Lompat ke isi

Madurai Viran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Madurai Viran
Dewa kesatria dari Madurai
Arca Madurai Viran yang diapit oleh para permaisurinya, dibuat pada abad ke-16.
Nama lainViran (Veeran)
Genderpria
AfiliasiGramadewata
PustakaMaduraiveeraswamikathai
Senjatapedang atau aruval
Wahanakuda putih
Pemujaan
Dipuja umatHindu Tamil
Etnissuku Tamil
DaerahMadurai, India Selatan

Madurai Viran (bahasa Tamil: மதுரை வீரன்), atau disebut Viran saja (bahasa Tamil: வீரன்), adalah nama salah satu dewa dalam kepercayaan Hindu Tamil, yang mendominasi India Selatan. Namanya secara harfiah berarti "kesatria dari Madurai". Dia berasal dari figur sejarah dan legenda Tamil, yang kemudian didewakan untuk mengenang perjuangan dan jasanya terhadap masyarakat Tamil.

Menurut pusataka Maduraiveeraswamikathai dalam bahasa Tamil, Viran lahir sebagai anak kesatria yang dibuang oleh orang tuanya, lalu diasuh oleh pasangan suami-istri dari masyarakat Arunthathiyar (kasta rendah). Setelah dewasa, dia bekerja sebagai prajurit istana Raja Bommanna Nayakan. Dia jatuh cinta kepada Bommi, putri sang raja, lalu mereka berdua memutuskan kawin lari. Dalam pelarian, Bommanna Nayakan dan pasukannya mengejar Viran, tetapi mereka kalah dan Bommanna gugur di tangan Viran. Akhirnya Viran dan Bommi sampai di Tiruchirappalli. Di sana, Viran menumpas kelompok penjahat yang meneror kota sehingga mengharumkan namanya.

Ketenarannya sampai ke Madurai yang saat itu dipimpin Raja Thirumala Nayakar. Sang raja meminta bantuannya untuk mengamankan Madurai dari teror kelompok penjahat. Di sana Viran bertemu penari bernama Vellaiyammal. Sang penari jatuh hati kepadanya dan memintanya untuk mengajar Natya Shastra ("Ilmu tentang Tari"). Sang raja—yang menaruh hati kepada Vellaiyammal—merasa cemburu terhadap keakraban mereka. Beberapa panglima—yang tidak suka akan kedekatan Viran dengan sang raja—akhirnya memanfaatkan momen tersebut untuk menghasut raja. Mereka berkata bahwa Viran menunda pemberantasan kelompok penjahat karena dia sendiri bersekongkol dengan para penjahat. Sang raja terhasut, lalu segera menyatakan Viran sebagai pengkhianat dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya, dengan cara pemotongan tangan dan kaki (marukkal marukkai). Usai eksekusi, Bommi dan Vellaiyammal menuju jenazah Viran, lalu mengutuk sang raja yang dianggap berbuat jahat.[1]

Menurut versi lain dari kisah tersebut, sebelum dieksekusi, Viran dan Velaiyammal mencoba kawin lari tetapi tertangkap oleh pasukan raja. Viran dijatuhi hukuman mutilasi. Bommi dan Velaiyammal berdoa kepada Dewi Minakshi agar tubuh Viran utuh dan hidup kembali, lalu doa itu pun dikabulkan. Namun setelah hidup kembali, Viran yakin bahwa dia seharusnya mati sesuai takdir yang ditetapkan sang dewi, sehingga dia pun memenggal kepalanya sendiri dengan pedangnya. Saat Viran dikremasi, Bommi dan Vellaiyammal melompat ke api kremasi (sati). Sang raja berduka setelah mengetahui identitas asli Viran. Kemudian Viran terlahir kembali sebagai orang berkasta rendah, memberi mimpi buruk bagi sang raja, dan berbagai masalah pun muncul di dunia nyata. Ketika sang raja meminta petunjuk Dewa Siwa dan Dewi Minakshi, mereka mengatakan bahwa hal itu terjadi karena kematian Madurai Viran tidak dihormati dengan benar.[2]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Chakraborty, Kaustav (2019-07-02). The Politics of Belonging in Contemporary India: Anxiety and Intimacy (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-000-02430-2.
  2. Anand, Shilpaa (2019-07-02), "Disability and intimacy in the making of Madurai Veeran", The Politics of Belonging in Contemporary India, Routledge India, hlm. 126–141, doi:10.4324/9780429295980-9, ISBN 978-0-429-29598-0, S2CID 201407419, diakses tanggal 2020-12-01

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]