Lompat ke isi

Lubang Jepang Bukittinggi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lubang Jepang

Lubang Jepang Bukittinggi (juga dieja Lobang Jepang) adalah salah satu dari sekian banyaknya objek wisata sejarah yang ada di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Lubang Jepang berlokasi di Taman Panorama Ngarai Sianok. Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan.[1]

Sejarahnya

[sunting | sunting sumber]

Lubang Jepang baru ditemukan pada awal tahun 1950. Saat ditemukan, pintu terowongan ini berukuran 20 cm dengan kedalaman 64 m. Lubang tersebut dulunya digunakan sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya serangan udara. Lubang ini dibangun oleh Hirotada Honjyo berdasarkan instruksi Letjen Moritake Tanabe Panglima Divisi ke-25 AD Bala Tentara Jepang untuk membuat lubang perlindungan yang terletak di Ngarai.[2]

Lubang Jepang mulai dibuat pada bulan Maret 1944 dan selesai pada awal bulan Juni 1944 dengan kurang lebih 3 bulan pengerjaan. Proses konstruksi lubang ini melibatkan 50 sampai 100 orang pekerja setiap harinya. Lubang Jepang terdiri atas 2 blok, 1 blok digunakan khusus sebagai kantor atau mabes divisi ke-25 AD, sementara 1 blok lain dibuat untuk tempat perlindungan yang dapat menampung serdadu Jepang dari serangan udara.[3]

Terowongan Jepang sebelumnya dibangun sebagai tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan militer Jepang. Terowongan ini memiliki panjang 1.400 meter, berbentuk berliku, dan lebarnya sekitar 2 meter. Di dalamnya terdapat beberapa ruangan khusus, seperti ruang pengintai, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata.

Selain lokasinya yang strategis di kota yang dahulunya merupakan pusat pemerintahan Sumatra Tengah, tanah yang menjadi dinding terowongan ini merupakan jenis tanah yang jika bercampur air akan semakin kokoh. Bahkan gempa yang mengguncang Sumatera Barat tahun 2009 lalu tidak banyak merusak struktur terowonganterowongan.

Diperkirakan puluhan sampai ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha dikerahkan dari pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali terowongan ini. Pemilihan tenaga kerja dari luar daerah ini merupakan strategi kolonial Jepang untuk menjaga kerahasiaan megaproyek ini. Tenaga kerja dari Bukittinggi sendiri dikerahkan di antaranya untuk mengerjakan terowongan pertahanan di Bandung dan Pulau Biak.

Objek Wisata

[sunting | sunting sumber]

Lubang Jepang mulai dikelola menjadi objek wisata sejarah pada tahun 1984, oleh pemerintah kota Bukittinggi.[4] Beberapa pintu masuk ke Lubang Jepang ini diantaranya terletak pada kawasan Ngarai Sianok, Taman Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi. Wisatawan yang ingin mengunjungi Lubang Jepang harus membeli tiket masuk seharga Rp. 15.000 per orang. Namun, terdapat juga pemandu yang difasilitasi oleh pengelola dengan biaya tambahan.[3]

  1. Yulianingsih, T.M. Jelajah wisata Nusantara: berbagai pilihan tujuan wisata di 33 provinsi. Niaga Swadaya. ISBN 979-788-166-0.
  2. https://rri.co.id/wisata/649271/menggali-sejarah-pembuatan-lobang-jepang-bukiitinggi.
  3. 1 2 https://medan.kompas.com/read/2022/01/15/131619378/lobang-jepang-bukittinggi-sejarah-isi-fungsi-dan-harga-tiket-masuk?page=all. ; ;
  4. "Terowongan Jepang". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-03-13. Diakses tanggal 2011-08-10.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]