Lohia, Muna

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Lohia
Kecamatan
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Tenggara
KabupatenMuna
Pemerintahan
 • CamatLm Hajar Sosi
Kodepos93658
Luas49,81 km²
Kepadatan292 jiwa/km²
Desa/kelurahan9

Lohia adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Indonesia.[1]

Geografi dan Iklim[sunting | sunting sumber]

Secara astronomis, Kecamatan Lohia terletak di bagian Selatan pulau Muna. Secara geografis, Lohia terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan di antara 4.510 – 4.570 Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur diantara 122.390 - 122.400 Bujur Timur.[2]

Batas wilayah administrasi

Kecamatan Lohia sebagai berikut:

  • Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Duruka.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan selat Buton.
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tongkuno.
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kontunaga.

Luas daratan Kecamatan Lohia yaitu sekitar 49,81 km 2 yang terletak di bagian Selatan Pulau Muna. Kecamatan Lohia terdiri atas 11 desa yaitu Liangkobori, Maabholu, Kondongia, Waara, Mantobua, Korihi,Lakarinta, Lohia dan Loghyia, Lawela dan Kondongia Barat.

Kecamatan Lohia, mempunyai iklim tropis seperti sebagian besar daerah di Indonesia, dengan suhu rara-rata sekitar 26–30 °C. Demikian juga dengan musim, Kecamatan Lohia mengalami dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.

Pada umumnya musim hujan terjadi pada bulan Desember sampai dengan Juni. Sedangkan musim kemarau terjadi antara Juli sampai November. Secara rata-rata, banyaknya hari hujan tiap bulan pada tahun 2016 adalah 15 hari dengan rata-rata curah hujan 171,98 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember sebesar 280,00 mm dengan jumlah hari hujan sebesar 20 hari hujan.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Lohia merupakan kecamatan yang berada dibawah administrasi pemerintahan Kabupaten Muna. Untuk menjalanakan fungsi pemerintahan, administrasi Pemerintahan di Kecamatan Lohia di bagi menjadi beberapa wilayah administrasi desa. Dimana tiap desa ini masing-masing dipimpin oleh kepala desa. Selain itu pula, di level bawah, administrasi di tiap desa dibagi menjadi Dusun/Lingkungan.

Desa[sunting | sunting sumber]

Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah dan berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No.32 tahun 2004). Kepala Desa dipilih secara langsung oleh masyarakat di desa tersebut.Setelah terjadi pemekaran desa pada tahun 2015, jumlah desa di Kecamatan Lohia menjadi 11 desa. ;

  1. Wabintingi dengan luas wilayah 6,25 km2
  2. Mantobua dengan luas wilayah 5,11 km2
  3. Lohia dengan luas wilayah 8,23 km2
  4. Korihi dengan luas wilayah 5,34 km2
  5. Waara dengan luas wilayah 3,59 km2
  6. Lakarinta dengan luas wilayah 5,11 km2
  7. Liangkabori dengan luas wilayah 4,20 km2
  8. Kondongia dengan luas wilayah 8,23 km2
  9. Mabholu dengan luas wilayah 3,75 km2
  10. Kondongia Barat dengan luas wilayah - km2
  11. La Wela dengan luas wilayah - km2

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk Kecamatan Lohia berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2016 sebanyak 14.543 jiwa yang terdiri atas 6.811 jiwa penduduk laki-laki dan 7.732 jiwa penduduk perempuan dengan jumlah rumah tangga sebesar 3.156 rumah tangga. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2016 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 88.

Kepadatan penduduk di Kecamatan Lohia tahun 2016 mencapai 292 jiwa/km2 dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga 5 orang. Kepadatan Penduduk di 9 desa cukup beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di desa Maabholu dengan kepadatan sebesar 480 jiwa/km2 dan terendah di desa Lakarinta sebesar 159 jiwa/km2.

  • Wabintingi dengan luas wilayah 6,25 km2 jumlah penduduk sebesar 1.167 jiwa dengan kepadatan 187 jiwa/km2
  • Mantobua dengan luas wilayah 5,11 km2 jumlah penduduk sebesar 2.255 jiwa dengan kepadatan 442 jiwa/km2
  • Lohia dengan luas wilayah 8,23 km2 jumlah penduduk sebesar 1.819 jiwa dengan kepadatan 222 jiwa/km2
  • Korihi dengan luas wilayah 5,34 km2 jumlah penduduk sebesar 1.611 jiwa dengan kepadatan 302 jiwa/km2
  • Waara dengan luas wilayah 3,59 km2 jumlah penduduk sebesar 1.228 jiwa dengan kepadatan 342 jiwa/km2
  • Lakarinta dengan luas wilayah 5,11 km2 jumlah penduduk sebesar 822 jiwa dengan kepadatan 159 jiwa/km2
  • Liangkabori dengan luas wilayah 4,20 km2 jumlah penduduk sebesar 1.647 jiwa dengan kepadatan 393 jiwa/km2
  • Kondongia dengan luas wilayah 8,23 km2 jumlah penduduk sebesar 2.195 jiwa dengan kepadatan 267 jiwa/km2
  • Mabholu dengan luas wilayah 3,75 km2 jumlah penduduk sebesar 1.800 jiwa dengan kepadatan 480 jiwa/km2
  • Kondongia Barat dengan luas wilayah - km2
  • La Wela dengan luas wilayah - km2
Tabel 1 Penduduk desa menurut jenis kelamin, 2016
Desa Penduduk Jumlah
Laki-laki Perempuan
Liangkabori 801 846 1647
Maabolu 869 931 1800
Kondongia 1.069 1.126 2.195
Waara 581 647 1.228
Mantobua 1.050 1.205 2.255
Korihi 720 891 1.611
Lakarinta 394 428 822
Lohia 817 1.002 1.819
Wabintingi 506 661 1.167
La Wela Data masih bergabung dengan desa induk
Kondongia Barat
Jumlah 6.811 7.732 14.543

Sosial[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pelaksanaan pembangunan pendidikan di Kecamatan Lohia selama ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Indikator yang dapat mengukur tingkat perkembangan pembangunan pendidikan di Kecamatan Lohia seperti banyaknya sekolah, guru dan murid.

Tabel 2 Banyaknya Sekolah,Guru dan Murid Tingkat TK,SD,SMP dan SMA
Desa TK SD SMP SMA
Sekolah Guru Murid Sekolah Guru Murid Sekolah Guru Murid Sekolah Guru Murid
Tetap Honor Tetap Honor Tetap Honor Tetap Honor
Liangkabori 1 - 3 22 2 13 12 249 - - - - - - - -
Maabolu 2 2 4 48 1 9 5 234 1 15 4 285 1 5 7 62
Kondongia - 6 - 57 1 20 - 289 - - - - - - - -
Waara 1 3 2 37 1 9 5 226 1 33 - 449 1 33 16 478
Mantobua 1 2 1 56 2 17 8 348 1 15 - 162 2 19 11 412
Korihi 1 2 4 53 1 7 3 128 - - - - - - - -
Lakarinta 1 1 3 34 2 8 14 260 - - - - - - - -
Lohia 1 - 3 32 3 19 10 197 - - - - - - - -
Wabintingi 1 6 - 45 2 7 5 113 1 24 - 320 - - - -
La Wela - - - - 1 6 5 97 - - - - - - - -
Kondongia Barat 1 2 4 45 - - - - - - - - - - - -
Jumlah 10 24 24 429 16 115 67 2.141 4 87 4 1.216 4 57 34 952

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Untuk mencapai sasaran pembangunan di bidang kesehatan maupun di bidang program keluarga berencana, pemerintah Kabupaten Muna telah menggiatkan pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan dan keluarga berencana sampai ke pelosok pedesaan.

Jumlah fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan lohia pada tahun 2016 disajikan pada Tabel 3. yaitu yang terdiri dari puskesmas 2 unit dan posyandu 7 unit.

Tabel 3 Banyaknya Sarana Kesehatan tiap desa
Desa Puskesmas Pustu Balai

Pengobatan

Liangkabori - - 1
Maabolu - - 1
Kondongia - - 1
Waara 1 3 -
Mantobua - - 1
Korihi - - 1
Lakarinta - - 1
Lohia 1 - -
Wabintingi - - 1
La Wela - - -
Kondongia Barat - - -
Jumlah 2 3 7

Agama[sunting | sunting sumber]

Kegiatan pembangunan di bidang agama seperti pembangunan sarana peribadatan di Kecamatan Lohia,pada tahun 2016 jumlah tempat peribadatan di Kecamatan Lohia terdiri dari mesjid 12 unit, langgar/surau/mushola.

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Perkebunan[sunting | sunting sumber]

Komoditas utama perkebunan Kecamatan Lohia berupa kelapa, kopi, jambu mete dan coklat. Data produktivitas perkebunan tahun 2016 belum tersedia. Pada tahun 2014 produksi tanaman perkebunan terbesar adalah kelapa yang mencapai 1.200 ton.

Perikanan[sunting | sunting sumber]

Produksi perikanan di Kecamatan Lohia adalah perikanan tangkap. Pada tahun 2016 produksi perikanan tangkap mencapai 7.680 ton.

Energi dan Industri[sunting | sunting sumber]

Listrik[sunting | sunting sumber]

Di Kecamatan Lohia, kebutuhan masyarakat akan tenaga listrik sebagian besar diperoleh dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rayon Raha, yang sebelumnya merupakan ranting dari PLN Cabang Bau-Bau, sedangkan bagi masyarakat yang tidak terjangkau dengan jaringan listrik dari PLN biasanya menggunakan lampu minyak tanah dan tenaga listrik non PLN sebagai alat penerangan. Jumlah pelanggan listrik di Kecamatan Lohia tahun 2016 sebanyak 3.158 pelanggan dan non PLN sebanyak 60.

Industri[sunting | sunting sumber]

Pembangunan di bidang industri ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja, meratakan kesempatan berusaha, meningkatkan ekspor, menunjang pembangunan daerah, serta memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Tabel 4 Banyaknya industri di tiap desa
Desa/Kelurahan Industri

Rumah Tangga

Makanan Minuman Kayu,Barang dari

kayu dan gabus

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Liangkabori 183 275 12 17 8 12 - -
Maabolu 193 279 4 6 3 3 - -
Kondongia 24 44 11 18 2 3 5 10
Waara 31 51 16 23 9 14 - -
Mantobua 52 66 20 28 7 10 1 2
Korihi 152 178 7 11 8 12 - -
Lakarinta 45 62 10 14 - - 3 4
Lohia 45 69 15 21 8 10 2 4
Wabintingi 48 75 8 12 6 8 2 4
La Wela 23 40 3 4 - - - -
Kondongia Barat 31 55 14 20 3 6 4 7
Jumlah 827 1.194 120 174 54 78 17 31

Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Sektor perdagangan merupakan salah satu sektor yang mampu menggerakkan perekonomian suatu wilayah. Adapun komoditas perdagangan antar desa yang ada di Kecamatan Lohia antara lain hasil pertanian tanaman pangan, berupa kacang tanah dikupas, jagung, dan tomat. Hasil perkebunan, meliputi kelapa, kopi, kapuk, jambu mete, kemiri, coklat, merica dan aren.

Untuk membantu masyarakat miskin, pemerintah menyalurkan beras miskin (raskin) kepada masyarakat. Selama tahun 2015, penyaluran beras miskin di Kecamatan Lohia meningkat sebesar 7,69 persen yaitu dari 142,35 ton tahun 2014 naik menjadi 153,30 ton tahun 2015

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Sarana angkutan dan komunikasi merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan masyarakat yang dapat mendukung terciptanya kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. Jalan merupakan prasarana angkutan darat yang sangat penting dalam memperlancar kegiatan perekonomian antar wilayah. Kondisi jalan yang baik akan memudahkan mobilitas penduduk dalam melakukan kegiatan perekonomian dan kegiatan sosial lainnya.

Angkutan Darat[sunting | sunting sumber]

Angkutan darat terdiri dari kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor. Jumlah kendaraan bermotor di Kecamatan Lohia dari tahun ke tahun senantiasa mengalami peningkatan. Peningkatan ini dikarenakan masyarakat semakin membutuhkan kendaraan untuk membantu memperlancar kegiatan sehari-hari mereka. Pada tahun 2016 jumlah kendaraan di Kecamatan Lohia truk sebanyak 26 unit, pick up 41, mikrolet 48 dan sepeda motor 1603 unit.

Keuangan[sunting | sunting sumber]

Kelancaran kegiatan pemerintah dan pembangunan sangat tergantung tersedianya biaya, baik untuk administrasi maupun kegiatan lainnya. Dana pembangunan desa berasal dari bagian Penerimaan Subsidi Desa dan Anggaran Dana Desa. Pada tahun anggaran 2016, jumlah penerimaan Subsidi Desa untuk kecamatan Lohia berjumlah Rp 135.000.000. sementara itu untuk Anggaran Dana Desa berjumlah Rp 1,503.200 miliar.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Obyek wisata unggulan Kabupaten Muna terbanyak terdapat di Kecamatan Lohia. Kecamatan Lohia berpotensi sebagai objek wisata, seperti halnya Pantai Napabale di Desa Lohia, Pantai Meleura, Danau Motonuno, Puncak Motonuno, Danau Ubur-ubur terletak di Desa Lakarinta. Objek wisata Puncak Wakila berada di Desa Kondongia, maupun Gua Liangkabori, Gua Metanduno, Gua Layang-layang berada Di Desa Liangkabori, untuk Kerajinan nentu di Desa Korihi, maupun Kerajinan bambu di Desa Kondongia.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "
  2. ^ "kecamatan-lohia-dalam-angka-2017.html"
  3. ^ "camat-lohia-objek-wisata-muna-terbanyak-di-kecamatan-lohia/"