Maksiat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)

Sayyi’ah, khathi’ah, dzanbun, dan itsmun; empat istilah ini memiliki arti yang berdekatan, yaitu maksiat. Maksiat bisa disebut sayyi’ah, bisa disebut khathi’ah, bisa disebut itsmun, bisa juga disebut dzanbun. Semua sinonimnya, memiliki makna yang berdekatan. Yang wajib dilakukan adalah mewaspadainya. Maksiat seperti ghibah, bisa disebut dzanbun, bisa disebut maksiat, bisa juga disebut khathi’ah.

Dengan demikian, setiap mukmin wajib menjauhi segala yang Allah haramkan baginya. Baik dia sebut dosa, itsmun, khati’ah, atau maksiat. Menghindari semua perbuatan buruk yang Allah haramkan. Baik dinamakan khathi’ah, sayyi’ah, maksiat, atau itsmun. Semua harus diwaspadai atau dijauhi, karena semua itu adalah nama untuk segala yang Allah larang.

Kesimpulan: 1. Dalam syariat, maksiat boleh disebut sayyi’ah, khathi’ah, itsmun, atau dzanbun. Semua itu mirip, sinonim. 2. Semua perbuatan yang disebut dengan istilah tersebut adalah perbuatan yang wajib dijauhi. 3. Contoh maksiat: ghibah (bergunjing, gosip). 4. Setiap mukmin wajib menjauhi setiap hal yang diharamkan Allah, baik itu disebut dzanbun, itsmun, khathi’ah, atau pun maksiat. Semua buntuk keburukan yang Allah haramkan itu wajib dihindari.




Referensi[sunting | sunting sumber]

Disarikan dari fatwa Syekh Abdul ‘Aziz bin Baz di http://www.binbaz.org.sa/mat/10483