Kuwaru, Kuwarasan, Kebumen

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kuwaru
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenKebumen
KecamatanKuwarasan
Kodepos
54366
Kode Kemendagri33.05.16.2019 Edit the value on Wikidata
Luas128.02 Ha
Jumlah penduduk2116 jiwa (2014)
Kepadatan... jiwa/km²

Kuwaru adalah desa di kecamatan [[Kuwarasan, Kebumen|Kuwarasan]], Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia.

Wilayah Desa Kuwaru memiliki luas 128.02 Ha, dengan batas: - Sebelah utara dengan Desa Bendungan dan Gunung Mujil. - Sebelah timur dengan Desa Banjareja, Desa Serut dan Desa Bendungan. - Sebelah barat dengan Desa Gumawang dan Desa Wonoyoso. - Sebelah selatan dengan Desa Mangli.

Desa kuwaru terdiri dari beberapa dukuh/ dusun, yaitu: - RW 01 RT 01/02/03 adalah Dukuh Entak. - RT 02 RT 01/02/03 adalah Dukuh Karang Kobar. - RW 03 RT 01/02 adalah Dukuh Karang Wunung. - RW 04 RT 01/02/03 adalah Dukuh Kementenan .

Jumlah penduduk di Desa Kuwaru tahun 2014 sebanyak 2116 orang, dengan rincian: - Jumlah laki-laki sebanyak 1063 orang. - Jumlah perempuan sebanyak 1053 orang .

Mata pencaharian penduduk di Desa Kuwaru yaitu: - Petani 317 orang. - PNS 16 orang. - Pedagang 79 orang. - Buruh 141 orang. - TNI 1 orang. - Polisi 1 orang. - Wiraswasta/ pengusaha 199 orang. - Karyawan swasta 341 orang. - Guru 20 orang. - Bidan 1 orang, dan.. - Tidak bekerja sebanyak 283 orang.

Riwayat pendidikan penduduk di Desa Kuwaru yaitu: - Tamatan SD 528 orang. - Tamatan SLTP 279 orang. - Tamatan SLTA 281 orang. - Tamatan D3 13 orang. - Tamatan S1 23 orang. - Tamatan S2 2 orang. - Tamatan TK 23 orang dan.. - Tamatan Paud sebanyak 15 orang .

Akses wilayah ke Desa Kuwaru cukup mudah, karena letak wilayahnya dapat dengan mudah di lalui transportasi umum dan pribadi. Wilayah ini tidak jauh dari kota, dan jalan yang tidak strategis .

[Sejarah Berdirinya Desa Kuwaru]

Pada tahun 1830-an, tepatnya pada masa Perang Diponegoro, Seorang Bupati Nayaka dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Raden Adipati Purwo- diningrat / Mayor Tumenggung Sindunegoro ditugaskan sebagai Bupati Roma (Sekarang wilayah Gombong dan bekas kantor Kabupaten Roma sekarang menjadi Pasar Wanakriya), tugas beliau adalah mengadakan pemulihan daerah pasca terjadinya perang. Beliau membawa serta keluarganya, salah satunya yaitu istri beliau yang bernama Nyai Adjeng Tjempaka (baca: Nyai Ajeng Cempoko) dan beberapa orang putranya. Salah seorang putranya yaitu Raden Kramaleksana (dibaca: Raden Kromoleksono) mendapatkan tanah perdikan di sebelah selatan Gombong, kemudian melakukan badad alas dan mendirikan sebuah Kademangan (Setingkat Kecamatan) yang nantinya bernama Kuwaru dan Raden Kramaleksana menjadi Demang pertama yang memimpin Kademangan dan bergelar Raden Demang Kramaleksana. Raden Demang Kramaleksana merupakan salah satu pendukung Pangeran Diponegoro dan memimpin pasukan pembrotakan terhadap Belanda di wilayah Roma, beliau juga melawan kesewenang- wenangan Belanda terhadap rakyat di wilayahnya, karena itulah beliau pernah ditahan Belanda dan dibuang ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sepeninggalan suaminya yang kembali ke Keraton Yogyakarta, Nyai Adjeng Tjempaka memilih tinggal bersama puteranya, Raden Demang Kramaleksana di Kuwaru sampai beliau meninggal. Kemudian Nyai Adjeng Tjempaka dimakamkan di Kuwaru dengan keturunannya, pengawal, dan juga para abdi setianya. Tempat tersebut akhirnya menjadi sebuah pemakaman umum yang bernama TPU Keputihan, Kemudian kompleks makam Nyai Adjeng Tjempaka beserta keturunannya itu menjadi salah satu Pepunden Desa yang dikeramatkan di Desa Kuwaru, yang lebih dikenal dengan Makam Mbah Cempaka, dan pamor Mbah Cempaka malahan lebih terkenal di Desa Kuwaru daripada puteranya yang sebagai Demang Pertama pendiri desa, hal tersebut dikarenakan adanya orang- orang yang sering ngalap berkah ke makam Mbah Cempaka dan kemudian ditemui oleh sosok beliau hingga akhirnya berita tersebut tersebar sampai turun - temurun.

Selain Mbah Cempaka, sosok lain yg berpengaruh pada awal berdirinya Desa Kuwaru adalah Mbah Singabraja (Makam di kiri jalan Kuwaru - Banjareja, dekat perbatasan dengan Desa Gumawang), Mbah Paku Jati (Makam di Dukuh Karang Kobar), Mbah Sutawirya dan Mbah Sarahjaya (Makam di TPU Keputihan), Selain itu di TPU Keputihan juga terdapat makam panjang yang merupakan kuburan pusaka dan tombak para prajurit Keraton Yogyakarta yang gugur yg pimpin oleh seorang penewu bernama Mbah Tanubraja.

Menurut penuturan R.Ngt. Warsinah Hardjosuprapto, salah satu sesepuh desa yang masih keturunan dari pendiri Desa Kuwaru, asal nama Kuwaru diambil oleh R. Demang Kramaleksana dari nama sebuah pohon tua keramat, yaitu Pohon Waru ( Hibiscus Tiliaceus ) yang tumbuh pada kedua sisi makam petilasan Joko Sangkrib/Arungbinang I, Bupati Kebumen pertama di Pantai Brencong, Buluspesantren.

Setelah kemerdekaan, wilayah perdikan ditiadakan dan Desa Kuwaru menjadi bagian dari NKRI. Berikut ini adalah urutan kepemimpinan desa Kuwaru sejak awal berdiri hingga sekarang (2016): 1. R. Demang Kromoleksono. 2. R. Prawirodikrom 3. R. Kromosukarto 4. R. Purwodinoto ( Ayah dari Kyai Bambang/ R. Bambang Sumantri/ K.H.Khasan Mansyur, pemilik Masjid Al-Hikmah di Kuwaru) 5. R. Idris 6. Satiman (terpilih 2 kali) 7. Sugeng Pribadi (terpilih 2 kali) 8. Sodikin 9.Sutrisno