Lompat ke isi

Mutu kehidupan kerja

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kualitas kehidupan kerja)

Mutu kehidupan kerja adalah konsep pengelolaan yang menggambarkan hubungan antara cara kelola dan karyawan bermutu dari segi pekerjaaan. Istilah mutu kehidupan kerja atau bahasa Inggrisnya quality of working life pertama kali diperkenalkan pada 1972. Penerapan mutu kehidupan kerja pertama kali diawali oleh dua perusahaan besar yaitu United Automobile Workers dan General Motors, dan diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya. Sastra terawal yang menggunakan istilah quality of working life adalah tulisan Lloyd Suttle yang diterbitkan pada 1977. Konsepnya kemudian diterbitkan lebih lanjut oleh American Society of Training and Development pada tahun 1979. Mutu kehidupan kerja merupakan ciri keberhasilan kewirausahaan. Bentuknya yang paling bagus adalah kepuasan kerja dari pihak pekerja di dalam suatu perusahaan.

Landasan berpikir

[sunting | sunting sumber]

Mutu kehidupan kerja merupakan hasil olah pemikiran tentang filsafat manusia. Konsepnya kemudian digunakan sebagai suatu pandangan dalam sistem pengelolaan. Mutu kehidupan kerja dijadikan sebagai hakikat tentang manusia dalam bekerja. Hakikat dari bekerja dalam penerapan pemikirannya berada di lingkup pertubuhan atau perusahaan. Mutu kehidupan kerja dijadikan sebagai model pengelolaan pertubuhan. Konsep ini juga dijadikan sebagai pedoman yang manusiawi dalam memperlakukan anggota pertubuhan atau tenaga kerja. Mutu kehidupan kerja menjadi salah satu cara pandang pengelolaan tentang manusia, pekerja dan pertubuhan. Cara berpikir ini membuat manusia tidak dipandang hanya sebagai suatu bagian daripada sistem. Manusia tidak dipandang sama seperti mesin yang memiliki mekanisme gerakan yang pasti dan berkesinambungan. Pandangan kepada manusia dalam konsep mutu kehidupan kerja adalah sebagai perancang, perencana dan pengendali mesin. Keberadaan manusia sebagai pelaku langsung dalam pekerjaan membuat suatu pekerjaan menjadi bermakna dan memiliki daya jual yang penting bagi manusia lain.[1]

Pemakaian istilah

[sunting | sunting sumber]

Istilah mutu kehidupan kerja atau bahasa Inggrisnya quality of working life pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972 dalam Konferensi Buruh Antarnegara. Mutu kehidupan kerja mulai dipertimbangkan sebagai tata laksana dalam pekerjaan setelah United Automobile Workers dan General Motors menerapkannya. Kedua perusahaan ini melakukannya untuk melakukan perbaikan dan pengembangan sistem kerja dalam pertubuhan perusahaan mereka. Pada awal penerapannya, penjabaran mengenai mutu kehidupan kerja dalam beberapa unsur pokok. Unsur ini meliputi kepedulian pengelolaan tentang dampak pekerjaan pada manusia, kecekapan pertubuha serta pentingnya para karyawan dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Unsur-unsur ini terutama berkaitan dengan pekerjaan, karier, penghasilan dan nasib karyawan dalam pekerjaan. Pada awalnya, istilah mutu kehidupan kerja dicanangkan untuk menyusun suatu rumusan yang menjelaskan bahwa setiap proses yang diputuskan pengelolaan perusahaan adalah suatu tanggapan atas permasalahan yang merupakan keinginan dan harapan para tenaga kerja. Perusahaan dan karyawan memiliki tujuan yang sama yaitu peningkatan kinerja perusahaan yang masalahnya harus dibahas bersama melalui pandangan bersama.[2]

Sastra terawal yang menggunakan istilah quality of working life adalah karyanya Lloyd Suttle pada tahun 1977. Dalam tulisannya ini, Lloyd Suttle menjelaskan bahwa mutu kehidupan kerja adalah ukuran kemampuan suatu pertubuhan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pribadi secara mendasar pada seluruh anggotanya. Bentuknya berupa pemberian kesempatan dan pengalaman bermakna bagi karyawan di perusahaan. Konsep mutu kehidupan kerja kemudian dipaparkan oleh American Society of Training and Development pada tahun 1979 sebagai kemampuan karyawan dalam pemenuhani kepentingan pribadinya dan pemenuhan pekerjaan dalam kegiatan kerjanya.[3]

Perwujudan

[sunting | sunting sumber]

Mutu kehidupan kerja merupakan bagian dari pencapaian keberhasilan dalam kewirausahaan. Perwujudannya dalam bentuk pemberian penghargaan, pengembangan karier, dan kebanggaan terhadap profesi dan pertubuhan. Bentuk lain mutu kehidupan kerja adalah kemampuan komunikasi dan interaksi sosial di dalam pekerjaan. Pada keadaan mutu kehidupan kerja yang baik, bentuknya berupa kepuasan kerja. Suasananya teramati dari tingkat keikutsertaan karyawan dalam pencapaian visi dan misi perusahaan.[4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. Soetjipto 2017, hlm. 15.
  2. Soetjipto 2017, hlm. 16.
  3. Soetjipto 2017, hlm. 16-17.
  4. Jati, B. M. E., dan Pryambodo, T. K. (2015). Maya (ed.). Kewirausahaan: Technopreneurship untuk Mahasiswa Ilmu-ilmu Eksakta. Yogyakarta: Penerbit ANDI Yogyakarta. hlm. 17. ISBN 978-979-29-5138-7. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]