Komputer tablet dalam komunikasi di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Komputer tablet semakin marak dalam fungsinya sebagai media komunikasi di Indonesia. Perkembangan zaman yang turut mempengaruhi budaya telah membuat penggunaan tablet di Indonesia tidak dapat dipastikan lagi dari segi penyebaran informasi karena fungsi tablet yang sangat variatif.

Perkembangan Komunikasi Massa[sunting | sunting sumber]

Menurut buku tulisan Straubhaar, LaRose dan Davenport,[1] komunikasi massa pada era modern terus menjadi suatu aspek yang sangat penting bagi masyarakat. Dulu, komunikasi massa sangat berharap dengan sebuah buku, majalah, radio, televisi dan film. Namun, revolusi pada aspek teknologi membuat banyak media mulai menjadi sasaran untuk menyalurkan komunikasi massa seperti iPod, iPhone, Facebook, Youtube dan Xbox. Namun, seluruh media yang telah disebutkan di atas hanyalah sebuah media dan tetap dibutuhkan sebuah fondasi kuat agar media tersebut dapat menjalankan perannya dengan baik, yaitu sebagai media untuk menyalurkan komunikasi. Mirabito dan Morgenstern berpendapat bahwa pentingnya komunikasi massa memang telah membuat banyak perubahan dan konsep dasar dari komunikasi itu sendiri. seperti contohnya saat melakukan hubungan komunikasi menggunakan telepon, maka hal-hal yang dibutuhkan adalah komunikator, komunikan dan telepon. Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan mulai terjadi pada saluran komunikasi dengan satelit dan kabel optik bawah laut.[2]

Pada media komunikasi, perubahan-perubahan yang terjadi dapat digambarkan sebagai perubahan dari sistem analog menjadi digital.[3] Yang dimaksud dengan sistem analog adalah sistem yang masih membutuhkan tenaga manusia dalam pengoperasiannya dan teknologi ini sangat bergantung pada ketepatan dan ketelitian yang akurat, salah satu bentuknya adalah otak. Sedangkan pada sistem digital, seluruh operasi-operasi yang bersifat rumit bisa secara mudah ditampilkan untuk mendapatkan fungsi-fungsi pemrosesan sinyal atau keamanan dalam transmisi sinyal. Secara lebih sederhana, dapat disimpulkan bahwa media komunikasi yang berdasarkan pada sistem analog masih bersifat sangat kuno dan masih dapat dipengaruhi oleh hal-hal yang mengganggu sedangkan media komunikasi yang berdasarkan pada sistem digital sudah bersifat modern dan tdak dapat terganggu dengan hal-hal yang bersifat noise. Perkembangan media analog menjadi media digital dimulai sejak sekitar tahun 1980 dimulai dari telepon yang dimulai lebih awal yaitu pada tahun 1962 yang menghasilkan sebuah media telepon yang disebut telepon genggam atau handphone dan terakhir adalah pembuatan video game.[3]

Media digital pada beberapa tahun terakhir memang terus mengalami perkembangan. Menurut Pischetola, pada abad ke-21, merupakan abad yang penuh dengan munculnya teknologi-teknologi baru yang muncul sebagai sebuah media perantara untuk menyampaikan informasi dari komunikator kepada komunikan.[4] Dalam banyak hal, media digital tidak berbeda dari media analog yang telah ada selama satu dekade. Yang unik adalah kemampuan untuk dengan mudah membuat, menyalin, dan mengirimkan media digital. Perangkat media digital dapat mengirim, mengunduh, atau menyimpan file atau hal-hal penting dan berfungsi seperti CD atau DVD. Perangkat baru yang saat ini berkembang seperti iPod memungkinkan audio dan video untuk di-download dan didengarkan di mana saja dan kapan saja[5]. (Teaching Support Services, University of Gielph, 2006) Sementara audio dan video memiliki peran yang sangat besar dalam penggunaanya dalam aspek pendidikan, kemampuan media digital yang mampu mengurangi biaya pengoperasian, penggunaan bandwidth yang lebih tinggi, kemudahan dalam penggunaan, dan kesadaran yang lebih besar dari media digital, telah membuat media digital sangat berpengaruh terutama dalam pendidikan, terutama selama lima tahun terakhir [5]. Beberapa media digital yang sering digunakan sebagai media untuk mendapatkan informasi seperti televisi, komputer, handphone dan tablet. Maka dalam pembahasan ini, fokus akan lebih diarahkan pada penggunaan tablet sebagai media digital yang berperan sebagai saluran komunikasi.

Komputer Tablet[sunting | sunting sumber]

Komputer tablet (atau singkatnya "tablet") dapat didefinisikan sebagai suatu jenis komputer notebook yang memiliki layar LCD di mana pengguna dapat menulis dengan menggunakan pena tujuan khusus, atau stylus. Tulisan tangan adalah digital dan dapat dikonversi ke teks standar melalui pengenalan tulisan tangan, atau bisa tetap sebagai teks tulisan tangan.[6] Tablet merupakan salah satu contoh dari teknologi komputasi yang menggunakan pena, dan dengan demikian, pengembangan tablet memiliki akar sejarah yang dalam. Hak paten pertama untuk sistem yang menggunakan karakter tulisan tangan dengan menganalisis gerakan tulisan tangan diberikan pada tahun 1915 dan dipublikasi secara umum pada tahun 1956.[7] Selanjutnya, penggunaan tablet di masyarakat luas mulai berkembang pesat pada sekitar tahun 1990. Tablet itu sendiri diciptakan dengan penyempurnaan dari komputer dimana pada tablet, salah satu ciri khas nya adalah penghilangan sistem keyboard serta ukuran yang lebih kecil.[7] Tablet bertujuan sebagai perangkat yang mengadopsi sistem komputer dengan membantu pengguna dalam melakukan mobilitas dimana pada saat yang sama harus mengakses komputer. Tablet pada awal mulanya menggunakan sebuah perangkat bernama stylus yang digunakan sebagai hardware untuk pengguna menulis segala hal penting yang harus ditulis pada waktu tertentu ditempat tertentu.[8] Tablet mulai banyak digunakan secara aktif dalam ritel dan perusahaan penyedia jasa, termasuk restoran dan kafe. Dengan kemajuan teknologi, Tablet telah menjadi sebuah perangkat yang sangat modern. Pada tahun 2005, Gateway selaku perusahaan ternama yang bergerak di bidang komputer, mengembangkan sebuah model yang terdiri dari Tablet PC dan laptop PC hybrid yang memungkinkan pengguna untuk menggunakan fungsi dari Tablet PC dan laptop PC secara bersamaan.[8] Tablet PC mulai menunjukkan kehadirannya dengan penjualan yang sangat besar di Amerika Serikat dimana pada tahun 2009, penjualan tablet mencapai 14 juta unit[9]. Tablet yang muncul pada akhir-akhir ini di desain dengan berat yang lebih ringan (di bawah 3 lb) dan memiliki kekuatan baterai yang lebih lama[10]. Tablet yang dipandang sebagai langkah baru dalam dunia komputerisasi ini memungkinkan fleksibilitas yang luar biasa dalam menggunakan e-mail dan mengakses Internet [11]. Selanjutnya, Miller (2002) meramalkan bahwa Tablet PC mungkin mendukung revolusi "koran elektronik," yang mengubah pengiriman berita menjadi lebih efisien sehingga pengguna dapat membaca Koran hanya dengan menggunakan tablet[12]. Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa tablet merupakan sebuah media penyampaian komunikasi yang sangat berkembang pesat dan digunakan oleh mayoritas orang-orang yang sering berpergian dalam aktivitasnya. Selain itu, tablet juga memungkinkan penggunanya untuk berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus mempertimbangkan tempat dan waktu.

Dampak Tablet Terhadap Sosial Budaya[sunting | sunting sumber]

Tablet yang pada beberapa tahun ini berkembang pesat pastinya memiliki dampak terhadap keadaan sosial budaya. Dengan adanya tablet juga pastinya memiliki dampak terhadap penggunaan PC.[13] Menurut Viryapong dan Harfield (2013), apabila dilihat dari aspek sosial budaya, penggunaan tablet memang sangat terlihat jelas. Pada beberapa tahun ini, banyak anak kecil yang sudah menggunakan tablet dalam kegiatannya sehari-hari[14].

Dampak Tablet Terhadap Budaya Penggunaan Internet[sunting | sunting sumber]

Penggunaan internet sebagai salah satu hal yang digunakan dalam tablet sendiri di Indonesia menjadi suatu hal yang sangat lumrah. Hal ini dapat dibuktikan dari survey yang dijalankan oleh Markplus Insight dan majalah online Marketeers dimana ditemukan bahwa tahun pada 2014 terdapat 74,6 pengguna internet di Indonesia, naik 22 persen dari tahun lalu yang jumlahnya 61,1 juta. Angka ini akan melampaui 100 juta pada tahun 2015. Survey tersebut juga mengungkap perpindahan yang signifikan dari media tradisional ke dunia maya. Hanya 55,3 persen dari masyarakat internet yang pernah membaca koran cetak enam bulan terakhir ini. 98 persen responden pernah mengakses TV dan internet dalam enam bulan terakhir, tapi untuk sumber informasi utama, internet lebih unggul jauh dibandingkan media lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa memang pertumbuhan media digital sangat memengaruhi budaya masyarakat Indonesia, terutama budaya dalam mencari informasi dan beraktivitas.[15]

Dampak Tablet Terhadap Budaya Penggunaan Komputer[sunting | sunting sumber]

Dari sisi penggunaan komputer yang merupakan “pendahulu” tablet, bukti ditemukan bahwa Lembaga riset IDC memproyeksi, jumlah tablet yang masuk ke Indonesia akan mencapai angka 6,1 juta unit pada tahun 2015 atau tumbuh 19,1 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara jumlah komputer pribadi yang masuk ke Indonesia, masih menurut IDC, adalah sebanyak 4.34 juta unit. Pertumbuhan angka pengiriman ini hanya 2,3 persen dibandingkan tahun lalu. Melihat dari fenomena ini, menunjukkan bahwa gairah masyarakat Indonesia akan produk tablet terus mengalami peningkatan dan berbanding terbalik dengan penjualan komputer yang menurun.[16]

Dampak Tablet Terhadap Budaya Belanja Masyarakat[sunting | sunting sumber]

Jika dilihat lebih mendalam, memang tablet sangat mendukung masyarakat Indonesia yang gemar berbelanja dengan media internet. Dengan kehadiran tablet, informasi produk, sistem belanja, dan hal-hal lain juga dapat dengan mudah didapatkan tanpa perlu melihat tempat dan keadaan. Hal ini membuat penjualan tablet yang tinggi menjadi hal yang sangat wajar. Memang tablet sebagai teknologi baru telah mengubah budaya masyarakat dalam melakukan transaksi komersil. Berdasarkan rilis agensi riset SAP yang berpusat di London pada Agustus 2013 lalu, sebanyak 70 persen responden di Asia-Pasifik mulai hobi berbelanja barang maupun jasa secara online dalam 12 bulan terakhir. Dengan total pengguna internet sebesar 63 juta atau sekitar seperempat dari populasi, Indonesia pun menunjukkan kecenderungan yang sama. Hasil serupa juga muncul dalam survei yang dilakukan jaringan agensi media Mindshare mengenai motivasi online di 33 negara di seluruh dunia.[17] Secara garis besar, memang dapat disimpulkan bahwa kehadiran tablet telah membuat banyak perubahan sosial dan budaya pada masyarakat Indonesia. Dari sisi penggunaan internet sebagai media untuk berkomunikasi, berbelanja bahkan dari sisi penjualan pun, tablet jauh lebih unggul dibandingkan dengan penjualan komputer.

Dampak Tablet Terhadap Budaya Komunikasi[sunting | sunting sumber]

Lebih mendalam ke arah komunikasi, tablet itu sendiri merupakan saluran komunikasi yang sangat baik. Dengan pertumbuhan penggunaan internet serta penjualan tablet yang meningkat secara searah, maka dapat diasumsikan bahwa pengguna tablet mayoritas menggunakan tablet untuk mencari berita dan informasi dari internet. Peranan tablet mampu menggantikan komputer. Namun, melihat dari penjelasan sebelumnya, terdapat hal yang kontras yang terlihat dimana penggunaan media tablet yang peranannya sebagai saluran komunikasi mulai berubah ke penggunaan lain. Dari hasil observasi ditemukan fenomena menarik dimana ternyata pengguna tablet dan komputer di Indonesia ternyata hanya berbeda 1% dari keseluruhan penggunaan media digital dimana komputer memiliki pangsa 14% dan tablet 13%. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata tidak semua masyarakat memilih menggunakan tablet maupun komputer. Telepon seluler dan smart phone masih memegang peranan penting sebagai media digital untuk melakukan kegiatan komunikasi.[18] Selanjutnya, penggunaan tablet juga pastinya berdampak pada faktor lain. Komunikasi interpersonal pastinya mengalami penurunan dengan adanya tablet yang memiliki banyak aplikasi untuk berkomunikasi. Hal ini dapat terbukti dari penggunaan aplikasi media sosial di Indonesia yang menapai 72 juta pengguna. Dengan tingginya penggunaan media sosial, pastinya secara tidak langsung akan mengurangi kegiatan komunikasi interpersonal atau komunikasi tatap muka.[19]

Komputer tablet vs komputer lain[sunting | sunting sumber]

Setelah melihat begitu banyak perkembangan tablet di Indonesia yang telah dijabarkan sebelumnya, selanjutnya akan dibandingkan penggunaan tablet dan komputer jenis lainnya, terutama di Indonesia. Dilihat dari bentuknya, tablet merupakan sebuah pengembangan dari komputer. Banyak perbedaan dan kesamaan antara tablet dan komputer lain. Berdasarkan hasil observasi ditemukan beberapa fakta untuk menjabarkan perbedaan dan persamaan dilihat dari sisi fungsi.

Kelebihan Tablet[sunting | sunting sumber]

Beberapa kelebihan dari tablet adalah ukuran yang lebih kecil dan praktis untuk dibawa berpergian, terutama bagi masyarakat yang sering beraktivitas berpindah-pindah.[8]

Kelebihan Komputer lain[sunting | sunting sumber]

Komputer selain tablet memiliki kelebihan dalam kenyamanan mengetik, menjalankan pekerjaan secara efisien dan efektif, dan penggunaan hardware.[8] Dari uraian perbandingan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tablet dan komputer memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Hal ini tergantung dari pemanfaatan dari kedua perangkat tersebut, serta aktivitas dan data yang harus diakses oleh pengguna. Dengan penjelasan mengenai kelebihan dan kekurangan itu juga dapat ditarik kesimpulan bahwa memang dari segi kualitas, tablet masih jauh tertinggal daripada komputer, tetapi, tablet memiliki keunggulan dalam hal efektivitas dan efisiensi. Walaupun pembelian masyarakat Indonesia atas tablet terus mengalami peningkatan, tetapi tidak berarti masyarakat berhenti untuk menggunakan komputer. Beberapa kegiatan memang lebih mudah diselesaikan dengan menggunakan tablet, tetapi tidak sedikit pekerjaan yang lebih cocok diselesaikan dengan komputer.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Straubhaar, Joseph., LaRose, Robert., Davenport, Lucinda. (2012). Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology, Seventh Edition. Canada: Cengage Learning
  2. ^ Mirabito, M.A. Michael., Morgenstern L. Barbara. (2004). The New Communications Technologies: Applications, Policy, and Impact: Fifth Edition. Oxford: Elsevier
  3. ^ a b Dominick, R. Joseph. (2005). The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age. New York: McGraw-Hill
  4. ^ Pischetola, Magda. (2011). Digital Media and Learning Evolution: A Research on Sustainable Local Empowerment. Global Media Journal, Volume 11, Issue 18
  5. ^ a b University of Gielph. (2006). Teaching Support Services, Digital Media. Dikutip pada https://www.uoguelph.ca/tss/pdfs/TBDigMedia.pdf
  6. ^ Weitz, R. Rob., Wachsmuth, Bert., Mirliss, Danielle. (2006). The Tablet PC For Faculty: A Pilot Project. Educational Technology & Society, 9 (2), 68-83.
  7. ^ a b Atkinson, P. (2008). A bitter pill to swallow: the rise and fall of the tablet computer. Design issues, 24 (4), 3-25.
  8. ^ a b c d Ozok, A. Ant, Benson, Dana., Chakraborty, Joyram., Norcio F. Anthony. (2008). A Comparative Study Between Tablet and Laptop PCs: User Satisfaction and Preferences. Intl. Journal of human-computer interaction, 24(3), 329-352
  9. ^ Spooner, J., & Foley, M. (2005, August 30). Tablet PC’s future uncertain. Eweek.com. Dikutip pada 20 September 2015, from http://www.eweek.com/article2/0,18951853607,00.asp
  10. ^ Gros, M. (2004). Take note: Tablet PCs get more innovative. CRN, pp. 43–44
  11. ^ Levack, K. (2003). Take one tablet and email me in the morning: Tablet PCs and Enewspapers. Econtent Magazine, March 2003, pp. 8–9
  12. ^ Miller, M. J. (2002). Tablet PCs, take two. PC Magazine. dikutip dari http://www.pcmag.com/article2/0,2704,6311,00.asp
  13. ^ Sears, A., & Arora, R. (2002). Data entry for mobile devices: An empirical comparison of novice performance with Jot and Graffiti. Interacting with Computers. Vol 14(5), 413–433
  14. ^ Viriyapong, Ratchada dan Harfield, Antony. (2013). Facing the challenges of the One-Tablet-Per-Child policy in Thai primary school education. (IJACSA) International Journal of Advanced Computer Science and Applications, Vol. 4, No. 9, 2013
  15. ^ https://id.techinasia.com/tingkah-laku-pengguna-internet-indonesia/
  16. ^ http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150130152304-185-28564/di-indonesia-komputer-kalah-jauh-dari-tablet/
  17. ^ http://life.viva.co.id/news/read/459658-survei--masyarakat-indonesia-makin-gemar-belanja-online
  18. ^ http://www.slideshare.net/internetsehat/profil-pengguna-internet-indonesia-2014-riset-oleh-apjii-dan-puskakom-ui
  19. ^ https://www.techinasia.com/indonesia-web-mobile-data-start-2015