Laktulosa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Laktulosa
Nama sistematis (IUPAC)
4-O-β-D-Galaktopiranosil-β-D-fruktofuranosa
OR
(2S,3R,4S,5R,6R)-2-((2R,3S,4S,5R)-4,5-Dihidroksi-2,5-bis(hidroksimetil)tetrahidrofurana-3-iloksi)-6-(hidroksimetil)tetrahidro-2H-piran-3,4,5-triol
Data klinis
Nama dagang Duphalac, Constipan, Constuloz, Dulcolactol, Extralac, Lacons, Lactulax, Opilax, Laxadilac, Pralax, Solax
AHFS/Drugs.com
MedlinePlus a682338
Kat. kehamilan B(US)
Status hukum ? (US)
Rute Per oral
Data farmakokinetik
Bioavailabilitas Absorbsi jelek
Metabolisme 100% di usus besar oleh bakteri usus
Waktu paruh 1.7–2 jam
Ekskresi Feses
Pengenal
Nomor CAS 4618-18-2 YaY
Kode ATC A06AD11
PubChem CID 11333
DrugBank DB00581
ChemSpider 10856 YaY
UNII 9U7D5QH5AE YaY
KEGG D00352 YaY
ChEBI CHEBI:6359 YaY
ChEMBL CHEMBL296306 YaY
Sinonim 4-O-β-D-Galaktosil-D-fruktosa
Data kimia
Rumus C12H22O11 
SMILES eMolecules & PubChem

Laktulosa merupakan obat yang digunakan untuk melancarkan buang air besar atau konstipasi dengan cara mengalirkan cairan ke usus sehingga mencairkan feses yang akan dikeluarkan oleh tubuh. Obat ini juga dapat digunakan untuk menangani dan mencegah komplikasi dari ensefalopati hepatikum (kelainan pada otak yang disebabkan oleh penyakit hati).[1][2][3]

Penggunaan obat ini dapat melalui mulut atau melalui dubur. Pemberian melalui dubur akan memberikan reaksi dalam waktu 2 jam, sedangkan jika diberikan melalui mulut membutuhkan 24- 48 jam untuk bereaksi.[2][4][5]

Efek samping dari obat ini merupakan kram perut, sering buang angin, serdawa, dan kembung. Kehilangan elektrolit dan dehidrasi juga merupakan efek samping yang terjadi akibat diare yang ditimbulkan oleh obat ini.[2][5][6][7]

Sifat fisik dan kimia[sunting | sunting sumber]

Laktulosa adalah disakarida yang disintesis dari fruktosa dan galaktosa, dengan struktur kimia C12H22O11, dan berat molekul 342,3 g/mol. Laktulosa adalah struktur solid dengan titik lebur 169 °C, dapat larut dalam air dingin dan air panas dengan kelarutan 76,4% pada 30 °C. Pemanasan akan menyebabkan warna larutan laktulosa menjadi lebih gelap tetapi tidak akan mengurangi kekuatan kerjanya.[6][7][8][9]

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Laktulosa digunakan sebagai laksatif untuk mengatasi masalah sembelit. Selain itu obat ini juga dapat digunakan untuk menangani dan mencegah komplikasi dari ensefalopati hepatikum (kelainan pada otak berupa perubahan kepribadian atau gangguan mental yang disebabkan oleh penyakit liver). Laktulosa juga digunakan untuk meminimalisir pembentukan batu kandung empedu dan yang saat ini sedang dikembangkan penggunaan laktulosa sebagai agen antikanker karena kemampuannya untuk mengikat galaktin karbohidrat (yang menyebabkan progresi beberapa jenis tumor).[2][5][6][9]

Farmakodinamika[sunting | sunting sumber]

Laktulosa diberikan melalui jalur oral dan lewat dubur, dengan absorbsi minimal di saluran pencernaan menyebabkan obat ini akan tetap berada di dalam usus. Sebagai laksatif, laktulosa bekerja dengan cara meningkatkan volume kotoran dan melunakkannya. Aktivitas ini akan menyebabkan peningkatan bunyi usus, perasaan kembung, serdawa, frekuensi buang angin yang meningkat, dan diare. Efek laksatif laktulosa timbul dalam 24 hingga 48 jam setelah pemberian lewat oral, dan 2 jam via dubur.[8][9][10]

Mekanisme kerja[sunting | sunting sumber]

Laktulosa bekerja dengan meningkatkan tekanan osmotik pada lumen saluran pencernaan, sehingga meningkatkan kadar cairan dalam usus dan membuat feses lebih lunak. Laktulosa juga meningkatkan peristaltik usus. Bakteri dalam kolon (usus besar) akan memecah laktulosa menjadi asam laktat, asam asetat, dan asam format, sehingga kadar asam di dalam kolon meningkat. Kondisi kolon yang lebih asam akan menyebabkan difusi amonia (NH3) dari darah ke dalam usus dan diubah menjadi ion amonia (NH4+). Laktulosa menyebabkan ion amonia menetap dalam kolon dan tidak diabsorpsi kembali ke dalam darah. Pada penyakit hati, peningkatan amonia dalam darah dapat dikurangi melalui mekanisme ini. Suasana asam di dalam usus besar juga berperan untuk mengeluarkan bakteri yang memproduksi urease yang berperan dalam pembentukan amonia.[6][8][9][10][11]

Interaksi dengan obat lain[sunting | sunting sumber]

Pemberian laktulosa dengan warfarin (pengencer darah) akan meningkatkan risiko perdarahan. Laktulosa dikombinasi dengan pemberian antasida akan menyebabkan menurunnya efektivitas laktulosa. Diklorfenamida akan menyebabkan kondisi hipokalemia menjadi semakin berat, glutamina akan menyebabkan penurunan efektivitas laktulosa dengan cara melemahkan efek penurunan kadar amonia laktulosa.[1][6][7][12]

Farmakokinetika[sunting | sunting sumber]

Jumlah total laktulosa yang akan diserap oleh usus kecil hanya sekitar 3%, sisanya akan mencapai usus besar. Sejumlah kecil laktulosa akan diabsorbsi di sepanjang usus besar, baik dalam bentuk asalnya maupun bentuk metabolitnya. Ekskresi laktulosa yang diserap oleh tubuh ke dalam sirkulasi akan dibuang sempurna melalui ginjal dalam 24 jam, dan laktulosa yang tidak diabsorbsi tubuh akan dibuang lewat feses. Laktulosa hanya dimetabolisme di usus besar oleh bakteri sakarolitik (bakteri yang memecah disakarida dan polisakarida menjadi gula yang lebih sederhana). Bakteri yang termasuk ke dalam golongan ini adalah Lactobacillus, Bacteroides, Escherichia coli, dan Clostridium.[6][9][10][11]

Efek samping[sunting | sunting sumber]

Salah satu efek samping yang paling sering timbul dengan pemberian laktulosa adalah diare, hipokalemia, dan hipernatremia terutama pada individu dengan usia tua. Peningkatan kadar amonia di dalam usus besar akan menyebabkan peningkatan tekanan intrakolon sehingga mengakibatkan kondisi pneumatosis intestinal (pembentukan kista berisi gas di dalam usus). Efek samping yang lainnya adalah kram perut, distensi abdomen akibat gas, sering buang angin, serdawa, mual dan muntah. Pada pemberian laktulosa yang berlebihan, akan timbul asidosis metabolik akibat hiperkloremia, asidosis laktat, dehidrasi, dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Beberapa individu akan memberikan reaksi alergi seperti kulit memerah, gatal, bengkak (di wajah, lidah, dan tenggorokan), pusing, dan kesulitan bernapas.[1][2][4][12][13]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Laktulosa". Alodokter. 18 November 2015. Diakses tanggal 11 Desember 2019. 
  2. ^ a b c d e "Lactulose: laxative to treat constipation". nhs.uk. 29 Agustus 2018. Diakses tanggal 24 Maret 2020. 
  3. ^ Darmawan, Josephine (27 Februari 2018). "Indikasi dan Dosis Laktulosa". Alomedika. Diakses tanggal 24 Maret 2020. 
  4. ^ a b "Drugs & Medications". www.webmd.com. Diakses tanggal 11 Desember 2019. 
  5. ^ a b c "Lactulose | Kandungan, Indikasi, Efek Samping, Dosis, Obat Apa | Laksatif, Pencahar". Farmasi-id.com. 7 Desember 2019. Diakses tanggal 24 Maret 2020. 
  6. ^ a b c d e f "Lactulose Monograph for Professionals". Drugs.com. Diakses tanggal 11 Desember 2019. 
  7. ^ a b c Darmawan, Josephine (27 Februari 2018). "Laktulosa - indikasi, dosis, interaksi dan efek samping". Alomedika. Diakses tanggal 24 Maret 2020. 
  8. ^ a b c PubChem. "Lactulose". pubchem.ncbi.nlm.nih.gov. Diakses tanggal 24 Maret 2020. 
  9. ^ a b c d e "Lactulose". www.drugbank.ca. Diakses tanggal 24 Maret 2020. 
  10. ^ a b c "Lactulose Pharmacology & Usage Details | Medicine India". www.medicineindia.org. Diakses tanggal 24 Maret 2020. 
  11. ^ a b "Lactulose (Professional Patient Advice)". Drugs.com. Diakses tanggal 24 Maret 2020. 
  12. ^ a b "Lactulose: Side Effects, Dosages, Treatment, Interactions, Warnings". RxList. Diakses tanggal 24 Maret 2020. 
  13. ^ "Lactulose Side Effects: Common, Severe, Long Term". Drugs.com. Diakses tanggal 24 Maret 2020.