Lompat ke isi

Letusan Samalas 1257

Letusan Samalas 1257
Pemandangan Gunung Samalas beserta Gunung Rinjani
Gunung apiSamalas
Tanggal1257
JenisUltra-Plinian
LokasiLombok, Indonesia
8°24′36″S 116°24′30″E / 8.41000°S 116.40833°E / -8.41000; 116.40833
VEI7[1]
Kompleks gunung api–kaldera di bagian utara Pulau Lombok

Pada tahun 1257, terjadi sebuah letusan dahsyat di Samalas, sebuah gunung berapi yang terletak di pulau Lombok, Indonesia. Peristiwa ini diperkirakan memiliki Indeks Daya Ledak Vulkanik sebesar 7,[a] menjadikannya salah satu letusan gunung berapi terbesar pada masa Holosen. Letusan tersebut meninggalkan sebuah kaldera besar yang kini menampung Danau Segara Anak. Aktivitas vulkanik berikutnya kemudian membentuk pusat-pusat erupsi baru di dalam kaldera itu, termasuk kerucut Barujari yang masih aktif hingga kini.

Letusan Samalas menciptakan kolom erupsi yang menjulang puluhan kilometer ke atmosfer dan menghasilkan aliran piroklastik yang menimbun sebagian besar wilayah Lombok serta melintasi laut hingga mencapai pulau tetangga, Sumbawa. Aliran tersebut menghancurkan berbagai permukiman manusia, termasuk kota Pamatan, ibu kota kerajaan yang pernah berdiri di Lombok. Abu vulkanik dari letusan ini jatuh sejauh 340 kilometer (210 mi) hingga ke Jawa; gunung ini memuntahkan lebih dari 10 kilometer kubik (2,4 cu mi) batuan dan abu vulkanik.

Aerosol yang terinjeksi ke atmosfer mengurangi jumlah radiasi matahari yang mencapai permukaan Bumi, menimbulkan apa yang disebut sebagai musim dingin vulkanik dan menyebabkan pendinginan atmosfer selama beberapa tahun. Fenomena ini memicu kelaparan dan kegagalan panen di Eropa maupun di wilayah lain, meskipun sejauh mana anomali suhu dan dampaknya masih menjadi bahan perdebatan ilmiah. Letusan ini mungkin turut berperan dalam memicu Zaman Es Kecil, yakni periode panjang beriklim dingin yang berlangsung selama beberapa abad terakhir dalam milenium ini.

Sebelum lokasi letusan ini diketahui, penelitian terhadap inti es dari berbagai belahan dunia telah menunjukkan lonjakan besar dalam kadar endapan sulfat sekitar tahun 1257, yang menjadi bukti kuat adanya letusan vulkanik besar pada masa itu. Pada tahun 2013, para ilmuwan mengaitkan catatan sejarah tentang Gunung Samalas dengan lonjakan tersebut. Catatan-catatan itu ditulis oleh saksi mata peristiwa tersebut dan dihimpun dalam Babad Lombok, sebuah naskah daun lontar kuno.

Samalas (juga dikenal sebagai Rinjani Tua[4]) merupakan bagian dari kompleks vulkanik Rinjani yang kini berdiri di Pulau Lombok, Indonesia.[5] Sisa-sisa gunung purba ini kini membentuk kaldera Segara Anak, dengan Gunung Rinjani menjulang di tepi bagian timurnya.[4] Setelah kehancuran Samalas, dua gunung api baru, yakni Rombongan dan Barujari, muncul di dalam kaldera tersebut. Gunung Rinjani sendiri tetap aktif secara vulkanik dan bahkan membentuk kawahnya sendiri, yang dikenal sebagai Segara Muncar.[6] Gunung berapi lain di wilayah sekitarnya antara lain Agung, Batur, dan Bratan di Pulau Bali yang terletak di sebelah barat.[7]

Lokasi Pulau Lombok

Lombok merupakan salah satu dari Kepulauan Sunda Kecil[8] yang termasuk dalam Busur Sunda[9] di Indonesia,[10] yakni suatu zona subduksi di mana Lempeng Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dengan kecepatan sekitar 7 sentimeter per tahun.[11] Magma yang menjadi sumber bagi Gunung Samalas dan Gunung Rinjani kemungkinan besar berasal dari batuan peridotit di bawah Lombok, dalam wilayah yang dikenal sebagai irisan mantel.[9] Sebelum letusan dahsyatnya, Gunung Samalas diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 4.200 ± 100 meter (13.780 ± 330 ft), berdasarkan rekonstruksi yang mengekstrapolasi lereng-lereng bawah yang masih tersisa,[12] sehingga menjadikannya lebih tinggi dari Gunung Kinabalu, gunung tertinggi di Asia tropis saat ini.[13] Kini, ketinggian sisa Samalas lebih rendah daripada Gunung Rinjani yang mencapai 3.726 meter (12.224 ft).[12]

Unit geologi tertua di Lombok berasal dari masa OligosenMiosen,[5][10] dengan formasi vulkanik tua yang tersingkap di bagian selatan pulau.[4][5] Gunung Samalas terbentuk melalui aktivitas vulkanik sebelum 12.000 BP, sedangkan Rinjani terbentuk antara 11.940 ± 40 dan 2.550 ± 50 BP.[10] Pada awal zaman Holosen (sebelum tahun 5.300 SM), aktivitas letusan besar di Samalas dan Rinjani masih jarang terjadi, namun meningkat pada masa berikutnya:[14]

  • Suatu letusan yang masih belum banyak dipahami,[15] kemungkinan berasal dari Rinjani, terjadi antara 5.990 ± 50 dan 2.550 ± 50 BP, menghasilkan endapan Batu apung Propok dengan volume setara batuan padat sekitar 0,1 kilometer kubik (0,024 cu mi).[16] Gunung Samalas kemudian runtuh ke arah selatan,[17] kemungkinan bersamaan dengan peristiwa letusan Pumice Propok tersebut,[14] membentuk endapan longsor berbukit di sisi selatan gunung. Endapan ini menutupi area seluas sekitar 535 kilometer persegi (207 sq mi) dengan volume batuan mencapai 15 kilometer kubik (3,6 cu mi),[17] menjadikannya salah satu dari tiga endapan longsor terbesar di Indonesia.[14] Sebelum runtuh, Samalas diperkirakan mencapai ketinggian hingga 4.207 meter (13.802 ft).[18]
  • Batu apung Rinjani, dengan volume sekitar 0,3 kilometer kubik (0,072 cu mi) setara batuan padat,[19][b] mungkin dihasilkan oleh letusan dari Rinjani ataupun Samalas;[21] peristiwa ini diperkirakan terjadi pada 2.550 ± 50 BP,[19] yang menandai akhir masa pembentukan Rinjani.[10] Endapan hasil letusan ini ditemukan dengan ketebalan hingga 6 sentimeter (2,4 in) pada jarak 28 kilometer (17 mi) dari pusat erupsi.[22]

Letusan tambahan dari Rinjani atau Samalas juga tercatat pada 11.980 ± 40, 11.940 ± 40, dan 6.250 ± 40 BP.[16] Aktivitas vulkanik berlanjut hingga sekitar 500 tahun sebelum letusan besar tahun 1257.[23] Saat ini, sebagian besar aktivitas vulkanik berpusat di Gunung Barujari, yang tercatat meletus pada tahun 1884, 1904, 1906, 1909, 1915, 1966, 1994, 2004, dan 2009; sementara Gunung Rombongan aktif pada tahun 1944. Aktivitas vulkanik tersebut umumnya bersifat eksplosif dan menghasilkan aliran abu vulkanik.[24]

Batuan penyusun Gunung Samalas sebagian besar bersifat dasitik, dengan kandungan SiO2 sebesar 62–63 persen berat.[10] Batuan vulkanik di busur Banda pada umumnya bersifat kalk-alkalin, dengan komposisi yang bervariasi dari basalt hingga andesit dan dasit.[24] Ketebalan kerak bumi di bawah gunung ini mencapai sekitar 20 kilometer (12 mi), sedangkan kedalaman bagian bawah zona Wadati–Benioff berada di sekitar 164 kilometer (102 mi).[9]

Kerucut kecil menjulang di atas danau berwarna hijau di dalam kawah besar di pegunungan
Segara Anak, kaldera yang terbentuk akibat letusan tersebut

Rangkaian peristiwa dalam letusan tahun 1257 berhasil direkonstruksi melalui analisis geologi terhadap endapan yang ditinggalkannya[16] serta melalui catatan sejarah.[25] Letusan ini diduga terjadi pada musim panas belahan utara, sekitar bulan September (dengan ketidakpastian 2–3 bulan) pada tahun tersebut. Perkiraan ini didasarkan pada lamanya waktu yang dibutuhkan bagi jejak vulkanik mencapai lapisan es kutub dan terekam dalam inti es,[26] serta pada pola sebaran endapan tefra.[27] Tahun 1257 dianggap sebagai waktu paling mungkin terjadinya letusan, meskipun tahun 1258 juga masih mungkin terjadi.[28]

Fase-fase

[sunting | sunting sumber]

Letusan Samalas terbagi menjadi beberapa fase, yakni P1 (fase freatik dan magmatik), P2 (freatomagmatik dengan aliran piroklastik), P3 (Plinian), dan P4 (aliran piroklastik).[29] Durasi pasti fase P1 dan P3 tidak diketahui, tetapi keduanya diperkirakan berlangsung selama 12–15 jam secara keseluruhan (tidak termasuk P2).[30] Kolom letusan mencapai ketinggian 39–40 kilometer (24–25 mi) pada tahap pertama (P1)[31] dan 38–43 kilometer (24–27 mi) pada tahap ketiga (P3);[30] ketinggian ini cukup besar sehingga SO
2
serta isotop sulfur di dalamnya terpengaruh oleh proses fotolisis di atmosfer bagian atas.[32]

Peristiwa

[sunting | sunting sumber]

Letusan diawali oleh tahap letusan freatik (ledakan uap air) yang menyelimuti area seluas 400 kilometer persegi (150 sq mi) di barat laut Lombok dengan abu setebal 3 sentimeter (1,2 in). Fase berikutnya berupa tahap magmatik, yang menghasilkan hujan batu apung kaya fragmen litik, dengan ketebalan mencapai 8 sentimeter (3,1 in) di Lombok Timur maupun di Bali.[16] Setelah itu terjadi hujan lapili dan abu, disusul aliran piroklastik yang sebagian tertahan di lembah-lembah sisi barat Samalas. Sebagian endapan abu terkikis oleh aliran piroklastik, membentuk alur-alur pada lapisan abu. Aliran ini menyeberangi sekitar 10 kilometer (6,2 mi) Laut Bali, mencapai Kepulauan Gili di barat laut Samalas[33] dan Taliwang di timur Lombok,[25] sementara bongkahan batu apung diduga menutupi Selat Alas antara Lombok dan Sumbawa.[34] Bukti geologis menunjukkan adanya interaksi antara lava dan air, menandakan bahwa fase ini bersifat freatomagmatik. Fase ini diikuti tiga episode hujan batu apung, dengan sebaran endapan yang lebih luas daripada fase-fase lainnya.[33] Batu apung tersebut jatuh hingga sejauh 61 kilometer (38 mi) ke arah timur, melawan arah angin dominan, dan ditemukan di Sumbawa dengan ketebalan hingga 7 sentimeter (2,8 in).[35]

Setelah endapan batu apung terbentuk, terjadi lagi fase aliran piroklastik, kemungkinan besar akibat runtuhnya kolom letusan yang memicu aliran tersebut. Pada tahap ini, karakter letusan berubah dari fase pembentukan kolom menjadi fase mirip air mancur, dan mulai terbentuk kaldera. Aliran piroklastik ini dibelokkan oleh topografi Lombok, mengisi lembah-lembah dan memutari gunung-gunung tua sambil menyapu vegetasi pulau. Interaksi antara aliran panas dan udara membentuk awan letusan tambahan dan aliran piroklastik sekunder. Ketika aliran mencapai laut di utara dan timur Lombok, ledakan uap membentuk kerucut batu apung di pesisir dan menghasilkan aliran piroklastik tambahan.[35]

Aliran piroklastik menuruni lereng utara Samalas; di sisi selatan aliran ini terpecah menjadi dua cabang yang bergerak ke arah Selat Alas di timur dan Selat Bali di barat.[36] Terumbu karang tertimbun oleh aliran ini; sebagian bahkan menyeberangi Selat Alas menuju Sumbawa.[37] Volume total aliran piroklastik di Lombok mencapai sekitar 29 kilometer kubik (7,0 cu mi),[38] dengan ketebalan hingga 35 meter (115 ft) pada jarak 25 kilometer (16 mi) dari pusat Samalas.[39] Endapan tersebut mengubah morfologi Lombok secara signifikan; endapan dan sedimen hasil erosi memperluas garis pantai[40] serta menimbun lembah-lembah sungai. Setelah letusan, terbentuk jaringan sungai baru di atas endapan vulkanik.[41]

Batu dan abu

[sunting | sunting sumber]

Material vulkanik dari letusan Samalas menutupi Bali, Lombok, dan sebagian Sumbawa.[42] Tefra berupa lapisan halus abu mencapai Pulau Jawa, membentuk bagian dari Tefra Muntilan yang ditemukan di lereng gunung-gunung lain, tetapi tidak terkait dengan letusan lokal mana pun. Kini lapisan ini diidentifikasi sebagai produk letusan 1257 dan dikenal sebagai Tefra Samalas.[35][43] Ketebalannya mencapai 2–3 sentimeter (0,79–1,18 in) di Gunung Merapi, 15 sentimeter (5,9 in) di Gunung Bromo, 22 sentimeter (8,7 in) di Ijen[44] dan 12–17 sentimeter (4,7–6,7 in) di Gunung Agung di Bali.[45] Di Danau Logung di Jawa, sejauh 340 kilometer (210 mi) dari Samalas, ketebalannya sekitar 3 sentimeter (1,2 in).[35] Sebagian besar tefra terendapkan ke arah barat–barat daya Samalas.[46] Berdasarkan ketebalan endapan di Merapi, volume totalnya diperkirakan mencapai 32–39 kilometer kubik (7,7–9,4 cu mi).[47] Indeks penyebaran (luas area yang tertutupi abu) mencapai 7.500 kilometer persegi (2.900 sq mi) pada tahap pertama dan 110.500 kilometer persegi (42.700 sq mi) pada tahap ketiga, menunjukkan bahwa letusan ini tergolong Letusan Plinian dan Letusan Ultraplinian masing-masing.[48]

Batu apung berwarna krem halus dari letusan Samalas kini menjadi penanda tefrokronologis di Bali.[49][c] Tefra Samalas ditemukan dalam inti es sejauh 13.500 kilometer (8.400 mi) dari sumber letusan,[52] dan lapisan tefra di Pulau Dongdao di Laut Cina Selatan kemungkinan besar juga berasal dari Samalas.[53] Abu dan aerosol dari letusan ini mungkin berdampak pada manusia dan karang di wilayah yang sangat jauh.[54]

Beberapa perkiraan menunjukkan volume total material yang dikeluarkan mencapai sedikitnya 40 kilometer kubik (9,6 cu mi) (setara batuan padat).[48] Endapan letusan ini di Lombok dikenal sebagai Formasi Kalibabak, sebuah formasi geologi.[55] Magma yang dimuntahkan bersifat trasit dan mengandung amfibol, apatit, klinopiroksen, besi sulfida, ortopiroksen, plagioklase, serta titanomagnetit. Magma ini terbentuk dari basaltik melalui proses kristalisasi fraksional[56] pada suhu sekitar 1.000 °C (1.830 °F).[12] Letusan kemungkinan dipicu oleh masuknya magma baru ke dalam ruang magma atau oleh pengaruh daya apung gelembung gas.[57]

Intensitas

[sunting | sunting sumber]

Letusan Samalas memiliki Indeks Daya Ledak Vulkanik sebesar 7,[58] menjadikannya salah satu letusan terbesar pada kala Holosen.[59] Letusan sebanding dalam intensitas meliputi letusan Danau Kurile di Kamchatka, Rusia (milenium ke-7 SM); Gunung Mazama di Oregon, Amerika Serikat (milenium ke-6 SM);[59] Cerro Blanco di Argentina sekitar 4.200 tahun lalu;[60] letusan Minoa di Santorini, Yunani,[59] antara tahun 1627–1600 SM,[61] letusan Tierra Blanca Joven di Danau Ilopango (El Salvador) pada abad ke-6, dan Gunung Tambora pada tahun 1815.[59] Letusan berskala demikian dapat menyebabkan dampak bencana besar dan korban jiwa meluas, baik di sekitar gunung maupun di daerah jauh.[62]

Letusan ini membentuk kaldera Segara Anak selebar 6–7 kilometer (3,7–4,3 mi) di lokasi bekas Gunung Samalas;[6] di dalam dindingnya yang menjulang 700–2.800 meter (2.300–9.200 ft), terbentuk sebuah danau kawah vulkanik sedalam 200 meter (660 ft) bernama Danau Segara Anak.[63] Kerucut Barujari kini menjulang 320 meter (1.050 ft) di atas permukaan danau dan telah meletus sebanyak 15 kali sejak tahun 1847.[19] Sebuah danau kawah mungkin telah ada sebelum letusan dan memasok air sebanyak 0,1–0,3 kilometer kubik (0,024–0,072 cu mi) untuk fase freatomagmatik, meskipun air tersebut juga bisa berasal dari akuifer.[64] Sekitar 21–29 kilometer kubik (5,0–7,0 cu mi) batuan dari Rinjani runtuh ke dalam kaldera,[65] suatu peristiwa yang disaksikan manusia[25] dan meninggalkan struktur runtuhan yang memotong lereng Rinjani menghadap ke kaldera Samalas.[12]

Letusan pembentuk kaldera ini pertama kali dikenali pada tahun 2003, dan pada tahun 2004 volumenya diperkirakan sekitar 10 kilometer kubik (2,4 cu mi).[16] Kajian awal memperkirakan letusan terjadi antara tahun 1210 dan 1300. Pada 2013, Lavigne mengusulkan bahwa letusan berlangsung antara Mei dan Oktober 1257, yang kemudian memicu perubahan iklim pada tahun 1258.[6] Beberapa permukiman di Lombok kini berdiri di atas endapan aliran piroklastik dari peristiwa tahun 1257.[66]

Riwayat penelitian

[sunting | sunting sumber]

Peristiwa vulkanik besar pada tahun 1257–1258 pertama kali ditemukan melalui data dari inti es;[67][68][69] secara khusus melalui peningkatan konsentrasi sulfat[70] yang ditemukan pada tahun 1980 dalam inti es Crête[71] di Greenland, yang dibor pada tahun 1974,[72] disertai dengan endapan abu riolit.[73] Letusan ini dikenal sebagai "letusan misterius".[74] Lapisan 1257–1258 merupakan sinyal sulfat terbesar ketiga di Crête;[75] pada awalnya diduga berasal dari gunung berapi di sekitar Greenland,[70] tetapi catatan-catatan Islandia tidak mencatat adanya letusan besar sekitar tahun 1250. Kemudian, pada tahun 1988 diketahui bahwa inti es di Antarktika, yakni di Byrd Station dan Kutub Selatan, juga memperlihatkan sinyal sulfat.[76] Puncak sulfat serupa juga ditemukan dalam inti es dari Pulau Ellesmere, Kanada,[77] dan lonjakan sulfat Samalas bahkan telah digunakan sebagai penanda stratigrafi bagi inti es sebelum gunung berapi penyebabnya diketahui.[78]

Data dari inti es menunjukkan adanya lonjakan besar sulfat, disertai dengan endapan tefra,[79] sekitar tahun 1257–1259,[80][79] yang merupakan yang terbesar[d] dalam 7.000 tahun terakhir, serta dua kali lebih besar daripada lonjakan yang disebabkan oleh letusan Tambora tahun 1815.[80] Pada tahun 2003, volume batuan padat yang setara dari letusan ini diperkirakan mencapai 200–800 kilometer kubik (48–192 cu mi),[82] meskipun ada pula pendapat bahwa letusan tersebut mungkin sedikit lebih kecil tetapi lebih kaya akan sulfur.[83][67] Gunung berapi penyebabnya diduga terletak di Cincin Api Pasifik,[84] tetapi pada awalnya belum dapat diidentifikasi;[68] Gunung Tofua di Tonga sempat diajukan sebagai kandidat, tetapi kemudian ditolak karena letusannya terlalu kecil untuk menghasilkan lonjakan sulfat tahun 1257.[85] Letusan tahun 1256 di Harrat al-Rahat dekat Madinah juga terlalu kecil untuk menjadi penyebabnya.[86] Beberapa peneliti bahkan mengusulkan kemungkinan adanya sejumlah letusan yang terjadi secara bersamaan.[87] Diameter kaldera yang ditinggalkan oleh letusan ini diperkirakan sekitar 10–30 kilometer (6,2–18,6 mi),[88] dan lokasinya diduga berada di dekat khatulistiwa, kemungkinan di sebelah utaranya.[89]

Meskipun pada awalnya tidak ditemukan anomali iklim yang jelas dapat dikaitkan dengan lapisan sulfat tahun 1257,[90][91] pada tahun 2000[90] fenomena-fenomena iklim yang khas akibat letusan gunung berapi mulai dikenali dalam catatan-catatan abad pertengahan di belahan bumi utara.[68][69][70] Sebelumnya, perubahan iklim tersebut telah dilaporkan melalui kajian cincin pohon dan rekonstruksi iklim.[90] Endapan yang ditemukan menunjukkan bahwa gangguan iklim yang tercatat pada masa itu disebabkan oleh suatu peristiwa vulkanik besar, dengan penyebaran global yang mengindikasikan bahwa sumbernya berasal dari gunung berapi tropis.[63]

Dugaan bahwa Samalas/Rinjani merupakan sumber letusan tersebut pertama kali diajukan pada tahun 2012, karena gunung-gunung kandidat lain, yakni El Chichón dan Quilotoa, tidak menunjukkan kesesuaian kimia dengan lonjakan sulfur yang terdeteksi.[92] El Chichón, Quilotoa, dan Okataina juga tidak sepadan dengan rentang waktu maupun besaran letusan tersebut.[69]

Seluruh rumah hancur dan hanyut, terapung di laut, dan banyak orang mati.

Babad Lombok[93]

Keterkaitan pasti antara peristiwa ini dan letusan Samalas ditegaskan pada tahun 2013 berdasarkan[68] penanggalan radiokarbon pada batang pohon di Lombok[94] serta Babad Lombok, serangkaian naskah berbahasa Jawa Kuno di atas daun lontar[68] yang menggambarkan peristiwa letusan dahsyat di Lombok yang terjadi sebelum tahun 1300.[12] Temuan ini mendorong Franck Lavigne,[70] seorang ahli geosains dari Universitas Panthéon-Sorbonne,[95] yang sebelumnya telah menduga bahwa gunung di pulau tersebut mungkin bertanggung jawab, untuk menyimpulkan bahwa gunung itu adalah Samalas.[70] Peran letusan Samalas dalam peristiwa iklim global kemudian dikonfirmasi melalui perbandingan geokimia pecahan kaca dalam inti es dengan endapan letusan di Lombok.[63] Selanjutnya, kesamaan geokimia antara tefra yang ditemukan di inti es kutub dan produk letusan Samalas semakin memperkuat identifikasi ini.[96][97]

Dampak pada iklim

[sunting | sunting sumber]

Data aerosol dan paleoklimatologis

[sunting | sunting sumber]

Inti es dari belahan bumi utara dan selatan menunjukkan lonjakan sulfat yang berkaitan dengan letusan Samalas. Sinyal ini merupakan yang terkuat di belahan bumi selatan dalam kurun waktu seribu tahun terakhir;[98] bahkan satu rekonstruksi menyebutnya sebagai yang terkuat dalam 2.500 tahun terakhir.[99] Intensitasnya sekitar delapan kali lebih besar dibandingkan letusan Krakatau.[70] Di belahan bumi utara, kekuatan sinyal tersebut hanya dikalahkan oleh letusan dahsyat Laki pada tahun 1783/1784.[98] Lonjakan sulfat dalam inti es ini telah dimanfaatkan sebagai penanda waktu dalam studi kronostratigrafi.[100] Inti es dari Illimani di Bolivia juga mengandung lonjakan talium[101] dan sulfat dari letusan tersebut.[102] Sebagai perbandingan, letusan Pinatubo pada tahun 1991 hanya memuntahkan sekitar sepersepuluh jumlah sulfur yang dikeluarkan oleh Samalas.[103] Endapan sulfat dari letusan Samalas juga terdeteksi di Svalbard,[104] dan hujan asam sulfat yang dihasilkan mungkin secara langsung memengaruhi lahan gambut di Swedia bagian utara.[105]

Selain itu, aerosol sulfat kemungkinan besar juga mengekstraksi sejumlah besar berilium isotop 10Be dari stratosfer; peristiwa ekstraksi semacam itu, dan pengendapan berikutnya di dalam inti es, dapat menyerupai perubahan dalam aktivitas Matahari.[106] Jumlah gas belerang dioksida yang dilepaskan dari letusan ini diperkirakan mencapai 158 ± 12 juta ton.[107] Apakah jumlah ini lebih besar atau lebih kecil dibandingkan Tambora masih menjadi perdebatan; Tambora mungkin menghasilkan lebih banyak sulfur,[108] tetapi Samalas diduga lebih efisien dalam menyuntikkan tefra ke stratosfer.[109] Setelah letusan, kemungkinan diperlukan waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan sebelum debu vulkanik mencapai jarak yang jauh dari gunung.[84] Ketika letusan besar memuntahkan aerosol ke atmosfer, aerosol tersebut dapat membentuk tabir stratosfer yang menghalangi sebagian cahaya matahari mencapai permukaan Bumi, sehingga menurunkan suhu dan berpotensi menyebabkan gagal panen.[110] Dalam kasus letusan Samalas, aerosol sulfat kemungkinan tetap berada dalam konsentrasi tinggi selama sekitar tiga tahun, berdasarkan temuan pada inti es Dome C di Antarktika, meskipun sebagian kecil mungkin bertahan lebih lama.[111]

Catatan lain tentang dampak letusan ini mencakup berkurangnya pertumbuhan pohon di Mongolia antara tahun 1258 dan 1262 berdasarkan data cincin pohon,[112] munculnya cincin beku (frost ring; yakni cincin pohon yang rusak akibat embun beku pada musim tumbuh[113]), cincin-cincin pohon yang tampak lebih terang di Kanada, barat laut Siberia, dan Skandinavia pada tahun 1258–1259,[114][115] cincin pohon yang menipis di Sierra Nevada, California,[116] pendinginan suhu pada catatan suhu permukaan laut di sekitar Semenanjung Korea,[117] serta pada sedimen danau di timur laut Tiongkok.[118] Letusan ini juga diikuti oleh muson yang sangat basah di Vietnam,[94] kekeringan di berbagai wilayah di Belahan Bumi Utara,[119] dan kekeringan di gua-gua Thailand bagian selatan[e].[120] Selain itu, cincin-cincin pohon di Norwegia dan Swedia menunjukkan penipisan yang berlangsung hampir satu dekade.[121] Pendinginan global ini diperkirakan berlangsung selama 4–5 tahun, berdasarkan hasil simulasi dan data cincin pohon.[122]

Dampak lain dari perubahan iklim akibat letusan ini mungkin berupa penurunan sementara konsentrasi karbon dioksida di atmosfer.[87] Setelah letusan Pinatubo tahun 1992, tercatat adanya perlambatan laju pertumbuhan konsentrasi karbon dioksida; sejumlah mekanisme telah diajukan untuk menjelaskan penurunan kadar CO2 akibat aktivitas vulkanik, termasuk pendinginan laut yang meningkatkan penyerapan CO2 dan mengurangi pelepasannya, penurunan laju respirasi karbon yang menyebabkan akumulasi karbon dalam biosfer,[123] serta meningkatnya produktivitas biosfer akibat penyebaran cahaya yang lebih besar dan pemupukan laut oleh abu vulkanik.[124]

Sinyal Samalas hanya tercatat secara tidak konsisten dalam data iklim berbasis cincin pohon,[125][126] dan efek suhu yang dihasilkannya juga tampak terbatas, kemungkinan karena keluaran sulfat yang sangat besar mengubah ukuran rata-rata partikel dan, akibatnya, gaya radiasi yang dihasilkan.[127] Pemodelan iklim menunjukkan bahwa letusan Samalas mungkin telah menurunkan suhu global sekitar 2 °C (3,6 °F), meskipun nilai ini umumnya tidak tercermin sepenuhnya dalam data proksi.[128][129] Pemodelan yang lebih rinci menggunakan model sirkulasi umum dengan deskripsi aerosol yang lebih tepat menunjukkan bahwa anomali suhu utama terjadi pada tahun 1258 dan berlanjut hingga 1261.[129] Model-model iklim cenderung melebihkan dampak letusan vulkanik;[130] salah satu alasannya adalah karena model tersebut sering mengasumsikan bahwa kedalaman optik aerosol meningkat secara linear terhadap jumlah sulfur yang dilepaskan,[131] padahal dalam kenyataannya proses-proses pembatasan diri menghambat pertumbuhannya.[132] Kemungkinan terjadinya El Niño sebelum letusan juga dapat mengurangi tingkat pendinginan,[133] terutama di wilayah Alaska.[134]

Letusan Samalas, bersama dengan pendinginan abad ke-14, diyakini telah memicu pertumbuhan tudung es dan es laut,[135] serta menyebabkan gletser di Alpen, Bhutan Himalaya, Pasifik Barat Laut, dan Andes Patagonian meluas.[136][137] Kemajuan massa es pasca-letusan Samalas ini mungkin memperkuat dan memperpanjang efek iklim yang ditimbulkan.[105] Aktivitas vulkanik berikutnya pada tahun 1269, 1278, dan 1286, serta pengaruh es laut di Atlantik Utara, kemungkinan turut berperan dalam memperluas wilayah es.[138] Kemajuan gletser yang dipicu oleh letusan Samalas juga terdokumentasi di Pulau Baffin, di mana lapisan es yang bergerak maju menutupi dan mengawetkan vegetasi yang mati.[139] Demikian pula, perubahan iklim dari fase hangat ke fase dingin di Arktik Kanada bertepatan dengan peristiwa letusan Samalas.[140]

Dampak yang Disimulasikan

[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan rekonstruksi tahun 2003, penurunan suhu musim panas mencapai sekitar 0,69 °C (1,24 °F) di belahan bumi selatan dan 0,46 °C (0,83 °F) di belahan bumi utara.[90] Data proksi yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa pada tahun 1258 terjadi penurunan suhu sekitar 0,7 °C (1,3 °F), dan pada tahun 1259 mencapai hingga 1,2 °C (2,2 °F), meskipun terdapat variasi antara berbagai wilayah geografis.[141] Sebagai perbandingan, daya paksa radiasi dari letusan Gunung Pinatubo tahun 1991 hanya sekitar seper­tujuh dari kekuatan letusan Samalas.[142] Suhu permukaan laut pun menurun antara 0,3–2,2 °C (0,54–3,96 °F),[143] yang kemudian memicu perubahan dalam sirkulasi samudra. Perubahan suhu dan salinitas laut tersebut diperkirakan bertahan hingga satu dekade.[144] Curah hujan dan tingkat penguapan sama-sama menurun, dengan laju penguapan berkurang lebih besar dibandingkan penurunan curah hujan.[145]

Letusan gunung berapi juga dapat mengantarkan unsur bromin dan klorin ke stratosfer, tempat keduanya berperan dalam proses perusakan ozon melalui pembentukan oksidanya, yakni klorin monoksida dan bromin monoksida. Meskipun sebagian besar bromin dan klorin yang dikeluarkan kemungkinan tersapu kembali oleh kolom letusan sehingga tidak sampai ke stratosfer, hasil pemodelan menunjukkan bahwa jumlah halogen yang dilepaskan oleh letusan Samalas, sekitar 227 ± 18 juta ton klorin dan hingga 1.3 ± 0.3 juta ton bromin, berpotensi menurunkan kadar ozon stratosfer,[74] meskipun hanya sebagian kecil dari halogen tersebut yang benar-benar mencapai lapisan atas atmosfer.[146] Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa peningkatan radiasi ultraviolet di permukaan Bumi akibat penipisan ozon tersebut dapat menyebabkan imunosupresi secara luas pada populasi manusia, yang mungkin menjelaskan munculnya berbagai epidemi dalam tahun-tahun setelah letusan terjadi.[147]

Dampak Iklim di Berbagai Wilayah

[sunting | sunting sumber]

Letusan Samalas, bersama dengan letusan misterius 1452/1453 dan letusan Tambora 1815, termasuk di antara peristiwa pendinginan paling dahsyat dalam seribu tahun terakhir, bahkan melampaui puncak Zaman Es Kecil.[148] Setelah musim dingin awal 1257–1258 yang relatif hangat,[f][149] yang bahkan memicu mekarnya bunga violet lebih awal di Kerajaan Prancis, [150] musim panas di Eropa menjadi lebih dingin pasca-letusan,[152] sementara musim dinginnya berlangsung panjang dan ekstrem.[153]

Letusan Samalas terjadi setelah berakhirnya Anomali Iklim Abad Pertengahan,[154] yaitu periode hangat yang luar biasa pada awal milenium terakhir,[155] ketika kestabilan iklim dunia mulai terganggu. Letusan-letusan sebelumnya pada tahun 1108, 1171, dan 1230 telah lebih dahulu mengacaukan keseimbangan iklim global. Aktivitas vulkanik meningkat tajam pada masa berikutnya hingga awal abad ke-20.[156] Rentang waktu antara 1250–1300 mencatat gangguan besar akibat aktivitas vulkanik[138] dari empat letusan utama pada tahun 1230, 1257, 1276, dan 1286,[157] yang jejaknya terekam pada moraine hasil kemajuan gletser di Pulau Disko,[158] meskipun endapan tersebut juga bisa menandakan periode dingin sebelum letusan Samalas.[159] Gangguan vulkanik ini, ditambah dengan efek umpan balik positif dari peningkatan massa es, mungkin telah memicu awal dari Zaman Es Kecil,[g] bahkan tanpa perlu adanya perubahan besar dalam radiasi matahari.[161][162] Meski demikian, teori ini masih menjadi perdebatan.[163] Di Eropa, letusan Samalas kerap dijadikan penanda kronologis bagi awal Zaman Es Kecil.[164]

Efek lain yang diduga muncul akibat letusan ini antara lain:

Wilayah lain seperti Alaska tampaknya tidak banyak terpengaruh.[191] Hampir tidak ada bukti bahwa pertumbuhan pohon terganggu oleh pendinginan di Amerika Serikat bagian barat,[192] tempat di mana letusan ini mungkin justru mengakhiri periode kekeringan panjang.[193] Dampak iklim di Alaska kemungkinan diredam oleh kedekatannya dengan samudra.[194] Pada tahun 1259, Eropa Barat dan pantai barat Amerika Utara mengalami cuaca yang relatif hangat,[141] dan tidak ditemukan bukti adanya perubahan curah hujan musim panas di Eropa Tengah.[195] Cincin pohon juga tidak menunjukkan indikasi signifikan terkait perubahan curah hujan.[196]

Dampak sosial dan historis

[sunting | sunting sumber]

Letusan Samalas menyebabkan bencana global pada tahun 1257–1258.[63] Letusan gunung berapi besar secara umum dapat menyebabkan berbagai bencana seperti kelaparan, termasuk pada wilayah yang jauh dari gunung tersebut, akibat dampak iklim yang ditimbulkannya.[110]

Kerajaan Lombok dan Bali

[sunting | sunting sumber]

Pada masa itu, wilayah barat dan tengah Indonesia terbagi ke dalam kerajaan-kerajaan yang saling bersaing dan kerap membangun kompleks candi yang disertai prasasti untuk mendokumentasikan peristiwa sejarah.[62] Namun, hanya sedikit bukti sejarah langsung yang menjelaskan akibat dari letusan Samalas.[197] Babad Lombok menceritakan bagaimana desa-desa di Lombok hancur pada pertengahan abad ke-13 akibat semburan abu, gas, dan aliran lava,[68] dan dua naskah tambahan, yakni Babad Sembalun serta Babad Suwung, mungkin juga merujuk pada peristiwa letusan tersebut.[198][i] Dari teks-teks inilah, bersama sumber lain, nama "Samalas" berasal,[4] sedangkan nama "Suwung", yang berarti "hening dan tanpa kehidupan", mungkin merupakan rujukan terhadap keadaan setelah letusan.[199]

Gunung Rinjani longsor dan Gunung Samalas runtuh, diikuti oleh aliran besar puing-puing yang bergemuruh oleh hantaman bongkahan batu. Aliran itu menghancurkan Pamatan. Semua rumah hancur dan tersapu, terapung di laut, dan banyak orang mati. Selama tujuh hari, gempa besar mengguncang bumi, hingga ke Leneng, terseret oleh aliran batu yang hanyut. Orang-orang melarikan diri, sebagian memanjat bukit untuk menyelamatkan diri.[j]

Babad Lombok[201]

Kota Pamatan, ibu kota sebuah kerajaan di Lombok, hancur dan kemudian lenyap dari catatan sejarah. Menurut teks Jawa, keluarga kerajaan berhasil selamat dari bencana tersebut,[202] dan disebutkan pula adanya upaya rekonstruksi serta pemulihan pasca-letusan,[203] meskipun tidak ada bukti pasti bahwa kerajaan itu sendiri turut musnah dalam peristiwa tersebut, karena sejarah wilayah ini memang kurang terdokumentasi.[197] Ribuan orang tewas,[12] meskipun ada kemungkinan sebagian penduduk Lombok sempat melarikan diri sebelum letusan terjadi.[204]

Di Bali, jumlah prasasti[k] menurun drastis setelah letusan,[206] dan baik Bali maupun Lombok mungkin sempat mengalami penurunan populasi,[207] kemungkinan selama beberapa generasi, hingga Raja Kertanegara dari Singhasari di Jawa dapat menaklukkan Bali pada tahun 1284 tanpa banyak perlawanan.[150][206] Diperkirakan, Lombok membutuhkan waktu sekitar satu abad untuk pulih dari dampak letusan tersebut.[208] Babad Suwung juga melaporkan kehancuran di pesisir barat Sumbawa,[209] yang menjadi wilayah tak berpenghuni hingga kini; kemungkinan besar, masyarakat setempat menganggap kawasan yang porak-poranda akibat letusan itu sebagai "tanah terlarang", dan ingatan kolektif tersebut bertahan hingga masa modern.[210]

Oseania dan Selandia Baru

[sunting | sunting sumber]

Sejarah di Oseania pada umumnya tidak memiliki penanggalan yang pasti, sehingga sulit menentukan rentang waktu dan peran atau dampak dari kejadian tertentu di kawasan tersebut. Meski begitu, terdapat bukti yang menunjukkan adanya berbagai krisis antara tahun 1250 dan 1300 di Oseania, contohnya seperti yang terjadi di Pulau Paskah, yang dapat dikaitkan permulaan Zaman Es Kecil serta letusan Samalas.[54] Pada sekitar tahun 1300, banyak pemukiman di Pasifik yang berpindah tempat, yang kemungkinan terkait dengan penurunan permukaan air laut setelah pertengahan abad ke-13.[177]

Perubahan iklim yang dipicu oleh letusan Samalas dan permulaan Zaman Es Kecil barangkali menyebabkan orang-orang Polinesia bermigrasi ke arah barat daya pada abad ke-13. Pemukiman pertama di Selandia Baru muncul pada sekitar tahun 1230–1280 M. Kemunculan pemukiman manusia di sana dan kepulauan sekitarnya bisa jadi merupakan akibat dari migrasi ini.[211]

Eropa, Timur Dekat dan Timur Tengah

[sunting | sunting sumber]

Kronik-kronik sezaman di Eropa mencatat adanya kondisi cuaca yang luar biasa pada tahun 1258.[212] Catatan dari Prancis dan Inggris pada tahun yang sama menggambarkan munculnya kabut kering yang pekat, yang bagi para pengamat masa itu tampak seperti selubung awan abadi di langit.[213] Sumber-sumber abad pertengahan melaporkan bahwa musim panas tahun 1258 terasa dingin dan disertai hujan terus-menerus, menyebabkan banjir serta gagal panen,[69] dengan udara dingin yang berlangsung sejak Februari hingga Juni.[214] Menurut kronik Rusia, embun beku dan salju bahkan turun pada musim panas tahun 1259.[215][115] Di Eropa dan Timur Tengah, perubahan warna langit, badai, cuaca dingin, dan kondisi ekstrem dilaporkan terjadi sepanjang 1258–1259,[134][216] dengan dampak terhadap pertanian yang meluas hingga ke Afrika Utara.[217] Di Eropa, hujan berlebih, udara dingin, dan tutupan awan yang tebal merusak hasil panen dan memicu kelaparan yang kemudian diikuti oleh epidemi penyakit,[218][219][94] meskipun bencana kelaparan tahun 1258–1259 tidak separah Kelaparan Besar 1315–17.[220]

Harga biji-bijian meningkat tajam di Britania,[216] Prancis,[221] dan Italia, diperparah oleh praktik spekulasi harga.[222] Wabah penyakit muncul pada masa ini di Timur Tengah, Inggris,[221] dan Italia, termasuk di antaranya tifus.[223] Selama dan sesudah musim dingin 1258–1259, laporan mengenai cuaca ekstrem mulai berkurang, tetapi musim dingin tahun 1260–1261 kembali sangat keras di Islandia, Italia, dan wilayah lain.[224] Gangguan besar yang disebabkan oleh letusan ini diduga turut memengaruhi meletusnya pemberontakan Mudéjar 1264–1266 di Iberia.[225]

Di Islandia dan Skandinavia, masyarakat dilanda udara dingin yang menggigit, kondisi pelayaran yang buruk, dan kekurangan pangan antara tahun 1258 hingga 1261. Situasi ini mendorong Haakon IV dari Norwegia untuk memberlakukan langkah-langkah hukum dan politik demi mempertahankan pendapatan pajak serta mencegah para petani meninggalkan daerah pedesaan.[226] Persatuan antara Norwegia dan Islandia yang terjadi pada masa itu juga mungkin dipengaruhi oleh krisis yang melanda.[227]

Inggris dan Italia

[sunting | sunting sumber]

Tubuh-tubuh yang membengkak dan membusuk dalam kelompok lima atau enam orang tergeletak begitu saja di kandang babi, di atas timbunan kotoran, dan di jalan-jalan berlumpur.

Matthew Paris, penulis kronik dari St. Albans[228]

Sebuah masa kelaparan di London telah dikaitkan dengan peristiwa ini;[58] krisis pangan tersebut bukanlah hal yang luar biasa,[229] dan bahkan sebelum letusan terjadi, panen sudah menghadapi berbagai masalah.[230][231] Kelaparan itu berlangsung di tengah krisis politik antara Raja Henry III dari Inggris dan para bangsawan besar Inggris.[232] Para saksi mata melaporkan angka kematian mencapai 15.000 hingga 20.000 jiwa di London. Sebuah lokasi penguburan massal korban kelaparan ditemukan pada 1990-an di pusat kota London.[94] Matthew Paris dari St Albans menulis bahwa hingga pertengahan Agustus 1258, cuaca terus berganti antara dingin dan hujan deras, yang menyebabkan angka kematian tinggi.[228] Kelaparan yang diakibatkannya begitu parah sehingga gandum harus diimpor dari Jerman dan Belanda.[233]

Di Italia, cuaca buruk yang disertai hujan lebat pada tahun 1258 menyebabkan gagal panen di seluruh semenanjung, sebagaimana tercatat dalam berbagai kronik,[234] meskipun dampaknya berbeda-beda di tiap wilayah.[223] Dibandingkan sebagian besar wilayah Eropa, Italia mengalami dampak terburuk setahun lebih lambat.[235] Pada tahun 1259, sebuah gelombang dingin menyebabkan tingginya angka kematian di seluruh Italia.[236] Kota Bologna dan Siena berupaya menanggulangi krisis pangan dengan membeli dan menyubsidi gandum, melarang ekspornya, serta membatasi harga jualnya.[237] Siena bahkan menjalin hubungan diplomatik dengan Manfred, Raja Sisilia, dengan dalih untuk membantu menangani krisis pangan tersebut,[238] sementara di Bologna, krisis politik meletus dan memperlemah posisi geopolitik kota itu.[239] Parma memerintahkan penjualan gandum dan menugaskan para pejabat untuk memantau pasar, termasuk menutupnya setiap hari Sabtu,[240] serta melarang ekspor bahan pangan.[241] Besar kemungkinan bahwa kejatuhan podestá (penguasa kota) Parma, Giberto da Gente [it], pada tahun 1259 turut dipicu oleh krisis ini, yang menyebabkan para pendukungnya memilih untuk tidak bertindak.[242] Di Pavia, yang telah dilanda krisis politik sejak 1257,[243] berbagai kebijakan ekonomi dan kepolisian diberlakukan selama dua tahun berikutnya untuk menjamin ketersediaan pangan.[244] Kota Como di Italia utara memperbaiki tanggul sungai yang rusak akibat banjir,[245] serta membeli gandum untuk kebutuhan penduduknya.[246] Di Perugia, krisis pangan berlangsung selama tiga tahun antara 1257 dan 1260,[247] dan persoalan pasokan makanan memainkan peranan utama dalam politik kota serta mendorong peningkatan kontrol sosial.[248] Perugia juga menjadi tempat munculnya gerakan Flagelan,[249] yang mungkin berakar dari penderitaan sosial akibat dampak letusan, meskipun peperangan dan faktor lain tampaknya memiliki pengaruh yang lebih besar daripada peristiwa alam itu sendiri.[250]

Dampak Jangka Panjang di Eropa dan Timur Dekat

[sunting | sunting sumber]

Dalam jangka panjang, pendinginan di kawasan Atlantik Utara serta meluasnya es laut di wilayah tersebut tampaknya memengaruhi kehidupan masyarakat Greenland dan Islandia,[251] dengan membatasi kegiatan pelayaran dan pertanian mereka. Kondisi ini mungkin turut berperan, bersama dengan guncangan iklim lanjutan sekitar tahun 1425, dalam mengakhiri keberadaan permukiman bangsa Nordik di Greenland.[252] Kemungkinan lain dari dampak jangka panjang letusan ini adalah hilangnya kendali Kekaisaran Bizantium atas wilayah barat Anatolia. Pergeseran kekuasaan politik dari para petani Bizantium ke kelompok bangsa Turkik penggembala di kawasan tersebut tampaknya dipicu oleh perubahan iklim. Musim dingin yang lebih keras akibat letusan akan menghantam pertanian dengan lebih parah dibandingkan kegiatan penggembalaan, yang lebih mudah beradaptasi terhadap suhu ekstrem.[253]

Wilayah Four Corners, Amerika Utara

[sunting | sunting sumber]

Letusan Samalas tahun 1257 terjadi pada masa Periode Pueblo III di wilayah barat daya Amerika Utara, ketika kawasan Mesa Verde di sepanjang Sungai San Juan menjadi tempat berdirinya hunian tebing (cliff dwelling) yang terkenal itu. Sejumlah situs ditinggalkan setelah peristiwa letusan tersebut.[254] Letusan ini terjadi pada masa penurunan curah hujan dan suhu yang lebih dingin, bertepatan dengan menurunnya populasi penduduk.[255] Letusan Samalas[256] merupakan salah satu dari beberapa letusan besar pada periode itu yang diduga menimbulkan tekanan iklim,[257] seperti pendinginan cuaca yang ekstrem,[254] yang pada gilirannya menimbulkan pergolakan dalam masyarakat Anasazi. Kemungkinan besar, mereka meninggalkan wilayah utara Dataran Tinggi Colorado sebagai akibat dari perubahan tersebut.[257]

Altiplano, Amerika Selatan

[sunting | sunting sumber]

Di kawasan Altiplano di Amerika Selatan, terdapat suatu masa dingin dan kering antara tahun 1200 hingga 1450 yang dikaitkan dengan letusan Samalas serta letusan gunung berapi Quilotoa di Ekuador pada tahun 1280. Meskipun terjadi perubahan iklim, masyarakat setempat tetap memperluas penggunaan pertanian tadah hujan di wilayah antara Salar de Uyuni dan Salar de Coipasa, yang menunjukkan bahwa mereka mampu menyesuaikan diri dan menghadapi dampak lingkungan akibat letusan tersebut dengan efektif.[258]

Asia Timur

[sunting | sunting sumber]

Gangguan lingkungan juga tercatat di Tiongkok, Jepang, dan Korea.[94] Di Jepang, kronik Azuma Kagami melaporkan bahwa sawah dan kebun hancur akibat cuaca yang dingin dan lembap,[259] dan kelaparan besar yang dikenal sebagai Kelaparan Shōga, yang antara lain memengaruhi pemikiran reformis agama Jepang Nichiren,[260] mungkin diperparah oleh kondisi cuaca buruk pada tahun 1258 dan 1259.[220] Bersamaan dengan Invasi Mongol ke Korea, kesulitan yang ditimbulkan oleh letusan Samalas kemungkinan turut mempercepat kejatuhan rezim militer Goryeo dan berakhirnya kekuasaan diktator terakhirnya, Ch'oe Ui.[261] Anomali muson yang dipicu oleh letusan Samalas juga mungkin berdampak pada Angkor Wat di wilayah Kamboja modern, yang pada masa itu mengalami penurunan jumlah penduduk.[262] Dampak lain yang mungkin[263] termasuk perubahan warna langit dan senja yang tidak biasa,[215] serta peristiwa gelap total pada Bulan selama gerhana bulan pada Mei 1258,[264] fenomena yang juga tercatat di Eropa; aerosol vulkanik mengurangi cahaya Matahari yang tersebar ke dalam bayangan Bumi dan dengan demikian menggelapkan Bulan yang sedang mengalami gerhana.[265]

Kekaisaran Mongol

[sunting | sunting sumber]

Peningkatan curah hujan yang dipicu oleh letusan ini mungkin telah mempermudah Invasi Mongol ke Levant,[266] tetapi ketika iklim pra-Samalas kembali, daya dukung ternak di wilayah tersebut menurun, sehingga mengurangi efektivitas militer mereka[267] dan membuka jalan bagi kekalahan mereka dalam Pertempuran Ain Jalut.[268][269] Dampak letusan seperti kelaparan, kekeringan, dan wabah penyakit[270] juga mungkin mempercepat kemunduran Kekaisaran Mongol, meskipun peristiwa vulkanik tersebut tampaknya bukan satu-satunya penyebabnya.[177] Letusan itu mungkin pula memengaruhi hasil Perang Saudara Toluid[270] dan menggeser pusat kekuasaan ke wilayah Tiongkok yang dikuasai oleh Kublai Khan, yang lebih mampu beradaptasi dengan kondisi musim dingin yang keras.[271]

Asia Tengah dan Wabah Hitam

[sunting | sunting sumber]

Letusan Samalas beserta gunung berapi lainnya menyebabkan gangguan iklim di Asia Tengah, termasuk pendinginan[272] yang kemudian diikuti dengan pemanasan. Masa pemanasan ini mungkin menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung penyebaran Yersinia pestis, bakteri penyebab wabah pes.[273] Namun, diversifikasi patogen tersebut di wilayah Tian Shan telah dimulai sejak awal abad ke-13.[274] Populasi manusia yang telah melemah akibat krisis pangan dan kekacauan politik/militer yang dipicu oleh pendinginan global kemungkinan besar mempermudah munculnya dan menyebarnya wabah tersebut.[275]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. Indeks Eksplosivitas Vulkanik adalah skala yang digunakan untuk mengukur intensitas suatu letusan eksplosif;[2] magnitudo 7 menandakan letusan yang menghasilkan sedikitnya 100 kilometer kubik (24 cu mi) endapan vulkanik. Letusan sebesar ini umumnya hanya terjadi sekali atau dua kali dalam satu milenium, meskipun frekuensinya mungkin terhitung lebih jarang karena catatan geologi dan sejarah yang tidak lengkap.[3]
  2. Satuan “setara batuan padat” digunakan untuk mengukur volume magma asli yang menghasilkan material piroklastik.[20]
  3. Tefrokronologi adalah metode penanggalan urutan arkeologis, geologis, dan paleo-lingkungan berdasarkan posisi di antara lapisan tefra (ejecta vulkanik) bertanggal pasti, serta untuk menghubungkan peristiwa di lokasi berbeda yang memiliki lapisan tefra yang sama.[50][51]
  4. Lonjakan sulfat sekitar tahun 44 SM dan 426 SM, yang ditemukan kemudian, sebanding dalam ukuran.[81]
  5. Namun kekeringan di Thailand tampak berlanjut setelah efek aerosol Samalas seharusnya telah berakhir.[120]
  6. Pemanasan musim dingin kerap terjadi setelah letusan gunung api tropis,[149] akibat efek dinamis yang dipicu oleh aerosol sulfat.[150][151]
  7. Zaman Es Kecil merupakan periode beberapa abad dalam milenium terakhir di mana suhu global menurun drastis;[155] pendinginan ini berkaitan erat dengan letusan gunung api besar.[160]
  8. δ18O merupakan rasio isotop oksigen-18 terhadap oksigen-16 yang lebih umum, dan sensitif terhadap perubahan iklim.[184]
  9. Istilah Babad mengacu pada kronik Jawa dan Bali. Naskah-naskah ini bukanlah karya asli, melainkan kompilasi ulang dari teks-teks yang lebih tua, yang kemungkinan ditulis sekitar abad ke-14.[198]
  10. Teks asli (transliterasi): "Gunung Renjani kularat, miwah Gunung Samalas rakrak, balabur watu gumuruh, tibeng desa Pamatan, yata kanyut bale halang parubuh, kurambangning sagara, wong ngipun halong kang mati. Pitung dina lami nira, gentuh hiku hangebeki pertiwi, hing Leneng hadampar, hanerus maring batu dendeng kang hanyut, wong ngipun kabeh hing paliya, saweneh munggah hing ngukir."[200]
  11. Dan di Lombok, catatan sejarah masyarakat Sasak.[205]
  1. "Rinjani". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. Diakses tanggal 22 Januari 2020.
  2. Newhall, Self & Robock 2018, hlm. 572.
  3. Newhall, Self & Robock 2018, hlm. 573.
  4. 1 2 3 4 "Rinjani Dari Evolusi Kaldera hingga Geopark". Geomagz. 4 April 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Februari 2018. Diakses tanggal 3 Maret 2018.
  5. 1 2 3 Métrich et al. 2018, hlm. 2258.
  6. 1 2 3 Rachmat et al. 2016, hlm. 109.
  7. Fontijn et al. 2015, hlm. 2.
  8. Mutaqin et al. 2019, hlm. 338–339.
  9. 1 2 3 Rachmat et al. 2016, hlm. 107.
  10. 1 2 3 4 5 Rachmat et al. 2016, hlm. 108.
  11. Ingimarsson 2024, hlm. 4.
  12. 1 2 3 4 5 6 Lavigne et al. 2013, hlm. 16743.
  13. Corlett, Richard T. (27 Juni 2019), "Physical geography", The Ecology of Tropical East Asia (dalam bahasa Inggris), Oxford University Press, hlm. 26–61, doi:10.1093/oso/9780198817017.003.0002, ISBN 978-0-19-881701-7, diakses tanggal 10 Desember 2021
  14. 1 2 3 Malawani et al. 2024, hlm. 18.
  15. Malawani et al. 2024, hlm. 20.
  16. 1 2 3 4 5 Vidal et al. 2015, hlm. 3.
  17. 1 2 Malawani et al. 2024, hlm. 22.
  18. Malawani et al. 2024, hlm. 13.
  19. 1 2 3 Vidal et al. 2015, hlm. 2.
  20. Pyle, David M. (2015). "Sizes of Volcanic Eruptions". The Encyclopedia of Volcanoes. hlm. 257–264. doi:10.1016/B978-0-12-385938-9.00013-4. ISBN 9780123859389. Diakses tanggal 19 Oktober 2018.
  21. Métrich et al. 2018, hlm. 2260.
  22. Métrich et al. 2018, hlm. 2264.
  23. Métrich et al. 2018, hlm. 2263.
  24. 1 2 Rachmat et al. 2016, hlm. 110.
  25. 1 2 3 Malawani et al. 2022, hlm. 6.
  26. Crowley, T. J.; Unterman, M. B. (23 Mei 2013). "Technical details concerning development of a 1200 yr proxy index for global volcanism". Earth System Science Data. 5 (1): 193. Bibcode:2013ESSD....5..187C. doi:10.5194/essd-5-187-2013.
  27. Stevenson et al. 2019, hlm. 1547.
  28. Büntgen et al. 2022, hlm. 532.
  29. Vidal et al. 2015, hlm. 21–22.
  30. 1 2 Vidal et al. 2015, hlm. 18.
  31. Vidal et al. 2015, hlm. 17–18.
  32. Whitehill, A. R.; Jiang, B.; Guo, H.; Ono, S. (20 Februari 2015). "SO2 photolysis as a source for sulfur mass-independent isotope signatures in stratospehric aerosols". Atmospheric Chemistry and Physics. 15 (4): 1861. Bibcode:2015ACP....15.1843W. doi:10.5194/acp-15-1843-2015. hdl:1721.1/96434.
  33. 1 2 Vidal et al. 2015, hlm. 5.
  34. Mutaqin & Lavigne 2019, hlm. 5.
  35. 1 2 3 4 Vidal et al. 2015, hlm. 7.
  36. Malawani et al. 2023, hlm. 2102.
  37. Mutaqin et al. 2019, hlm. 344.
  38. Vidal et al. 2015, hlm. 17.
  39. Lavigne et al. 2013, hlm. 16744.
  40. Malawani et al. 2023, hlm. 2110.
  41. Mutaqin et al. 2019, hlm. 348.
  42. Mutaqin et al. 2019, hlm. 339.
  43. Alloway et al. 2017, hlm. 87.
  44. Alloway et al. 2017, hlm. 90.
  45. Vidal et al. 2015, hlm. 8.
  46. Vidal et al. 2015, hlm. 12.
  47. Vidal et al. 2015, hlm. 16.
  48. 1 2 Vidal et al. 2015, hlm. 19.
  49. Fontijn et al. 2015, hlm. 8.
  50. Allaby 2013, hlm. 581.
  51. Lowe 2011, hlm. 107.
  52. Stevenson, J. A.; Millington, S. C.; Beckett, F. M.; Swindles, G. T.; Thordarson, T. (19 Mei 2015). "Big grains go far: understanding the discrepancy between tephrochronology and satellite infrared measurements of volcanic ash". Atmospheric Measurement Techniques. 8 (5): 2075. Bibcode:2015AMT.....8.2069S. doi:10.5194/amt-8-2069-2015.
  53. Yang, Zhongkang; Long, Nanye; Wang, Yuhong; Zhou, Xin; Liu, Yi; Sun, Liguang (1 Februari 2017). "A great volcanic eruption around AD 1300 recorded in lacustrine sediment from Dongdao Island, South China Sea". Journal of Earth System Science (dalam bahasa Inggris). 126 (1): 5. Bibcode:2017JESS..126....7Y. doi:10.1007/s12040-016-0790-y. ISSN 0253-4126.
  54. 1 2 Margalef et al. 2018, hlm. 5.
  55. Malawani et al. 2024, hlm. 4.
  56. Vidal et al. 2016, hlm. 2.
  57. Métrich et al. 2018, hlm. 2278.
  58. 1 2 Whelley, Patrick L.; Newhall, Christopher G.; Bradley, Kyle E. (22 Januari 2015). "The frequency of explosive volcanic eruptions in Southeast Asia". Bulletin of Volcanology. 77 (1): 3. Bibcode:2015BVol...77....1W. doi:10.1007/s00445-014-0893-8. PMC 4470363. PMID 26097277.
  59. 1 2 3 4 Lavigne et al. 2013, hlm. 16745.
  60. Fernandez-Turiel, J. L.; Perez–Torrado, F. J.; Rodriguez-Gonzalez, A.; Saavedra, J.; Carracedo, J. C.; Rejas, M.; Lobo, A.; Osterrieth, M.; Carrizo, J. I.; Esteban, G.; Gallardo, J.; Ratto, N. (8 Mei 2019). "La gran erupción de hace 4.2 ka cal en Cerro Blanco, Zona Volcánica Central, Andes: nuevos datos sobre los depósitos eruptivos holocenos en la Puna sur y regiones adyacentes". Estudios Geológicos. 75 (1): 26. doi:10.3989/egeol.43438.515. hdl:10261/210512.
  61. Lavigne et al. 2013, Table S1.
  62. 1 2 Alloway et al. 2017, hlm. 86.
  63. 1 2 3 4 Reid, Anthony (2016). "Revisiting Southeast Asian History with Geology: Some Demographic Consequences of a Dangerous Environment". Dalam Bankoff, Greg; Christensen, Joseph (ed.). Natural Hazards and Peoples in the Indian Ocean World. Palgrave Series in Indian Ocean World Studies. Palgrave Macmillan US. hlm. 33. doi:10.1057/978-1-349-94857-4_2. ISBN 978-1-349-94857-4.
  64. Vidal et al. 2015, hlm. 14–15.
  65. Roverato, Matteo; Dufresne, Anja; Procter, Jonathan, ed. (2021). Volcanic Debris Avalanches. Advances in Volcanology (dalam bahasa Inggris (Britania)). hlm. 40. doi:10.1007/978-3-030-57411-6. ISBN 978-3-030-57410-9. ISSN 2364-3277. S2CID 226971090.
  66. Lavigne, Franck; Morin, Julie; Mei, Estuning Tyas Wulan; Calder, Eliza S.; Usamah, Muhi; Nugroho, Ute (2017). Mapping Hazard Zones, Rapid Warning Communication and Understanding Communities: Primary Ways to Mitigate Pyroclastic Flow Hazard. Advances in Volcanology (dalam bahasa Inggris). hlm. 4. doi:10.1007/11157_2016_34. ISBN 978-3-319-44095-8.
  67. 1 2 Bufanio 2022, hlm. 19.
  68. 1 2 3 4 5 6 "Culprit Behind Medieval Eruption". Science. 342 (6154): 21.2–21. 3 Oktober 2013. doi:10.1126/science.342.6154.21-b.
  69. 1 2 3 4 Lavigne et al. 2013, hlm. 16742.
  70. 1 2 3 4 5 6 Hamilton 2013, hlm. 39.
  71. Oppenheimer 2003, hlm. 417.
  72. Langway, Chester C. (2008). "The history of early polar ice cores" (PDF). Cold Regions Science and Technology. 52 (2): 28. Bibcode:2008CRST...52..101L. doi:10.1016/j.coldregions.2008.01.001. hdl:11681/5296. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 November 2016. Diakses tanggal 29 Januari 2019.
  73. Oppenheimer 2003, hlm. 418.
  74. 1 2 Vidal et al. 2016, hlm. 1.
  75. Hammer, Clausen & Langway 1988, hlm. 103.
  76. Hammer, Clausen & Langway 1988, hlm. 104.
  77. Hammer, Clausen & Langway 1988, hlm. 106.
  78. Osipova, O. P.; Shibaev, Y. A.; Ekaykin, A. A.; Lipenkov, V. Y.; Onischuk, N. A.; Golobokova, L. P.; Khodzher, T. V.; Osipov, E. Y. (7 Mei 2014). "High-resolution 900 year volcanic and climatic record from the Vostok area, East Antarctica". The Cryosphere (dalam bahasa Inggris). 8 (3): 7. Bibcode:2014TCry....8..843O. doi:10.5194/tc-8-843-2014. ISSN 1994-0416. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 April 2019. Diakses tanggal 7 April 2019.
  79. 1 2 Narcisi et al. 2019, hlm. 165.
  80. 1 2 Auchmann, Renate; Brönnimann, Stefan; Arfeuille, Florian (Maret 2015). "Tambora: das Jahr ohne Sommer". Physik in unserer Zeit (dalam bahasa Jerman). 46 (2): 67. Bibcode:2015PhuZ...46...64A. doi:10.1002/piuz.201401390. S2CID 118745561.
  81. Sigl, M.; Winstrup, M.; McConnell, J. R.; Welten, K. C.; Plunkett, G.; Ludlow, F.; Büntgen, U.; Caffee, M.; Chellman, N.; Dahl-Jensen, D.; Fischer, H.; Kipfstuhl, S.; Kostick, C.; Maselli, O. J.; Mekhaldi, F.; Mulvaney, R.; Muscheler, R.; Pasteris, D. R.; Pilcher, J. R.; Salzer, M.; Schüpbach, S.; Steffensen, J. P.; Vinther, B. M.; Woodruff, T. E. (8 Juli 2015). "Timing and climate forcing of volcanic eruptions for the past 2,500 years". Nature. 523 (7562): 543–9. Bibcode:2015Natur.523..543S. doi:10.1038/nature14565. PMID 26153860. S2CID 4462058.
  82. Oppenheimer 2003, hlm. 419.
  83. Oppenheimer 2003, hlm. 420.
  84. 1 2 Campbell 2017, hlm. 113.
  85. Caulfield, J. T.; Cronin, S. J.; Turner, S. P.; Cooper, L. B. (27 April 2011). "Mafic Plinian volcanism and ignimbrite emplacement at Tofua volcano, Tonga". Bulletin of Volcanology. 73 (9): 1274. Bibcode:2011BVol...73.1259C. doi:10.1007/s00445-011-0477-9. S2CID 140540145.
  86. Stothers 2000, hlm. 361.
  87. 1 2 Brovkin et al. 2010, hlm. 675.
  88. Oppenheimer 2003, hlm. 424.
  89. Hammer, Clausen & Langway 1988, hlm. 107.
  90. 1 2 3 4 Oppenheimer 2003, hlm. 422.
  91. Zielinski, Gregory A. (1995). "Stratospheric loading and optical depth estimates of explosive volcanism over the last 2100 years derived from the Greenland Ice Sheet Project 2 ice core". Journal of Geophysical Research. 100 (D10): 20949. Bibcode:1995JGR...10020937Z. doi:10.1029/95JD01751.
  92. Witze, Alexandra (14 Juli 2012). "Earth: Volcanic bromine destroyed ozone: Blasts emitted gas that erodes protective atmospheric layer". Science News. 182 (1): 12. doi:10.1002/scin.5591820114.
  93. Hamilton 2013, hlm. 39–40.
  94. 1 2 3 4 5 Hamilton 2013, hlm. 40.
  95. "Centuries-old volcano mystery solved?". Science News. UPI. 18 Juni 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 April 2019. Diakses tanggal 11 Maret 2019.
  96. Narcisi et al. 2019, hlm. 168.
  97. Bufanio 2022, hlm. 20.
  98. 1 2 Kokfelt et al. 2016, hlm. 2.
  99. Swingedouw et al. 2017, hlm. 28.
  100. Boudon, Georges; Balcone-Boissard, Hélène; Solaro, Clara; Martel, Caroline (September 2017). "Revised chronostratigraphy of recurrent ignimbritic eruptions in Dominica (Lesser Antilles arc): Implications on the behavior of the magma plumbing system" (PDF). Journal of Volcanology and Geothermal Research (dalam bahasa Inggris). 343: 135. Bibcode:2017JVGR..343..135B. doi:10.1016/j.jvolgeores.2017.06.022. ISSN 0377-0273.
  101. Kellerhals, Thomas; Tobler, Leonhard; Brütsch, Sabina; Sigl, Michael; Wacker, Lukas; Gäggeler, Heinz W.; Schwikowski, Margit (1 Februari 2010). "Thallium as a Tracer for Preindustrial Volcanic Eruptions in an Ice Core Record from Illimani, Bolivia". Environmental Science & Technology. 44 (3): 888–93. Bibcode:2010EnST...44..888K. doi:10.1021/es902492n. ISSN 0013-936X. PMID 20050662.
  102. Knüsel, S. (2003). "Dating of two nearby ice cores from the Illimani, Bolivia". Journal of Geophysical Research. 108 (D6) 2001JD002028: 4181. Bibcode:2003JGRD..108.4181K. doi:10.1029/2001JD002028.
  103. Fu et al. 2016, hlm. 2862.
  104. Wendl, I. A.; Eichler, A.; Isaksson, E.; Martma, T.; Schwikowski, M. (7 Juli 2015). "800-year ice-core record of nitrogen deposition in Svalbard linked to ocean productivity and biogenic emissions". Atmospheric Chemistry and Physics. 15 (13): 7290. Bibcode:2015ACP....15.7287W. doi:10.5194/acp-15-7287-2015.
  105. 1 2 Kokfelt et al. 2016, hlm. 6.
  106. Baroni et al. 2019, hlm. 6.
  107. Vidal et al. 2016, hlm. 7.
  108. Pouget, Manon; Moussallam, Yves; Rose-Koga, Estelle F.; Sigurdsson, Haraldur (25 Oktober 2023). "A reassessment of the sulfur, chlorine and fluorine atmospheric loading during the 1815 Tambora eruption". Bulletin of Volcanology (dalam bahasa Inggris). 85 (11): 12. Bibcode:2023BVol...85...66P. doi:10.1007/s00445-023-01683-8. S2CID 264451181.
  109. Vidal et al. 2015, hlm. 21.
  110. 1 2 Stothers 2000, hlm. 362.
  111. Baroni et al. 2019, hlm. 21.
  112. Davi, N.K.; D'Arrigo, R.; Jacoby, G.C.; Cook, E.R.; Anchukaitis, K.J.; Nachin, B.; Rao, M.P.; Leland, C. (Agustus 2015). "A long-term context (931–2005 C.E.) for rapid warming over Central Asia". Quaternary Science Reviews. 121: 95. Bibcode:2015QSRv..121...89D. doi:10.1016/j.quascirev.2015.05.020.
  113. Baillie, M. G. L.; McAneney, J. (16 Januari 2015). "Tree ring effects and ice core acidities clarify the volcanic record of the first millennium". Climate of the Past (dalam bahasa Inggris). 11 (1): 105. Bibcode:2015CliPa..11..105B. doi:10.5194/cp-11-105-2015. ISSN 1814-9324. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2018. Diakses tanggal 19 Oktober 2018.
  114. Ingimarsson 2024, hlm. 6-7.
  115. 1 2 Hantemirov, Rashit M; Gorlanova, Ludmila A; Shiyatov, Stepan G (Juli 2004). "Extreme temperature events in summer in northwest Siberia since AD 742 inferred from tree rings". Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology (dalam bahasa Inggris). 209 (1–4): 161. Bibcode:2004PPP...209..155H. doi:10.1016/j.palaeo.2003.12.023. ISSN 0031-0182.
  116. Scuderi, Louis A. (1990). "Tree-Ring Evidence for Climatically Effective Volcanic Eruptions". Quaternary Research (dalam bahasa Inggris). 34 (1): 73. Bibcode:1990QuRes..34...67S. doi:10.1016/0033-5894(90)90073-T. ISSN 1096-0287. S2CID 129758817.
  117. Lee, Kyung Eun; Park, Wonsun; Yeh, Sang-Wook; Bae, Si Woong; Ko, Tae Wook; Lohmann, Gerrit; Nam, Seung-Il (1 September 2021). "Enhanced climate variability during the last millennium recorded in alkenone sea surface temperatures of the northwest Pacific margin". Global and Planetary Change (dalam bahasa Inggris). 204 103558: 7. Bibcode:2021GPC...20403558L. doi:10.1016/j.gloplacha.2021.103558. ISSN 0921-8181.
  118. Chu, Guoqiang; Sun, Qing; Wang, Xiaohua; Liu, Meimei; Lin, Yuan; Xie, Manman; Shang, Wenyu; Liu, Jiaqi (1 Juli 2012). "Seasonal temperature variability during the past 1600 years recorded in historical documents and varved lake sediment profiles from northeastern China". The Holocene (dalam bahasa Inggris). 22 (7): 787. Bibcode:2012Holoc..22..785C. doi:10.1177/0959683611430413. ISSN 0959-6836. S2CID 128544002.
  119. Fei, Jie; Zhou, Jie (Februari 2016). "The drought and locust plague of 942–944 AD in the Yellow River Basin, China". Quaternary International (dalam bahasa Inggris). 394: 120. Bibcode:2016QuInt.394..115F. doi:10.1016/j.quaint.2014.11.053. ISSN 1040-6182.
  120. 1 2 Tan, Liangcheng; Shen, Chuan-Chou; Löwemark, Ludvig; Chawchai, Sakonvan; Edwards, R. Lawrence; Cai, Yanjun; Breitenbach, Sebastian F. M.; Cheng, Hai; Chou, Yu-Chen; Duerrast, Helmut; Partin, Judson W.; Cai, Wenju; Chabangborn, Akkaneewut; Gao, Yongli; Kwiecien, Ola; Wu, Chung-Che; Shi, Zhengguo; Hsu, Huang-Hsiung; Wohlfarth, Barbara (27 Agustus 2019). "Rainfall variations in central Indo-Pacific over the past 2,700 y". Proceedings of the National Academy of Sciences (dalam bahasa Inggris). 116 (35): 17202, 17204. Bibcode:2019PNAS..11617201T. doi:10.1073/pnas.1903167116. ISSN 0027-8424. PMC 6717306. PMID 31405969.
  121. Thun, Terje; Svarva, Helene (Februari 2018). "Tree-ring growth shows that the significant population decline in Norway began decades before the Black Death". Dendrochronologia (dalam bahasa Inggris). 47: 28. Bibcode:2018Dendr..47...23T. doi:10.1016/j.dendro.2017.12.002. ISSN 1125-7865.
  122. Stoffel et al. 2015, hlm. 787.
  123. Brovkin et al. 2010, hlm. 674.
  124. Brovkin et al. 2010, hlm. 674–675.
  125. Guillet et al. 2017, hlm. 123.
  126. Baillie, M. G. L.; McAneney, J. (16 Januari 2015). "Tree ring effects and ice core acidities clarify the volcanic record of the first millennium". Climate of the Past. 11 (1): 106. Bibcode:2015CliPa..11..105B. doi:10.5194/cp-11-105-2015.
  127. Boucher, Olivier (2015). "Stratospheric Aerosols". Atmospheric Aerosols. Springer Netherlands. hlm. 279. doi:10.1007/978-94-017-9649-1_12. ISBN 978-94-017-9649-1.
  128. Wade et al. 2020, hlm. 26651.
  129. 1 2 Guillet, Sebastien; Corona, Christophe; Stoffel, Markus; Khodri, Myriam; Poulain, Virginie; Guiot, Joel; Luckman, Brian; Churakova, Olga; Beniston, Martin; Franck, Lavigne; Masson-Delmotte, Valerie; Oppenheimer, Clive (2015). "Toward a more realistic assessment of the climatic impacts of the 1257 eruption". EGU General Assembly 2015. 17: 1268. Bibcode:2015EGUGA..17.1268G.
  130. Swingedouw et al. 2017, hlm. 30.
  131. Stoffel et al. 2015, hlm. 785.
  132. Wade et al. 2020, hlm. 26653.
  133. Timmreck et al. 2009, hlm. 3.
  134. 1 2 Wainman, Marshall & Schmidt 2024, hlm. 961.
  135. Brewington, Seth D. (Mei 2016). "The Social Costs of Resilience: An Example from the Faroe Islands". Archeological Papers of the American Anthropological Association. 27 (1): 99. doi:10.1111/apaa.12076.
  136. Yang, Weilin; Li, Yingkui; Liu, Gengnian; Chu, Wenchao (21 September 2022). "Timing and climatic-driven mechanisms of glacier advances in Bhutanese Himalaya during the Little Ice Age". The Cryosphere (dalam bahasa Inggris). 16 (9): 3747. Bibcode:2022TCry...16.3739Y. doi:10.5194/tc-16-3739-2022. ISSN 1994-0416. S2CID 252451837.
  137. Huston, Alan; Siler, Nicholas; Roe, Gerard H.; Pettit, Erin; Steiger, Nathan J. (1 April 2021). "Understanding drivers of glacier-length variability over the last millennium". The Cryosphere (dalam bahasa Inggris). 15 (3): 1647. Bibcode:2021TCry...15.1645H. doi:10.5194/tc-15-1645-2021. ISSN 1994-0416. S2CID 233737859.
  138. 1 2 Zhong, Y.; Miller, G. H.; Otto-Bliesner, B. L.; Holland, M. M.; Bailey, D. A.; Schneider, D. P.; Geirsdottir, A. (31 Desember 2010). "Centennial-scale climate change from decadally-paced explosive volcanism: a coupled sea ice-ocean mechanism". Climate Dynamics. 37 (11–12): 2374–2375. Bibcode:2011ClDy...37.2373Z. doi:10.1007/s00382-010-0967-z. S2CID 54881452.
  139. Robock, Alan (27 Agustus 2013). "The Latest on Volcanic Eruptions and Climate". Eos, Transactions American Geophysical Union. 94 (35): 305–306. Bibcode:2013EOSTr..94..305R. doi:10.1002/2013EO350001. S2CID 128567847.
  140. Gennaretti, F.; Arseneault, D.; Nicault, A.; Perreault, L.; Begin, Y. (30 Juni 2014). "Volcano-induced regime shifts in millennial tree-ring chronologies from northeastern North America". Proceedings of the National Academy of Sciences. 111 (28): 10077–10082. Bibcode:2014PNAS..11110077G. doi:10.1073/pnas.1324220111. PMC 4104845. PMID 24982132.
  141. 1 2 Guillet et al. 2017, hlm. 126.
  142. Lim, Hyung-Gyu; Yeh, Sang-Wook; Kug, Jong-Seong; Park, Young-Gyu; Park, Jae-Hun; Park, Rokjin; Song, Chang-Keun (29 Agustus 2015). "Threshold of the volcanic forcing that leads the El Niño-like warming in the last millennium: results from the ERIK simulation". Climate Dynamics. 46 (11–12): 3727. Bibcode:2016ClDy...46.3725L. doi:10.1007/s00382-015-2799-3. S2CID 128149914.
  143. Chikamoto, Megumi O.; Timmermann, Axel; Yoshimori, Masakazu; Lehner, Flavio; Laurian, Audine; Abe-Ouchi, Ayako; Mouchet, Anne; Joos, Fortunat; Raible, Christoph C.; Cobb, Kim M. (16 Februari 2016). "Intensification of tropical Pacific biological productivity due to volcanic eruptions" (PDF). Geophysical Research Letters. 43 (3): 1185. Bibcode:2016GeoRL..43.1184C. doi:10.1002/2015GL067359. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 Juli 2018. Diakses tanggal 16 Desember 2018.
  144. Kim, Seong-Joong; Kim, Baek-Min (30 September 2012). "Ocean Response to the Pinatubo and 1259 Volcanic Eruptions". Ocean and Polar Research. 34 (3): 321. doi:10.4217/OPR.2012.34.3.305.
  145. Fu et al. 2016, hlm. 2859.
  146. Wade et al. 2020, hlm. 26657.
  147. Wade et al. 2020, hlm. 26656.
  148. Neukom, Raphael; Gergis, Joëlle; Karoly, David J.; Wanner, Heinz; Curran, Mark; Elbert, Julie; González-Rouco, Fidel; Linsley, Braddock K.; Moy, Andrew D.; Mundo, Ignacio; Raible, Christoph C.; Steig, Eric J.; van Ommen, Tas; Vance, Tessa; Villalba, Ricardo; Zinke, Jens; Frank, David (30 Maret 2014). "Inter-hemispheric temperature variability over the past millennium". Nature Climate Change. 4 (5): 364. Bibcode:2014NatCC...4..362N. doi:10.1038/nclimate2174.
  149. 1 2 Newhall, Self & Robock 2018, hlm. 575.
  150. 1 2 3 Lavigne et al. 2013, hlm. 16746.
  151. 1 2 Baldwin, Mark P.; Birner, Thomas; Brasseur, Guy; Burrows, John; Butchart, Neal; Garcia, Rolando; Geller, Marvin; Gray, Lesley; Hamilton, Kevin; Harnik, Nili; Hegglin, Michaela I.; Langematz, Ulrike; Robock, Alan; Sato, Kaoru; Scaife, Adam A. (1 Januari 2018). "100 Years of Progress in Understanding the Stratosphere and Mesosphere". Meteorological Monographs. 59: 27.36. Bibcode:2018MetMo..59...27B. doi:10.1175/AMSMONOGRAPHS-D-19-0003.1. ISSN 0065-9401.
  152. Luterbacher, J; Werner, J P; Smerdon, J E; Fernández-Donado, L; González-Rouco, F J; Barriopedro, D; Ljungqvist, F C; Büntgen, U; Zorita, E; Wagner, S; Esper, J; McCarroll, D; Toreti, A; Frank, D; Jungclaus, J H; Barriendos, M; Bertolin, C; Bothe, O; Brázdil, R; Camuffo, D; Dobrovolný, P; Gagen, M; García-Bustamante, E; Ge, Q; Gómez-Navarro, J J; Guiot, J; Hao, Z; Hegerl, G C; Holmgren, K; Klimenko, V V; Martín-Chivelet, J; Pfister, C; Roberts, N; Schindler, A; Schurer, A; Solomina, O; von Gunten, L; Wahl, E; Wanner, H; Wetter, O; Xoplaki, E; Yuan, N; Zanchettin, D; Zhang, H; Zerefos, C (1 Februari 2016). "European summer temperatures since Roman times". Environmental Research Letters. 11 (2): EPSC2016-4968. Bibcode:2016EGUGA..18.4968L. doi:10.1088/1748-9326/11/2/024001. hdl:10261/129149.
  153. Hernández-Almeida, I.; Grosjean, M.; Przybylak, R.; Tylmann, W. (Agustus 2015). "A chrysophyte-based quantitative reconstruction of winter severity from varved lake sediments in NE Poland during the past millennium and its relationship to natural climate variability" (PDF). Quaternary Science Reviews. 122: 74–88. Bibcode:2015QSRv..122...74H. doi:10.1016/j.quascirev.2015.05.029.
  154. Andres & Peltier 2016, hlm. 5783.
  155. 1 2 Andres & Peltier 2016, hlm. 5779.
  156. Bradley, R. S.; Wanner, H.; Diaz, H. F. (22 Januari 2016). "The Medieval Quiet Period". The Holocene. 26 (6): 992. Bibcode:2016Holoc..26..990B. doi:10.1177/0959683615622552. S2CID 10041389.
  157. Nicolussi, Kurt; Le Roy, Melaine; Schlüchter, Christian; Stoffel, Markus; Wacker, Lukas (Juli 2022). "The glacier advance at the onset of the Little Ice Age in the Alps: New evidence from Mont Miné and Morteratsch glaciers". The Holocene (dalam bahasa Inggris). 32 (7): 635. Bibcode:2022Holoc..32..624N. doi:10.1177/09596836221088247. hdl:20.500.11850/549477. ISSN 0959-6836. S2CID 248732759.
  158. Jomelli et al. 2016, hlm. 3.
  159. Jomelli et al. 2016, hlm. 5.
  160. Wang, Zhiyuan; Wang, Jianglin; Zhang, Shijia (25 Januari 2019). "Variations of the global annual mean surface temperature during the past 2000 years: results from the CESM1". Theoretical and Applied Climatology. 137 (3–4): 8. Bibcode:2019ThApC.137.2877W. doi:10.1007/s00704-019-02775-2. S2CID 127578885.
  161. 1 2 Margalef et al. 2018, hlm. 4.
  162. Miller, Gifford H.; Geirsdóttir, Áslaug; Zhong, Yafang; Larsen, Darren J.; Otto-Bliesner, Bette L.; Holland, Marika M.; Bailey, David A.; Refsnider, Kurt A.; Lehman, Scott J.; Southon, John R.; Anderson, Chance; Björnsson, Helgi; Thordarson, Thorvaldur (Januari 2012). "Abrupt onset of the Little Ice Age triggered by volcanism and sustained by sea-ice/ocean feedbacks" (PDF). Geophysical Research Letters. 39 (2): L02708. Bibcode:2012GeoRL..39.2708M. doi:10.1029/2011GL050168. S2CID 15313398.
  163. Naulier, M.; Savard, M. M.; Bégin, C.; Gennaretti, F.; Arseneault, D.; Marion, J.; Nicault, A.; Bégin, Y. (17 September 2015). "A millennial summer temperature reconstruction for northeastern Canada using oxygen isotopes in subfossil trees". Climate of the Past. 11 (9): 1160. Bibcode:2015CliPa..11.1153N. doi:10.5194/cp-11-1153-2015.
  164. Jomelli, Vincent; Palacios, David; Hughes, Philip D.; Cartapanis, Olivier; Tanarro, Luis M. (2024). "The European glacial landscapes from the Late Holocene". European Glacial Landscapes (dalam bahasa Inggris). Elsevier. hlm. 569. doi:10.1016/b978-0-323-99712-6.00025-8. ISBN 978-0-323-99712-6.
  165. 1 2 Dätwyler et al. 2017, hlm. 2336.
  166. Dätwyler et al. 2017, hlm. 2321–2322.
  167. Mark, Samuel Z.; Abbott, Mark B.; Rodbell, Donald T.; Moy, Christopher M. (1 September 2022). "XRF analysis of Laguna Pallcacocha sediments yields new insights into Holocene El Niño development". Earth and Planetary Science Letters (dalam bahasa Inggris). 593 117657: 7. Bibcode:2022E&PSL.59317657M. doi:10.1016/j.epsl.2022.117657. ISSN 0012-821X. S2CID 249813841.
  168. Emile-Geay et al. 2008, hlm. 3141.
  169. Du, Xiaojing; Hendy, Ingrid; Hinnov, Linda; Brown, Erik; Schimmelmann, Arndt; Pak, Dorothy (2020). "Interannual Southern California Precipitation Variability During the Common Era and the ENSO Teleconnection". Geophysical Research Letters (dalam bahasa Inggris). 47 (1): 8. Bibcode:2020GeoRL..4785891D. doi:10.1029/2019GL085891. hdl:2027.42/153690. ISSN 1944-8007.
  170. Emile-Geay et al. 2008, hlm. 3144.
  171. Dee, Sylvia G.; Cobb, Kim M.; Emile-Geay, Julien; Ault, Toby R.; Edwards, R. Lawrence; Cheng, Hai; Charles, Christopher D. (27 Maret 2020). "No consistent ENSO response to volcanic forcing over the last millennium". Science (dalam bahasa Inggris). 367 (6485): 1477–1481. Bibcode:2020Sci...367.1477D. doi:10.1126/science.aax2000. ISSN 0036-8075. PMID 32217726. S2CID 214671146.
  172. Yan, Qing; Korty, Robert; Zhang, Zhongshi (September 2015). "Tropical Cyclone Genesis Factors in a Simulation of the Last Two Millennia: Results from the Community Earth System Model". Journal of Climate (dalam bahasa Inggris). 28 (18): 7185. Bibcode:2015JCli...28.7182Y. doi:10.1175/jcli-d-15-0054.1. ISSN 0894-8755.
  173. Wallace, E. J.; Donnelly, J. P.; Hengstum, P. J.; Wiman, C.; Sullivan, R. M.; Winkler, T. S.; d'Entremont, N. E.; Toomey, M.; Albury, N. (27 November 2019). "Intense Hurricane Activity Over the Past 1500 Years at South Andros Island, The Bahamas". Paleoceanography and Paleoclimatology. 34 (11): 15–16. Bibcode:2019PaPa...34.1761W. doi:10.1029/2019PA003665. hdl:1912/25868.
  174. Hernández, Armand; Martin-Puertas, Celia; Moffa-Sánchez, Paola; Moreno-Chamarro, Eduardo; Ortega, Pablo; Blockley, Simon; Cobb, Kim M.; Comas-Bru, Laia; Giralt, Santiago; Goosse, Hugues; Luterbacher, Jürg; Martrat, Belen; Muscheler, Raimund; Parnell, Andrew; Pla-Rabes, Sergi; Sjolte, Jesper; Scaife, Adam A.; Swingedouw, Didier; Wise, Erika; Xu, Guobao (1 Oktober 2020). "Modes of climate variability: Synthesis and review of proxy-based reconstructions through the Holocene". Earth-Science Reviews (dalam bahasa Inggris). 209 103286: 20. Bibcode:2020ESRv..20903286H. doi:10.1016/j.earscirev.2020.103286. hdl:10261/221475. ISSN 0012-8252. S2CID 225632127.
  175. Swingedouw et al. 2017, hlm. 41.
  176. Toker, E.; Sivan, D.; Stern, E.; Shirman, B.; Tsimplis, M.; Spada, G. (Januari 2012). "Evidence for centennial scale sea level variability during the Medieval Climate Optimum (Crusader Period) in Israel, eastern Mediterranean". Earth and Planetary Science Letters. 315–316: 52. Bibcode:2012E&PSL.315...51T. doi:10.1016/j.epsl.2011.07.019.
  177. 1 2 3 Newhall, Self & Robock 2018, hlm. 576.
  178. Gangadharan, Nidheesh; Goosse, Hugues; Parkes, David; Goelzer, Heiko; Maussion, Fabien; Marzeion, Ben (17 Oktober 2022). "Process-based estimate of global-mean sea-level changes in the Common Era". Earth System Dynamics (dalam bahasa Inggris). 13 (4): 1423. Bibcode:2022ESD....13.1417G. doi:10.5194/esd-13-1417-2022. hdl:2078.1/265894. ISSN 2190-4979. S2CID 249090169.
  179. Michel, Simon; Swingedouw, Didier; Chavent, Marie; Ortega, Pablo; Mignot, Juliette; Khodri, Myriam (3 Maret 2020). "Reconstructing climatic modes of variability from proxy records using ClimIndRec version 1.0". Geoscientific Model Development (dalam bahasa Inggris). 13 (2): 852. Bibcode:2020GMD....13..841M. doi:10.5194/gmd-13-841-2020. ISSN 1991-959X.
  180. Faust, Johan C.; Fabian, Karl; Milzer, Gesa; Giraudeau, Jacques; Knies, Jochen (Februari 2016). "Norwegian fjord sediments reveal NAO related winter temperature and precipitation changes of the past 2800 years". Earth and Planetary Science Letters. 435: 91. Bibcode:2016E&PSL.435...84F. doi:10.1016/j.epsl.2015.12.003.
  181. Knudsen, Karen Luise; Sha, Longbin; Zhao, Meixun; Seidenkrantz, Marit-Solveig; Björck, Svante; Jiang, Hui; Li, Tiegang; Li, Dongling (1 Januari 2018). "East Asian Winter Monsoon Variations and Their Links to Arctic Sea Ice During the Last Millennium, Inferred From Sea Surface Temperatures in the Okinawa Trough". Paleoceanography and Paleoclimatology (dalam bahasa Inggris). 33 (1): 68. Bibcode:2018PaPa...33...61L. doi:10.1002/2016PA003082. ISSN 2572-4525. S2CID 210097561.
  182. Sanchez, Sara C.; Amaya, Dillon J.; Miller, Arthur J.; Xie, Shang-Ping; Charles, Christopher D. (10 April 2019). "The Pacific Meridional Mode over the last millennium". Climate Dynamics (dalam bahasa Inggris). 53 (5–6): 4. Bibcode:2019ClDy...53.3547S. doi:10.1007/s00382-019-04740-1. ISSN 1432-0894. S2CID 146254012.
  183. Sousa, Pedro M.; Ramos, Alexandre M.; Raible, Christoph C.; Messmer, M.; Tomé, Ricardo; Pinto, Joaquim G.; Trigo, Ricardo M. (1 Januari 2020). "North Atlantic Integrated Water Vapor Transport—From 850 to 2100 CE: Impacts on Western European Rainfall". Journal of Climate (dalam bahasa Inggris). 33 (1): 267. Bibcode:2020JCli...33..263S. doi:10.1175/JCLI-D-19-0348.1. ISSN 0894-8755.
  184. Stevenson et al. 2019, hlm. 1535.
  185. Stevenson et al. 2019, hlm. 1548.
  186. Zhang, Xuanze; Peng, Shushi; Ciais, Philippe; Wang, Ying-Ping; Silver, Jeremy D.; Piao, Shilong; Rayner, Peter J. (19 Juni 2019). "Greenhouse Gas Concentration and Volcanic Eruptions Controlled the Variability of Terrestrial Carbon Uptake Over the Last Millennium". Journal of Advances in Modeling Earth Systems. 11 (6): 1724. Bibcode:2019JAMES..11.1715Z. doi:10.1029/2018MS001566. PMC 6774283. PMID 31598188.
  187. Banerji, Upasana S.; Padmalal, D. (1 Januari 2022). "12 – Bond events and monsoon variability during Holocene—Evidence from marine and continental archives". Holocene Climate Change and Environment (dalam bahasa Inggris). Elsevier: 322. doi:10.1016/B978-0-323-90085-0.00016-4. ISBN 9780323900850. S2CID 244441781.
  188. 1 2 Misios et al. 2022, hlm. 819.
  189. Misios et al. 2022, hlm. 816.
  190. Dai, Zhangqi; Wang, Bin; Zhu, Ling; Liu, Jian; Sun, Weiyi; Li, Longhui; Lü, Guonian; Ning, Liang; Yan, Mi; Chen, Kefan (9 September 2022). "Atlantic multidecadal variability response to external forcing during the past two millenniums". Journal of Climate (dalam bahasa Inggris). -1 (aop): 7. Bibcode:2022JCli...35.4503D. doi:10.1175/JCLI-D-21-0986.1. ISSN 0894-8755. S2CID 252249527.
  191. Guillet, Sebastien; Corona, Christophe; Stoffel, Markus; Khodri, Myriam; Poulain, Virginie; Lavigne, Franck; Churakova, Olga; Ortega, Pablo; Daux, Valerie; Luckman, Brian; Guiot, Joel; Oppenheimer, Clive; Masson-Delmotte, Valérie; Edouard, Jean-Louis (2016). "Reassessing the climatic impacts of the AD 1257 Samalas eruption in Europe and in the Northern Hemisphere using historical archives and tree-rings". EGU General Assembly 2016. 18: EPSC2016–15250. Bibcode:2016EGUGA..1815250G.
  192. D'Arrigo, Rosanne; Frank, David; Jacoby, Gordon; Pederson, Neil (2001). "Spatial Response to Major Volcanic Events in or about AD 536, 934 and 1258: Frost Rings and Other Dendrochronological Evidence from Mongolia and Northern Siberia: Comment on R. B. Stothers, 'Volcanic Dry Fogs, Climate Cooling, and Plague Pandemics in Europe and the Middle East' (Climatic Change, 42, 1999)". Climatic Change. 49 (1/2): 243. Bibcode:2001ClCh...49..239D. doi:10.1023/A:1010727122905.
  193. Herweijer, Celine; Seager, Richard; Cook, Edward R.; Emile-Geay, Julien (April 2007). "North American Droughts of the Last Millennium from a Gridded Network of Tree-Ring Data". Journal of Climate (dalam bahasa Inggris). 20 (7): 1355. Bibcode:2007JCli...20.1353H. CiteSeerX 10.1.1.466.4049. doi:10.1175/jcli4042.1. ISSN 0894-8755. S2CID 129185669.
  194. Schneider, David P.; Ammann, Caspar M.; Otto-Bliesner, Bette L.; Kaufman, Darrell S. (1 Agustus 2009). "Climate response to large, high-latitude and low-latitude volcanic eruptions in the Community Climate System Model". Journal of Geophysical Research. 114 (D15): 19. Bibcode:2009JGRD..11415101S. doi:10.1029/2008JD011222. S2CID 59361457.
  195. Büntgen, Ulf; Urban, Otmar; Krusic, Paul J.; Rybníček, Michal; Kolář, Tomáš; Kyncl, Tomáš; Ač, Alexander; Koňasová, Eva; Čáslavský, Josef; Esper, Jan; Wagner, Sebastian; Saurer, Matthias; Tegel, Willy; Dobrovolný, Petr; Cherubini, Paolo; Reinig, Frederick; Trnka, Miroslav (April 2021). "Recent European drought extremes beyond Common Era background variability". Nature Geoscience (dalam bahasa Inggris). 14 (4): 194. Bibcode:2021NatGe..14..190B. doi:10.1038/s41561-021-00698-0. ISSN 1752-0908. S2CID 232237182.
  196. Büntgen et al. 2022, hlm. 543.
  197. 1 2 Alloway et al. 2017, hlm. 98.
  198. 1 2 Mutaqin & Lavigne 2019, hlm. 2.
  199. Mutaqin & Lavigne 2019, hlm. 4.
  200. Suparman, Lalu Gde, ed. (1994). Babad Lombok. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 106–107. ISBN 9794593958.
  201. Lavigne et al. 2013, Supporting Information.
  202. Hamilton 2013, hlm. 41.
  203. Malawani et al. 2022, hlm. 8.
  204. Mutaqin & Lavigne 2019, hlm. 9.
  205. Kholis, Muhammad Arsyad Nur; Kurnia, Wahyu (26 November 2021). "Suling Dewa Sebagai Identitas Simbolik Masyarakat Sasak Kuto-Kute di Karang Bajo Bayan Lombok Utara". Jurnal Kajian Seni. 8 (1): 19. doi:10.22146/jksks.64498. ISSN 2356-3001. S2CID 247378729.
  206. 1 2 Reid, Anthony (16 Januari 2017). "Population history in a dangerous environment: How important may natural disasters have been?". Masyarakat Indonesia (dalam bahasa Inggris). 39 (2): 520. ISSN 2502-5694. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Oktober 2018. Diakses tanggal 18 Oktober 2018.
  207. Reid, Anthony (2016). "Building Cities in a Subduction Zone: Some Indonesian Dangers". Dalam Miller, Michelle Ann; Douglass, Mike (ed.). Disaster Governance in Urbanising Asia. Springer Singapore. hlm. 51. doi:10.1007/978-981-287-649-2_3. ISBN 978-981-287-649-2.
  208. Malawani et al. 2022, hlm. 11.
  209. Ingimarsson 2024, hlm. 5.
  210. Mutaqin & Lavigne 2019, hlm. 7–8.
  211. Anderson, Atholl (2016). The First Migration: Māori Origins 3000 BC – AD 1450 (dalam bahasa Inggris). Bridget Williams Books. hlm. 18. ISBN 9780947492809.
  212. Ludlow, Francis (2017). "Volcanology: Chronicling a medieval eruption". Nature Geoscience (dalam bahasa Inggris). 10 (2): 78–79. Bibcode:2017NatGe..10...78L. doi:10.1038/ngeo2881. ISSN 1752-0908.
  213. Stothers 2000, hlm. 363.
  214. D'Arrigo, Rosanne; Jacoby, Gordon; Frank, David (2003). "Dendroclimatological evidence for major volcanic events of the past two millennia". Volcanism and the Earth's Atmosphere: Dendroclimatological evidence for major volcanic events of the past two millennia. Geophysical Monograph Series. Vol. 139. Washington DC American Geophysical Union Geophysical Monograph Series. hlm. 259. Bibcode:2003GMS...139..255D. doi:10.1029/139GM16. ISBN 978-0-87590-998-1.
  215. 1 2 Ingimarsson 2024, hlm. 6.
  216. 1 2 Dodds & Liddy 2011, hlm. 54.
  217. Frey Sánchez, Antonio Vicente (2017). "¿Qué puede aportar el clima a la historia? El ejemplo del periodo cálido medieval en el Magreb almorávide y almohade". El Futuro del Pasado: Revista Electrónica de Historia (dalam bahasa Spanyol). 6 (8): 221–266. doi:10.14516/fdp.2017.008.001.008. ISSN 1989-9289. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
  218. Grillo 2021, hlm. 150.
  219. Guillet et al. 2017, hlm. 124.
  220. 1 2 Guillet et al. 2017, hlm. 127.
  221. 1 2 Stothers 2000, hlm. 366.
  222. Bufanio 2022, hlm. 23.
  223. 1 2 Bufanio 2022, hlm. 25.
  224. Stothers 2000, hlm. 364.
  225. Frey Sánchez, Antonio Vicente (31 Desember 2014). "Ciudades y poder político en al-Andalus. Una hipótesis sobre el origen de las revueltas urbanas en Murcia en el siglo XIII". Anuario de Estudios Medievales (dalam bahasa Spanyol). 44 (2): 854. doi:10.3989/aem.2014.44.2.06. ISSN 1988-4230.
  226. Ingimarsson 2024, hlm. 3,7,10.
  227. Ingimarsson 2024, hlm. 16.
  228. 1 2 Gillingham 2014, hlm. 26.
  229. Campbell 2017, hlm. 91.
  230. Bufanio 2022, hlm. 27.
  231. Campbell 2017, hlm. 108.
  232. Campbell 2017, hlm. 119.
  233. Speed, Robert; Tickner, David; Lei, Gang; Sayers, Paul; Wei, Yu; Li, Yuanyuan; Moncrieff, Catherine; Pegram, Guy (2016). Drought risk management: a strategic approach. UNESCO Publishing. hlm. 44. ISBN 978-92-3-100094-2.
  234. Bufanio 2022, hlm. 23,25.
  235. Bufanio 2022, hlm. 26.
  236. Moglia 2022, hlm. 53.
  237. Degroot, Dagomar; Anchukaitis, Kevin; Bauch, Martin; Burnham, Jakob; Carnegy, Fred; Cui, Jianxin; de Luna, Kathryn; Guzowski, Piotr; Hambrecht, George; Huhtamaa, Heli; Izdebski, Adam; Kleemann, Katrin; Moesswilde, Emma; Neupane, Naresh; Newfield, Timothy; Pei, Qing; Xoplaki, Elena; Zappia, Natale (Maret 2021). "Towards a rigorous understanding of societal responses to climate change". Nature (dalam bahasa Inggris). 591 (7851): 545–546. Bibcode:2021Natur.591..539D. doi:10.1038/s41586-021-03190-2. ISSN 1476-4687. PMID 33762769. S2CID 232354348.
  238. Domingues, Lidia L. Zanetti (30 Oktober 2022). "Carestia, maltempo e alleanze politiche: Siena e Manfredi di Sicilia fra 1257 e 1260". Studi di storia medioevale e di diplomatica. Nuova Serie (dalam bahasa Italia): 104. doi:10.54103/2611-318X/18283. ISSN 2611-318X.
  239. Bortoluzzi, Daniele (30 Oktober 2022). "Bologna e gli Ordinamenta Bladi". Studi di storia medioevale e di diplomatica. Nuova Serie (dalam bahasa Italia): 89. doi:10.54103/2611-318X/18282. ISSN 2611-318X.
  240. Moglia 2022, hlm. 52.
  241. Moglia 2022, hlm. 55.
  242. Moglia 2022, hlm. 58.
  243. Bertoni 2022, hlm. 37.
  244. Bertoni 2022, hlm. 39.
  245. Grillo 2021, hlm. 153.
  246. Grillo 2021, hlm. 154.
  247. Luongo 2022, hlm. 76.
  248. Luongo 2022, hlm. 77.
  249. Luongo 2022, hlm. 63.
  250. Stothers 2000, hlm. 367–368.
  251. Harrison & Maher 2014, hlm. 156–157.
  252. Harrison & Maher 2014, hlm. 180.
  253. Xoplaki, Elena; Fleitmann, Dominik; Luterbacher, Juerg; Wagner, Sebastian; Haldon, John F.; Zorita, Eduardo; Telelis, Ioannis; Toreti, Andrea; Izdebski, Adam (Maret 2016). "The Medieval Climate Anomaly and Byzantium: A review of the evidence on climatic fluctuations, economic performance and societal change" (PDF). Quaternary Science Reviews. 136: 229–252. Bibcode:2016QSRv..136..229X. doi:10.1016/j.quascirev.2015.10.004.
  254. 1 2 Matson, R.G. (Februari 2016). "The nutritional context of the Pueblo III depopulation of the northern San Juan: Too much maize?". Journal of Archaeological Science: Reports (dalam bahasa Inggris). 5: 622–624. Bibcode:2016JArSR...5..622M. doi:10.1016/j.jasrep.2015.08.032. ISSN 2352-409X.
  255. Windes, Thomas C.; Van West, Carla R. (2021), Van Dyke, Ruth M.; Heitman, Carrie C. (ed.), "Landscapes, Horticulture, and the Early Chacoan Bonito Phase", The Greater Chaco Landscape, Ancestors, Scholarship, and Advocacy, University Press of Colorado, hlm. 83, ISBN 978-1-64642-169-5, JSTOR j.ctv1m46ffr.6, diakses tanggal 10 Desember 2021
  256. Salzer 2000, hlm. 308.
  257. 1 2 Salzer 2000, hlm. 312–314.
  258. Cruz, Pablo; Winkel, Thierry; Ledru, Marie-Pierre; Bernard, Cyril; Egan, Nancy; Swingedouw, Didier; Joffre, Richard (1 Desember 2017). "Rain-fed agriculture thrived despite climate degradation in the pre-Hispanic arid Andes". Science Advances (dalam bahasa Inggris). 3 (12): 5. Bibcode:2017SciA....3E1740C. doi:10.1126/sciadv.1701740. ISSN 2375-2548. PMC 5738230. PMID 29279865.
  259. Guillet et al. 2017, hlm. 125.
  260. Jenkins 2021, hlm. 63.
  261. Molnar, Aaron (Juni 2023). "Felled Forests and Fallowed Fields: Establishing a Narrative of Ecological and Climate Change in Mongol-Era Goryeo". Seoul Journal of Korean Studies (dalam bahasa Inggris). 36 (1): 225–226. doi:10.1353/seo.2023.a902140. S2CID 259928765.
  262. Jenkins 2021, hlm. 82.
  263. Bufanio 2022, hlm. 22.
  264. Timmreck et al. 2009, hlm. 1.
  265. Alloway et al. 2017, hlm. 96.
  266. Di Cosmo, Wagner & Büntgen 2021, hlm. 92.
  267. Di Cosmo, Wagner & Büntgen 2021, hlm. 97.
  268. Di Cosmo, Wagner & Büntgen 2021, hlm. 100.
  269. Wainman, Marshall & Schmidt 2024, hlm. 960.
  270. 1 2 Kern, Zoltán; Pow, Stephen; Pinke, Zsolt; Ferenczi, László (1 April 2021). Samalas and the Fall of the Mongol Empire: A volcanic eruption's influence on the dissolution of history's largest contiguous empire. 23rd EGU General Assembly. EGU General Assembly Conference Abstracts. hlm. EGU21–3460. Bibcode:2021EGUGA..23.3460K.
  271. Hao, Zhixin; Zheng, Jingyun; Yu, Yingzhuo; Xiong, Danyang; Liu, Yang; Ge, Quansheng (1 Oktober 2020). "Climatic changes during the past two millennia along the Ancient Silk Road". Progress in Physical Geography: Earth and Environment (dalam bahasa Inggris). 44 (5): 619–620. Bibcode:2020PrPG...44..605H. doi:10.1177/0309133319893919. ISSN 0309-1333. S2CID 213726073.
  272. Fell et al. 2020, hlm. 41.
  273. Fell et al. 2020, hlm. 42.
  274. Wainman, Marshall & Schmidt 2024, hlm. 952.
  275. Fell et al. 2020, hlm. 43.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]