Logandeng, Playen, Gunung Kidul

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Logandeng
Desa
[[Berkas:-
Peta lokasi Desa Logandeng|250px|Lokasi Logandeng]]
Negara  Indonesia
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Kabupaten Gunungkidul
Kecamatan Playen
Luas 10526,20 ha
Jumlah penduduk 55.084
Kepadatan 428 jiwa/Km²

Logandeng (Jawa: Logandhèng) adalah desa di kecamatan Playen, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.


Legenda 3 Wilayah Asal Muasal Desa Logandeng[sunting | sunting sumber]

Berawal dari pelarian Majapahit yang salah satunya bernama Ki Pager Wasesa memasuki wilayah Redikidul (Gunungkidul sekarang). Dia adalah salah satu Senopati perang dari Majapahit. Dalam Perjalannanya dia akhirnya memutuskan untuk bertempat tinggal di tengah Hutan. Menjadi rakyat jelata adalah pilihannya agar bisa hidup tenang dan nyaman. Untuk bertahan hidup, berburu dan bertani adalah kegiatan yang dilakoninya. Dia juga memiliki keahlian dalam bidang mengolah bahan baku besi menjadi senjata dan alat-alat pertanian.

Profesi membuat alat-alat pertanian berbahan baku besi inilah yang membuat masyarakat lebih mengenal dia sebagai Pager Wesi. Selain sebagai tukang pande besi, dia juga dipercaya ahli dalam pengobatan. Kedua profesi inilah yang akhirnya membuat banyak orang datang dan bermukin di sekitar kediaman Ki Pager Wesi. Maka untuk menghormati Ki Pager Wesi tempat yang sebelumnya hutan ini diberi nama Pager.

Sesuai kebiasaan orang-orang ketika hendak pergi ketempat Ki Pager Wesi, mereka menyebut pergi ke Mbah Pager atau pergi ke Pager. Diapun menghabiskan sisa hidupnya sebagai rakyat biasa sampai meninggal. Masyarakat yang telanjur bertempat tinggal di sanapun memakamkan dia di sekitar Pager. Dipercaya makam Mbah Pager ada di Bandung.

Dikisahkan bahwa dalam pelariannya dari Majapahit, dia mengembara bersama adik perempuannya yaitu Nyi Andan Sari. Dan Nyi Andan Sari inilah yang dipercaya sebagai cikal bakal desa Bandung. Sebuah wilayah disebelah barat Pager.

Sepeninggalan Ki Pager Wesi, diarah selatan hadirlah penggembara yang juga pelarian dari Majapahit. Hutan yang masih lebat di jadikan tempat terakhir untuk bertempat tinggal. Dia adalah Ki Jogurdo. Sebagai pendatang di wilayah tersebut, menggunakan kemampuan ilmu kanuragannya sebagai sarana pengobatan adalah pilihannya. Bahkan sebagai orang yang dianggap ahli dalam pengobatan Ki Jogurdo banyak didatangi orang-orang dari berbagai wilayah termasuk yang berasal dari Pager.

Banyak orang yang datang dan bermukim di dekat Ki Jogurdo. Keadaan ini membuat Ki Jogurdo memutuskan pada hari Senin Kliwon, bersama warga yang bermukim untuk memperluas wilayah pemukimannya. Hutan lebat yang kaya raya, subur dan tersedia berbagai kebutuhan hidup di kala itu di beri nama Bumi Siono. Sebagai manifestasi dari sebuah Bumi yang berisi. Atau dalam bahasa Jawa di sebut “Isine Ono”. Artinya bahwa wilayah yang didiami Ki Jogurdo dan pendatang berikutnya telah menyediakan segala sesuatunya.

Kemampuannya dalam ilmu kanuragan juga digunakan untuk tetap menjaga area hutannya dan menekuni pertanian. Ki Jogurdo pun menghabiskan sisa hidupnya di Bumi yang sangat makmur karena kekayaan alamnya ini. Dia wafat dan di makamkan di dekat pemukiman. Keberadaan sebuah Makam di wilayah Wit Ijo di percaya sebagai makam dia. (Sekarang berada di perbatasan Siyono Kulon dan Tengah)

Semasa Ki Jogurdo masih hidup tersebutlah pelarian dari arah yang sama, Dia adalah Ki Josingo. Ki Josingo yang sakti mandraguna ini memilih menempati area yang di batasi oleh sungai. Dia memilih menempati wilayah antara Warga Ki Pager Wesi dan Warga Ki Jogurdo. Wilayah yang berdekatan dengan Alas Jati Gandhok lah yang dia pilih untuk bermukim (masyarakat mempercayai "Sumur Kidul" adalah rumah dia). Menjadi resi dan mengobati warga adalah profesi yang di lakukan agar bisa membaur dengan warga dari kedua wilayah yang lebih dulu menempati. Sebagai seorang resi yang mampu mengobati penyakit, olah bathin dan olah kanuragan di jadikan metode pengobatannya. Gamelanpun di jadikan sarana pengobatan. Hingga dia memiliki beberapa kelompok kesenian untuk syiar kebathinannya dan mendukung metode pengobatannya.

Tersebutlah Alas Mblengkok yang angker dan banyak penjahat yang membuat resah warga wilayah Pager dan Jati Gandok. Atas keinginan warga dari kedua wilayah tersebut, Ki Josingo melaksanakan Babad Alas Blengkok pada hari Senin Pahing. Hingga akhirnya Alas Blengkok di tetapkan sebagai tapal batas antara wilayah warga Jati Gandok dengan wilayah Pager. Blengkok yang berarti tikungan atau plengkungan jalan menjadi kata Plembongan. Hingga sampai sekarang wilayah tersebut lebih di kenal dengan kata Plembongan atau Plembon. Demikianlah ketiga wilayah terbentuk bahu membahu saling membantu dan saling membutuhkan.

= Babad Alas Lo =[sunting | sunting sumber]

Pada sekitar tahun 1892, di saat Gunungkidul masih dikenal dengan nama Kadipaten Redi Kidul dan dipimpin oleh seorang Tumenggung yang bernama Raden Tumenggung Cakranagara. Adalah 2 Demang yang memimpin wilayah ini. Pembagian wilayahpun di sepakati. Mas Demang Mangun Kartiko memimpin Pademangan Bumi Siono dan Mas Demang Wongso Wirana memimpin wilayah Pademangan Kepil yang meliputi Tlatah Pager dan Tlatah Plembon. Aliran sungai menjadi batas wilayah kedua pademangan ini.

Tersebutlah Alas Jatiwayang sebagai perbatasan antara kedua pademangan ini dengan Pademangan Piyaman yang kala itu dipimpin oleh Mas Demang Mangun Taruna. Alas Jatiwayang ini di kenal angker dan berbahaya. Kecuali memang menjadi kerajaan makluk halus, para pemberontak, begal dan penjahat bermukim di tempat ini. Mereka adalah para pemberontak yang tidak mau memilih bergabung pada salah satu pedemangan dalam pemerintahan Kadipaten Redi Kidul Pimpinan Raden Tumenggung Cakranagara. Mereka memilih untuk menguasai perbatasan ketiga Pademangan, yaitu Pademangan Piyaman, Pademangan Bumi Siono dan Pademangan Kepil.

Keberadaan para pemberontak yang bermukim tepat di batas wilayah ketiga Pademangan ini membuat hubungan ketiga Pademangan selalu mendapat halangan di wilayah ini. Warga Pademangan Kepil dan Pademangan Siono pun selalu di habisi di tempat ini. Mereka selalu di rampok dan dibunuh di Alas Jatiwayang. Bahkan mayatnya hanya dibuang di aliran sungai yang berdekatan dengan Alas Jati Wayang.

Di kisahkan, saat pertemuan rutin tahunan para Demang Se-Kadipaten Redi Kidul membahas tentang keamanan dan pengembangan wilayah. Dalam pertemuan tahunan itu diputuskan untuk melakukan perang terbuka menumpas para pemberontak dan perampok di masing-masing wilayah.

Maka Demang Mangun Kartika dan Demang Wongso Wirana memohon izin untuk menumpas para pemberontak dan penjahat yang bermukim di Alas Jati Wayang. Karena memang dirasa perlu, Raden Tumenggung Cakranagara yang berkuasa di Kadipaten mengizinkan kedua Demang itu untuk menyusun rencana perang guna menumpas para pemberontak di Alas Jati Wayang.

Maka Mas Demang Mangun Kartika dan Mas Demang Wongso Wirana mengatur strategi untuk menyerang dari dua arah. Demang Wongso Wirana menyerang dari arah barat dan Demang Mangun kartika menyerang dari arah Timur.

Rencana pun di putuskan untuk menyerang pada hari Kemis Kliwon dini hari. Pemilihan waktu dini hari ini beralasan karena pada malamnya para pemberontak ini pasti berpesta pora. Ketika mereka beranjak untuk istirahat tidur, waktu ini adalah waktu yang tepat untuk menyerang. Maka disepakati ketika ayam jantan berkokok pertama kali penyerangan dilakukan oleh Demang Mangun Kartiko dari arah timur atau tenggara. Lalu penyerangan dari arah barat dipimpin Demang Wongso Wirana ditandai dengan berkokoknya ayam jantan yang kedua kalinya. Direncanakan ketika ayam berkokok yang ke 3 kali maka penyerangan besar-besaran dari kedua arah harus dilakukan. Dan sebelum matahari terbit para pemberontak harus sudah mampu ditumpas.

Tiba pada hari yang telah di tentukan semua prajurit telah disiagakan. Sambil menanti ayam jantan berkokok semua prajurit dari kedua pademangan menyiapkan segala sesuatunya dan mengatur penyerangan.

Ayam jantan berkokok pertama kali, penyerangan dilakukan oleh Prajurit Demang Mangun Katiko. Penyerangan mendadak itu membuat para pemberontak kalang kabut, lari tunggang langgang. Mereka melakukan perlawanan yang sama sekali tidak berarti. Mereka sengaja dipukul mundur ke arah barat. Dengan harapan pasukan Demang Wongso Wirana telah siaga untuk menyambut para pemberontak itu.

Perencanaan menumpas pemberontak yang tepat dan jitu. Pasukan pemberontak yang kocar-kacir itu menuju arah barat. Sementara ayam jantan berkokok untuk yang kedua kalinya pertanda pasukan Demang Wongso Wirana menyerang dari arah barat. Pasukan dari Kepil inipun membabi buta melihat para pemberontak lari tunggang langgang dari arah timur. Para pemberontak itupun tak mampu melakukan banyak perlawanan. Mereka mencoba bersembunyi di hutan yang dikenal sebagai Alas Lo.

Alas Lo ini dikuasai oleh makluk halus bernama Roro Kuning dengan pembantu setianya Rumpeni. Alas Lo adalah wilayah tak bertuan yang tak seorangpun mampu menjamah karena keberadaan kedua makluk “sing mbaurekso” itu. Dan hutan ini lebih sering di gunakan oleh para pemberontak dan penjahat untuk mengakhiri pengejaran korban.

Alas Lo yang angker dan lebat ini menjadi ajang pembantaian tanpa ampun. Para pemberontak tak mampu lagi bergerak di Alas Lo ini. Mereka mencoba melawan sebisanya. Namun tak berdaya karena kedua pasukan dari kedua pademangan ini mengepung dan membantainya. Tepat sebelum Matahari terbit semua pemberontak mampu di tumpas habis di Alas Lo ini.

Demang Mangun Kartiko pun menemui Demang Wongso Wirana. Mereka bersalaman merayakan kemenangan ini.

Kabar keberhasilan penumpasan para pemberontak ini segera disampaikan ke Kadipaten. Lalu Raden Tumenggung Cakranagara bersama prajurit kadipaten dan beberapa senopati perang Kadipaten Redi Kidul mengunjungi kedua Demang untuk memberi ucapan selamat dan memberikan hadiah kepada kedua Demang ini. Raden Tumenggung Cakranagara-pun memilih Alas Lo sebagai tempat untuk merayakan kemenangan melawan pemberontak ini.

Pesta rakyatpun digelar di tenggah lebatnya Alas Lo ini berhari-hari. Pertunjukan berbagai kesenian digelar sebagai perwujudan terimakasih kepada kedua Demang dan ucap syukur karena terbebas dari para penjahat yang sangat meresahkan kedua warga pademangan tersebut.

Raden Tumenggung Cakranagara-pun menyampaikan ucapannya,

''Kalian para Demangku yang pemberani Mangun Kartiko dan Wongso Wirana. Sebagai ucapan terimakasihku kepada kalian, maka kalian ku angkat sebagai senopati dan bertugas di Kadipaten. Lalu selanjutnya kedua pademangan ini menjadi satu dan akan dipimpin oleh seorang anak muda ksatria kepercayaanku. Maka Alas Lo inilah tetenger yang menyatukan kedua wilayah. Alas ini akan ku jadikan nama wilayah pademangan baru ini. Pohon Lo yang bergandengan itu juga yang akan selalu di jadikan tetenger anak-cucu kita kelak. Bahwa Pademangan ini adalah Pademangan LOGANDENG. Di alas Lo ini kita di satukan. Maka untuk memimpin wilayah baru ini ku angkat anak muda pemberani dan berwatak ksatria kepercayaanku. Dia masih berumur 19 tahun, dia Demang baru di Pademangan Logandeng ini. Dan segala sesuatunya akan diurusi oleh Demang Logandeng yang bernama Ki Demang Mangun Wirana”'

Merasa heran atas keputusan Sang Adipati karena mengangkat seorang anak muda yang baru saja akhil balik, kedua demang itu berkata,

'“Demi bumi perdikan ini kami bersedia mengemban tugas seberat apapun. Tetapi menyerahkan kepemimpinan pada anak muda yang baru saja akhil balik adalah sangat mengkhawatirkan kami. Apalagi wilayah pademangan ini menjadi sangat luas. Pilihlah saja salah satu dari kami untuk memimpin pademangan baru ini” ujar Demang Mangun Kartika.

"Hutan-hutan yang masih angker dan lebat, aliran sungai yang sangat melimpah airnya, tanah yang subur akan sangat berbahaya jika di serahkan pada anak muda yang belum berpengalaman di medan perang dan pemerintahan” timpal Demang Wongso Wirana.

Mendengar masukan dari kedua Demang itu, Raden Tumenggung Cakranagara- pun mengajukan syarat kepada Mangun Wirana muda.

“Sanggupkah engkau menjejakkan setapak demi setapak kakimu menyusuri sungai dari Sepat sampai Alas Gambir. Buatlah tetenger tapal batas wilayah yang engkau sanggupi untuk kau pimpin dalam satu malam tanpa menyiksa alang-alang dan membunuh hewan sekecil apapun yang akan menempel di tubuhmu? Jika engkau mampu membuktikan, tampuk pimpinan Pademangan Logandeng ini akan kuserahkan sepenuhnya padamu” demikian syarat yang di ajukan sang Adipati.

Dan dengan gagah berani Mangun Wirana-pun menyanggupinya. Mangun Wirana melaksanakan tugas itu di saat semua rakyat masih berpesta pora di Alas Lo.

Selanjutnya Pademangan baru yang bernama LOGANDENG ini dipimpin seorang lelaki muda sakti mandra guna berwatak ksatria bernama Mangun Wirana. Lalu Ki Mangun Kartiko dan Ki Wongso Wirana pun bertugas di Kadipaten sebagai Senopati disana.

(Beberapa sumber menyatakan bahwa Ki Mangun Wirana berasal dari Nglipar)

Pembagian Dusun[sunting | sunting sumber]

Terdiri dari 10 Dusun yaitu:

  • Logandeng
  • Plembon Kidul
  • Plembon Lor
  • Pager
  • Jalakan
  • Siyono Tengah
  • Siyono Wetan
  • Siyono Kidul
  • Siyono Kulon
  • Glidag

Letak Geografis[sunting | sunting sumber]

PEJABAT LURAH KEPALA DESA LOGANDENG

1.Prawiro di sastro/Hangabei Radio Prawiro Disastro.

2.Soeharto.

3.Saimo Pudjo soedarmo.

4.Muji Hartono.

5.Tumiyo.

6.Tumini.

7.Suhardi.