Lompat ke isi

Masjid Pathok Nagara Ad-Darajat Babadan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Masjid Pathok Nagara Ad-Darajat Babadan
ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦥꦛꦺꦴꦏ꧀ꦤꦒꦫꦧꦧꦢ꧀ꦢꦤ꧀
مسجد ألدرجة
Tampak pintu masuk dari Masjid Pathok Nagara "Ad-Darajat", Babadan
PetaKoordinat: 7°47′55.1472″S 110°23′57.9001″E / 7.798652000°S 110.399416694°E / -7.798652000; 110.399416694
Agama
AfiliasiIslam
ProvinsiDaerah Istimewa Yogyakarta
WilayahBanguntapan, Banguntapan, Bantul
Status keagamaan atau organisasiMasih digunakan
Lokasi
Negara bagianIndonesia
Arsitektur
TipeMasjid
GayaTradisional Jawa
Peletakan batu pertama1774
Kubah1 (mustaka)

Masjid Pathok Nagara Ad-Darajat Babadan, juga dikenal sebagai Masjid Pathok Nagara Kauman Babadan, adalah Masjid Pathok Nagara sisi timur yang terletak di Banguntapan, Banguntapan, Bantul. Masjid ini berstatus milik Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Kagungan Dalem)

Masjid Pathok Nagara Kauman Babadan dibangun pada tahun 1774 oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I. Masjid ad-Darajat terletak di Babadan, Gedhongkuning, Banguntapan, Bantul. Masjid tersebut dibangun di lahan milik Kesultanan dan memiliki luas 120 meter persegi (1.300 sq ft).[1]

Pada masa Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, di samping fungsi masjid tersebut sebagai pusat peribadatan, juga sebagai tempat Pengadilan Surambi, yang bertugas untuk mengurus masalah yang berhubungan dengan hukum agama Islam. Fungsi dari Pengadilan Surambi tersebut mirip dengan pengadilan agama serta kantor urusan agama.[2]

Masjid ini pernah mengalami penggusuran oleh tentara Jepang pada masa pendudukan Jepang di Hindia Belanda tahun 1943 karena lokasi masjid pada saat itu akan digunakan untuk gudang mesiu serta perpanjangan landasan pacu pangkalan udara Jepang.[3] Bangunan asli masjid ini sempat dipindahkan ke Kentungan sehingga jejak bangunannya yang asli hanyalah fondasi. Sejak 1969, Kiai Muthohar, meminta kepada Hamengkubuwana IX untuk membangun kembali Masjid Pathok Nagara di tempat yang sama. Usulan tersebut disetujui dan masjid tersebut diberi nama Ad-Darajat, sesuai dengan nama kecil Hamengkubuwana IX, G.R.M. Darajatun.[2]

Masjid ini telah menjalani rehabilitasi total; terakhir pada tahun 1990 hingga 1995. Hal ini dikarenakan masjid tersebut sering mengalami kelebihan kapasitas terutama saat penyelenggaraan salat Jumat dan salat tarawih.[2]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Hamzah, Slamet; dkk (2007). Masjid-masjid Bersejarah Provinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  2. 1 2 3 Pertana, Pradito Rida. "Ternyata Ini Cerita di Balik Nama Masjid Pathok Nagari Babadan". detikjateng. Diakses tanggal 2023-04-22.
  3. "Masjid Pathok Nagara Ad-Darojat Babadan". kec-banguntapan.bantulkab.go.id. 13-08-2020. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-01-13. Diakses tanggal 12-01-2021. ;

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]