Lompat ke isi

Maharani Wisma Susana Siregar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Maharani Wisma Susana Siregar
Lahir5 Juni 1925 (umur 100)
Liverpool, Inggris
KewarganegaraanBelanda
Indonesia
Pekerjaan
  • Aktivis kemerdekaan
Suami/istri
    Firdaus Harahap
    (bercerai)
    (m. 1963)
      (m. 1958; bercerai 1962)
      Anak5

      Maharani Wisma Susana Siregar (lahir 5 Juni 1925) adalah istri kelima Sukarno, Presiden Indonesia pertama, dari 1958 sampai 1962.

      Kehidupan awal

      [sunting | sunting sumber]

      Siregar lahir pada 5 Juni 1925 di Liverpool, Inggris, putri dari pasangan Nuriah Sabiah Nasution dan Hasan Basari Siregar, seorang pegawai negeri.[1] Ia pandai balet dan bernyanyi, dan belajar di Uni Soviet.[1]

      Kehidupan pribadi

      [sunting | sunting sumber]

      Siregar diperkenalkan kepada Presiden Sukarno, seorang teman ayahnya pada masa kecil.[1] Orangtuanya menolak usulan pernikahannya karena mereka tak ingin ia berada dalam pernikaahn poligami.[1] Siregar kemudian menikahi Firdaus Harahap, seorang kepala polisi Nusa Tenggara Timur, dan mereka memiliki tiga putri: Roswita, Linda, dan Mona.[1] Sukarno kemudian memindahkan keluarganya ke Jakarta dan mengirim Hoegeng Iman Santoso, Sutan Sjahrir, dan Hamengkubuwono IX agar membujuk Harahap untuk menceraikan Siregar.[1] Sukarno berusia 23 tahun lebih tua darinya, dan kemudian mendapatkan seorang putri darinya, Siti Aisyah Margaret Rose, yang menjadi seorang bankir.[1] Mereka menjalani waktu mereka dengan berjalan santai di Istana Bogor dan menyantap telur mata sapi yang dimasak olehnya.[2] Kala Sukarno menikahi Naoko Nemoto pada 1962, Siregar menceraikannya.[1] Ia kemudian menikah lagi dengan Harahap dan melahirkan putri lainnya, Meli.[1]

      Gerakan kemerdekaan Indonesia

      [sunting | sunting sumber]

      Dalam menentang kolonialisme Belanda, ia merobek bendera Belanda dan menggantinya dengan bendera Indonesia, yang membuatnya meraih sebuah penghargaan.[1] Setelah itu, kehidupannya jarang dibahas.[1]

      Dalam wawancara pada 2010, Siregar menyatakan bahwa ia merasa sedih melihat kondisi miskin rakyat Indonesia, yang memotivasikannya untuk mengadopsi kehidupan sederhana.[2] Ia menyerahkan warisan Sukarno kepada anak-anaknya sendiri dan anak-anak yatim piatu, dan berharap untuk dikebumikan di sampingnya kala ia meninggal.[2]

      Referensi

      [sunting | sunting sumber]
      1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Liputan6.com (2014-08-05). "Siti Aisyah Soekarno Putri: Saya Putri Bung Karno, Tapi Takut..." liputan6.com. Diakses tanggal 2023-12-09. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
      2. 1 2 3 Okezone (2010-09-06). ""Bung Karno Suka Makan Telor Mata Sapi" : Okezone Nasional". nasional.okezone.com/. Diakses tanggal 2023-12-09.