Maqashid asy-syariah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Maqashid asy-syariah (bahasa Arab: مقاصد الشريعة‎, maqāṣid asy-syarīʿah, "maksud-maksud syariah" atau "tujuan-tujuan syariah") adalah sebuah gagasan dalam hukum Islam bahwa syariah diturunkan Allah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.[1] Menurut para pengusung gagasan ini, tujuan-tujuan ini dapat ditemukan atau disarikan dari sumber utama hukum Islam (yaitu Quran dan Sunnah) dan harus senantiasa dijaga saat memutuskan perkara hukum.[2] Bersama dengan gagasan klasik lainnya yaitu mashlahah (kemaslahatan umum), gagasan ini mulai banyak berperan pada zaman modern.[2][3][4]

Gagasan ini telah ada sejak masa Islam klasik, tetapi pertama kali dijabarkan secara gamblang oleh Al-Ghazali (wafat 1111) yang berpendapat bahwa secara umum tujuan Allah menurunkan hukum Islam adalah demi kemaslahatan umum, dan secara khusus untuk menjaga lima unsur penting dalam kehidupan manusia: agama, hidup, akal, keturunan, dan harta. Ahli fikih sejak masa klasik telah mengakui pentingnya prinsip maqashid asy-syariah dan mashlahah, tetapi terdapat perbedaan pendapat mengenai seberapa besar perannya dalam hukum Islam.[2][4] Sebagian menganggapnya hanya sebagai penalaran tambahan yang cakupannya terbatas dan harus tunduk pada kesimpulan berdasarkan Quran, hadis dan qiyas.[2][5] Sebagian lain menganggapnya sebagai sumber hukum yang berdiri sendiri dan dapat mengesampingkan kesimpulan-kesimpulan tertentu yang berdasarkan pemahaman harfiah terhadap Quran dan hadis.[2] Pendapat terakhir ini tidak banyak dianut ahli fikih masa klasik, tetapi pada zaman modern muncul ulama-ulama terkemuka yang mengusungnya dalam berbagai bentuk. Ulama-ulama modern ini bertujuan menyesuaikan hukum Islam dengan kondisi sosial yang terus berubah dengan tetap berdasarkan tradisi intelektual hukum Islam.[2][6][3] Para ulama ini juga memperluas cakupan maqashid atau tujuan syariah di luar lima maqashid klasik yang diajukan Al-Ghazali. Contohnya adalah reformasi dan hak-hak wanita (oleh Rasyid Ridha), keadilan dan kebebasan (oleh Muhammad Al-Ghazali) serta hak asasi dan martabat manusia (oleh Yusuf al-Qaradhawi).[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Duderija 2014, hlm. 2.
  2. ^ a b c d e f g Duderija 2014, hlm. 2–6.
  3. ^ a b Brown 2009.
  4. ^ a b Gleave 2012.
  5. ^ Opwis 2007, hlm. 66–68.
  6. ^ Ziadeh 2009.

Sumber[sunting | sunting sumber]

  • Brown, Jonathan A. C. (2009). "Maṣlaḥah"Perlu langganan berbayar. Dalam John L. Esposito. The Oxford Encyclopedia of the Islamic World. Oxford: Oxford University Press. 
  • Duderija, Adis (2014). Adis Duderija, ed. Contemporary Muslim Reformist Thought and Maqāṣid cum Maṣlaḥa Approaches to Islamic Law: An Introduction. Maqasid al-Shari’a and Contemporary Reformist Muslim Thought: An Examination. Springer. 
  • Gleave, R.M. (2012). "Maḳāṣid al-Sharīʿa". Dalam P. Bearman; Th. Bianquis; C.E. Bosworth; E. van Donzel; W.P. Heinrichs. Encyclopaedia of Islam (edisi ke-2nd). Brill. doi:10.1163/1573-3912_islam_SIM_8809. 
  • Kamali, Hashim, "Shari'a, Goals and Objectives of", in Muhammad in History, Thought, and Culture: An Encyclopedia of the Prophet of God (2 vols.), edited by Coeli Fitzpatrick and Adam Hani Walker, Santa Barbara, ABC-CLIO, 2014, Vol. II, pp. 552–557. ISBN 1610691776
  • Opwis, Felicitas (2007). Abbas Amanat; Frank Griffel, ed. Islamic Law and Legal Change: The Concept of Maslaha in Classical and Contemporary Legal Theory. Shari'a: Islamic Law in the Contemporary Context (edisi ke-Kindle). Stanford University Press. 
  • Ziadeh, Farhat J. (2009). "Uṣūl al-fiqh". Dalam John L. Esposito. The Oxford Encyclopedia of the Islamic World. Oxford: Oxford University Press. doi:10.1093/acref/9780195305135.001.0001. ISBN 9780195305135.