penggunaan masker medis dalam kondisi pandemi seperti ini adalah salah satu langkah terbaik dalam pencegahan yang dapat membatasi penyebaran penyakit-penyakit saluran pernapasan tertentu yang diakibatkan oleh virus, termasuk COVID-19. Namun, penggunaan masker saja dinilai tidak cukup dalam memberikan tingkat perlindungan yang memadai, dan harus dilakukan juga langkah-langkah lain dalam pencegahan penyebarannya. Terlepas dari apakah masker digunakan atau tidak, kepatuhan individu dalam menjaga kebersihan tangan dan langkah-langkah pencegahan lainnya sangat penting dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19 dari satu orang ke orang lainnya.[22]

Masker N95 atau sejenis[sunting | sunting sumber]

Sebuah masker N95

Masker N95 AS, Masker KN95 dari Tiongkok, dan masker FFP2 dari Uni Eropa[23][24], mampu menyaring hingga 95% partikel di udara, termasuk virus.[25][26] Dibuat dari bahan yang sama dengan masker medis, masker jenis ini didesain supaya dapat menutupi hidung dan mulut dengan lebih sempurna (tidak longgar seperti masker medis), namun penggunaan dalam jangka waktu yang lama tanpa melepasnya dapat menyebabkan penggunanya kekurangan oksigen.[27][28] Efikasi untuk masker medis N95 mencapai 99%, masker bedah mencapai 98%, dan masker buatan sendiri atau kain dengan 5 lapisan hanya 95,15% dalam memblokir virus flu burung yang sebanding dengan ukuran partikel virus Covid-19. Penting diketahui bahwa masker buatan sendiri atau masker kain dibuat menggunakan hanya 1 lapisan dari bahan kain poliester dan filter 4 lapis seperti kertas. Masker N95 mirip dengan masker penangkal virus di negara-negara Eropa dan dibuat secara elektrostatis mikrofiber polipropilen yang dirancang untuk partikel filter berukuran diameter 100-300nm dengan efikasi 95%.[29]

Masker N95 dan sejenisnya telah dibuktikan dalam berbagai studi dan penelitian eksperimental di laboratorium dapat melindungi pemakainya dari berbagai infeksi atau kemungkinan menularkan infeksi virus Covid-19 dan virus lainnya. Hasil yang didapatkan tampak konsisten, sehingga dapat digunakan oleh semua petugas layanan kesehatan untuk melindungi diri terhadap infeksi pernapasan pada kondisi pandemi Covid-19 ini. Masker dapat melindungi petugas dari tetesan yang lebih kasar dan transmisi aerosol yang lebih halus dari individu yang terinfeksi virus. Masker N95 juga lebih efektif dalam melawan aerosol yang lebih halus dan terbukti lebih baik dalam mencegah transmisi tetesan juga. Meta analisis studi yang dilakukan oleh para peneliti pada penyedia layanan kesehatan yang sehat menunjukkan kekuatan perlindungan masker N95 terhadap infeksi virus klinis dan pernapasan mendapatkan hasil yang sangat baik.[30]

Beberapa organisasi kesehatan menyarankan agar respirator N95 digunakan oleh semua profesional medis dan petugas kesehatan yang melakukan kontak dengan pasien Covid-19. Hal ini membuat persediaan masker N95 diberbagai negara menjadi sedikit dan kesulitan dalam hal pengadaan masker itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka penggunaan masker bedah diizinkan untuk digunakan petugas kesehatan saat akan melakukan kontak dengan pasien Covid-19 dan disarankan agar lebih aman dengan memaksimalkan proteksi dengan tambahan face shield.[31]

Masker dan respirator yang digunakan oleh individu mampu menurunkan risiko terinfeksi virus Covid-19 sebanyak 85% serta tingkat keefektifan yang lebih tinggi bila digunakan pada fasilitas kesehatan. Beberapa hasil penelitian menujukkan bahwa penggunaan N95 respirator sebesar 96% lebih efektif digunakan pada fasilitas kesehatan dibandingkan jenis masker lainnya yang hanya 67% efektif dalam pencegahan virus.[32]

Rekomendasi[sunting | sunting sumber]

Berbagai organisasi kesehatan merekomendasikan supaya orang-orang menutupui mulut dan hidung mereka ketika bersin atau batuk, idealnya dengan siku tangan, dan apabila menggunakan tisu, supaya segera membuangnya.[33][34] Selain itu penggunaan masker medis dianjurkan oleh WHO,[35][36][37] karena dapat membatasi jumlah dan jarak percikan pernapasan yang keluar ketika seseorang berbicara, batuk, dan bersin.[38] OKD juga sudah mengeluarkan instruksi tentang bagaimana dan kapan kita perlu memakai masker.[39] Masker juga dianjurkan untuk orang yang menangani pasien yang sakit, atau beresiko tinggi, misalnya pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang.[37] Selain itu pengguna masker juga diwajibkan untuk membuangnya dengan benar.[40]

Walaupun tidak semua negara menganjurkan seluruh masyarakatnya memakai masker, beberapa negara mulai melakukan sosialisasi supaya masyarakat luas memakai masker ketika bepergian.[41]

Tiongkok menganjurkan anggota masyarakatnya yang sehat juga memakai masker, terutama jika berinteraksi dengan jarak kurang dari 1 meter dengan orang lain, termasuk menggunakan transportasi publik maupun di keramaian.[9][42][43] Alasan yang dikemukakan:[44][45]

  1. Penyebaran asimtomatik. Banyak orang yang mungkin sudah tertular tanpa menunjukkan gejala (simtom), atau hanya menunjukkan gejala ringan.
  2. Mustahil untuk menjaga jarak di tempat publik sepanjang waktu.
  3. Jika hanya orang sakit yang menggunakan, hanya akan menimbulkan efek negatif dibanding orang yang tidak menggunakan; antara lain ketidaknyamanan, pengeluaran ekstra untuk masker, bahkan perlakuan tidak adil dari orang yang tidak bermasker.
  4. Tiongkok tidak memiliki kekurangan masker, karena telah mulai mampu memproduksi 100 juta masker per hari sejak awal Maret.

Selain itu, memakai masker juga dapat mencegah penularan karena memegang bagian wajah dengan tangan yang terinfeksi virus, jika tangan tidak sering-sering dibersikah dengan benar.[46] Hal ini juga disebut oleh British Medical Journal sebagai alasan mengapa perlu adanya penggunaan masker universal (sakit maupun tidak sakit).[47]

Para pejabat dan pakar kesehatan Asia telah mengenalkan masker universal. Sebagai contoh, Linfa Wang (ahli penyakit menular terkemuka yang mengepalai tim penelitian gabungan Universitas Duke dan Universitas Nasional Singapura) menyatakan bahwa memakai masker bertujuan untuk "mencegah penyebaran penyakit daripada mencegah terjangkit penyakit," menandakan bahwa intinya adalah untuk melindungi wajah orang yang terinfeksi tetapi belum mengetahuinya, sehingga sangat penting bagi semua orang untuk mengenakannya di tempat umum.[48]

Kelangkaan masker[sunting | sunting sumber]

Ketika epidemi meningkat, pasar Tiongkok mengalami kekurangan masker wajah karena meningkatnya permintaan publik.[49] Di Shanghai, para pembeli harus mengantri selama hampir satu jam untuk membeli sebungkus masker wajah;sedangkan stok terjual habis dalam waktu setengah jam.[50] Stok masker di Indonesia sendiri mengalami kelangkaan dan kenaikan harga karena pembelian panik pada masyarakat, yang memicu permintaan masker tinggi.[51][52] Karena ketersediaan masker yang menipis, Pemerintah Indonesia juga menghentikan kegiatan ekspor masker.[53] Masker N95 dan FFP dalam pasokan kecil dan permintaan tinggi selama pandemi.[54] Produksi masker N95 terbatas karena kendala pada pasokan kain polipropilena nontenun (yang digunakan sebagai filter utama), serta penghentian ekspor dari Tiongkok.[55][56] Karena semakin banyak negara membatasi ekspor masker N95, Novo Textiles di British Columbia memiliki rencana untuk menjadi produsen nomor satu di Kanada.[57] AMD Medicom di Quebec juga berencana untuk menjadi produsen masker N95 Kanada yang kedua, dengan kontrak untuk memasok Pemerintah Kanada.[58]

Kepanikan yang terjadi di masyarakat tentang menyebarnya virus Covid-19 memberikan dampak yang sangat buruk dalam kehidupan masyarakat, seperti terjadinya kelangkaan masker yang merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki dalam mencegah penularan virus Covid-19. Hal tersebut terjadi karena munculnya panic buying bagi sebagian besar masyarakat dan adanya penimbunan masker secara ilegal. Dampak negatif dari adanya penimbunan masker adalah sulitnya petugas kesehatan dalam mendapatkan masker medis yang akan digunakan di lingkungan perawatan pasien Covid-19, masyarakat yang tidak mampu akan kesusahan mendapatkan masker sebagai pelindung diri, dan naiknya harga masker medis.[59]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Di dalam masyarakat Asia yang bersifat kolektif, alasan utama seseorang memakai masker adalah melindungi orang lain darinya.[60][61] Hal ini dipandang sebagai tanggung jawab bersama untuk mengurangi transmisi virus.[62] Masker dipandang sebagai simbol solidaritas.[62] Pengguna masker belum tentu sakit, dan orang lain pun memandangnya tidak secara negatif.

Di dalam masyarakat Barat yang bersifat individualisme, penggunaan masker hanya dipandang sebagai perlindungan diri sendiri.[48][60][63] Penggunaan masker di publik masih membawa stigma bahwa penggunanya sakit,[60][62][64] seperti terlihat sebagai tanda penyakit.[64] Stigma ini merupakan penghalang yang besar bagi orang untuk memakai masker, karena mereka mungkin merasa malu dipandang sebagai orang sakit, dan memilih tidak menggunakannya.[65]

Penggunaan berdasarkan negara[sunting | sunting sumber]

Beijing Subway mengajak para penumpang untuk mengenakan masker saat naik kereta
  • Bendera Indonesia Indonesia: Warga diperintahkan untuk memakai masker ketika keluar rumah.[66]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ting, Victor (4 April 2020). "To mask or not to mask: WHO makes U-turn while US, Singapore abandon pandemic advice and tell citizens to start wearing masks". South China Morning Post. 
  2. ^ DW News: US accused of hijacking shipments of masks
  3. ^ Global News: Trump wants 3M to stop sending masks to Canada
  4. ^ Howard et al 2020, hlm. 7.
  5. ^ Tang et al 2020, hlm. 1338.
  6. ^ Dwirusman 2020, hlm. 415.
  7. ^ Wang, Ng dan Brook 2020, hlm. 1341-1342.
  8. ^ Li, Samaranayake, Leung dan Neelakantan 2020, hlm. 3.
  9. ^ a b "For different groups of people: how to choose masks". NHC.gov.cn. National Health Commission of the People's Republic of China. 7 February 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 April 2020. Diakses tanggal 22 March 2020. Disposable medical masks: Recommended for: · People in crowded places · Indoor working environment with a relatively dense population · People going to medical institutions · Children in kindergarten and students at school gathering to study and do other activities 
  10. ^ Choi, David (2 April 2020). "Chinese government rejects allegations that its face masks were defective, tells countries to 'double check' instructions". Business Insider France. 
  11. ^ Reusability of Facemasks During an Influenza Pandemic: Facing the Flu. Washington, D.C.: National Academies Press. 2006-07-24. hlm. 6, 36–38. doi:10.17226/11637. ISBN 978-0-309-10182-0. 
  12. ^ MacIntyre, C. R.; Chughtai, A. A. (2015-04-09). "Facemasks for the prevention of infection in healthcare and community settings" (PDF). BMJ (dalam bahasa Inggris). 350 (apr09 1): h694. doi:10.1136/bmj.h694. ISSN 1756-1833. PMID 25858901. 
  13. ^ Chughtai, Abrar Ahmad; Seale, Holly; MacIntyre, Chandini Raina (2013-06-19). "Use of cloth masks in the practice of infection control – evidence and policy gaps". International Journal of Infection Control. 9 (3). doi:10.3396/IJIC.v9i3.020.13. ISSN 1996-9783. 
  14. ^ Putri 2020, hlm. 10.
  15. ^ Cheng, Wong, Chuang, So, Chen, Sridhar, To, Chan, Hung, Ho dan Yuen 2020, hlm. 13.
  16. ^ Eikenberry et al 2020, hlm. 1.
  17. ^ Atmojo et al 2020, hlm. 88.
  18. ^ Matusiak, Szepietowska, Krajewski, Bialynicki‐Birula dan Szepietowski 2020, hlm. 3.
  19. ^ "N95 Respirators and Surgical Masks (Face Masks)". U.S. Food and Drug Administration (dalam bahasa Inggris). 2020-03-11. Diakses tanggal 2020-03-28.  Templat:PD-inline
  20. ^ "Not Enough Face Masks Are Made In America To Deal With Coronavirus". NPR.org. 2020-03-05. Diakses tanggal 2020-04-10. 
  21. ^ "Chinese mask makers use loopholes to speed up regulatory approval". Financial Times. 2020-04-01. Diakses tanggal 2020-04-10. 
  22. ^ WHO 2020, hlm. 1.
  23. ^ "Comparison of FFP2, KN95, and N95 and Other Filtering Facepiece Respirator Classes" (PDF). 3M Technical Data Bulletin. 2020-01-01. Diakses tanggal 2020-03-28. 
  24. ^ "Strategies for Optimizing the Supply of N95 Respirators: Crisis/Alternate Strategies". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa Inggris). 2020-03-17. Diakses tanggal 2020-03-28. 
  25. ^ "NIOSH-Approved N95 Particulate Filtering Facepiece Respirators - A Suppliers List". U.S. National Institute for Occupational Safety and Health (dalam bahasa Inggris). 2020-03-19. Diakses tanggal 2020-03-27. 
  26. ^ "Respirator Trusted-Source: Selection FAQs". U.S. National Institute for Occupational Safety and Health (dalam bahasa Inggris). 2020-03-12. Diakses tanggal 2020-03-28. 
  27. ^ Zie, John (March 19, 2020). "World Depends on China for Face Masks But Can Country Deliver?". Voice of America. 
  28. ^ Feng, Emily (March 16, 2020). "COVID-19 Has Caused A Shortage Of Face Masks. But They're Surprisingly Hard To Make". NPR. 
  29. ^ Feng et al 2020, hlm. 434-435.
  30. ^ Dharmadhikari et al 2020, hlm. 1108.
  31. ^ Tirupathi 2020, hlm. 57.
  32. ^ MacIntyre dan Wang 2020, hlm. 1950-1951.
  33. ^ "Advice for public". World Health Organization. Diakses tanggal 8 February 2020. 
  34. ^ Home. "Novel Coronavirus". HPSC.ie. Health Protection Surveillance Centre of Ireland. Diakses tanggal 27 February 2020. 
  35. ^ "Severe Respiratory Disease associated with a Novel Infectious Agent". Government of Hong Kong. Diakses tanggal 1 February 2020. 
  36. ^ "Updates on Wuhan Coronavirus (2019-nCoV) Local Situation". MoH.gov.sg. Ministry of Health of Singapore. Diakses tanggal 1 February 2020. 
  37. ^ a b "Advice on the use of masks in the community, during home care and in health care settings in the context of the novel coronavirus (2019-nCoV) outbreak". World Health Organization. Diakses tanggal 21 February 2020. 
  38. ^ "2019-nCoV: What the Public Should Do". US Centers for Disease Control and Prevention. 4 February 2020. Diakses tanggal 5 February 2020. 
  39. ^ "Coronavirus disease (COVID-19) advice for the public: When and how to use masks". World Health Organization. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 March 2020. Diakses tanggal 9 March 2020. 
  40. ^ "Coronavirus disease (COVID-19) advice for the public: When and how to use masks". World Health Organization. World Health Organization. 2020. Diakses tanggal 2020-04-06. 
  41. ^ "Puede que Asia haya tenido razón sobre el coronavirus y las mascarillas, y el resto del mundo se está convenciendo de ello". 1 April 2020. 
  42. ^ 疫情通报 [Outbreak notification]. NHC.gov.cn (dalam bahasa Tionghoa). National Health Commission of the People's Republic of China. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 January 2020. Diakses tanggal 9 February 2020. 
  43. ^ "关于印发公众科学戴口罩指引的通知引". NHC.gov.cn (dalam bahasa Tionghoa). Chinese Center for Disease Control and Prevention. 18 March 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 March 2020. 
  44. ^ Cohen, Jon (27 March 2020). "Not wearing masks to protect against coronavirus is a 'big mistake,' top Chinese scientist says". Science. 
  45. ^ "Why healthy Chinese wearing face masks outdoors?". NHC.gov.cn. Chinese Center for Disease Control and Prevention. 23 March 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 April 2020. 
  46. ^ "How to avoid touching your face so much". BBC News. 18 March 2020. 
  47. ^ Greenhalgh, Trisha; Schmid, Manuel B; Czypionka, Thomas; Bassler, Dirk; Gruer, Laurence (9 April 2020). "Face masks for the public during the covid-19 crisis". BMJ: m1435. doi:10.1136/bmj.m1435. ISSN 1756-1833. Diakses tanggal 27 April 2020. 
  48. ^ a b Winn, Patrick (1 April 2020). "Will the US ever mimic Asia's culture of 'universal masking'?". Public Radio International. 
  49. ^ 谢斌 张纯 (21 January 2020). "一罩难求:南都民调实测走访发现,线上线下口罩基本卖脱销". 南方都市报. Diakses tanggal 21 January 2020. 
  50. ^ 徐榆涵 (23 January 2020). "全球各地瘋搶口罩 專家:不必買N95". 聯合報. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 January 2020. Diakses tanggal 25 January 2020. 
  51. ^ "Kelangkaan Masker Imbas Panic Buying di Tengah Masyarakat". merdeka.com. 1 April 2020. 
  52. ^ "Polri: Masker-Hand Sanitizer Langka karena Permintaan Tinggi". CNN Indonesia. 25 Maret 2020. 
  53. ^ Miranti Kurnia, Ade (13 Maret 2020). "Pemerintah RI Segera Larang Ekspor Masker". Kompas.com. 
  54. ^ Johnson, Marty (March 26, 2020). "Feds have 1.5 million expired N95 masks in storage despite CDC clearing them for use on COVID-19: report". The Hill. Diakses tanggal April 12, 2020. 
  55. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama VOADeliver2
  56. ^ Evan, Melanie; Hufford, Austen (March 7, 2020). "Critical Component of Protective Masks in Short Supply - The epidemic has driven up demand for material in N95 filters; 'everyone thinks there is this magic factory somewhere'". The Wall Street Journal. 
  57. ^ "COVID-19: Coquitlam company retools, will be first in Canada to produce N95 respirators" (dalam bahasa Inggris). 2020-04-06. Diakses tanggal 2020-04-06. 
  58. ^ "Medicom to begin manufacturing N95 masks in Canada as foreign countries curb exports" (dalam bahasa Inggris). 2020-04-05. Diakses tanggal 2020-04-05. 
  59. ^ Dewi dan Utami 2020, hlm. 34.
  60. ^ a b c Onishi, Norimitsu; Méheut, Constant (9 April 2020). "Mask-Wearing Is a Very New Fashion in Paris (and a Lot of Other Places)". The New York Times. 
  61. ^ Wong, Tessa (31 March 2020). "Why some countries wear face masks and others don't". BBC News. 
  62. ^ a b c Zheng, Sarah (14 March 2020). "Face mask culture during the coronavirus: East vs West". South China Morning Post. 
  63. ^ Leung, Hillary (12 March 2020). "Why Face Masks Are Encouraged in Asia, but Shunned in the U.S." Time. 
  64. ^ a b Tett, Gillian (1 April 2020). "Why wearing masks may be the way forward". Financial Times. 
  65. ^ Friedman, Uri (2 April 2020). "Face Masks Are In". The Atlantic. 
  66. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama mal_apr4

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. Putri, S. I. (2020). "STUDI LITERATUR: EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MASKER KAIN DALAM PENCEGAHAN TRANSMISI COVID-19". Jurnal Kesehatan Manarang. 6: 9–17. ISSN 2528-5602. 
  2. Cheng, V. C. C., Wong, S. C., Chuang, V. W. M., So, S. Y. C., Chen, J. H. K., Sridhar, S., To, K. K. W., Chan, J. F. W., Hung, I. F. N., Ho, P. L.,, & Yuen, K. Y. (2020). "The role of community-wide wearing of face mask for control of coronavirus disease 2019 (COVID-19) epidemic due to SARS-CoV-2" (PDF). Journal of Infection. 81 (1): 107–114. doi:10.1016/j.jinf.2020.04.024. 
  3. Howard, J., Huang, A., Li, Z., Tufekci, Z., Zdimal, V., Westhuizen, H. Van Der, von Delft, A., Price, A., Fridman, L., Tang, L.H., Tang, V., Watson, G. L., Bax, C. E., Shaikh, R., Questier, F., Hernandez, D., Chu, L. F., Ramirez, C. M.,, & Rimoin A. W. (12 April 2020). "Face masks against COVID-19: an evidence review". Preprints. doi:10.20944/preprints202004.0203.v1. Diakses tanggal 1 Maret 2021. 
  4. Eikenberry, S.E., Mancuso, M., Iboi, E., Phan, T., Eikenberry, K., Kuang, Y., Kostelich, E.,, & Gumel, A.B. (2020). "To mask or not to mask: Modeling the potential for face mask use by the general public to curtail the COVID-19 pandemic" (PDF). Infectious Disease Modelling. 5: 1–17. doi:10.1016/j.idm.2020.04.001. 
  5. Atmojo, J. T.; et al. (2020). "PENGGUNAAN MASKER DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGANAN COVID-19: RASIONALITAS, EFEKTIVITAS, DAN ISU TERKINI" (PDF). Avicenna : Journal of Health Research. 3 (2): 84–95. doi:10.36419/avicenna.v3i2.420. ISSN 2615-6466. 
  6. Feng, S., Shen, C., Xia, N., Song, W., Fan, M., &, Cowling, B. J. (2020). "Rational use of face masks in the COVID-19 pandemic". The Lancet Respiratory Medicine. 8 (5): 434–436. doi:10.1016/S2213-2600(20)30134-X. 
  7. Tang, A.N., Tong, Z.D., Wang, H.L., Dai, Y.X., Li, K.F., Liu, J.N., Wu, W.J., Yuan, C., Yu, M.L., Li, P., &, Yan, J.B. (2020). "Detection of novel coronavirus by RT-PCR in stool specimen from asymptomatic child, China" (PDF). Emerging infectious diseases. 26 (6): 1337–1339. doi:10.3201/eid2606.200301. 
  8. Dwirusman, C. G. (2020). "PERAN DAN EFEKTIVITAS MASKER DALAM PENCEGAHAN PENULARAN CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-19)". Jurnal Medika Hutama. 2 (1): 412–420. ISSN 2715-9728. 
  9. Wang, C. J., Ng, C. Y., &, Brook, R. H. (2020). "Response to COVID-19 in Taiwan: big data analytics, new technology, and proactive testing" (PDF). Jama. 323 (14): 1341–1342. doi:10.1001/jama.2020.3151. 
  10. Dharmadhikari, A.S., Mphahlele, M., Stoltz, A., Venter, K., Mathebula, R., Masotla, T., Lubbe, W., Pagano, M., First, M., Jensen, P.A., &, van der Walt, M. (2020). "Surgical face masks worn by patients with multidrug-resistant tuberculosis: impact on infectivity of air on a hospital ward" (PDF). American journal of respiratory and critical care medicine. 185 (10): 1104–1109. doi:10.1164/rccm.201107-1190OC. 
  11. Tirupathi, R., Bharathidasan, K., Palabindala, V., Salim, S. A., &, Al-Tawfiq, J. A. (2020). "Comprehensive review of mask utility and challenges during the COVID-19 pandemic" (PDF). Infez Med. 28 (1): 57–63. ISSN 1124-9390. 
  12. Dewi, N. A. P., &, Utami, S. (2020). "PERANCANGAN MASKER KAIN SEBAGAI ALAT PELINDUNG DIRI DALAM SISTEM SUSTAINABLE FASHION". Jurnal Da Moda. 1 (2): 32–41. ISSN 2715-0585. 
  13. World Health Organization (6 April 2020). "Anjuran mengenai penggunaan masker dalam konteks COVID-19" (PDF). Diakses tanggal 2 Maret 2021. 
  14. Matusiak, Ł., Szepietowska, M., Krajewski, P. K., Białynicki‐Birula, R., &, Szepietowski, J. C. (2020). "The use of face masks during the COVID‐19 pandemic in Poland: A survey study of 2315 young adults" (PDF). Dermatologic Therapy. 33 (6): 1–8. doi:10.1111/dth.13909. 
  15. Li, D. T., Samaranayake, L. P., Leung, Y. Y., &, Neelakantan, P. (7 Juni 2020). "Facial protection in the era of COVID‐19: A narrative review" (PDF). doi:10.1111/ODI.13460. Diakses tanggal 2 Maret 2021. 
  16. MacIntyre, C. R., &, Wang, Q. (2020). "Physical distancing, face masks, and eye protection for prevention of COVID-19" (PDF). The Lancet. 395 (10242): 1950–1951. doi:10.1016/S0140-6736(20)31183-1.