Lompat ke isi

Masjid Pathok Nagara Sulthani Plasakuning

Masjid Pathok Negara Plasakuning
ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦥꦛꦺꦴꦏ꧀ꦤꦒꦫꦥ꧀ꦭꦱꦏꦸꦤꦶꦁ
Tampak perspektif Masjid Pathok Negara Plasakuning
PetaKoordinat: 7°44′9.0784″S 110°24′26.7077″E / 7.735855111°S 110.407418806°E / -7.735855111; 110.407418806
Agama
AfiliasiIslam
ProvinsiDaerah Istimewa Yogyakarta
KepemilikanKesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
Lokasi
LokasiMinomartani, Ngaglik, Sleman
NegaraIndonesia
Koordinat7°45′41″S 110°19′51″E / 7.7614978°S 110.3308701°E / -7.7614978; 110.3308701
Arsitektur
TipeMasjid
GayaTradisional Jawa
Dibangun olehKiai Mursada
Rampung1724
Spesifikasi
Arah fasadKiblat
Kubah1 (mustaka)
Nama resmi: Masjid Pathok Negara Sulthoni
JenisBangunan
Ditetapkan2 September 2010
Nomor referensiKB002660
Nomor SK210/KEP/2010

Masjid Pathok Negara Plasakuning adalah Masjid Pathok Negara sisi utara yang terletak di Jalan Plasakuning Raya No. 99, Minomartani, Ngaglik, Sleman. Masjid ini berstatus sebagai masjid milik Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Kagungan Dalem), serta 12 km dari utara Keraton Yogyakarta.[1] Masjid ini didirikan pada tahun 1724, dengan kepengurusan pertama masjid tersebut dipimpin oleh Kiai Mursada, putra dari Kiai Nur Iman Mlangi.

Nama lain masjid ini adalah Masjid Sulthoni,[1] walaupun ada juga masjid Kagungan Dalem lain dengan nama sama yang terletak di Banguntapan, Bantul.

Gapura di sisi selatan masjid

Nama Plasakuning berasal dari pohon palasa yang dahulu berdiri tegak di selatan masjid. Namun, pohon palasa tersebut sudah tidak ada lagi. Sejak awal, kawasan sekitar Masjid Plasakuning sudah ditetapkan sebagai kawasan mutihan, yakni banyak diisi oleh santri yang benar-benar serius mendalami ajaran agama Islam. Masyarakat Plasakuning terbagi menjadi dua bagian: Plasakuning Jero yang sebagian besar warganya masih keturunan Kiai Mursada, pendiri masjid ini; serta Plasakuning Jaba yang warganya tak memiliki hubungan darah dengan Kiai Mursada.[1]

Kiai Mursada, menurut tradisi turun-temurun masyarakat Plosokuning, adalah anak dari Kiai Nur Iman Mlangi, ulama dan putra Amangkurat IV yang memilih jalan hidupnya sebagai seorang penuntut ilmu agama Islam. Setahun setelah mendirikan Masjid Mlangi pada 1723, ayahnya memintanya untuk membangun satu lagi masjid di sebelah timur, tepatnya di pedukuhan Plasakuning. Antara Geger Pacinan hingga Perang Takhta Jawa Ketiga dan Perjanjian Giyanti, kedua masjid ini sering dijadikan sebagai tempat berlindung dari para pemberontak.[2]

Di masa pemerintah Hamengkubuwana II, masjid ini mendapat renovasi, tepatnya pada tahun 1812. Bangunan masjid ini terkena gempa bumi tahun 1867 yang melanda Yogyakarta, sehingga harus direkonstruksi dua tahun setelahnya. Pada masa Agresi Militer Belanda I dan II, masyarakat memanfaatkan Masjid Pathok Negara Plasakuning sebagai tempat berlindung dari serangan musuh.[3]

Deskripsi bangunan

[sunting | sunting sumber]
Bagian serambi masjid

Arsitektur masjid tersebut masih asli tanpa banyak diubah-ubah. Di depan masjid tersebut terdapat kolam untuk menyucikan diri pada jamaah sebelum masuk masjid. Sementara itu, di belakang masjid terdapat makam. Semua bagian masjid ini termasuk dalam zona inti pelestarian dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya, Masjid Plasakuning juga merupakan masjid yang memperlihatkan bentuk dan komponen masjid Jawa klasik, meski terdapat juga pengubahan dan pengembangan yang dilakukan sehubung dengan kebutuhan umat di zaman sekarang.[4]

Masjid ini berorientasi ke arah kiblat, sehingga saf sejajar dengan bangunan masjid. Bagian dalam masjid sudah dialasi karpet, sedangkan pada serambinya tidak. Makam yang berada di belakang masjid termasuk makam dari pendiri masjid, Kiai Mursada.[5]

Kehidupan sekitar masjid

[sunting | sunting sumber]

Di sekitar Masjid Plasakuning berdiri beberapa pondok pesantren. Pondok-pondok pesantren ini, pada masa lampau, tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan di wilayah tersebut, tetapi juga kekuatan politik di bagian utara dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Saat ini, santri yang banyak belajar di pondok-pondok pesantren tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan ada juga yang berasal dari Dunia Muslim lainnya. Selain pondok pesantren, di sekitar masjid ini juga berdiri beberapa sekolah modern berbasis Islam.[5]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 Setyowati et al. 2017, hlm. 56.
  2. Prasetyo 2016, hlm. 24-25.
  3. Prasetyo 2016, hlm. 25.
  4. Hadi N. & Roychansyah 2018, hlm. 153.
  5. 1 2 Setyowati et al. 2017, hlm. 62-63.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
  • Hadi N., Ardiyanto; Roychansyah, M.S> (2018-09-18). "MENGGALI IDENTITAS KAWASAN MASJID PATHOK NEGORO PLOSOKUNING BERDASARKAN PENDEKATAN COLLECTIVE MEMORY". Jurnal Arsitektur dan Perencanaan (JUARA). 1 (2): 149–167. doi:10.31101/juara.v1i2.774. ISSN 2620-9896.
  • Prasetyo, J.E. (2016). Masjid Pathok Negoro Plosokuning (1724-2014): Kajian Sejarah Arsitektur Jawa (PDF) (S1). Jakarta: Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah.
  • Setyowati, E.; Hardiman, G.; Murtini, T.W.; Surya, V.R.V. (2017). Mengenal Lebih Jauh Masjid Islam Jawa dalam Arsitektur Masjid Pathok Negoro. Yogyakarta: GalangPress. ISBN 9786028620628. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)