Masjid Al Askari

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Masjid Al Askari di Samarra.

Masjid Al Askari (مسجد العكري) adalah sebuah tempat suci Muslim Syi'ah yang terletak di kota Samarra di Irak. Masjid ini adalah salah satu masjid Syiah yang paling suci di seluruh dunia, yang dibangun pada 944. [1] Jenazah Imam Syi'ah yang ke-10 dan ke-11, Ali al-Hadi dan anak laki-lakinya Hasan al-Asykari diistirahatkan di masjid ini. Di situ juga terdapat tempat suci untuk Imam yang ke-12, yaitu Imam yang tersembunyi menurut kepercayaan Syi'ah, Imam Mahdi. Tempat ini juga dikenal sebagai tempat suci untuk Ali al-Hadi, atau al-Hadhrah al-Askariyah.

Kubah emas[sunting | sunting sumber]

Kubah emas masjid ini terakhir sekali dibangun kembali pada 1905. [1] Kubahnya, yang menjulang di kaki langit Samarra, ditutupi dengan 72.000 lapisan emas, ukurannya kira-kira 20 meter dan tingginya 68 meter.

Pengeboman[sunting | sunting sumber]

Pasukan-pasukan Irak bersiap-siap menyerbu Masjid Al Askari, yang saat itu diduduki oleh kaum pemberontak, Oktober 2004

Pada 22 Februari, 2006, 6:55 am dua buah bom diledakkan oleh lima hingga tujuh orang yang berpakaian sebagai anggota Pasukan Khusus Irak [2] yang memasuki tempat suci itu di pagi hari. [3] Ledakan terjadi di dalam masjid itu sehingga menghancurkan kubah emasnya dan merusakkan masjid itu hingga parah. Beberapa orang lelaki, seorang di antaranya mengenakan seragam militer, sebelumnya masuk ke masjid itu, mengingat sejumlah pengawal di sana, lalu memasang bahan-bahan peledak sehingga terjadilah ledakan itu.

Tembok utara masjid rusak oleh bom tersebut dan menyebabkan kubahnya runtuh dan menghancurkan tigaperempat dari bangunan itu. [4] [5]

Setelah ledakan itu, pasukan-pasukan AS dan Irak mengepung tempat suci ini dan mulai memeriksa rumah-rumah di sekitarnya. Lima perwira polisi yang bertanggung jawab melindungi masjid itu ditahan.

Tak satu kelompokpun yang telah menyatakan dirinya bertanggung jawab atas serangan terhadap masjid itu. Kelompok Jaysh-ul-Fatiheen, salah satu kelompok militan Sunni yang aktif dalam pemberontakan Irak, telah mengeluarkan pernyataan yang mengutuk serangan itu dan menyatakan bahwa itu bukanlah perbuatan kelompok Sunni manapun. Mereka mengutip sebuah pesan dalam rekaman baru-baru ini oleh pimpinan kedua Al-Qaeda Ayman Al-Zawahiri, yang melarang serangan-serangan terhadap tempat-tempat suci Syi'ah.

Di Najaf, toko-toko ditutup, sementara penduduk berkumpul di Lapangan Revolusi 1920 untuk melakukan unjuk rasa. Di Diwaniyah, semua masjid, toko, dan pasar ditutup. [6] Pengeboman ini telah menimbulkan protes di seluruh negeri di Irak dan dilaporkan sejumlah serangan balasan dilakukan terhadap kelompok Sunni. [7] Sejumlah 27 masjid Sunni di Bagdad diserang oleh kaum milisi

Reaksi politik[sunting | sunting sumber]

Di Irak[sunting | sunting sumber]

Perdana Menteri Ibrahim al-Jaafari mengeluarkan seruan kepada seluruh rakyat Irak agar tetap bersatu dan menjaga perdamaian, sambil mengatakan bahwa serangan itu adalah upaya untuk memancing kekerasan. [8] Ia juga menyatakan masa berkabung selama tiga hari. [9]

Sebuah organisasi pemerintah yang bernama Dana Abadi Sunni yang memelihara semua masjid dan tempat suci Sunni mengutuk serangan itu.

Di seluruh dunia[sunting | sunting sumber]

Menteri Luar Negeri Britania, Jack Straw menyebut pengeboman itu sebagai suatu "perbuatan kriminal dan mencemarkan agama", sambil menyerukan agar bangsa Irak menahan diri dan menghindari pembalasan.

Duta besar AS untuk Irak Zalmay Khalilzad, dan panglima tertinggi AS di sana, Jenderal George Casey, mengeluarkan suatu pernyataan bersama yang menyatakan bahwa AS akan memberikan sumbangan untuk pembangunan kembali tempat suci itu. [10]

Tanggapan pihak agama[sunting | sunting sumber]

Kantor Ayatollah Agung Ali al-Sistani, pemimpin keagamaan senior di Irak, menyerukan agar rakyat tetap tenang, dan meminta diberlakukannya masa berkabung selama tujuh hari. [11]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]