Lompat ke isi

Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga
مسجد بسار العتيق ثلاتكا
Agama
AfiliasiSunni - Islam
Lokasi
LokasiJl. K.H. Wahid Hasyim No. 2 Kauman, Sidorejo Lor, Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
Arsitektur
TipeMasjid
GayaJawa - Arab
Dibangun olehKyai Rono Sentiko
Peletakan batu pertama1247 Hijriyah / 1832 Masehi
Biaya konstruksi5.000 Jama'ah
Spesifikasi
Kubah2 Kubah
Menara1 Menara
Tinggi menara27 Meter

Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga atau biasa oleh masyarakat disebut Masjid Kauman Salatiga adalah Masjid Tertua Kedua di Kota Salatiga memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam di Kota Salatiga. Masjid ini terletak di Kampung Kauman tepatnya di Jl. K.H. Wahid Hasyim No. 2 Kauman, Sidorejo Lor, Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia.[1]

Masjid Besar Al-Atiiq Salatiga merupakan masjid bersejarah di Kota Salatiga yang didirikan pada tahun 1247 H / 1832 M sebagaimana manuskrip tulisan arab (١٢٤٧ ه) di Maksura atau Mihrab imam sholat. Dibangun dan didirikan oleh seorang pejuang laskar prajurit Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa (1825-1830) dan seorang abdi dalem Keraton Surakarta pada Masa Pakubuwana VI yakni Kyai Rono Sentiko.[2] Masjid ini telah melalui masa demi masa dalam merekam perkembangan dan situasi zaman, antara lain sebagai berikut:

Masa Penjajahan

[sunting | sunting sumber]

Pada masa penjajahan Belanda masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah dan sosial keagamaan dan sebagai tempat markas para laskar pejuang dalam menyusun strategi gerilya melawan para penjajah Belanda. Selain itu juga, masjid digunakan sebagai Pengadilan Agama. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penerbitan Pasal 134 Ayat 2 IS (Indische Staatsregaling) yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Belanda sebagai landasan formil untuk mengawasi kehidupan masyarakat yang beragama Islam dibidang peradilan yaitu berdirinya Radd Islam. Pada masa penjajahan Jepang, masjid ini masih dipergunakan sebagai tempat peradilan sekitar tahun 1942-1945.[3]

Masa Kemerdekaan

[sunting | sunting sumber]

Pada masa Kemerdekaan Republik Indonesia masjid masih digunakan sebagai Pengadilan Agama sekitar tahun 1945 sampai 1960-an. Pengadilan ini dulu disebut " Pengadilan Serambi " karena menggunakan Serambi Masjid untuk pengadilan dalam memutuskan perkara perdata Islam.[4] Pada tahun 1949 lembaga tersebut diketuai oleh Kyai Irsyam dan 7 Pegawai lainnya. Selain itu, masjid juga digunakan sebagai Kantor Urusan Agama / Departemen Agama (Kini : Kementerian Agama) yang dulu bernama Kantor Perwakilan Departemen Agama Kabupaten Semarang di Kota Salatiga yakni sekitar tahun 1974 sampai dengan 1976 sekitar 3 tahunan dimana lembaga tersebut di kepalai oleh K.H.M. Bakrie Tolhah.[5]

Perubahan Nama

[sunting | sunting sumber]

Masjid ini dulunya bernama Masjid Kauman Salatig kemjdian berubah Masjid Besar Kodya Salatiga. Namun pada tahun 1975an berdasarkan kesepakatan para Ulama dan Kyai di Kauman masjid ini berubah menjadi Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga, penamaan " Al-Atiiq " didasarkan pada bangunan yang antik atau kuno atau masjid bersejarah yang menjadi tonggak perjuangkan penyebaran Islam di Kota Salatiga. Nama tersebut masih dipertahankan sampai sekarang. Perubahannama tersebut juga diikuti dengan perubahan nama jalan, dimana sebelumnya bernama jalan masjid berubah menjadi jalan K.H. Wahid Hasyim atas inisiatif dari Kyai Ahmad Makmuri yang pada waktu itu menjabat sebagai Anggota DPRD.[2]

Arsitektur

[sunting | sunting sumber]

Salah satu hal yang membuat masjid ini antik/kuno adalah arsitekturnya yang memiliki dua pendopo. Pendopo pertama merupakan bagian asli masjid dengan atap Limasan dan empat tiang utama dari kayu jati yang dibalut dengan tembok bercat hijau yang menciptakan suasana adem, tradisional, dan penuh makna. Pendopo kedua adalah bangunan tambahan yang lebih modern dan terdapat sebuah menara setinggi 27 meter dengan nama menara al-Anbiya. Bangunan serambi ini dibangun 2 lantai dengan tujuan untuk menampung jamaah yang lebih banyak. Keempat tiang pendopo serambi ini letak posisinya sama dengan tiang pendopo utama, jadi menciptakan kesinambungan arsitektur yang menawan. Meskipun dari segi bangunan tampak modern, masjid ini masih tetep mempertahankan desain bangunan lama dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan dan serta edukasi sejarah bagi orang yang akan datang.[6]

Perkembangan

[sunting | sunting sumber]

Pengajian Ahad Pagi

[sunting | sunting sumber]

Pengajian Ahad Pagi didirikan dengan tujuan awal sebagai majlis ta'lim untuk memakmurkan masjid dan sekaligus sebagai penggalangan dana untuk renovasi masjid pada tahun 1993 tepatnya didirikan pada Ahad Kliwon tanggal 29 Agustus 1993 yang dipelopori oleh K.H.M. Bakri Tolhah, Drs. K.H.M. Sjatibi bekerjasama dengan Kepala Departemen Agama Kabupaten Boyolali yang waktu itu di kepalai oleh Drs. K.H. Masduqi. Awal pendiriannya belum banyak jamaah yang hadir karena dilaksanakan selapanan (40 hari) sekali, namun setelah sekian kalinya banyak antusias jamaah yg hadir bahkan dari luar Salatiga. Atas saran K.H. Muhlisin (Pengasuh PP. Al-Uswah Gunungpati Semarang) yang merupakan mubaligh yang mengisi pengajian tersebut, agar pengajian dilakukan rutin setiap Ahad/Minggu. Kegiatan tersebut masih eksis dan semakin banyak jamaah yang masih aktif sampai sekarang.[7]

Kegiatan Pendidikan & Fasilitas

[sunting | sunting sumber]
  1. Jamaah Tilawatil Qur'an (JATIQU) Merupakan kegiatan seni membaca Al-Qur'an yang didirikan pada tahun 1970an yang merupakan cabang seni baca Al-Qur'an Semarang dan pendiri Grup Nasyid Nasida ria Semarang pimpinan K.H. Muh Zain. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap hari Ahad pukul 10 pagi sampai azan Dhuhur yang masih berjalan sampai sekarang. Estafet penerus kepemimpinan sekarang dibawah asuhan Ust. Abdul Basit dari Bringin Kabupaten Semarang.[8]
  2. Taman Pendidikan al-Qur'an (TPQ) salah satu upaya pengkaderan dan mencetak generasi yang berilmu adalah terciptanya pendidikan dari usia dini. Oleh karenanya masjid mendirikan tempat belajar mengaji Al-Qur'an dan ilmu agama melalui TPQ. Didirikan sekitar tahun 1975an dengan nama awal TPQ Robbi Rodhiya dibawah pimpinan Bapak Mahbub. Setelah itu tahun 2000an berganti nama menjadi TPQ al-Atiiq yang sekarang dibawah asuhan Ustadzah Wiwin Wigatiningsih.[9]
  3. Remas dan PHBI, Peringatan PHBI dan Remaja Masjid ini saling berkaitan karena setiap kegiatan PHBI disukseskan dengan adanya Remaja Masjid. Kegiatan rutinan tahun seperti Peringatan Tahun Baru Hijriyah, Peringatan Maulid Nabi, Isra Mi'raj, Nuzulul Qur'an, Khitanan Masal, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya.[10]
  4. Ngasor dan Bukber adalah kegiatan ngaji sore dan buka puasa bersama yang dilaksanakan setiap sore selama bulan Ramadhan
  5. Pondok Pesantren Tahfidhul Qur'an (PPTQ) ini didirikan pada 8 September 2019 oleh Drs. K.H.M. Sjatibi dan diresmikan oleh Walikota Salatiga yakni H. Yuliyanto, MM. Pondok ini didirikan dengan tujuan untuk mencetak generasi yang Qur'ani dan Hafidz Qur'an sehingga kedepannya masjid ini ada penerus yang dapat melanjutkan estafet perjuangan para pendahulunya.[11]
  6. Fasilitas Masjid dalam memberikan pelayanan dan kenyamanan pada jamaah masjid terdapat fasilitas pendukung antara lain, tempat parkir luas (mobil dan sepeda motor), tempat wudhu pria dan wanita, kamar mandi/WC pria dan wanita, WC disabilitas, mukena, sarung, kursi disabilitas, CCTV Keamanan, Wifi, ATM Beras, Etalase Jumat Berkah, dan fasilitas pendukung lainnya. Makan Bersama Jumat Pagi setelah Subuh [12]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Sistem Informasi Masjid". simas.kemenag.go.id. Diakses tanggal 2025-11-28.
  2. 1 2 Gumelar, Wahyu (2018). Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga Dalam Perspektif Sejarah Arsitektur dan Pengelolaannya. Salatiga: Jazuli Collection. hlm. 12. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. Gumelar, Wahyu (2018). Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga Dalam Perspektif Sejarah Arsitektur dan Pengelolaannya. Salatiga: Jazuli Collection. hlm. 43–44.
  4. "Sejarah - Pengadilan Agama Salatiga". Diakses tanggal 2025-11-29.
  5. "Sejarah Instansi KanKemenag Kab Semarang – Kantor Kemenag Kab. Semarang" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-29.
  6. admindolan (2024-12-22). "Masjid Al-Atiiq Salatiga, Keindahan Arsitektur dan Jejak Perang Diponegoro". Dolan Salatiga. Diakses tanggal 2025-11-29.
  7. Gumelar, Wahyu (2018). Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga Dalam Perspektif Sejarah Arsitektur dan Pengelolaannya. Salatiga: Jazuli Collection. hlm. 75.
  8. Gumelar, Wahyu (2018). Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga Dalam Perspektif Sejarah Arsitektur dan Pengelolaannya. Salatiga: Jazuli Collection. hlm. 79–80.
  9. Gumelar, Wahyu (2018). Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga Dalam Perspektif Sejarah Arsitektur dan Pengelolaannya. Salatiga: Jazuli Collection. hlm. 81–82.
  10. Gumelar, Wahyu (2018). Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga Dalam Perspektif Sejarah Arsitektur dan Pengelolaannya. Salatiga: Jazuli Collection. hlm. 77–78.
  11. https://sidorejolor.salatiga.go.id/2019/09/09/316/
  12. https://dkm.or.id/dkm/39238/masjid-al-atiq-sidorejo-kota-salatiga.html

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]