Lompat ke isi

Kuwaru, Kuwarasan, Kebumen

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kuwaru
Peta lokasi Desa Kuwaru
Peta lokasi Desa Kuwaru
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenKebumen
KecamatanKuwarasan
Kode pos
54366
Kode Kemendagri33.05.16.2019 Suntingan nilai di Wikidata
Luas128.02 Ha
Jumlah penduduk2298 jiwa (2024)
Kepadatan... jiwa/km²
Peta
PetaKoordinat: 7°38′23″S 109°30′6″E / 7.63972°S 109.50167°E / -7.63972; 109.50167

Kuwaru adalah desa di Kuwarasan, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia.

Wilayah Desa Kuwaru memiliki luas 128.02 Ha, dengan batas :

1. Sebelah utara dengan Desa Bendungan dan Gunung Mujil.

2. Sebelah timur dengan Desa Banjareja, Desa Serut dan Desa Bendungan.

3. Sebelah barat dengan Desa Gumawang dan Desa Wonoyoso.

4. Sebelah selatan dengan Desa Mangli.

Akses wilayah ke Desa Kuwaru cukup mudah, karena letak wilayahnya dapat dengan mudah dilalui transportasi umum dan pribadi. Wilayah ini tidak jauh dari kota Gombong dan jalannya sangat strategis .

Demografi

[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk di Desa Kuwaru tahun 2024 sebanyak 2298 orang, dengan rincian :

1. Jumlah laki-laki sebanyak 1164 orang.

2. Jumlah perempuan sebanyak 1134 orang.

Asal-usul

[sunting | sunting sumber]

Sejarah Berdirinya Desa Kuwaru berdasarkan data terpercaya. Baik data tertulis maupun lisan yang dikumpulkan dari para keturunan pendiri Desa Kuwaru. Data utama berupa Serat Kekancingan/Pikukuh Darah Dalem (Akta Silsilah Keturunan Raja yang diterbitkan Keraton), Buku Induk Silsilah Kepatihan Danureja dari keraton Yogyakarta, Buku Silsilah Demang Kuwaru, Buku Sejarah Kadipaten Roma dan Koran Hindia Belanda De Locomotief.[1] Catatan tentang sejarah Desa Kuwaru yang lain dapat dilihat di website resmi Desa kuwaru pada halaman sejarah desa dan Facebook Desa Kuwaru.[2]

Stamboek Soerat Asal - Usul milik R. Tjokrosoekarto, salah satu putra Raden Kromosoekarto (Glondong terakhir Desa Kuwaru) yang memuat nama-nama leluhurnya sebagai penguasa turun-temurun di Desa Kuwaru
Serat Kekancingan dari Tepas Darah Dalem Kraton Yogyakarta milik Raden Bagus Subandana, salah satu keturunan pendiri Desa Kuwaru. Surat ini menyatakan bahwa ia adalah keturunan ke-10 dari Susuhunan Amangkurat I (Amangkurat Agung)
Foto para kepala Desa Kuwaru yang dipajang di kantor Balai Desa. Dimulai dari Glondong R. Kromosoekarto karena 2 Demang sebelumnya belum ada foto/lukisannya.

1. Awal Mula

Pasca Perang Diponegoro, tahun 1830-an. Raden Tumenggung Sindunegara II ditugaskan oleh Kesultanan Yogyakarta sebagai Bupati Kadipaten Roma (nama lama Gombong, Karanganyar dan Sekitarnya) dan berpangkat Mayor Tumenggung Sindunegara. Beliau bertugas menangani pemulihan wilayah pasca Perang Diponegoro dan memungut pajak.[3]

Pada saat itu di Kadipaten Roma, tepatnya di Gombong terjadi pembrontakan oleh pengikut Pangeran Diponegoro untuk melawan Belanda yang dipimpin oleh Kyai Raden Demang Kromoleksono, putra Pangeran Adipati Purwo-diningrat dari Desa Kuwaru hingga akhirnya beliau dibuang Belanda ke Banjarmasin.[4]

Saat peristiwa itu terjadi, Kadipaten Roma sudah dipimpin oleh Bupati baru yaitu Raden Mas Adipati Arya Joyodiningrat/Raden Mas Joyoprono, Cucu Sultan Hamengkubuwana II. Raden Mas Joyoprono dulunya adalah Wakil dari Bupati Roma Jatinegara yaitu Mayor Tumenggung Sindunegara yang kemudian diangkat Belanda menjadi Bupati berikutnya.

Setelah R.M.A.A. Joyodiningrat naik menjadi Bupati, ibukota Kadipaten Roma yang semula di Jatinegara, Gombong kemudian dipindah ke Karanganyar sehingga Kadipaten Roma menjadi beribukota di Karanganyar. Kemudian hari Kadipaten Roma berubah nama menjadi Kabupatan Karanganyar dengan R.M.A.A. Joyodiningrat sebagai Bupati Karanganyar yang pertama. Setelah R.M.A.A. Joyodiningrat pensiun sebagai Bupati Karanganyar, kemudian beliau pindah ke Wonosobo hingga wafat dan dimakamkan disana. R.M.A.A. Joyodiningrat juga merupakan menantu dari R. Demang Kromoleksono/Kyai Kromoleksono Kuwaru. R.M.A.A. Joyodiningrat menikahi putri dari R. Demang Kromoleksono yaitu Mas Ayu Mandoyoresmi dan kemudian hari salah satu putri mereka menjadi istri Patih Banjarnegara, R. Kartoatmodjo dan menurunkan keluarga Presiden Prabowo Subianto.

Mayor Tumenggung Sindunegara/R.T. Sindunegara II dan Kyai Kromoleksono/R. Ngabehi Mertasentika merupakan kakak beradik. Mereka adalah putra dari Raden Adipati Purwo-diningrat/Raden Mas Riya Mandura/Raden Tumenggung Sindunegoro/Patih Danureja III.

Adipati Purwo adalah putra dari Patih Danureja I, seorang Patih/Perdana Menteri pertama Kesultanan Yogyakarta. Adipati Purwo naik menjadi Patih menggantikan keponakannya, Patih Danureja II yang dihukum mati Sultan Hamengkubuwana II. Jabatan patih setara dengan perdana menteri negara.[5][6]

R.Adipati Purwo masih terhitung cucu canggah dari Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam yang ke III.

Setelah pensiun karena usia tua/sepuh, pasca Geger Sepehi, Adipati Purwo mendapatkan tanah pensiun dari Sultan Hamengkubuwana II sebanyak 1000 karya/Bahu (Sekitar 700 Hektar) di daerah Penumbak Sewu, Kadipaten Roma (sekarang wilayah Gombong, Karanganyar dan sekitarnya) dan bertempat tinggal disana. Wilayah Kadipaten Roma terbentang mulai dari barat sungai Luk Ulo hingga wilayah Pegunungan Serayu Kidul dan merupakan wilayah kekuasaan Negara Kesultanan Yogyakarta.

Petikan dari Buku Silsilah Kepatihan Keraton Yogya : R. Adipati Purwo/Adipoerwo/Mas Riya Mandura, Patih Jogja yang menerima tanah pensiun seluas 1000 Karya di Siti Panumbak Sewu, Kadipaten Roma (Gombong)

Setelah wafat, Adipati Purwo dimakamkan di Astana Mulya Gambiran, DIY dekat dengan Makam Ki Juru Kiting, Panglima Perang Mataram yang merupakan leluhur dari Jalur ibu Adipati Purwo.

Makam R. Adipati Purwodiningrat, Patih Jogja di Astana Mulya Gambiran, DIY. Beliau adalah suami dari Nyai Adjeng Cempaka - Kuwaru

Putra-putri Adipati Purwo berjumlah 16 orang dan tersebar di Jogja, Kebumen-Gombong, Banyumas hingga Wonosobo dangan berbagai tingkat jabatan dan kekuasaan.

Dalam buku catatan warisan peninggalan leluhur dan keterangan lisan sesepuh Desa Kuwaru yang merupakan keturunan Glondong Kuwaru, disebutkan bahwa Adipati Purwo/Purwodiningrat/R.M.Riya Mandura mempunyai istri di Gombong bernama Nyai Adjeng Cempaka. Sedangkan pada Buku Silsilah resmi dari Kepatihan Kraton Yogyakarta yang memuat Silsilah semua Patih Yogya sampai Bupati Banyumas, disebutkan bahwa istri Adipati Purwo yaitu Nyai Adjeng Cempaka adalah putri ke 14 Raden Tumenggung Kanduruwan I, Bupati Roma Jatinegara/Gombong yang makamnya ada di kaki bukit Pekuncen di Desa Pekuncen,Kec. Sempor, Gombong-Kebumen (di bawah bukit Makam Keluarga Mangkupraja/Banyakwide - leluhur presiden Prabowo Subianto). Kemudian setelah menikah, Nyai Adjeng Cempaka bergelar Nyai Riya Mandura, mengikuti nama suaminya.

Sampul Buku Induk Silsilah Kepatihan Keraton Yogyakarta
Salah satu bukti tertulis Nyai Adjeng Cempaka/Mbah Cempaka dalam Buku Silsilah Keluarga Congkog Kuwaru, R.Tojiman, pada tahun 1915 (Memakai Ejaan Lama ; Njai Adjeng Tjempaka)
Ilustrasi lukisan Nyi Mas Adjeng Cempaka (doc. koleksi keluarga R. Kromosendjoyo)

Nyai Adjeng Cempaka dan keluarga bertempat tinggal di salah satu wilayah tanah pensiun suaminya yang sekarang menjadi Desa Kuwaru. Menurut cerita sesepuh desa, ketika mereka dahulu melakukan pembukaan wilayah/Babad Alas dan mendirikan Kademangan, di tanah itu banyak tumbuh Pohon Waru (Hibiscus tiliaceus). Hingga akhirnya tempat itu dinamakan Kuwaru.

Kemudian di tanah Pensiun Warisan R. Adipati Purwo, Patih Jogja tersebut berdiri sebuah Wilayah Kademangan. Yang menjadi Demang pertamanya adalah salah satu putra dari R. Adipati Purwodiningrat dan Nyai Adjeng Cempaka yang bernama R. Ngabehi Mertasentika yang kemudian bergelar "Raden Demang Kromoleksono".

Kademangan adalah wilayah setara Kecamatan dengan Demang/Panewu/Glondong/Penatus sebagai penguasa wilayah nya. Wilayah Kuwaru asalnya adalah tanah pribadi yang merupakan tanah pensiun dari Adipati Purwo, Patih Jogja. Sehingga Kuwaru termasuk daerah Perdikan/Keputihan/Mutihan yang artinya daerah bebas pajak negara dan berhak mengelola wilayahnya sendiri. Kepemimpinan juga diwariskan secara turun-temurun. Pada dokumen-dokumen lama abad ke 19 kuwaru juga sering disebut sebagai "Koewaroe Kapoetihan" dan sisa nama Keputihan saat ini bisa ditemukan pada penamaan pemakaman umum di Desa Kuwaru yang disebut dengan Kuburan Keputihan/Putihan.

Penyebutan Desa Kuwaru Kaputihan dalam buku catatan Belanda. Kaputihan/Keputihan/Mutihan adalah sebutan untuk Desa Perdikan yang istimewa dan bebas pajak

Setelah Wafat, Nyai Adjeng Cempaka dimakamkan di Desa Kuwaru yang akhirnya berkembang menjadi pemakaman umum bernama Keputihan. Di Desa Kuwaru Makam Nyai Adjeng Cempaka dikenal dengan sebutan "Makam Mbah Cempaka".

Kompleks Makam Nyi Mas Adjeng Cempaka/Mbah Cempaka di TPU Keputihan, Desa Kuwaru
Pintu Masuk Makam Mbah Cempaka yang Terukir Huruf Jawa
Makam Nyai Adjeng Cempaka, Istri Patih/Perdana Menteri Negara Yogyakarta dan Ibu dari Demang pertama Kuwaru. Bentuk nisan masih asli tua tahun 1800 an
Bagian dalam Cungkup Mbah Cempaka, nisan masih asli tua dan terdapat unur/rumah rayap

Makam Nyai Adjeng Cempaka menjadi makam yang tertua dan mengelompok tersendiri membentuk sebuah kompleks. Karena terdiri dari makam Nyai Adjeng Cempaka sebagai pusatnya dan dikelilingi oleh banyak keturunannya. Letak lokasi makam Nyai Adjeng Cempaka berada di pojok sebelah kanan dari pintu masuk makam atau tepatnya di belakang Masjid Jami Darussalam.

Sedangkan suaminya, Adipati Purwa dimakamkan di makam keluarga ibunya di Astana Gambiran, Yogyakarta dekat dengan leluhurnya, Ki Juru Kiting dan para keturunan Ki Juru Martani, Patih Pertama Mataram Islam.

Kompleks makam Nyai Adjeng Cempaka terdapat dua cungkup. Cungkup pertama adalah cungkup utama dan paling besar. Berisi makam leluhur desa utama yaitu Nyai Adjeng Cempaka dan keluarga, total ada lebih dari 10 makam. Di dalam makam utama terdapat sebuah unur atau gundukan tanah rumah rayap yang sudah pernah dibersihkan beberapa kali namun selalu tumbuh kembali dan dibawah unur tersebut tertimbun 2 buah makam.

Arsitektur bentuk makam masih asli kuno, bergaya Mataram era tahun 1800 an dengan berhias motif Tumpal dan Kembang Awan khas makam tokoh-tokoh bangsawan pada era tersebut. Bentuk Makamnya mirip dengan beberapa makam di Makam Keluarga Trah Mangkupraja/Kartanegara di Pekuncen, Gombong.

Cungkup kedua adalah makam keluarga Glondong Kuwaru, Raden Kromosoekarto. Nisan tertua adalah nisan paling pojok kanan yang tertimbun tanah unur rayap dan menyembul nisan berhias yang beda dari lainnya. Sedangkan makam-makam lain bentuknya sederhana dan tergolong baru.

Di luar makam utama, tersebar makam2 keturunan yang mengelilingi makam utama.

Ciri khas nya dapat dilihat dari gelar bangsawan/keturunan ningrat yang tertulis pada tiap nisannya, yaitu R. (Raden), R.Bg (Raden Bagus), Rr. (Raden Roro) dan R.Ngt (Raden Nganten).

Salah satu makam keturunan Nyi Mas Adjeng Cempaka dengan ciri khas berupa gelar keturunan bangsawan/ningrat di depan namanya

Makam Nyai Adjeng Cempaka menjadi makam leluhur yang sakral dan dihormati sebagai Sesepuh Ageng Desa Kuwaru. Selain Makam Nyai Adjeng Cempaka dan keluarganya, di Desa Kuwaru juga terdapat makam-makam leluhur lainnya. Yaitu Makam Eyang Sutawirya yang seorang Penewu terletak di tengah TPU Keputihan, kemudian ada Makam Panjang yang merupakan makam tombak dan peralatan perang para prajurit yang gugur pada era perang diponegoro, lalu ada makam Eyang Sarahjaya di bagian paling belakang makam yang dikisahkan beliau adalah pertapa yang hanyut di sungai dan makam leluhur terakhir adalah makam Eyang Singobrojo yang terletak di Dukuh Enthak, di pinggir jalan dekat perbatasan Desa Gumawang, diperkirakan beliau adalah pengawal dari eyang cempaka.

2. Kepemimpinan Kuwaru

Kyai Kramaleksana/Raden Demang Kromoleksono adalah salah satu putra dari R. Adipati Purwo dengan Nyai Adjeng Cempaka/Nyai Riya Mandura. Beliau adalah Demang Pertama Kuwaru. Sebelum menjadi Demang Kuwaru, R. Demang Kromoleksono dulunya adalah seorang Mantri Anom Madjegan (Pejabat yang mengurusi Perpajakan) di wilayah Kesultanan Yogyakarta dengan Nama Paring Dalemnya yaitu Raden Ngabehi Mertasentika. Nama Paring Dalem adalah nama baru yang diberikan oleh Kesultanan ketika mendapatkan suatu Jabatan. Namun, dalam catatan keturunan di Kuwaru dan pada catatan sejarah lokal, beliau lebih dikenal dengan nama R. Demang Kromoleksono/Kyai Kramaleksana dari Kuwaru.

Website resmi Desa Jatinegara, Gombong dan Buku Sejarah Yang Mencantumkan Nama Demang Pertama Kuwaru di dalamnya.

Disebutkan dalam catatan peninggalan keluarga yang dicocokkan data sejarah Roma/ Gombong tulisan H.R. Soenarto (Mantan Lurah Gombong & Pejuang Veteran) bahwa Demang Kromoleksono dari Kuwaru adalah pengikut Pangeran Diponegoro dan menjadi pemimpin pembrontakan melawan Belanda di Gombong hingga akhirnya beliau dibuang Belanda ke Banjarmasin (versi lain ke Srilanka) karena dianggap berbahaya.[4] Pada masa ini, pasca Pangeran Diponegoro ditangkap & Perang Jawa berakhir, Belanda berhasil merebut wilayah Bagelen, Kebumen, Gombong hingga Banyumas dan mulai memerintah secara resmi sejak 1835 dan Kesultanan Yogyakarta tidak lagi berkuasa secara penuh (Diawasi Belanda).

Karena Kuwaru adalah wilayah Keputihan/milik pribadi dari tanah warisan ayahnya, Raden Demang Kromoleksono menurunkan para pemimpin Desa Kuwaru selanjutnya secara turun-temurun, mulai dari kepemimpinan Demang hingga dipimpin Glondong. Dimulai dari jaman Negara Kerajaan/Monarki sampai masa-masa awal berdirinya NKRI yang berbentuk Republik.

Bahkan setelah negara berubah menjadi Republik tahun 1945, jabatan Kepala Desa dari luar trah keluarga Nyai Adjeng Cempaka baru ada sekitar tahun 1989. Dan yang menjadi lurah terpilih pertama dari kalangan rakyat biasa adalah Bapak Haji Satiman. Itu semua bisa terjadi karena saat itu warga sangat menghormati keluarga Glondong Kuwaru/Keturunan Nyai Adjeng Cempaka sebagai keluarga pendiri desa.

Sepeninggalan Demang Kuwaru Pertama, R. Demang Kromoleksono, kepemimpinan Kuwaru selanjutnya dilanjutkan oleh putranya, yaitu Raden Demang Prawirodikromo. Beliau meneruskan Jabatan Ayahnya sebagai Panewu Panumbak Sewu, Panewu Djawi Kiwa Kesultanan Yogyakarta dengan Nama Gelar Paring Dalemnya yaitu Raden Panewu Tirtasentika I. Beliau meninggal dan dimakamkan di TPU Keputihan Kuwaru, satu kompleks dengan makam Mbah Cempaka.

Foto Raden Kromosoekarto, Glondong Desa Kuwaru terakhir sebelum terbentuknya Negara Indonesia. (doc. foto koleksi keluarga R. Kromosendjoyo)
Raden Kromosoekarto, Glondong Desa Kuwaru menerima penghargaan Kerajaan Belanda berupa "Medali Bintang Perak Kecil". Termuat dalam Koran Hindia Belanda, De Locomotief Edisi 2 September 1936
Piagam penghargaan dari gubernur jenderal Hindia Belanda tahun 1936, memberikan Medali Bintang Perak Kecil untuk Kesetiaan dan Prestasi bagi Raden Kromosoekarto, kepala Desa Koewaroe, Distrik Karanganjar, Kabupaten Keboemen, Karesidenan Kedoe

Putra dari Raden Demang Prawirodikromo/R. Panewu Tirtasentika I yaitu Raden Kromosoekarto kemudian menjadi pemimpin Desa Kuwaru selanjutnya yang bergelar "Glondong".

Glondong/Panewu/Penatus adalah Ketua Kepala Desa yang membawahi beberapa kelurahan & Lurah-lurah di Kuwaru (Setingkat Kecamatan). Kelurahan di Kuwaru yang masih ada dan berubah menjadi dusun yaitu; Enthak,Karangwunung, Karangkobar, Glonggong dan Kemantenan. Raden Kromosoekarto juga mewarisi Jabatan Ayahnya sebagai Panewu Panumbak Sewu dengan Nama Paring Dalem yaitu Raden Panewu Tirtasentika II. [7] Maka dari itu Raden Kromosoekarto/R.Panewu Tirtasentika II lebih dikenal sebagai "Mbah Glondhong Kuwaru" atau "Mbah Glondhong Sepuh". Beliau mempunyai 3 orang istri dan 19 orang anak.

Raden Kromosoekarto, Glondong Desa Kuwaru pernah menerima penghargaan dari Kerajaan Belanda berupa "Medali Bintang Perak Kecil/Kleine Zilveren Ster" sebagai tanda jasa atas kepemimpinannya yang baik. Penghargaan tersebut termuat dalam Koran Hindia Belanda, De Locomotief Edisi 2 September 1936.

Raden Kromosoekarto memimpin Desa Kuwaru sampai tahun 1945. Beliau meninggal di usia tua dan dimakamkan di TPU Keputihan Kuwaru, dalam sebuah bangunan Cungkup (Rumah Makam) yang bersebelahan dengan Cungkup Mbah Cempaka.

Makam Raden Kromosoekarto, Glondhong Desa Kuwaru

3. Terbentuknya NKRI

 Pada tanggal 17 Agustus 1945 terbentuklah Negara Indonesia dengan bergabungnya berbagai kerajaan dan wilayah bekas jajahan Belanda. 

Karena memakai bentuk Republik yang demokrasi, maka sistem kerajaan/Monarki yang selama ini berjalan akhirnya dihapuskan, Kecuali Kesultanan Yogyakarta yang masih menganut sistem Kerajaan dan menjadi Daerah Istimewa setingkat propinsi.

Wilayah Desa Kuwaru yang awalnya adalah tanah pribadi milik keluarga Glondong Kuwaru (Keturunan Nyai Adjeng Cempaka), setelah negara berbentuk Republik kemudian dinasionalisasi (diminta negara). Sistem kepemimpinan desa yang dahulu secara turun-temurun juga dihapuskan dan digantikan dengan Pemilu Demokrasi.

Kemudian tahun 1945 diadakanlah pemilihan Kepala Desa Kuwaru untuk pertama kalinya dengan sistem demokratis. Namun, karena Keluarga Glondong Kuwaru masih sangat dihormati saat itu, maka yang terpilih adalah Raden Purwodinoto yang merupakan salah satu putra Raden Kromosoekarto, Glondong Kuwaru sebelumnya. R. Purwodinoto adalah ayah dari R. Bambang Sumantri atau K.H. Hasan Mansyur, salah satu sesepuh dan Kyai di Masjid Al Hikmah, Enthak - Kuwaru.

R. Purwodinoto juga disebut "Glondong" oleh warganya karena sistem kerajaan masih mengakar kuat saat itu & Republik Indonesia baru terbentuk.

Kemudian hari berangsur-angsur sebutan Glondong tersebut pudar dan berganti menjadi Kepala Desa atau Lurah seperti sekarang.

Makam Raden Poerwodinoto Glondong Kuwaru II

4. Gejolak G30S PKI/Gestapu

 Pada tahun 1965 terjadi pemberontakan PKI dan banyak pemimpin, perangkat & warga desa di Indonesia yang terpengaruh ikut bergabung.

Pada saat pemberantasan PKI oleh pemerintah, imbasnya Kepala desa, Perangkat & warga yang terindikasi ikut PKI diboyong pemerintah dan dicopot jabatannya. Kemudian Desa Kuwaru mengalami kekosongan kekuasaan dan diisi oleh Pejabat Sementara yang ditunjuk pemerintah.

5. Pasca G30S PKI Hingga Saat Ini

Setelah peristiwa Gestapu/PKI reda, diadakan kembali pemilihan yang dimenangkan oleh Raden Idris yang masih cucu dari Mbah Glodhong Sepuh, Raden Kromosoekarto.

Kemudian Desa Kuwaru mengalami kemajuan yang pesat dan baik. Setelah kepemimpinannya berakhir, R. Idris memilih bertransmirgasi ke Papua bersama Istrinya.

Kepemimpinan Desa Kuwaru selanjutnya terpilihlah Haji Satiman yang merupakan Kepala Desa Kuwaru pertama dari luar Trah Keluarga Glondong Kuwaru,Raden Kromosoekarto. Haji Satiman adalah Lurah Desa kuwaru pertama yang bergelar Haji. Beliau terpilih hingga 2 periode.

Kepala Desa Kuwaru Selanjutnya adalah Sugeng Pribadi yang kebetulan adalah menantu dari Lurah R. Idris dan beliau juga terpilih hingga 2 periode walaupun tidak sampai habis karena sakit dan meninggal dunia.

Kepala Desa yang berikutnya adalah Bapak Sodikin selama 1 periode dan kemudian dilanjutkan oleh Drs. Sutrisno sebagai Kepala Desa Kuwaru hingga tahun 2023. Drs. Sutrisno adalah Lurah Desa Kuwaru pertama yang merupakan lulusan Sarjana/S 1.

Pada akhir tahun 2023 diadakan pemilihan kepala desa kembali dan dimenangkan oleh mantan lurah sebelumnya yaitu Bapak Sodikin yang akan menjabat dari tahun 2024 sampai 2031, karena peraturan terkini jabatan kepala desa menjadi 8 tahun dan bisa dipilih maksimal 2 periode.

Berikut ini adalah urutan kepemimpinan Desa Kuwaru sejak abad ke 19 (1800-an) hingga sekarang: 

1. Raden Demang Kromoleksono/R. Ngabehi Mertasentika (1825-1840).

Demang Pertama Desa Kuwaru dan pendiri Desa Kuwaru. Merupakan putra dari pasangan Nyai Adjeng Cempaka dengan Raden Adipati Purwo-diningrat/Tumenggung Sindunegoro/Kyai Adipati Danureja, Seorang Patih/Perdana Menteri Kesultanan Yogyakarta.

Menurut buku silsilah Kepatihan Yogyakarta dan catatan turun-temurun keluarga, Wilayah Desa Kuwaru dulunya adalah salah satu dari wilayah tanah pensiun Patih Jogja seluas 1000 Karya (Sekitar 700 Hektar) dari Sultan Hamengkubuwana II. Kemudian di tanah pensiun ayahnya tersebut didirikan sebuah Kademangan yang bernama Kuwaru oleh R. Ngabehi Mertasentika yang menjadi Demang Pertama bergelar Raden Demang Kromoleksono.

2. Raden Demang Prawirodikromo/R. Panewu Tirtasentika I (1840-1890).

3. Raden Kromosoekarto/R. Panewu Tirtasentika II - Glondong Kuwaru I (1890-1945).

4. R. Purwodinoto - Glondong Kuwaru II - Ayah dari R. Bambang Sumantri/K.H. Hasan Mansyur, Kyai Masjid Al-Hikmah Kuwaru (1945-1966).

5. R. Idris (1966-1989).

6. H. Satiman (2 periode,1989-1999).

7. Sugeng Pribadi (2 periode,1999-2007 dan 2007-2011).

8. Sodikin (2011-2017).

9. Drs. Sutrisno (2017-2023).

10. Sodikin (2024-2031).

Pemerintahan

[sunting | sunting sumber]

1. Desa kuwaru terdiri dari beberapa dukuh/dusun, yaitu :

- RW 01 - RT 01/02/03 adalah Dukuh Enthak.

- RW 02 - RT 01/02/03 adalah Dukuh Karang Kobar.

- RW 03 - RT 01/02 adalah Dukuh Karang Wunung.

- RW 04 - RT 01/02/03 adalah Dukuh Kementenan .

Mata Pencaharian

[sunting | sunting sumber]

Mata pencaharian penduduk di Desa Kuwaru berdasarkan data dari website resmi Desa Kuwaru tahun 2024 yaitu :

1. Belum/tidak bekerja sebanyak 426 orang.

2. Mengurus rumah tangga sebanyak 241 orang.

3. Pelajar/Mahasiswa sebanyak 360 orang.

4. Pensiunan sebanyak 22 orang.

5. PNS sebanyak 13 orang.

6. TNI sebanyak 3 orang.

7. Perdagangan sebanyak 1 orang.

8. Petani sebanyak 273 orang.

9. Karyawan swasta sebanyak 397 orang.

10. Karyawan BUMN sebanyak 4 orang.

11. Karyawan BUMD sebanyak 1 orang.

12. Buruh harian lepas sebanyak 105 orang.

13. Buruh Tani sebanyak 128 orang.

14. Tukang batu sebanyak 2 orang.

15. Tukang kayu sebanyak 1 orang.

16. Tukang jahit sebanyak 1 orang.

17. Guru sebanyak 25 orang.

18. Bidan sebanyak 2 orang.

19. Pedagang sebanyak 79 orang.

20. Perangkat desa sebanyak 11 orang.

21. Kepala desa sebanyak 1 orang.

22. Wiraswasta sebanyak 200 orang.

23. Lainnya sebanyak 2 orang.

Pendidikan

[sunting | sunting sumber]

Riwayat pendidikan penduduk di Desa Kuwaru berdasarkan data dari website resmi Desa Kuwaru tahun 2024 yaitu :

1. Tidak/belum sekolah sebanyak 357 orang.

2. Belum tamat SD/sederajat sebanyak 172 orang.

3. Tamat SD/sederajat sebanyak 721 orang.

4. Tamat SLTP/sederajat sebanyak 427 orang.

5. Tamat SLTA/sederajat sebanyak 533 orang.

6. Tamat D1/DII sebanyak 1 orang.

7. Tamat DIII sebanyak 19 orang.

8. Tamat S1/D-IV & S2 sebanyak 65 orang.

9. Tamat S3 sebanyak 3 orang.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. •Data tertulis berupa serat Kekancingan/ Pikukuh Dharah Dalem (Surat Silsilah Keturunan Raja) dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, Buku Silsilah Kepatihan Danurejo Kraton Yogyakarta, Surat Stamboek/ asal-usul, Sertifikat Penghargaan Glondong Kuwaru, Surat Kabar Hindia Belanda De Locomotief dan catatan tertulis berupa Buku Babon Silsilah keluarga besar Glondong Kuwaru,R. Kromosoekarto. • Artefak Peninggalan berupa ; Kompleks Makam Kuno keluarga pendiri Desa Kuwaru, Rumah Glondong Kuwaru R. Poerwodinoto,Foto/ Lukisan, ilustrasi dan Pusaka peninggalan Demang/ Glondong Kuwaru . • Data lisan yaitu saksi hidup, para sesepuh yang merupakan keturunan pendiri Desa Kuwaru yang masih bisa menceritakan detail sejarah ; R. Bambang Sumantri / K.H.Hasan Mansyur, R. Djapar, R. Marsoedi, R.Ngt. Warsinah, R.Ngt. Yunitah Yusmadiwirya.
  2. Penulis Sejarah Desa Kuwaru adalah Sekretaris Desa Kuwaru yaitu R.Arif Wicaksana dan R.Aditya Aris Nugroho yang masih keturunan pendiri Desa Kuwaru. Sumber - Website Resmi Desa Kuwaru : https://kuwaru.kec-kuwarasan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/159/398
  3. Buku : M.D, Sagimun, Pahlawan Diponegoro Berjuang (Bara Api Kemerdekaan Nan Tak Kunjung Padam), 1956, Jogjakarta, Tjabang Bagian Bahasa, Djawatan Kebudajaan Kementerian P.P. dan K. Jogjakarta MCMLVII. Memuat Mayor Tumenggung Sindunegoro yang ditugaskan sebagai Bupati Roma/ Gombong.
  4. 1 2 Buku : Soenarto, HR, Sejarah Brangkal, Kabupaten Roma (Jatinegara/Kruwed) dan Kabupaten Karanganyar. Memuat nama Mayor Tumenggung Sindunegoro dan Raden Demang Kromoleksono/ Kyai Kramaleksana putra Pangeran Purwadiningrat dari Kuwaru. Sumber : https://jatinegara.kec-sempor.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/472
  5. Buku: R.,, Carey, P. B.; Bambang,, Murtianto,; Gramedia, PT. Takdir : riwayat Pangeran Diponogoro, 1785-1855. Jakarta. ISBN 9789797097998. OCLC 883389465. Memuat Nama Raden Tumenggung Sindunegara I/ Adipati Purwo-diningrat.
  6. Buku: penulis, H.Y. Agus Murdiyastomo [and five. Pangeran Notokusumo : hadĕging Kadipaten Pakualaman : sejarah Pakualaman. [Yogyakarta]. ISBN 9786020818092. OCLC 964698478. Memuat Nama Raden Tumenggung Sindunegara I/ R.Adipati Purwo-diningrat yang diangkat sebagai Patih Danurejo III Yogyakarta.
  7. Surat Kabar Harian Belanda yang memuat nama Raden Kromosoekarto, Hoofd Van Desa Koewaroe dari dokumentasi situs Delpher : https://www.delpher.nl/nl/kranten/results?query=Raden+Kromosoekarto&coll=ddd

Data tertulis berupa surat kekancingan dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, Surat Stamboek/asal-usul, Piagam-piagam pengangkatan, dan catatan tertulis milik keluarga keturunan Glondong Kuwaru, R. Kromosoekarto. Data lisan berupa saksi hidup, para sesepuh keturunan pendiri Desa Kuwaru yang masih bisa menceritakan detail sejarah ; R. Bambang Sumantri/K.H.Hasan Mansyur, R. Djapar, R. Marsoedi, R.Ngt. Warsinah, R.Ngt. Yunitah Yusmadiwirya.

Sejarah Desa Kuwaru, tulisan Sekretaris Desa Kuwaru, Arif Wicaksana yang masih keturunan pendiri Desa Kuwaru. Sumber - Halaman Website Resmi Desa Kuwaru : https://kuwaru.kec-kuwarasan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/159/398

Buku: R.,, Carey, P. B.; Bambang,, Murtianto,; Gramedia, PT. Takdir : riwayat Pangeran Diponogoro, 1785-1855. Jakarta. ISBN 9789797097998. OCLC 883389465. Memuat Nama Kangjeng Raden Tumenggung Sindunegara/Kangjeng Adipati Purwadiningrat.

Buku: penulis, H.Y. Agus Murdiyastomo [and five. Pangeran Notokusumo : hadĕging Kadipaten Pakualaman : sejarah Pakualaman. [Yogyakarta]. ISBN 9786020818092. OCLC 964698478. Memuat Nama Kangjeng Raden Tumenggung Sindunegara/Kangjeng Adipati Purwadiningrat yang diangkat sebagai Patih Danureja III Yogyakarta.

Buku : M.D, Sagimun, Pahlawan Diponegoro Berjuang (Bara Api Kemerdekaan Nan Tak Kunjung Padam), 1956, Jogjakarta, Tjabang Bagian Bahasa, Djawatan Kebudajaan Kementerian P.P. dan K. Jogjakarta MCMLVII. Memuat Tumenggung Sindunegoro yang ditugaskan sebagai Bupati Roma/Gombong.

http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2021/03/siti-sewu-dan-numbak-anyar-memahami.html?m=1 SITI SEWU DAN NUMBAK ANYAR: MEMAHAMI PEMBAGIAN WILAYAH DI BAGELEN SEBELUM DAN SESUDAH PERJANJIAN GIYANTI SERTA PENEMPATAN DINASTI ARUNG BINANG DI KEBUMEN

Buku : Soenarto, HR, Sejarah Brangkal, Kabupaten Roma (Jatinegara/Kruwed) dan Kabupaten Karanganyar. Memuat nama Raden Tumenggung Sindunegoro/Pangeran Purwadiningrat dan Raden Demang Kromoleksono/Kyai Kramaleksana dari Kuwaru. Sumber : https://jatinegara.kec-sempor.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/472

https://wayahbagelen.or.id/kebudayaan-bagelen-agung-perkasa/Kebudayaan Bagelen Agung & Perkasa

Surat Kabar Harian Belanda yang memuat nama Raden Kromosoekarto, Hoofd Van Desa Koewaroe dari dokumentasi situs Delpher : https://www.delpher.nl/nl/kranten/results?query=Raden+Kromosoekarto&coll=ddd

Surat kabar Hindia Belanda, De Locomotief Edisi 2 September 1936