Mandala Sindangkasih

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Mandala Sindangkasih adalah salah satu Mandala atau Kabuyutan yang disebut dalam Naskah Sunda Kuno (NSK) dalam penelitan Undang A Darsa, Universitas Pajajaran. Mandala Sindangkasih terletak di Gunung Balay, Desa Pancurendang Tonggoh, Kelurahan Babakan Jawa, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Sumber naskah Sunda kuno abad ke-16, Carita Parahyangan mencatat bahwa raja Sunda yang bernama Sang Rakeyan Darmasiksa atau dikenal dengan nama Prabu Darmasiksa, merupakan pendiri lembaga pendidikan di Tatar Sunda pada masa itu. Lembaganya diberi nama Sanghyang Binayapanti, sedangkan kompleks pendidikannya disebut Kabuyutan atau Mandala.

Istilah Mandala menunjukkan terpengaruh Agama Budha. Brangkali ini merupakan perubahan nama dari "Kabuyutan" atau kedua istilah itu digunakan untuk menunjukkan hal yang sama yaitu tempat suci sekaligus tempat menuntut ilmu keagamaan.

Kedudukan Kabuyutan memperoleh tempat yang tinggi sehingga sangat dihormati pada struktur kerajaan dan urang Sunda kala itu. Keberadaan Kabuyutan dianggap sebagai tempat yang sakral dan secara formal perlu dilindungi oleh kerajaan. Pengakuan akan Kabuyutan sebagai daerah khusus dan dilindungi keberadaannya oleh kerajaan terungkap pada Prasasti Kebantenan I, II, III dan IV.

Kabuyutan sebagai lembaga pendidikan sendiri telah menghasilkan berbagai karya tulis yang isinya terutama berkenaan dengan tuntunan hidup manusia di dunia agar selamat di dunia dan akhirat kelak, di antaranya Sewaka Dharma (Koropak 408), Sanghyang Siksakanda ng Karesian (Kropak 624 dan 630), dan Amanat Galunggung (Koropak 632)[1].

Bentukan kata Mandala Sindangkasih dari kata "Mandala" dan "Sindangkasih". Mandala berasal dari bahasa adalah kompleks pendidikan keagamaan, dan Sindangkasih adalah nama tempat di kelurahan Majalengka, Kabupaten Majalengka. Jadi dapat dimaknai bahwa Mandala Sindangkasih adalah Pusat pendidikan keagamaan (Hindu-Buddha) yang berada di Sindangkasih.

Asal-usul Mandala Sindangkasih[sunting | sunting sumber]

Asal mula Mandala Sindangkasih tidak ketahui secara persis. Keberadaanya disebutkan dalam Naskah kuno Sunda (NSK) yang diteliti Undang A Darsa.[2]

Mungkin yang dimaksud adalah nama daerah Mandala, yaitu daerah suci tempat kegiatan keagamaan[3]. Adapun 4 naskah dimaksud adalah: Carita Parahyangan[4], Sanghyang Siksakanda Ng Karesian[5], Sewaka Dharma, dan Bujangga Manik.[6]

Mandala, Ashram, Kabuyutan merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tempat-tempat para Hyang tersebut. Dalam konteks Jawa Barat dan Masyarakat Sunda, kata Kabuyutan lebih sering digunakan untuk menyebut tempat-tempat seperti itu, seperti tercantum dalam naskah-naskah kuno.[7] Ada dua jenis Kabuyutan yang dikenal oleh masyarakat Sunda yaitu: Lemah Dewasasana dan Lemah Parahyangan.[8] Lemah Dewasasana adalah Mandala sebagai tempat pemujaan kepada para Dewa, sedangkan Lemah Parahyangan adalah Mandala sebagai tempat pemujaan Hyang (Danasasmita & Anis Djatisunda, 1986:3).

Nama Sindangkasih dapat dipastikan diambil dari Mandala Sindangkasih. Istilah Mandala menunjukkan terpengaruh agama Budha. Brangkali ini merupakan perubahan nama dari "Kabuyutan" atau kedua istilah itu digunakan untuk menunjukkan hal yang sama yaitu tempat suci sekaligus tempat menuntut ilmu keagamaan.

Mandala Sindangkasih merupakan 1 dari 73 Mandala yang disebut dalam Naskah Sunda Kuno. Dalam pemahaman masyarakat Sunda, tempat suci Mandala dan Kabuyutan sering dipersamakan. Keduanya merupakan tempat Suci bagi masyakat Sunda di tatar Sunda. Bedanya, istilah Kabuyutan mengacu pada Sundayana, Agama Sunda yang kini dikenali Sunda Wiwitan. Sedangkan Mandala atau Kemandalaan dipengaruhi Agama Buddha. Semua tempat suci yang disebut Mandala atau Kemandalaan dapat disebut sebagai kabuyutan, tetapi tidak sluruh Kabuyutan dapat diklasifikasikan sebagai Kemandalaan. Sementara di Tatar Sunda, menurut Undang A Darsa terdapat 800 Kabuyutan.[2] Mandala Sindangkasih dipimpin Gururesi atau Guruloka Wangsa Ungkara. Nama ini sangat khas berasal dari Agama Hindu: Ongkara, Hongkara. Konon, keturunannya menjadi para ulama Islam di Majalengka, sehingga di belakang namanya tidak lagi menggunakan Wangsa Ungkara.

Lemah Diwasasana, mungkin merupakan Mandala bagi para penganut Budha atau Hindu, karena Dewa adalah zat tertinggi (Tuhan) menurut konsep Agama Hindu, yaitu Dewa-Dewa: Brahma, Wisnu dan Siwa yang menyatu menjadi Trimurti. Lemah Parahyangan adalah Mandala bagi para penganut yang lebih memuja kepada para leluhur atau nenek moyang yang telah berlaku sejak jaman Prasejarah (Kebudayaan Megalithikum).

Lemah Parahyangan disebut juga sebagai Kabuyutan Jatisunda. Dari prasasti dan naskah-naskah Sunda kuno dapat diketahui beberapa Mandala di tanah Sunda, antara lain Mandala Sunda Sambawa, Mandala Jayagiri (dari prasasti Kabantenan), Mandala Galunggung (naskah kropak 632), Mandala Gunung Kumbang (naskah kropak 408), Mandala Kanekes, Mandala Denuh (Kropak, Carita Parahyangan)[9].

Berkas:Arca Padmapani dari Majalengka.jpg
Arca Padmapani dari majalengka 2018. Ukuran arca: Tinggi 24 cm, panjang: 14 cm dan lebar: 9 cm

Sesuai dengan isi naskah kropak 408 (Sewaka dharma), agaknya kabuyutan Gunung Kumbang merupakan Lemah Diwasasana. Mungkin Mandala Sindangkasih juga termasuk Lemah Diwasasana. Beberapa artefak diantaranya arca Padmapani yang menunjukkan adanya pengaruh Buddha Tantrayana atau Wajrayana. Semenara itu, sesuai dengan isi kepercayaan orang Kanekes (Baduy), mereka menamai kepercayaannya Sunda Wiwitan dan nama lain lokasi pemukiman mereka serta nama sebuah sungai di daerah itu, yakni Lebak Parahyang dan Ciparahyang, maka Kanekes kiranya sebuah Mandala yang tergolong Lemah Parahyangan.

Warga masyarakat Mandala mengemban tugas untuk melakukan tapa di Mandala, sedangkan warga negara bertugas melakukan tapa di nagara. Tapa disini bukanlah dalam pengertian umum yang berlaku sekarang, yaitu hidup mengaasingkan diri di hutan atau gunung untuk melakukan hubungan dekat denga Zat Maha Tinggi (Dewa/Karuhun/Tuhan) dalam rangka mencari kekuatan lahir dan batin untuk mencapai suatu tujuan. Namun masyarakat Sunda lama memiliki konsep tersendiri mengenai tapa. Naskah kropak 632 menjelaskan mengenai pengertian tapa sebagai berikut:

Carekna patikrama na urang lanang-wadwan. Iya twah iya tapa. Iya twah na urang. Gwareng twah gwareng tapa, Maja twah maja tapa, Ram pes twah, ram pes tapa; apana urang Ku twahna mana beu(ng)har, ku twahna mana waya tapa.”

Artinya:

Menurut ajaran dalam Patikrama (segala adat), bagi kita, laki-laki dan wanita, Amal itu sama dengan tapa. Itulah makna amal pada kita. Buruk amal, buruklah tapa, sedang amal, sedanglah tapa. Sempurna amal, sempurnalah tapa. Kan kita ini karena amal kita dapat menjadi kaya, karena amal pula kita berhasil dalam tapa” (Atja & Saleh Danasasmita, 1981: 31,38).

Dengan kata lain, dalam pengertian Sunda lama, pengertian tapa sama dengan berkerja. Dalam hal ini berkerja menurut tugasnya masing-masing. Bagi orang kanekes sebagai penduduk Mandala, telah melakukan tapa, apabla mereka telah berkerja sesuai denga tugas penduduk Mandala. Bagi orang Sunda warga masyarakat nagara (diluar masyarakat Mandala), telah melakukan tapa, apabila telah berkerja sesuai dengan tugas sebagai penduduk Nagara.

Mandala atau Kabuyutan-kabuyutan di tanah Sunda atau daerah Jawa Barat diduga didirikan pada masa pemerintahan raja Sunda bernama Rakeyan Darmasiksa yang memerintah tahun 1175 sampai 1297 Masehi. Karena raja ini diberitakan telah membangun beberapa Kabuyutan, termasuk kabuyuan Parahyangan, bagi para wiku yang mengajarkan dan mempraktekan ajaran agama Jatisunda dengan berpegang teguh pada Ajaran Dharma dan menjalankan ajaran Sanghiyang Siksa (Atja & Saleh Danasasmita, 1981a: 15, 34-35; 1981b: 49-52).

Mengingat cara hidup di lingkungan Mandala lebih berat dari pada cara hidup di lingkungan Nagara, karena lebih banyak aturan yang bersifat keagamaan berupa perintah dan larangan, maka kiranya penduduk Mandala, termasuk orang Kanekes (Baduy) generasi pertama, merupakan orang-orang pilihan yang memiliki pengetahuan agama, pengalaman rohani dan disiplin diri lebih banyak di bandingkan penduduk Nagara yang umum. Hubungan antara Mandala dan nagara umumnya berlangsung baik, karena kedua pihak saling membutuhkan. Nagara membutuhkan Mandala bagi keperluan dukungan moral dan spiritual serta pemberian do’a restu.[10]

Mandala dianggap oleh Nagara sebagai pusat kesaktian, pusat kekuatan gaib, yang dapat memancarkan pengaruhnya terhadap nagara. Baik atau buruk tergantung hubungan antara Mandala dan Nagara.

Dalam sejarah kerajaan Sunda, seperti yang diungkapkan dalam Carita Parahyangan, tercapainya kemakmuran negara, keamanan masyarakat, kejayaan raja selalu dikaitkan dengan sikap raja yang sangat memperhatikan kehidupan beragama, menjalankan kehidupan yang didasarkan pada aturan agama, atau patokan hidup yang telah ditetapkan oleh para leluhur, termasuk rajanya sendiri, dan menjalin hubungan baik dengan para pemimpin agama, seperti pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1372-1475) dan Sri Baduga Maharaja (1482-1521).

Sebaliknya, jika raja mengabaikan kehidupan beragama, melanggar kehidupan agama atau patokan hidu dari leluhur, dan kaum agama teraniaya, maka kehidupan menjadi susah dan keadaan menjadi kacau-balau, seperti dialami pada masa pemerintahan Prebu Ratu Dewata (1535-1543), Sang Ratu Sakti (1543-1551), Tohaan di Majaya (1551-1567), sehingga akhirnya nagara mengalami kehancuran 12 tahun kemudian (Atja, 1968: 55-58; Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. II, 1984; 367-372).

Mandala memerlukan nagara bagi perlindungan dan keamanan dan memenuhi kebutuhan material . Mungkin atas permohonan pihak pemimpin penghuni Mandala, sehingga Raja Sunda mengeluarkan perintah agar siapapun dilarang mengganggu Mandala Sunda Sembawa dan Mandala Jayagiri berupa menarik pungutan hasil bumi dan pajak. Barang siapa melanggar perintah tersebut akan terkena hukuman (Purbatjaraka, 1920: 390: Sutaarga, 1984: 45).

Betapa pentingnya fungsi dan kedudukan Mandala atau Kabuyutan dalam Konstelasi Kerajaan Sunda. Tampak dari isi kropak 632 yang menyatakan bahwa masih lebih berharga nilai kulit musang di tempat sampah daripada rajaputra (penguasa Negara) yang tidak mampu mempertahankan Kabuyutan atau Mandala, sehingga jatuh ketangan orang lain (Atja & Saleh Danasasmita, 1981: 29, 35). Mandala atau Kabuyutan inilah yang kemudian menjadi inspirasi pendirian Pesantren di Indonesia.

Kata Pesantren berasal dari kata Sastra (bahasa Sansekerta) yang berarti ajaran-ajaran suci dari agama Hindu, sementara Sastri adalah orang yang ahli sastra atau yang mempelajari tentang Sastra (bahasa Sansakerta) yang berarti ajaran-ajaran suci dari agama Hindu. Pesastrian adalah tempat belajar Sastra yang lama kelamaan berubah bentuk pengucapan menjadi "Pesantren".

Bila mengacu ke Kerajaan Talaga Manggung, agama yang dianut di Talaga adalah Buddha Sarwastiwadha. Sepertinya posisi geografis dari Pegunungan Madati yang sejak megalitikum dijadikan pusat religi, menjadi acuan bagi Sang Sudayosa (Batara Gunung Bitung) untuk mendirikan Padepokan Agama Budha Sarwastiwada di Gunung Bitung, yaitu Mandala Bitunggiri atau Mandala Gunung Bitung (Giri berarti Gunung).

Aliran ini diperkatakan mula muncul di rantau Awanti di India. Penggagasnya, seorang bhikkhu bernama Puranna, yang dihormati dalam Mahisasaka Winaya. Penghormatan kepada beliau terdapat dalam sastera ajaran Buddha dalam bahasa Cina. Baca Aliran ajaran Buddha Mahisasaka.

Dalam kurun ke-7 M, bhikkhu I Tsing menggolongkan aliran ini bersama dengan Dharmmaguptaka dan Kasyapiya sebagai cawangan ranting kepada Sarwastiwada dan menyatakan bahwa ketiga aliran ini tak terkenal di lima bagian India tapi tersebar di Oddiyana, Khotan dan Kucha, China. Ciri khas aliran ini, bikkhu menggunakan pakaian berwarna biru. Jadi besar kemungkinan Talaga manggung telah kontak dengan bikkhu dari Tibet atau China sebagaimana beberapa artefak yang tersimpan di Museum Talaga Manggung menunjukkan bukti itu.

Lokasi Mandala Sindangkasih[sunting | sunting sumber]

Berkas:Mandala SIndangkasih Gunung Balay Majalengka.jpg
Lokasi Gunung Balay pada Koordinat 6°51'39.0"S 108°13'14.8"E

Mandala Sindangkasih merujuk pada bukit di sebelah selatan Kota Majalengka sekarang. Berjarak 3 km ke arah selatan. Bukit tersebut disebut "Gunung Balay" oleh masyarakat sekitarnya. Bukit ini berada pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Terletak pada koordinat: 6°51'39.0"S 108°13'14.8"E.

Mandala ini berupa Punden Berundak dengan susunan batu bertingkat. Tersusun dari batuan kekar kolom (Columnar Joint) seperti Priamida Gunung Padang Cianjur. posisi batuan tersusun secara horizontal dan sebagai sudah dibentuk balok-balok halus. Bentuknya mirip dengan piramida Mesir atau khas budaya inca di Peru. Pondasi Mandala berbentuk segiempat dan menghadap Utara - Selatan. Diperkirakan arah pintu masuk (tangga batu) dari arah Utara untuk para Mahawiku, rohaniawan atau pendeta (dalam kitab Siksa Kanda ng Karesian disebut Guruloka). Kondisinya terjal. Sementara untuk masyarakat umum, melalui tangga dari arah Timur yang lebih landai. Di bagian puncak terdapat Lingga khas kepercayaan yang dianut oleh Agama Sunda. Terdapat petilasan pertapaan Gururesi Prabu Guru Adji Putih dari Kerajaan Tembong Agung atau Tembong Ageung yaitu Kerajaan yang menjadi cikal bakal kerajaan Sumedang Larang.[11] Lokasi Gunung Balay ini tidak jauh dari batas wilayah kabupaten Sumedang sekarang. hanya berjarak lebih kurang 2 km ke arah selatan gunung balay terdapat Sungai Cilutung yang merupakan batas kabupaten. Di seberang Cilutung tersebut adalah wilayah Mandala Tembong Agung (Kerajaan Tembong Agung) yang kemudian diubah menjadi Mandala Himbar Buwana.(Kerajaan Himbar Buana) oleh putra PrabuGuru Adji Putih yaitu Prabu Tadji Malela.[12] Himbar buana yang berarti menerangi alam. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Kropak 410 Tadjimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340 - 1350) penguasa di Kawali dan tokoh Surya Dewata, ayahanda Batara Gunung Bitung di Talaga, Majalengka.

Keberadaan Mandala Sindangkasih ditemukan oleh Komunitas Masyarakat Pecinta Arkeologi Sunda (Komara Sunda) Bandung. Keberadaanya didapati berdasarkan naskah Sunda kuno Sanghyang Swawarcinta:[13]

...nemu imah kabuyutan, lemah saki[l]lan pasagi, teherna ngalingga manik, rampés gurindaeu[nu]nana, lamunna diutamakeun, pinahayu dén sang pandita, ditarawas dicacaran, dituaran dipinggiran. Dé(k) dihuru, suga(n)na panas babakna, kaaré panycanagarana. Tuluy diduruk, disasap dimangka linyih, disaraan diradinan, anggeus ma éta sakitu, diilikan dibudiyan, disiaran halana hayuna, yogiya rampés dipahayu, geus ma rampés dipahayu. doraka diprecinta, diwindu diadu-adu, diréka diwalangsanga. Diteukteuk disampuraykeun, ditandé dipasigarankeun, ditiru dijiyeu(n) batur, diréka ti(ng)kah mandala, diririncik diririak, diturunkeun ditaékkeun, dihaeuc-haeuc. beunang ngamanon yuyukeun, ti pinggir ku batu putih, beunang ngala ti na tasik. Wastu beunang nu mahayu, bantar beunang ngadu balay, lemah dikakancanakeun, (ka)was papagét[n]an, Wastu man(a)n di galunggung, ru(m)bay manan di daksina. Katurut di jampang manggung, sarwa deung catih hiyang, kéna tunyjuk mulah carut, sugan sora sagala. Batur ta di jamburaya, ngarann(a) punycak niskala, dibalay[a] sakuli(li)ngna, diawuran (ma)nik a[s]sra, dibaur deung adur omas, diselang disegé sipat, ditilik ti kajauhan, caré(n)tam heuleut-heuleutna. Tajurna sarba kusumah, kusumah ngaraning kembang, handong bang deung ha(n)dong putih, handong lungsir kayu puri(ng), mandakaki jambu danti, wéra tumpang wéra lancar, kembang bulan kembang tanjung, jelag deung manyara parat,

Artinya:

... menemukan rumah kabuyutan.Tanah sejengkal persegi, kemudian ngalingga manik yang bagus kalau diasah, kalau dijadikan keutamaan, diperindah oleh sang pandita, disiangi, dipangkas,ditebangi, diratakan pinggirnya. Akan dibakar, supaya panas tempat tinggalna, terkuasai mancanegaranya. Kemudian dibakar,diratakan supaya bersih, disapukan dan dibersihkan. Setelah selesai itu, diamati diperhatikan, dicari buruk dan baiknya.Pantas, baik, diperindah, sudah baik tambah diperindah. Pintunya diperbagus. Berdampingan diluruskan. Direka-reka seperti walangsanga. Dipotong dibiarkan tergerai, dionggokkan seperti belahan kayu, ditiru seperti pertapaan,direka seperti mandala, ditetesi diririak, diturunkan dinaikkan dipercepat. Hasil menggubah seperti mata kepiting, dari samping dengan batu putih, hasil mengambil dari danau. Nyata hasil memperindah, bantar hasil ngadu balay, tanahnya dibuat seperti emas, seperti ukiran. Lebih jelas daripada di Galunggung, lebih panjang daripada di selatan. Ditiru di Jampangmanggung, Sama dengan catih hiyang, karena petunjuk jangan disalahkan, barangkali merendahakan semua. Pertapaan di Jamburaya, Namanya puncak niskala, dipagari batu sekelilingnya, ditaburi manik asra, dicampur dengan adur emas, diselingi dilihat dari kejauhan, gemerlapan warna-warni. Kebunnya serba bunga-bungaan, kusumah nama bunganya, hanjuang merah dan hanjuang putih, hanjuang lungsir, kayu puring, mandakaki, jambu danti, wera tumpang, wera lancer, kembang bulan, bunga tanjung, jelag dan manyara parat,

Carita Parahyangan (naskah Sunda kuno akhir abad ke-16) mencatat, raja Sunda yang bernama Sang Rakeyan Darmasiksa atau dikenal dengan nama Prabu Darmasiksa, merupakan pendiri lembaga pendidikan di tatar Sunda pada masa itu. Lembaganya diberi nama Sanghyang Binayapanti, sedangkan kompleks pendidikannya disebut Kabuyutan atau Mandala.

Meskipun awalnya Mandala merupakan sebuah tempat suci keagamaan, namun penyebutannya mencakup ke dalam wilayah yang lebih luas. Kota Majalengka sekarang dahulu disebut Sindangkasih. Hingga abad ke-18 - abad ke-19, Setidaknya dalam buku "Tijdschrift voor neërlands indie" tahun 1844 masih menyebut kota Sindangkasih, bukan Majalengka.[14] kota Majalengka masih disebut Sindangkasih sebagaimana dicatat dalam buku Haan, Frederik: I. "Commentaar § 1-1500. II. Staten en Tabellen", 1912 mengaskan bahwa Sindangkasih yang dimaksud adalah Majalengka. Buku ini merupakan komentar atau review sejarah penyerangan Mataram ke Batavia dari sudut pandang Belanda. Kejadian ini pada 17 Juni 1741.[15] Yang paling tegas menyebutkan pada buku "Handleiding bij de beoefening der land- en volkenkunde van Nederlandsch-Oost Indie" lebih jelas dan tegas bahwa kota Majalengka sekarang adalah Sindangkasih.[16]

Mandala dalam Hindu-Buddha[sunting | sunting sumber]

Berbagai sumber sejarah sering menyebutkan Kerajaan di Tatar Sunda bercorak Hindu-Budha. Meskipun beberapa kalangan membantah bahwa Urang Sunda tidak menganut agama Hindu-Buddha. Namun demikian beberapa tinggalan sejarah Sunda menunjukkan sebaliknya. Istilah Mandala mengacu pada ajaran hindu-Buddha, bahkan Naskah kuno "Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian" menunjukkan adanya ajaran Hindu-Buddha.

Mencermati lebih dalam, dari nama naskah kuno yang kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dengan nomor registrasi L-624 (nipah) dan L-630 (Lontar) memberikan judul naskah "Siksa Kanda ng Karesian" Kata "Siksa" dari kata "Sikhsa" yang diartikan dalam Teologi Sunda sebagai Ajaran dan ini berasal dari Agama Hindu, turunan dari Weddangga.

Ayatroahedi, peneliti budaya Sunda menulis dalam buku "Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Buddha Dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno (Abad Ke-14—16 M)", memaparkan adanya pengaruh Hindu-Buddha (sinkretisme). Seperti dijelaskan di atas, Naskah (dibaca "Kitab") Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian, selain diwarnai Hindu juga ada banyak istilah Buddha di dalamnya. Contohnya, istilah pancatatagata (pancathathagatha) berasal dari agama Buddha.[17]

Dalam sumber lain, dikatakan bahwa rupanya pengaruh agama Hindu-Buddha di tatar Sunda tidak sampai menyentuh masyarakatnya atau rakyat di kerajaan-kerajaan Sunda-galuh. Konon, hanya raja dan para bangsawan kerajaan saja yang menganut agama Hindu-Buddha. Prabu Siliwangi sebagai Raja Sunda-Galuh Pajajaran, konon menganut agama Buddha tetapi kemudian kembali ke agama leluhurnya yaitu Agama Sunda. Kembalinya Prabu Siliwangi "kepangkuan" agama Sunda sangat diapresiasi rakyat Sunda Pajajaran. Oleh karena itu, nama Prabu Siliwangi sangat melekat di hati rakyat Kerajaan Pajajaran. Informasi ini bisa diakses dalam naskah kuno Carita parahyangan.

Makna Politik Mandala Dalam pengertian historis, sosial dan politik, istilah "mandala" juga digunakan untuk menunjukkan formasi politik tradisional Asia Tenggara (seperti federasi kerajaan atau negara-negara yang dilecehkan). Ini diadopsi oleh para sejarawan Barat abad ke-20 dari wacana politik India kuno sebagai sarana untuk menghindari istilah 'negara' dalam pengertian konvensional. Tidak hanya negara-negara Asia Tenggara yang tidak sesuai dengan pandangan Cina dan Eropa tentang negara yang ditetapkan secara teritorial dengan perbatasan tetap dan aparatur birokrasi, tetapi mereka berbeda jauh dalam arah yang berlawanan: pemerintahan didefinisikan oleh pusatnya daripada batas-batasnya, dan itu bisa tersusun dari banyak pemerintahan jajahan lainnya tanpa mengalami integrasi administratif. Kerajaan seperti Bagan, Ayutthaya, Champa, Khmer, Sriwijaya dan Majapahit dikenal sebagai "mandala" dalam pengertian ini

"Rajamandala" (atau "Raja-mandala"; lingkaran negara) dirumuskan oleh penulis India Kautilya dalam karyanya tentang politik, Arthashastra (ditulis antara abad ke-4 dan abad ke-2 SM). Ini menggambarkan lingkaran negara sahabat dan musuh yang mengelilingi negara raja.

Mandala Sindangkasih dan Kerajaan Sindangkasih[sunting | sunting sumber]

Kerajaan dan wilayah Jawa Barat tidak dapat dipisahkan dari kata Sunda. Pada mulanya kata “Sunda” atau “Suddha” dalam Bahasa Sanskerta diterapkan pada nama sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat Pulau Jawa yang dari jauh tampak putih karena tertutup abu asal gunung tersebut (Gonda, 1973: 345-346).

Kerajaan Sindangkasih disebutkan dalam berbagai naskah Babad di tanah Sunda. Pandangan masyarakat Sunda bahwa kemandalaan seringkali disebut sebagai kerajaan. Pandangan ini muncul karena struktur kemandalaan yang juga memiliki prajurit pengamanan seringkali diersamakan dengan kerajaan. Termasuk Kemandalaan Sindangkasih.

Kesulitan pengertian dalam historiografi modern Barat, struktur kerajaan adalah sebuah struktur badan, wilayah dan administratif. Pandangan ini berbeda bagi masyarakat Nusantara. Bisa kita cermati bahwa Kerajaan Sriwijaya, Majapahit dan Tarumanagara juga disebut Mandala.

Beberapa Mandala atau kemandalaan di tatar Sunda ada yang berkembang menjadi kerajaan. Misalnya Mandala Indraprahasta menjadi Kerajaan Indraprahasta; Mandala Wanagiri menjadi Kerajaan Wanagiri; Mandala Kendan menjadi Kerajaan Kendan dengan rajanya yang termashur Gururesi atau Rajaresi Manik Maya berlokasi di Rancaekek kabupaten Bandung sekarang dan banyak lagi contoh lainnya.

Rupanya Mandala Sindangkasih tidak tercatat berubah menjadi Kerajaan, kecuali dalan Naskah Babad yang menyebutkan Kerajaan Sindangkasih yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Nyi Rambut Kasih. Pemberian nama Majalengka atau dari mana asal usul Majalengka masih menjadi misteri, Nama Majalengka menurut Legenda adalah ucapan ‘Majane Langka” dari pasukan Cirebon serta Pangeran Muhammad dan Siti Armilah ketika tidak menemukan buah Maja setelah Hutan Pohon Maja dihilangkan oleh Nyi Rambut Kasih, Ratu Kerajaan Sindangkasih. Dalam Buku Sejarah Majalengka Karya N. Kartika yang mewawancarai Budayawan Ayatrohaedi, Nama Majalengka bila diartikan dalam bahasa Jawa Kuno yaitu kata ‘Maja’ merupakan nama buah dan kata ‘Lengka’ yang berati pahit, jadi kata 'Majalengka' adalah nama lain dari kata Majapahit.

Dalam masa pemerintahan Dipati Ukur, Sindangkasih disebut sebagai Umbul Sindangkasih. Istilah umbul setara dengan Kabupaten sekarang. Catatan dari Kerajaan Sumedanglarang bahwa Sindangkasih merupakan bagian dari wilayah kerajaannya.

Mitos Nyi Rambut Kasih[sunting | sunting sumber]

Siapakah penguasa Kerajaan Sindangkasih? Ki Gedeng Sindangkasih yang berasal dari kata Gede Ing Sindangkasih. Artinya Pembesar/Pemimpin di Sindangkasih. Itu bukan nama orang tetapi sebutan saja. Sama halnya dengan sebutan Siliwangi. hal ini telah menjadi budaya di Sunda bahwa menyebut nama orang apalagi pembesar adalah Tabu. Tidak percaya? Coba saja perhatikan di lingkungan kecil saja di sekitar rumah kita, ada Guru bernama Momon, kita segan menyebut Pak Momon, tetapi Pak Guru Momon atau Pak Guru saja. Pun demikian kita menyebut Pak haji atau Bu Haji, Pak Kuwu atau Pak Kades, pak Ulis, Pak Kuncen dan Pak Kopral serta lain sebagaianya. Kita merasa lebih "pas" menyebut jabatannya daripada namanya. Begitu pula orang yang disapa akan merasa dihormati.

Inilah yang menyulitkan menelusuri sejarah Sunda di wilayah pedalaman (tengah pulau) termasuk Sindangkasih. Sumber-sumber luar seperti dari Catatan Musafir China, Portugis dan Arab bisa menjadi sumber sejarah (Proto-Sejarah). Catatan Belanda bisa menjadi sumber sejarah, karena dianggap bersumber dari dalam negeri. Keberadaan Sindangkasih merujuk wilayah Kota Majalengka Sekarang ada dalam tulisan catatan Belanda mengenai perjalan selama masa perkebunan kopi: Namun tdak menyebutkan secara jelas bahwa Sindangkasih adalah kerajaan, tetapi Sindangkasih adalah Kota Majalengka sekarang.

Kembali ke Mandala atau kabuyutan. Sepertinya, Sindangkasih hanya berupa Kamandalaan atau Kabuyutan yang Bercorak Agama Hyang (Darma), Buddha atau Hindu. Meskipun dalam berbagai legenda diceritakan bahwa Nyi Rambut Kasih bergamana Hindu. Berawal dari rencana mengunjungi Kerajaan Talaga Manggung, namun niat ini dibatalkan karena kerajaan Talaga telah beragama Islam.

Mandala Sindangkasih dalam Wilayah Tatar Ukur[sunting | sunting sumber]

Sindangkasih merupakan salah satu umbul dalam pemerintahan Bupati Wedana Dipati Ukur. Dipati Ukur (Wangsanata atau Wangsataruna) adalah seorang bangsawan penguasa Tatar Ukur pada abad ke-17.

Tatar dalam bahasa Sunda berarti tanah atau wilayah. Sedangkan dipati (adipati) adalah gelar bupati sebelum zaman kemerdekaan.Dipati Ukur adalah Bupati Wedana Priangan yang pernah menyerang VOC di Batavia atas perintah Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada tahun 1628. Serangan itu gagal, dan jabatan Dipati Ukur dicopot oleh Mataram. Untuk menghindari kejaran pasukan Mataram yang akan menangkapnya, Dipati Ukur dan pengikutnya hidup berpindah-pindah dan bersembunyi hingga akhirnya ditangkap dan dihukum mati di Mataram. Umbul Sindangkasih yang dipimpin Ki Somahita atau Tumenggung Tanubaya terlibat dalam penangkapan Dipati Ukur.

Tumenggung Tanubaya (ki Somahita) menjadi Umbul Sindangkasih, yaitu Garda pertahan Mataram di Tatar Pasundan yang merupakan Wilayah Ukur dengan Bupati Wedana Dipati Ukur. Umbul Sindang Kasih adalah 1 dari 3 Umbul wilayah Ukur yang tidak patuh pada Dipati Ukur, hingga melaporkan Dipati Ukur ke Sultan Agung Mataram. Tumenggung Tanubaya menjadi Bupati di Kabupaten Parakanmuntjang dan membawahi Sindangkasih. Selanjutnya Parakanmuntjang oleh pemerintah kolonial Belanda digabungkan menjadi Kabupaten Sumedang.[18]

Sesepuh dan Budayawan Majalengka, Deddy Ahdiat pernah menggali asal usul Kota Majalengka secara supranatural yang diliput SCTV dalam program Potret, dan dikatakan bahwa Majalengka adalah Mataram peralihan. Awalnya membingungkan, ternyata benar bila mengikuti kisah penangkapan Dipati ukur tahun 1632.

Penangkapnya adalah tiga umbul dari Priangan Timur, yaitu Umbul Sukakerta (Ki Wirawangsa) atau Tumenggung Wiradadaha, Umbul Cihaurbeuti (Ki Astamanggala) atau Tumenggung Wirangunangun dan Umbul Sindangkasih (Ki Somahita) atau Tumenggung Tanubaya. Dipati Ukur kemudian dibawa ke Mataram dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati pada tahun 1632.

Berdasarkan data yang dikirimkan Raja Kerajaan Sumedang Larang, PrabuRangga Gempol III pada masa VOC, maka kekuasaan Prabu Geusan Ulun meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung.

  • Batas di sebelah Timur adalah Garis Cimanuk - Cilutung ditambah Sindangkasih (daerah muara Cideres ke Cilutung).
  • Di sebelah Barat garis Citarum - Cisokan.
  • Batas di sebelah Selatan laut.
  • Namun di sebelah Utara diperkirakan tidak meliputi wilayahnya karena telah dikuasai oleh Cirebon.

Petilasan[sunting | sunting sumber]

  • Petilasan pertapaan Gururesi Prabu Guru Adji Putih di Gunung Balay Pancurendang Majalengka
  • Petilasan Nyi Rambut Kasih di Leuwilenggik, desa Sindangkasih Kabupaten Majalengka

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Atja dan Sakeh Danasasmita. 1981. Amanat Dari Galunggung: Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong-Garut. Bandung: LKUP.
  2. ^ a b "Dr. Drs. Undang Ahmad Darsa, M.Hum., "Local Wisdom Tidak Begitu Bermanfaat Tanpa Local Genius" - Universitas Padjadjaran". Universitas Padjadjaran. Diakses tanggal 2018-04-02. 
  3. ^ Danasasmita & Anis Djatisunda, "Studi tentang Penggunaan Ruang dalam Kehidupan Komunitas Baduy Desa Kanekes Kec Leuwidamar Kabupaten lebak banten: Makalah Universitas Indonesia" tahun 1986 Hal. 2-7
  4. ^ Atja,. Tjarita Parahijangan: Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ka-16 Masehi. 1968. Bandung: Jajasan Kebudajaan Nusalarang.
  5. ^ Atja dan Sakeh Danasasmita,Sanghyang Siksakanda ng Karesian: Naskah Sunda Kuno Tahun 1518 Masehi. 1981. Bandung: Proyek Permusieuman Jawa Barat.
  6. ^ Noorduyn, J. "Bujangga Maniks journeys through Java; topographical data from an old Sundanese source" In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 138 (1982), no: 4, Leiden, Hal. 413-442
  7. ^ Ayatrohaedi. "Kepribadian budaya bangsa (local genius)" Tahun: 1986. Jakatar: Dunia Pustaka jaya
  8. ^ Luthfiyani, Lulu (2017). Kamus Genggam Bahasa Sunda. Yogyakarta: Frasa Lingua. ISBN 978-602-6475-27-5.
  9. ^ Atja dan Sakeh Danasasmita, Carita Parahyangan: Transliterasi, Terjemahan dan Catatan. 1981. Bandung: Proyek Pengembangan Permusieuman Jawa Barat.
  10. ^ Sucipto, Toto; Limbeng, Julianus (2007-01-01). Studi Tentang Religi Masyarakat Baduy di Desa Kanekes Provinsi Banten. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 
  11. ^ "Kabupaten - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia". www.kemendagri.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-04-02. 
  12. ^ Ciburuan, Sinatria Kampung. "Sejarah Ringkas Kabupaten Sumedang - Kabupaten Sumedang". Kabupaten Sumedang. Diakses tanggal 2018-04-02. 
  13. ^ Gunawan, Aditia. "(With Wartini et. al) 2011 Sanghyang Swawarcinta: Teks dan Terjemahan" (dalam bahasa Inggris). 
  14. ^ "Gevonden op Delpher - Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2018-04-02.  horizontal tab character di |title= pada posisi 23 (bantuan)
  15. ^ Developers, SBB. "http://digital.staatsbibliothek-berlin.de/werkansicht?PPN=PPN685223728&PHYSID=PHYS_0495&view=fulltext-parallel&DMDID=DMDLOG_0001". digital.staatsbibliothek-berlin.de. Diakses tanggal 2018-04-02.  Hapus pranala luar di parameter |title= (bantuan)
  16. ^ Developers, SBB. "http://digital.staatsbibliothek-berlin.de/werkansicht?PPN=PPN683169181&PHYSID=PHYS_0267&view=fulltext-parallel". digital.staatsbibliothek-berlin.de. Diakses tanggal 2018-04-02.  Hapus pranala luar di parameter |title= (bantuan)
  17. ^ Ayatrohaedi. "Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah Panitia Wangsakerta Cirebon." Pustaka Jaya, 2005.
  18. ^ "(EN) Archive of the Governor-General and Councillors of the Indies (Asia), the Supreme Government of the Dutch United East India Company and its successors (1612 - 1811)". sejarah-nusantara.anri.go.id. Diakses tanggal 2018-04-02. 

Lihat juga[sunting | sunting sumber]