Lysis (dialog)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Lysis (/ˈlsɪs/; Yunani: Λύσις) adalah dialog Plato yang membahas tentang sifat alamiah persahabatan. Dialog ini pada umumnya digolongkan sebagai dialog Sokrates pada periode awal.

Tokoh utamanya adalah Sokrates, anak laki-laki Lysis dan Menexenus yang bersahabat, dan juga Hippothales, yang memiliki cinta yang tak berbalas dengan Lysis dan oleh karenanya, setelah percakapan awal ini, dirinya disembunyikan di belakang pendengar di sekitarnya. Sokrates mengusulkan empat gagasan yang mungkin mengenai sifat sejati persahabatan:

  1. Persahabatan antara orang-orang yang memiliki kemiripan, yang ditafsirkan oleh Sokrates sebagai pertemanan antara orang baik.
  2. Persahabatan antara orang yang berbeda.
  3. Persahabatan antara orang yang tidak baik dengan orang baik.
  4. Muncul dengan bertahap: persahabatan antara mereka yang merupakan kerabat (οἰκεῖοι "not kindred" atau "tidak kerabat") dengan sifat jiwanya.

Dari semua pilihan tersebut, Sokrates berpikir bahwa satu-satunya kemungkinan logis adalah persahabatan antara orang yang baik dan orang yang tidak baik.

Pada akhirnya, Sokrates tampaknya membuang semua gagasan ini sebagai sesuatu yang keliru, walaupun sanggahan para-logisnya mengisyaratkan ironi yang kuat tentang mereka.

Karakter[sunting | sunting sumber]

  • Sokrates
  • Ctesippus - Sepupu Menexenus. Juga muncul dalam Euthydemus.
  • Hippothales - Umurnya kira-kira sama dengan Ctesippus.
  • Lysis - Putra sulung Demokrates I dari Aexone, pada usia belasan tahun.
  • Menexenus - Putra Demophon, dari usia yang sama dengan Lysis. Kemungkinan nama dari Menexenus.

Ringkasan[sunting | sunting sumber]

Lysis, seperti yang digambarkan dalam lekythos untuk anaknya Timokleides (Abad ke-4 SM).

Gambaran eros sederhana (cinta seksual) dan philia (pertemanan) [203a–207d][sunting | sunting sumber]

Hippothales dituduh oleh Ctesippus, bahwa dia masih saja melakukan pujian yang mengganggu dari orang yang dicintainya di hadapan yang lain. Dia kemudian diminta oleh Sokrates untuk menunjukkan tingkah laku kebiasaannya dalam situasi ini. Dia mengakui cintanya kepada Lysis, tetapi menolak, dan berperilaku dengan cara yang digambarkan oleh yang lain. Menurut Ctesippus hal ini hanya mungkin diakibatkan karena kegilaan absolutnya, karena bagaimana orang lain dapat tahu tentang cinta itu sebaliknya?

Hippothales menyusun pasal-pasal untuk dirinya sendiri[sunting | sunting sumber]

Kemenangan merupakan keuntungan 'nyata' dari cinta seperti itu, tentang apa yang dinyanyikan Hippothales. Dia tergugah oleh penolakan akses terhadap cinta semacam itu dan hanya mendorong dirinya dalam ketakutan dari kemungkinan kesulitan.

Perspektif kemungkinan hubungan masa depan yang memburuk[sunting | sunting sumber]

Orang yang dicintai, yang sebaliknya tidak kehilangan kritik terhadap dirinya sendiri, dapat ditaklukkan oleh harga dirinya sendiri. Kurangnya kecerdasan, kelebihan emosi dalam perilaku, tidak menciptakan rasa hormat dan penghormatan, dapat membuat seseorang tidak mungkin menaklukkan orang lain, untuk mendapatkan simpati. Seseorang, yang harus memerintah dalam ukuran yang membuatnya menjadi bagian dari hubungan, yang bukan hanya menyakiti dirinya sendiri.

Dialog Sokrates dengan Lysis berikut mengimplikasikan bahwa dicintai oleh kedua orang tuanya, dia dalam sisi lainnya adalah terbatas pada apa yang paling diharapkan. Lysis dipaksa orang lain memutuskan tentangnya (dengan membandingkan dengan seorang pengendara kuda sewaan, ketika dia membawa keluarganya). Kemampuannya tidak dibutakan atas keyakinan buta. Kesimpulannya adalah bahwa persahabatan harus berada pada keadaan hipokrisi yang berlawanan, di mana terkadang muncul dari sanjungan yang berlebih ....

Pengetahuan adalah sumber kebahagiaan [207d–210e][sunting | sunting sumber]

Kesimpulan penting lain dari dialog dengan Lysis adalah bahwa, walaupun orang tuanya menginginkan kebahagiaan yang lengkap baginya, tetapi mereka melarangnya melakukan sesuatu yang dengannya dia memiliki pengetahuan yang tidak lengkap. Dia diperbolehkan melakukan sesuatu hanya jika orang tuanya yakin bisa melakukannya dengan sukses. Dia bisa menyenangkan kedua orang tuanya dan membuat mereka bahagia; saat dia dapat melakukan sesuatu dengan lebih baik daripada anak-anak laki-laki lainnya.

Persahabatan timbal-balik dan tidak timbal-balik [211a–213d][sunting | sunting sumber]

Dialog ini berlanjut di mana Lysis menjadi satu-satunya pendengar. Sokrates coba menemukan apa itu persahabatan. Dia mengklaim bahwa persahabatan selalu bersifat timbal-balik. Persahabatan dari sepasang kekasih memenuhi kriteria ini. Tetapi dia bisa mendapatkan kembali bahkan dengan kebencian. Dan tidak benar, apabila orang yang dibenci atau yang mungkin saling membenci akan bersahabat. Hal ini bertentangan dengan tesis yang telah disebutkan, bahwa persahabatan itu timbal balik. Oleh sebab itu, akan benar apabila persahabatan itu tidak timbal balik. Jika tidak, seorang kekasih tidak akan bahagia. Misalnya, anaknya, yang tidak taat dan bahkan membencinya. Kesimpulannya adalah bahwa seseorang akan dicintai oleh musuh mereka (bagi orang tua) dan dibenci oleh teman mereka (bagi anak-anak). Oleh sebab itu; hal ini tidak berlaku setiap saat apabila seorang kekasih mencintai temannya. Hal ini bertentangan dengan premis yang mengatakan bahwa persahabatan itu bisa saja tidak bersifat timbal balik.

Persahabatan antara dua orang yang serupa [213e–215c][sunting | sunting sumber]

Orang jahat tidak cenderung terhadap orang jahat lainnya maupun orang-orang baik lainnya. Yang pertama bisa berbahaya dan yang terakhir mungkin menolak ketidakharmonisannya. Di sisi lain, orang baik tidak hanya memiliki perbedaan untuk menjadi baik dan karena itu tidak ada keuntungan darinya satu sama lain. Mereka sempurna dan bisa jatuh cinta hanya sampai sejauh mana mereka merasa kekurangan, oleh karenanya hingga batas tertentu.

Persahabatan antara dua orang yang berbeda [215c–216b][sunting | sunting sumber]

Sifat yang berlawanan akana saling menarik satu sama lain. Misalnya, kepenuhan membutuhkan kekosangan, dan sebaliknya kekosongan membutuhkan kepenuhan. Tetapi hal ini tidak benar dalam konteks kehidupan manusia. Sebagai contoh, baik vs jahat, adil vs tidak adil ...

Kehadiran keburukan adalah penyebab cinta (philia) [216c–218c][sunting | sunting sumber]

Pencarian berlanjut dalam upaya penentuan prinsip pertemanan pertama. Persahabatan harus terdiri hanya dalam dirinya sendiri. Mungkin hal ini bagus. Tetapi, bukan untuk dirinya sendiri segala sesuatu tersebut; kecuali jika kejahatan itu ada.

Kepemilikan yang baik adalah tujuan cinta (philia) [216d–219b][sunting | sunting sumber]

Persahabatan tidak harus membawa kita pada hal lain (seperti kejahatan). Pastinya hanya berkat sifat kebalikannya sendiri. Sifat yang berlawanan ini; karena itu tidak hanya tidak baik, tetapi juga berguna. Tetapi terdapat situasi, di mana dapat dilihat sebaliknya; misalnya rasa lapar atau haus, dengan ketidak-bersyukuran. Ada kemungkinan bahkan meski tidak ada yang berlawanan, unsur pertemanan akan ada di suatu tempat, yang bertentangan dengannya, yang mereka hadapi secara berlawanan. Kepemilikan barang dengan definisi persahabatan oleh karenanya dipertahankan untuk sementara waktu.

Hal yang paling pertama adalah dicintai [219c–220e][sunting | sunting sumber]

Sejauh ini telah berhasil hanya dengan menangkap bayangan sifat alamiah sebenarnya dari persahabatan. Kita berkecenderungan, di mana yang baik dapat melarikan diri dari kejahatan, hingga kesehatan lepas dari penyakit, ke teman tertentu (dokter) supaya lolos dari musuh. Kita tidak tahu hal pertama, yaitu dicintai.

Hasrat adalah penyebab cinta [221a–221d][sunting | sunting sumber]

Persahabatan dapat memiliki alasan lain, daripada cara menuju yang baik (dengan melarikan diri dari kejahatan). Bisa jadi hasrat, rindu akan sesuatu. Dengan cara demikian, respons terhadap ketidakcukupan, keterbatasan kita dalam sesuatu. Ketidaklengkapan adalah hal yang membuat kita saling berdekatan. Oleh karenanya persahabatan adalah sesuatu yang tak terelakkan bagi kita. Kita dicintai oleh sesuatu, kita tidak bisa tanpa itu, yang kita tanyakan oleh sifat alamiah kita. Oleh karenanya tidak mungkin membedakan objek persahabatan dengan kita.

Apa yang mirip dengan teman dengan apa yang serupa: aporia [159e–223a][sunting | sunting sumber]

Sebuah percobaan adalah mungkin dalam pembedaan ketidaklengkapan dari ketidakmiripan. Kejahatan adalah ketidakcukupan untuk segalanya, sedangkan yang baik adalah kecukupannya. Bagi diri mereka sendiri adalah baik dan jahat cukup; Namun, mereka tidak bisa berteman dengan orang-orang yang "mirip" dengan diri mereka sendiri. Dari sudut pandang prinsip pertemanan pertama yang membedakan ketidakcukupan dari ketidaksamaan atau ketidakmiripan itu tidak berhasil.

Pada budaya pop[sunting | sunting sumber]

  • Aristokrat Prancis Jacques d'Adelswärd-Fersen, yang telah melarikan diri dari Paris di awal tahun 1990-an, setelah sebuah skandal homoseksual, menamai rumah yang dibangunnya di Capri dengan nama Villa Lysis, setelah judul dialog ini.
  • Mary Renault, penulis Inggris yang menggunakan tokoh Lysis sebagai tokoh utama dalam novelnya yang berjudul The Last of the Wine yang mengikuti hubungan antara dua siswa Sokrates. Dalam novel ini, Lysis juga merupakan putra Demokrates.

Teks Yunani[sunting | sunting sumber]

  • Platonis opera, ed. John Burnet, Tom. III, Oxford 1903

Terjemahan[sunting | sunting sumber]

  • Benjamin Jowett, 1892: full text
  • J. Wright, 1921
  • W. R. M. Lamb, 1925: full text
  • David Bolotin, 1979
  • Stanley Lombardo, 1997
  • T. Penner & C. Rowe (In Plato's Lysis, CUP 2005, pp. 326–351.)

Literatur sekunder[sunting | sunting sumber]

  • David Bolotin, Plato’s dialogue on Friendship. An Interpretation of the Lysis with a new translation, Ithaca/London 1979
  • C. P. Seech, Platos’s Lysis as Drama and Philosophy, Diss. San Diego 1979
  • Michael Bordt: Platon, Lysis. Übersetzung und Kommentar, Göttingen 1998.
  • Hans Krämer/Maria Lualdi: Platone.Liside, Milano 1998. (Greek text with an Italian translation, introduction and comment).
  • Horst Peters: Platons Dialog Lysis. Ein unlösbares Rätsel? Frankfurt a. Main 2001.
  • Andrew Garnett: Friendship in Plato's Lysis, CUA Press 2012.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]