Makkah Royal Clock Tower

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Makkah Royal Clock Tower, dalam Bahasa Indonesia berarti Menara Jam Megah di Kota Mekkah yang merupakan bagian dari hotel di Masjidil Haram

Makkah Royal Clock Tower adalah salah satu bagian gedung dari hotel Makkah Royal Clock Tower - Fairmont Hotel dan termasuk dalam komplek Abraj al Bait. Letaknya berada di depan Masjidil Haram dengan ketinggian sebesar 601 m. Menara yang semula akan dibangun dengan ketinggian 743 meter ini merupakan bangunan menara jam terbesar di dunia, bahkan mengalahkan "Big Ben" di London. Bangunan ini juga bangunan kedua tertinggi di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai.

Menara[sunting | sunting sumber]

Muka Jam[sunting | sunting sumber]

Bentuk menara jam ini sangat mirip dengan menara jam raksasa Big Ben di London, tetapi ukurannya lebih besar 3 kali lipat. Jam pada menara tersebut pada malam hari akan berwarna hijau bisa dilihat dari jarak 17 km, sedangkan pada siang hari akan berwarna putih dan masih bisa dilihat dari jarak 12 km. Dua juta lampu LED dibawah jam dinyalakan lima kali sehari sebagai pertanda waktu shalat. Lampu ini bisa terlihat terangnya sampai 28 kilometer. Setiap bagian bawah dari semua sisi jam (ada 4 sisi) bertuliskan tulisan Arab yang bermakna kaligrafi, shalawat, dan kalimat dalam bahasa Arab. Dan, pada atap menara terdapat tulisan dalam bahasa Arab yang bertuliskan الله yang berartikan Allah, tuhan umat Islam.

Makkah Royal Clock Tower dilihat dari Masjidil Haram pada malam hari.

Hotel[sunting | sunting sumber]

Komplek Abraj al Bait ini seluruhnya memiliki 3.000 kamar hotel dan apartemen ditambah 20 lantai pusat perbelanjaan dan tempat parkirnya sanggup menampung 1000 mobil. Pembangunan komplek Abraj al Bait ini dikerjakan oleh grup Bin Laden, perusahaan konstruksi terbesar di Arab Saudi. Tujuannya antara lain agar Makkah mampu menampung 10 juta jamaah haji. Saat ini Makkah hanya mampu menampung sekitar 3 juta jamaah.

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Kritik terhadap Pembangunan[sunting | sunting sumber]

Pembangunan gedung ini banyak dikritik oleh beberapa tokoh. Beberapa di antaranya adalah seperti yang ditulis oleh Gunawan Mohammad dalam Catatan Pinggir-nya. Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research Foundation di London kepada The Guardian menyebut pembangunan tersebut sebagai “It is the end of Mekkah“.

Sementara Sami Angawy, arsitek pendiri Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah memandang transformasi yang berlangsung Makkah berada di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. “Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam. Bahkan mereka renggut gunung dan bukit.”

Pembangunan Abraj al Bait ini juga sempat menimbulkan ketegangan antara pemerintah Arab Saudi dan Turki karena harus menggusur Benteng Ajyad yang dibangun oleh Keraajaan Turki Usmani pada tahun 1781. Pembangunan benteng ini dimaksudkan untuk melindungi Ka’bah dari serangan pihak luar. Menurut masyarakat, komplek Abraj Al Bait adalah bangunan yang “mengganggu” di kota Mekkah. Komplek ini sangat kontras dengan keberadaan Masjidil Haram dengan bangunan Ka’bahnya yang tepat berada tepat di bawahnya.

Makkah Royal Clock Tower dalam proses pembangunan. Gambar diambil dari ketinggian tertentu.

Sejak 14 abad yang lalu bangunan masjid merupakan simbol dari kesetaraan, kesederhanaan dan kerendahan manusia di hadapan Allah SWT. Sementara Abraj al Bait adalah simbol hedonisme dan kemewahan. Bangunan ini juga terkesan a-historis.

Umat Islam pun menyayangkan pembangunan Abraj al Bait. Akibat dari pembangunan ini banyak umat Islam yang sedang beribadah di Mekkah, menuju Bin Dawuud yang merupakan mall dan supermarket yang berada di lingkungan komplek Abraj Al Bait tersebut.

Dalam bayangan ideal masyarakat, seharusnya bangunan yang paling bagus dan paling tinggi yang didirikan di Makkah adalah bangunan Masjidil Haram lengkap dengan menara-menaranya, bukan bangunan yang lain. Sementara tanah-tanah di sekitar masjid dibiarkan menjadi lapangan terbuka. Sejauh-jauh mata memandang, pemandangan yang paling menonjol adalah bangunan Masjidil Haram.

Yang terjadi sekarang justru sebaliknya, Masjidil Haram terlihat seperti miniatur yang berada di tengah Abraj Al Bait. Keanggunan dan kesederhanaan Masjidil Haram terkesan tertutup dengan kemegahan Abraj Al Bait.

Tanda Kiamat?[sunting | sunting sumber]

Dalam sudut pandang agama Islam, banyak bermunculannya gedung-gedung pencakar langit di seluruh dunia sebenarnya adalah termasuk salah satu tanda datangnya hari kiamat. “Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia berlomba-lomba meninggikan bangunan. ”, begitu sabda Nabi Muhammad SAW.

Ibnu Hajar, salah seorang ulama hadits menerangkan bahwa makna salah satu makna berlomba-lomba meninggikan bangunan adalah setiap orang ingin rumahnya lebih tinggi lagi daripada yang lainnya. Makna lainnya adalah berbangga-bangga dgn memperhias & memperindah bangunan atau makna lain yang lebih umum dari itu.

Sumber[sunting | sunting sumber]