Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyyah al-Jawiyyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyyah al-Jawiyyah
Didirikan1934 M
JenisMadrasah
AfiliasiIslam
PendiriSayyid Muhsin bin Ali bin Abdurrahman al-Musawwa al-Falimbani, dkk.
LokasiSuq al-Layl, Makkah, , Bendera Arab Saudi Arab Saudi
AlumniDaftar alumni Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyyah al-Jawiyyah


Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyyah al-Jawiyyah atau dikenal dengan Madrasah Darul Ulum Makkah atau Madrasah Darul Ulum ad-Diniyyah adalah sebuah institusi pendidikan keilmuan agama Islam terkemuka di Makkah [1]. Madrasah ini berhasil mendidik dan mengeluarkan banyak Ulama [2]. Di Madrasah ini, ada sekitar 120 santri Nusantara yang pernah belajar, termasuk Syaikh Yasin al-Fadani [2]. Yasin adalah angkatan pertama lembaga ini [3].

Syaikh Ali bin Ibrahim al-Maliki, yang wafat pada tahun 1948, seorang Ulama Maghribi kenamaan dan ahli hadis dan nahwu, guru dari para Ulama Betawi dan Ulama besar Indonesia lainnya, menjadi jadi pelindung dan guru besar di madrasah ini [4].

Para santri yang datang dari berbagai negara untuk mendalami berbagai ilmu keislaman dan sanad keilmuan di Madrasah ini, disamping untuk memperoleh sanad hadist dan kitab-kitab dari Syaikh Yasin al-Fadani [2] Para guru-guru besar di Darul Ulum adalah kebanyakan orang Indonesia [2]. Madrasah Darul Ulum sampai awal tahun 1990 dipimpin oleh Syaikh Yasin.[5]. Syaikh Yasin al-Fadani adalah rektor terkahir sebelum Madrasah ini ditutup oleh pemerintah Arab Saudi dengan alasan tertentu [2].

Sejarah Berdiri[sunting | sunting sumber]

Sekitar 1934, terjadi sebuah konflik, Direktur Ash-Shautiyyah telah menyinggung beberapa pelajar asal Asia Tenggara, terutama dari Indonesia [6]. Pada tahun 1935, di Madrasah Al-Shaulatiyah para siswa Indonesia dan Malaysia melakukan aksi mogok belajar sebagai protes atas pemecatan siswa yang berasal dari Jawa Timur [7]. Siswa tersebut dipecat karena didapati sibuk dengan majalah suara Nahdlatul Ulama [7].

Sebagai akibat dari peristiwa ini, maka Syaikh Yasin mengemukakan ide untuk mendirikan Madrasah Darul Ulum di Makkah [6]. Para orang tua siswa menghimpun dana, dibantu oleh para "syekh haji Indonesia" yang ada di Makkah [8]. Syaikh Abdul Manan ditunjuk sebagai penggerak proyek pendidikan ini, hingga pada akhirnya rencana ini berhasil diwujudkan [8]. Lokasinya ada di Suq al-Layl [8]. Gedungnya disediakan oleh Syaikh Ya’qub, yang berasal dari Perak, Malaysia [8]. Lahirlah madrasah Darul Ulum yang diprakarsai oleh Sayyid Muhsin al-Musawwa [7]. Dia seorang keturunan Arab di Palembang dan langsung menjabat sebagai Direktur, sementara wakil dijabat oleh Syekh Zubeir Ismail yang berasal dari Perak [7]. Para pelajar Madrasah Al-Shaulatiyah berbondong-bondong pindah ke Madrasah Darul Ulum untuk menunjukkan rasa nasionalisme pada bangsanya, padahal madrasah tersebut masih baru [6]. Dengan berdirinya lembaga pendidikan tersebut, guru-guru dan siswanya hampir 50 % yang berasal dari Indonesia dan Malaysia bergabung ke madrasah Darul Ulum yang baru berdiri [7].

Syaikh Musawa merintis berdirinya Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyah bersama dengan Syaikh Muhaimin bin Abdul Aziz Lasem yang menelurkan banyak ustadz dan alumni yang di kemudian hari mengajar di madrasah-madrasah negeri dan swasta [9]. Syaikh Yasin kemudian menjabat sebagai wakil direktur Madrasah Darul Ulum Makkah, selain masih mengajar di berbagai tempat, terutama di Masjidil Haram [6]. Kiai Muhaimin pernah memimpin Darul Ulum, Sepeninggal Kiai Muhaimin, Mudir Darul Ulum dipimpin oleh Syaikh Yasin [10]. Syaikh Muhammad Zainuddin al-Baweani juga ikut andil dalam pendirian dan pengembangan Darul Ulum, termasuk dipercaya mengajar beberapa tahun kemudian.[4].

Syeikh Yasin Al Fadani bersama para guru di Darul Ulum Makkah [11]

Pelajar & Alumni[sunting | sunting sumber]

Di antara alumni madrasah yang terkenal adalah Musnidul ‘Ashr Al ‘Allamah Abul Faidh Al Fadani, yang lebih dikenal dengan Syaikh Yasin Padang [9]. K.H. Maimun Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah adalah salah satu santri Madrasah Darul Ulum [12]. Sayyid Hamid Al-Kaff termasuk murid pada awal berdirinya Madrasah ini [9], yang kemudian pada usia 27 tahun, setelah lulus dari Darul Ulum Ad-Diniyah, Sayyid Hamid Al-Kaff sempat bekerja di kantor Majelis Syura Arab Saudi [9]. Selain menjadi pegawai lembaga parlemen ini, Sayyid Hamid Al-Kaff juga mulai aktif mengajar di madrasah almamaternya, yaitu Darul Ulum Ad-Diniyah [9]. Di sekolah inilah, ia bergaul dengan Syaikh Yasin Padang selama kurang lebih 30 tahun, baik semasa menjadi murid maupun kemudian ikut membantu mengajar [9].

Tahun 1949, Tuan Guru H. M. Said Amin diterima sebagai siswa di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Makkah, selama belajar di Darul Ulum bersama dengan teman-teman yang berasal dari Malaysia, Singapura, Philipina dan Negara Asia lainnya, Tuan Guru H. M. Said Amin selalu berprestasi dan minimal mendapat juara III di kelasnya [13]. Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum pada waktu H. M. Said Amin diterima, dikepalai oleh Syaikh Mansyur dari Palembang, Syekh Yasin Padang menjabat Wakil kepala sekolah, sedangkan para guru berasal dari hampir seluruh Negara di Asia dan salah satunya adalah Syaikh Umar yang berasal dari Sumbawa yang sudah lama bermukim di Makkah [13].

Syaikh K.H. Muhadjirin Amsar Ad-Dary juga melanjutkan pendidikan formalnya di Darul Ulum Ad-Diniyah, Makkah Al-Mukaromah, Arab Saudi dari tahun 1949 sampai dengan tahun 1955.[14].

Syaikh Mur’i, seorang Mudir Universitas Darul Ulum, Hudaidah, Yaman, termasuk di antara murid di Madrasah Darul Ulum Makkah masa dipimpin Syaikh Yasin [10]. Nama santri Darul Ulum lainnya adalah Kiai Basyuni ayah mantan Menteri Agama RI (Muhammad Maftuh Basyuni) dan Kiai Dahlan Makkah asal Kediri [10]

Catatan Akhir[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sya'ban 2017.
  2. ^ a b c d e Bizawie 2016, hlm. 252.
  3. ^ Warta Nusantara 2018.
  4. ^ a b Baso 2015
  5. ^ Azra 2005, hlm. 39
  6. ^ a b c d Zuhri 2014.
  7. ^ a b c d e Sati 2016, hlm. 68.
  8. ^ a b c d Udin 2017.
  9. ^ a b c d e f Hasbullah 2015.
  10. ^ a b c Hamid 2012.
  11. ^ Sholah 2015
  12. ^ Bizawie 2016, hlm. 254.
  13. ^ a b Mutawali 2017, hlm. 5.
  14. ^ Kiki 2011, hlm. 73.

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku
  • (Indonesia) Azra, A. (2005). Dari Harvard hingga Makkah. Republika. ISBN 978-979-3210-52-0. Diakses tanggal 2018-04-19. 
  • (Indonesia) Bizawie, Zainul (2016). Masterpiece Islam Nusantara : sanad dan jejaring ulama-santri, 1830-1945. Ciputat, Tangerang: Pustaka Compass. ISBN 978-602-72621-5-7. OCLC 948824357. 
  • (Indonesia) Kiki, Rakhmad (2011). Genealogi intelektual ulama Betawi : melacak jaringan ulama Betawi dari abad ke-19 sampai abad ke-21. Jakarta: Jakarta Islamic Centre. ISBN 978-602-98707-0-1. 
Jurnal ilmiah
Situs Web

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]