Lompat ke isi

Lada sichuan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lada sichuan

Hanzi tradisional: 花椒
Hanzi sederhana: 花椒
Sichuan hujiao
Hanzi tradisional: 四川胡椒

Lada sichuan (Hanzi: 花椒; pinyin: huājiāo) adalah rempah yang berasal dari kulit kering buah dari tanaman genus Zanthoxylum, yang termasuk dalam keluarga Rutaceae. Rempah ini umum digunakan dalam masakan Sichuan di Tiongkok serta kuliner di wilayah Himalaya. Meskipun disebut “lada sichuan” tanaman ini tidak memiliki hubungan langsung dengan lada hitam atau cabai. Zanthoxylum justru termasuk dalam keluarga yang sama dengan jeruk dan inggu.[1]

Ketika dikonsumsi, lada sichuan menimbulkan sensasi kesemutan dan mati rasa akibat kandungan senyawa sansyool hidroksi-alfa. Rempah ini kerap digunakan dalam masakan Sichuan, seperti tahu mapo dan rebusan panas Chongqing, serta sering dipadukan dengan cabai untuk menghasilkan rasa khas yang disebut málà (Hanzi: 麻辣; "mati rasa").[2]

Penggunaan kuliner

[sunting | sunting sumber]

Lada sichuan dapat digunakan baik dalam bentuk utuh maupun digiling halus, seperti pada bubuk lima rempah atau ngohiong.[3] Kombinasi lada sichuan dan cabai menghasilkan saus málà, yang menjadi ciri khas masakan Sichuan dan bahan utama dalam rebusan panas Chongqing.[4] Selain itu, lada sichuan juga tersedia sebagai minyak infus (Hanzi: 花椒油 hua jiao yu), yang digunakan dalam saus, saus celup, atau hidangan lain untuk memberikan rasa merica tanpa tekstur bijinya.[5] Varian lainnya adalah hua jiao yan (Hanzi: 花椒盐), campuran garam dan lada sichuan yang dipanggang, biasanya disajikan sebagai bumbu pendamping untuk ayam, bebek, atau babi.[6]

Dalam masakan Batak Indonesia, andaliman yang merupakan salah satu varietas kultivasi dari lada sichuan, digiling dan dicampur dengan cabai dan bumbu menjadi sambal hijau atau pasta cabai. Arsik adalah hidangan khas Indonesia yang mengandung andaliman.[7] Sedangkan dalam masakan Korea, sancho yang menjadi salah satu varietas lokal lada sichuan di Korea, sering digunakan untuk menemani sup ikan seperti chueo-tang.[8]

Penggunaan obat

[sunting | sunting sumber]

Dalam pengobatan tradisional Tionghoa, Zanthoxylum bungeanum dimanfaatkan sebagai ramuan herbal. Tanaman ini tercantum dalam Farmakope Republik Rakyat Tiongkok dan diresepkan untuk berbagai keluhan, seperti sakit perut, sakit gigi, serta eksim. Meski begitu, lada sichuan belum memiliki indikasi atau bukti klinis yang diterima dalam kedokteran berbasis bukti. Penelitian menunjukkan bahwa Z. bungeanum berpotensi memberikan efek penghilang nyeri, anti-inflamasi, antibakteri, dan antioksidan pada model hewan serta kultur sel[9]. Pada kelinci, Z. armatum telah diteliti secara eksperimental pada kelinci percobaan untuk kemungkinan pengobatan gangguan pencernaan, pernapasan, dan kardiovaskular.[10]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Zhang, Mengmeng; Wang, Jiaolong (October 2017). "Zanthoxylum bungeanum Maxim. (Rutaceae): A Systematic Review of Its Traditional Uses, Botany, Phytochemistry, Pharmacology, Pharmacokinetics, and Toxicology". International Journal of Molecular Sciences. 18 (10): 2172. doi:10.3390/ijms18102172. PMC 5666853. PMID 29057808. S2CID 1057880.
  2. Holliday, Taylor (23 October 2017). "Where the Peppers Grow". Slate.com. Diakses tanggal 15 October 2020.
  3. "How to Make Five-Spice Powder". thewoksoflife.com. 3 February 2020. Diakses tanggal 16 October 2020.
  4. Holliday, Taylor (7 February 2020). "Sichuan Mala Hot Pot, From Scratch (Mala Huo Guo with Tallow Broth)". themalamarket.com. Diakses tanggal 15 October 2020.
  5. "Sichuan Peppercorn Oil". thewoksoflife.com. 3 April 2020. Diakses tanggal 6 October 2020.
  6. "Fragrant crispy duck with Sichuan pepper salt (香酥鸭)". soyricefire.com. 18 November 2012. Diakses tanggal 15 October 2020.
  7. "Arsik Recipe (Spiced Carp with Torch Ginger and Andaliman – Mandailing Style)". indonesiaeats.com. 12 July 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 17 October 2020. Diakses tanggal 15 October 2020.
  8. Philip Gowman (5 December 2016). "In praise of Sancho and Flat Three". londonkoreanlinks.net. Diakses tanggal 15 October 2020.
  9. Zhang, Mengmeng; Wang, Jiaolong (October 2017). "Zanthoxylum bungeanum Maxim. (Rutaceae): A Systematic Review of Its Traditional Uses, Botany, Phytochemistry, Pharmacology, Pharmacokinetics, and Toxicology". International Journal of Molecular Sciences. 18 (10): 2172. doi:10.3390/ijms18102172. PMC 5666853. PMID 29057808.
  10. Khan, Arif; Gilani, Anwar-ul Hassan (January 2009). "Pharmacological Basis for the Medicinal Use of Zanthoxylum armatum in Gut, Airways and Cardiovascular Disorders". Phytotherapy Research. 24 (4): 553–8. doi:10.1002/ptr.2979. PMID 20041426. S2CID 22485048. Diakses tanggal 16 October 2020.