Komunikasi augmentatif dan alternatif
Komunikasi Augmentatif dan Alternatif, atau disingkat AAC (Augmentative and Alternative Communication), adalah metode komunikasi yang digunakan untuk melengkapi atau menggantikan kemampuan berbicara dan menulis bagi orang yang mengalami gangguan dalam menghasilkan atau memahami bahasa. Metode ini membantu individu dengan berbagai kondisi seperti cerebral palsy (kelumpuhan otak), disabilitas intelektual, autisme, penyakit saraf motorik seperti ALS (amyotrophic lateral sclerosis), dan penyakit Parkinson. Penggunaan AAC bisa bersifat permanen bagi orang yang tidak dapat berbicara sama sekali, atau sementara bagi yang hanya kehilangan kemampuan berbicara dalam jangka waktu tertentu. Salah satu pengguna AAC yang paling dikenal di dunia adalah Stephen Hawking, ilmuwan fisika yang menderita ALS dan berkomunikasi menggunakan perangkat penghasil suara.[1]
Penggunaan AAC secara modern mulai berkembang pada tahun 1950-an, ketika digunakan untuk membantu pasien yang kehilangan kemampuan bicara setelah operasi. Pada tahun 1960 hingga 1970-an, muncul kesadaran baru akan pentingnya inklusi penyandang disabilitas dalam masyarakat. Hal ini mendorong penggunaan bahasa isyarat manual dan simbol gambar sebagai cara berkomunikasi. Baru pada tahun 1980-an, AAC diakui sebagai bidang tersendiri setelah munculnya kemajuan teknologi seperti komputer kecil dan teknologi suara buatan (sintesis suara) yang memungkinkan penyandang disabilitas berkomunikasi dengan lebih mandiri.[1]
Jenis
[sunting | sunting sumber]Secara umum, AAC dibagi menjadi dua jenis:
- Komunikasi tanpa alat, yaitu komunikasi yang tidak memerlukan perlengkapan tambahan, misalnya melalui bahasa isyarat atau bahasa tubuh.
- Komunikasi dengan alat, yaitu komunikasi yang menggunakan bantuan benda atau teknologi seperti kertas dan pensil, papan simbol, buku komunikasi, hingga perangkat elektronik penghasil suara.
Simbol yang digunakan dalam AAC bisa berupa gambar, foto, huruf, atau kata, dan dapat dipilih menggunakan gerakan tubuh, penunjuk, tetikus khusus, atau pelacakan mata. Karena komunikasi menggunakan AAC umumnya lebih lambat dibandingkan berbicara langsung, maka dikembangkan beberapa teknik agar prosesnya lebih cepat, seperti prediksi kata (alat menebak kata yang akan diketik) dan pengkodean pesan (menggunakan kode untuk mewakili kalimat tertentu).
Sebelum seseorang menggunakan AAC, perlu dilakukan evaluasi kemampuan dan kebutuhan, meliputi aspek motorik, penglihatan, kemampuan berpikir, bahasa, dan komunikasi. Keluarga juga ikut berperan penting, terutama dalam intervensi dini. Penerapan AAC harus mempertimbangkan nilai budaya dan keyakinan keluarga agar pengguna merasa nyaman. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AAC tidak menghambat kemampuan berbicara alami, bahkan bisa meningkatkan kemampuan bicara secara perlahan.[2] Namun, pengguna AAC masih menghadapi tantangan seperti kemampuan membaca yang rendah dan sulit mendapatkan pekerjaan.[3][4]
Meski sebagian besar metode AAC efektif, ada juga dua teknik yang tidak terbukti secara ilmiah, yaitu komunikasi difasilitasi dan metode pemicu cepat. Dalam metode ini, seorang pendamping membantu pengguna menunjuk huruf atau menekan tombol, tetapi penelitian menunjukkan bahwa pesan sebenarnya berasal dari pendamping, bukan pengguna.[5]
Menurut Konvensi Hak Penyandang Disabilitas (Convention on the Rights of Persons with Disabilities), AAC mencakup berbagai bentuk komunikasi seperti bahasa isyarat, tulisan, teks besar, komunikasi taktil (melalui sentuhan), bahasa sederhana, multimedia yang mudah diakses, dan teknologi komunikasi yang ramah disabilitas.[5]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 "Augmentative and Alternative Communication (AAC)". American Speech-Language-Hearing Association (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-06.
- ↑ "Beyond Spoken Words: Augmentative and Alternative Communication (AAC) for Kids". HealthyChildren.org (dalam bahasa Inggris). 2025-07-29. Diakses tanggal 2025-11-06.
- ↑ Hamm, Bruce; Mirenda, Pat (2006-01). "Post-school quality of life for individuals with developmental disabilities who use AAC". Augmentative and Alternative Communication (dalam bahasa Inggris). 22 (2): 134–147. doi:10.1080/07434610500395493. ISSN 0743-4618.
- ↑ Donaldson, Amy L.; corbin, endever*; McCoy, Jamie (2021-04-28). ""Everyone Deserves AAC": Preliminary Study of the Experiences of Speaking Autistic Adults Who Use Augmentative and Alternative Communication". Perspectives of the ASHA Special Interest Groups (dalam bahasa Inggris). 6 (2): 315–326. doi:10.1044/2021_PERSP-20-00220. ISSN 2381-4764.
- 1 2 Hemsley, Bronwyn; Bryant, Lucy; Schlosser, Ralf W; Shane, Howard C; Lang, Russell; Paul, Diane; Banajee, Meher; Ireland, Marie (2018-01). "Systematic review of facilitated communication 2014–2018 finds no new evidence that messages delivered using facilitated communication are authored by the person with disability". Autism & Developmental Language Impairments (dalam bahasa Inggris). 3. doi:10.1177/2396941518821570. ISSN 2396-9415.